Penerapan E-Learning di SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto

Universitas Bina Nusantara

______________________________________________________________________

Jurusan Sistem Informasi
School of Information Systems
Tugas Paper
M0214 – Topik-Topik Lanjutan Sistem Informasi
Semester Genap tahun 2013/2014
Halaman Abstrak
Penerapan E-Learning di SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto

Kelas / Kelompok: 06PKM / 05

Anggota Kelompok:
Arni Virani : 1501155411
Toni Sugino : 1501169865
Hendy Salim : 1501178522
Rendy Rinaldo : 1501188473
Jennifer Pauling : 1501189053
David Santoso : 1501194015

ABSTRAK
E-Learning merupakan sebuah teknik belajar mengajar yang berbasis web di mana internet digunakan untuk mencapai sasaran – sasaran dan mendukung konsep pembelajaran yang modern. Melalui e-learning instansi pendidikan dapat memberikan informasi dengan tujuan untuk memperluas pengetahuan karena sifat dari internet adalah tidak terbatas waktu dan tempat. Informasi yang ditampilkan melalui e-learning dapat dibuat lebih menarik dan lengkap sehingga mampu menarik minat dari murid/mahasiswa. E-Learning pada dasarnya memberikan kemudahan kepada instansi pendidikan tentang bagaimana memberikan informasi kepada pihak-pihak yang terkait dengan proses belajar mengajar yang ada. Dengan meninjau E-Learning yang berjalan, evaluasi terhadap E-Learning akan dibutuhkan.

Kata kunci: E-Learning, Evaluasi E-Learning.

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki jumlah penduduk terpadat di dunia. Namun, hal ini bukanlah fakta yang buruk bagi dunia pendidikan. Hal ini semakin jelas terlihat ketika banyak instansi pendidikan yang mulai memanfaatkan teknologi hampir di berbagai daerah di Indonesia. Instansi tersebut memanfaatkan teknologi yang disebut dengan e-learning agar para mahasiswa menguasai materi yang sangat sedang diajarkan lebih baik.

Maraknya penggunaan media online berbasis internet sebagai salah satu sarana untuk belajar telah dimanfaatkan oleh beberapa instansi pendidikan untuk membantu proses belajar mengajar mereka. Melihat dari permasalahan ini, timbul sebuah peluang untuk mengembangkan sebuah sarana dan lingkungan berbasis web yang dapat digunakan sebagai sarana yang menghubungkan antara guru dan murid dalam proses belajar mengajar dengan bertukaran informasi. Sehingga membuka lingkungan belajar yang sifatnya elektronik dan luas.

Pembelajaran yang dilakukan lewat internet tersebut biasanya dikenal dengan istilah e-learning. E-learning merupakan sebuah teknik belajar mengajar yang berbasis web di mana internet digunakan untuk mencapai sasaran – sasaran dan mendukung konsep pembelajaran yang modern. Selain itu ketersediaan e-learning dalam instansi pendidikan akan membantu baik guru dan murid dapat saling mengenal dan berkomunikasi satu sama lain secara cepat dan real-time sehingga dapat meningkatkan keuntungan bagi kedua belah pihak.

1.2 Ruang Lingkup

Berikut adalah batasan cakupan dari karya tulis ini, antara lain:

1. Pembahasan menjelaskan tentang konsep E-learning
2. Penjelasan mengenai manfaat, hambatan, tingkatan dari penerapan E-Learning
3. Pemfokusan tentang evaluasi tentang implementasi E-Learning di SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto

1.3 Tujuan dan Manfaat

Tujuan dasar yang ingin dicapai dalam penyusunan karya tulis ini adalah:
1. Memahami pentingnya penerapan E-Learning
2. Mengevaluasi manfaat, hambatan, tingkatan dari penerapan E-Learning di SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto

Sedangkan beberapa manfaat yang diperoleh sebagai hasil evaluasi dalam karya tulis ini, antara lain:

1. Dapat mengetahui hambatan serta solusi dari permasalahan penerapan
E-Learning di SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto
2. Dapat mengetahui cara implementasi, perancangan sistem, arsitektur sistem dan proses E-Learning di SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto

1.4 Metodologi Penulisan
Dalam penulisan karya tulis ini dipergunakan berbagai informasi pendukung berdasarkan metode studi kepustakaan yang diperoleh melalui berbagai sumber, seperti buku penunjang mengenai E-Learning, jurnal-jurnal online yang mengupas topik tentang pemanfaatan E-Learning di SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto , skripsi, dan beberapa website yang menyediakan informasi mengenai pemanfaatan E-Learning. Berdasarkan informasi dari berbagai sumber ini akan dibuat seebuah pembahasan tentang evaluasi penerapan E-Learning pada SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto dan kemudian akan dibuat kesimpulan dan saran untuk pengembangan selanjutnya.

1.5 Sistematika Penulisan

Karya tulis ilmiah ini terdiri atas beberapa bab pembahasan, yaitu :

• BAB 1 : PENDAHULUAN
Pada bab ini akan dijelas mengenai pemahaman awal tentang E-Learning secara umum dan secara khusus mengenai penerapannya di dunia nyata, yang terdiri atas latar belakang, ruang lingkup, tujuan dan manfaat penulisan, serta metodologi penulisan laporan.

• BAB 2 : LANDASAN TEORI
Pada bab ini berisikan teori-teori umum hingga teori khusus yang dijadikan sebagai dasar pengetahuan untuk memahami pengertian, strategi, tingkatan, tantangan dan manfaat E-Learning.

• BAB 3 : PEMBAHASAN
Pada bab ini akan dijelaskan pembahasan inti tentang evaluasi pelaksanaan dan implementasi E-Learning pada SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto.

• BAB 4 : PENUTUP
Bab ini akan memaparkan kesimpulan dari keselurhan pembahasan mengenai evaluasi E-Learning pada SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto, serta memaparkan beberapa saran untuk solusi atas permasalahan mengenai penerapan E-Learning pada SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto.

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Teori umum
2.1.1 System Analyst
Seorang System Analyst merupakan seseorang yang mengembangkan system. Seorang System Analyst mempelajari masalah dan kebutuhan / requirement dari system yang ingin di bangun. Seorang System Analyst dapat didefinisikan sebagai :
• Seseorang yang menggunakan pengetahuannya tentang aplikasi komputer yang dimilikinya untuk memecahkan masalah – masalah bisni dibawah petunjuk seorang manager system (PM).
• Seseorang yang bertanggung jawab untuk menterjemahkan kebutuhan – kebutuhan user kedalam sebuah spesifikasi tehnik yang diperlukan oleh seorang programmer yang membuatnya dan diawasi oleh seorang project manager.
(Jogiyanto, 1990)
Pengertian seorang project manager dapat di gambarkan sebagai berikut :

Gambar 2.1 Pengertian System Analyst

2.1.2 Fungsi / peran System Analyst
Seorang System Analyst memiliki beberapa fungsi dalam pembuatan suatu system, yaitu :
• Mengidentifikasikan masalah yang sedang dihadapi suatu perusahaan / user
• Menberikan sasaran secara spesifik tentang sasaran yang inigin dicapai untuk memenuhi kebutuhan user.
• Memiliki alternative – alternative metode pemecahan masalah
• Merencanakan dan menerapkan rancangan systemnya sesuai dengan permintaan dan kebutuhan suatu perusahaan / user.
(Jogiyanto, 1990)

2.1.3 Konsep Analisis System Informasi

Konsep Analisis system informasi merupakan sebuah kegiatan pengembangan terhadap sebuah system dengan menguraikan / membagi system kedalam komponen – komponen untuk diidentifikasi dan dievaluasi terhadap kelemahan – kelemahan system, kebutuhan perushaan terhadap suatu system, peluang untuk pengembangan system, maupun kesalahan – kesalahan yang terjadi dalam sebuah system. Ada kerangka dalam menganalisis suatu system informasi, yaitu :

• Pengembangan ANSI
• Penguraian / pembagian
• Identifikasi dan evaluasi
– Kelemahan
– Kebutuhan
– Peluang
– Kesalahan
– Perubahan pengembangan system
– Control system
• System lama sebagi pembanding
• Standarisasi (Burch, 1992)

2.1.4 Informasi
Menurut rainer. K.R., Jr, (2007, p5), Informasi mengacu pada data yang telah teorganisir sehingga data memiliki makna dan nilai kepada penerima.
Jadi, dari pengertian di atas dapat disimpilkan bahwa informasi adalah kumpulan data-data yang telah diolah menjadi bentuk yang lebih dimengerti dan bermakna bagi si penerima.

2.1.5 Sistem Informasi
Menurut Rainer. K.R., Jr, (2007, p6), Sistem Informasi adalah sebuah proses yang mengumpulkan, memproses, menyimpan, menganalisis, dan menyebarkan informasi untuk tujuan tertentu.

Menurut Satzinger et al., (2005, p7), Sistem Informasi adalah kumpulan komponen yang dihubungkan melalui proses pengumpulan, pengolahan, penyimpanan, dan hasilnya akan menjadi informasi yang dibutuhkan untuk melengkapi tugas bisnis.

Menurut Satzinger et al,. (2005, p7-8), Sistem Informasi terdiri dari komponen-komponen penting, antara lain sebagai berikut :
1. Hardware (perangkat keras)
Adalah sekumpulan perangkat keras yang digunakan untuk menerima data dan informasi, memprosesnya, dan menampilkannya kembali.

2. Software (perangkat lunak)
Adalah koleksi atau sekumpulan program yang dapat memerintah hardware-hardware yang ada untuk memproses data.

3. Database (basis data)
Adalah basis data yang berisikan dari sekumpulan file atau table yang berkaitan dan berhubungan antara satu sama lain, dan di dalam file atau table tersebut berisikan data.

4. Network (jaringan komputer)
Adalah sebuah system jembatan perhubung, baik menggunakan kabel (wireline) mapupun tanpa menggunakan kabel (wireless) yang memiliki peranan penting dalam menghubungkan beberapa komputer yang berbeda untuk berbai sumber daya yang mereka miliki.

5. Procedure (prosedur)
Adalah sebuah instruksi, aturan, dan prosedur yang berisikan cara bagaimana menggabungkan komponen-komponen diatas dalam rangka memproses informasi dan menghasilkan apa yang diinginkan

6. People (orang)
Adalah sumber daya manusia yang akan mengoperasikan hardware dan software, berhubungan dengan mereka dan menggunakan hasil dari pemrosesan tersebut.

Gambar 2.1 Komponen Sistem Informasi

2.2 Langkah-Langkah dalam Analisa Sistem

Menurut Purjanto (2009) analisis sistem adalah penelitian atas sistem yang telah ada dengan tujuan untuk merancang sistem yang baru atau diperbarui. Tahap analisis sistem ini merupakan tahap yang sangat kritis dan sangat penting, karena kesalahan di dalam tahap ini akan menyebabkan juga kesalahan di tahap selanjutnya. Tugas utama analis sistem dalam tahap ini adalah menemukan kelemahan-kelemahan dari sistem yang berjalan sehingga dapat diusulkan perbaikannya.

Di dalam tahap analisis sistem terdapat langkah-langkah dasar yang harus dilakukan oleh analis sistem :

1. Identify
Mengidentifikasi (mengenal) masalah merupakan langkah pertama yang dilakukan dalam tahap analisis sistem. Masalah (problem) dapat didefinisikan sebagai suatu pertanyaan yang diinginkan untuk dipecahkan.

2. Understand
Langkah kedua dari tahap analisis sistem adalah memahami kerja dari sistem yang ada. Langkah ini dapat dilakukan dengan mempelajari secara terinci bagaimana sistem yang ada beroperasi. Untuk mempelajari operasi dari sistem ini diperlukan data yang dapat diperoleh dengan cara melakukan penelitian.

3. Analyze
Langkah ini dilakukan berdasarkan data yang telah diperoleh dari hasil penelitian yang telah dilakukan. Menganalisis hasil penelitian sering sulit dilakukan oleh analis sistem yang masih baru. Pengalaman menunjukkkan bahwa banyak analis sistem yang masih baru mencoba untuk memecahkan masalah tanpa menganalisisnya.

4. Report
Setelah proses analisis sistem ini selesai dilakukan, tugas berikutnya dari analis sistem dan timnya adalah membuat laporan hasil analisis. Laporan ini diserahkan kepada steering committe (komite/panitia pengarah pengembangan sistem) yang nantinya akan diteruskan ke manajemen. Pihak manajemen bersama-sama dengan panitia pengarah dan pemakai sistem akan mempelajari temuan-temuan dan analisis yang telah dilakukan oleh analis sistem yang disajikan dalam laporan ini.

2.3. Konsep E- Learning
2.3.1 Pengertian e-Learning
e-Learning atau pembelajaran elektronik, merupakan salah satu bentuk dari aplikasi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam kegiatan pembelajaran. Ada beberapa definisi e-learning yang dikemukakan oleh para ahli. Definisi-definisi tersebut memiliki cakupan yang berbeda, tergantung dari perspektif yang digunakan oleh ahli yang bersangkutan. Berikut adalah beberapa definisi e-learning yang penulis dapatkan dari berbagai sumber:

1. “A broad combination of processes, content, and infrastructure to use computers and networks to scale and/or improve one or more significant parts of a learning value chain, including management and delivery.” (Adrich dalam Clark: 2010)
Clark Adrich dalam bukunya yang berjudul “Simulations and the Future of Learning” menekankan definisi e-learning pada kerangka berpikir penggunaan jaringan komputer. Ia menyatakan bahwa e-learning merupakan sebuah kombinasi antara proses, materi dan infrastruktur dalam penggunaan komputer dan jaringannya dalam rangka meningkatkan kualitas pada satu atau lebih bagian signifikan dari aspek-aspek rangkaian kegiatan pembelajaran, termasuk di antaranya adalah aspek manajemen dan aspek pendistribusian materi pelajaran.

2. “The use of innovative technologies and learning models to transform the way individuals and organisations acquire new skills and access knowledge.” (Jeurissen dalam Moeng: 2004)
Victor Jeurissen dalam artikel “IBM tackles learning in the workplace” yang ditulis oleh B. Moeng, mengemukakan definisi e-learning yang lebih umum. Ia mendefinisikan e-learning sebagai pengaplikasian teknologi dan model pembelajaran inovatif untuk mengubah
cara individu atau organisasi dalam mengakses ilmu pengetahuan dan memperoleh keterampilan baru.

3. “The delivery of a learning, training or education program by electronic means. E-learning involves the use of a computer or electronic device (e.g. a mobile phone) in some way to provide training, educational or learning material.” (Stockley: 2003)
Derek Stockley, seorang ahli pendidikan dari Australia dalam situs webnya (derekstockley.com.au) memberikan definisi bahwa e-learning adalah proses penyampaian program pembelajaran, pelatihan atau pendidikan secara elektronik. e-Learning melibatkan penggunaan komputer atau alat elektronik (misalnya telepon seluler) dalam berbagai cara untuk menyediakan bahan-bahan pelatihan, pendidikan atau pembelajaran.

4. “E-learning is a broad set of applications and processes which include web-based learning, computer-based learning, virtual and digital classrooms. Much of this is delivered via the Internet, intranets, audio and videotape, satellite broadcast, interactive TV, and CD-ROM. The definition of e-learning varies depending on the organization and how it is used but basically it is involves electronic means of communication, education, and training.” (The American Society for Training and Development/ASTD: 2009)

Organisasi Masyarakat Amerika untuk Kegiatan Pelatihan dan Pengembangan (The American Society for Training and Development/ASTD) memberikan definisi umum yang lebih spesifik terhadap metode maupun media yang digunakan dalam proses e-learning. Definisi ini dimuat dalam situs web about-elearning.com. Definisi tersebut menyatakan bahwa e-learning merupakan proses dan kegiatan penerapan pembelajaran berbasis web (web-based learning), pembelajaran berbasis komputer (computer based learning), pendidikan virtual (virtual education) dan/atau kolaborasi digital (digital collaboration). Materi-materi dalam kegiatan pembelajaran elektronik tersebut kebanyakan dihantarkan melalui media internet, intranet, tape video atau audio, penyiaran melalui satelit, televisi interaktif dan CD-ROM. Definisi ini juga menyatakan bahwa definisi dari e-learning bisa bervariasi tergantung dari penyelenggara kegiatan e-learning tersebut dan bagaimana cara penggunaannya, termasuk juga apa tujuan penggunaannya.

Definisi ini juga menyiratkan simpulan yang menyatakan bahwa e-learning pada dasarnya adalah pengaplikasian kegiatan komunikasi, pendidikan dan pelatihan secara elektronik.
Definisi dari ASTD inilah yang banyak digunakan/dijadikan pedoman oleh institusi-institusi pendidikan/penyedia layanan/software e-learning. Contohnya learnframe.com yang menyediakan sistem manajemen e-learning atau aplikasi CMS e-learning moodle yang banyak digunakan oleh institusi pendidikan konvensional dalam kegiatan blended learningnya.

Berdasarkan 4 definisi e-learning yang telah dikemukakan oleh Clark Adrich, Victor Jeurissen, Derek Stockley dan organisasi The American Society for Training and Development/ASTD di atas, penulis bisa membuat suatu simpulan bahwa, “e-learning adalah penggunaan teknologi komputer dan jaringan komputer yang disertai oleh penerapan model pembelajaran inovatif dalam rangka pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang akan memberikan akses luas kepada peserta didik terhadap ilmu pengetahuan agar mereka bisa memperoleh keterampilan baru.”

Proses pembelajaran elektronik ini dilaksanakan guna meningkatkan kualitas rangkaian kegiatan pembelajaran. Selain menggunakan komputer sebagai sumber utama pengetahuan, kegiatan pembelajaran ini juga memungkinkan penggunaan perangkat elektronik lain seperti telepon seluler atau perangkat elektronik bergerak lainnya sebagai media penyampaian materi pelajaran.

Model pembelajaran yang bisa digunakan adalah model Pembelajaran Berbasis Web (Web-Based Learning), Pembelajaran Berbasis Komputer (Computer Based Learning), Pendidikan Virtual (Virtual Education) dan/atau Kolaborasi Digital (Digital Collaboration). Sedangkan materi pelajarannya sendiri bisa dihantarkan melalui media internet, intranet, tape video atau audio, penyiaran melalui satelit, televisi interaktif dan CD-ROM.

2.3.2. Teori-Teori yang Melandasi Pengembangan e-Learning
Lahirnya konsep e-learning hingga terus berkembang dan mencapai bentuk-bentuk aplikasinya yang sekarang didukung oleh beberapa paradigma pendidikan seperti paradigma pembelajaran, pola-pola pembelajaran dari Barry Morries, konsep e-learning resources dll.

Thorpe (2002) menyebutkan bahwa kegiatan pembelajaran secara elektronik (e-learning) memiliki makna yang sama dengan makna pendidikan pada umumnya. Maka dari itu, ada beberapa pedagogi yang bisa diterapkan ke dalam kegiatan e-learning tersebut. Weller (2002) membuat daftar pedagogi-pedagogi tersebut sebagai berikut:
1. Konstruktivisme (Constructivism)
2. Pembelajaran Berbasis Sumber Daya (Resource-based Learning)
3. Pembelajaran Kolaboratif (Collaborative Learning)
4. Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem-based Learning)
5. Pengajaran Naratif (Narrative-based teaching)
6. Pembelajaran Terkondisi (Situated Learning)

Pada dasarnya, teknologi (apapun bentuknya) memiliki sifat yang netral. Sehingga dalam pendidikan, kita bisa mencoba melakukan penerapan berbagai pendekatan pendidikan atau pedagogis terhadap teknologi tersebut, dalam hal ini teknologi pendukung e-learning.

1. Konstruktivisme (Constructivism)
Pendekatan konstruktivisme memandang bahwa peserta didik mengkonstruk/membangun sendiri pengetahuan yang akan mereka miliki. Pengkonstrukan (pembangunan) pengetahuan tersebut dilakukan berdasarkan pengalamannya sendiri atau dari pengalaman orang lain. Unsur terpenting dalam teori ini ialah seseorang membina pengetahuan dirinya secara aktif dengan cara membandingkan informasi baru dengan pemahamannya yang sudah ada. Bahan
pengajaran yang disediakan perlu mempunyai perkaitan dengan pengalaman peserta didik untuk menarik minat mereka.
Konstruktivisme memiliki kaitan erat dengan pembelajaran elektronik (e-learning), karena dalam e-learning siswa melakukan pembelajarannya secara mandiri melalui bahan-bahan ajar yang disampaikan melalui situs web.

2. Pembelajaran Terkondisi (Situated Learning)
Pendekatan terkondisi pertama kali dikemukakan oleh Jean Lave dan Etienne Wenger pada tahun 1991 sebagai sebuah model pembelajaran dalam suatu komunitas belajar. Lave dan Wenger berpendapat bahwa pembelajaran bukan hanya sekedar proses transmisi ilmu pengetahuan yang terbatas dari guru dan murid saja, tetapi pembelajaran itu haruslah menjadi sebuah proses sosial di mana pengetahuan pada peserta didik terkonstruksi oleh pemahaman mereka sendiri.
Teori ini juga bisa menjadi pendukung bagi pembelajaran elektronik (e-learning), di mana dalam aplikasinya, peserta didik bisa saling berinteraksi dalam sebuah forum, mailing list, chatbox atau bulletin board untuk saling bertukar informasi dan membangun pemahaman bersama terhadap suatu materi pembelajaran.

3. Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem-based Learning)
Pembelajaran berbasis masalah merupakan sebuah strategi pembelajaran yang berpusat kepada peserta didik (student-centered learning), di mana peserta didik bekerja secara kolaboratif untuk memecahkan masalah dan menyerap intisari dari pengalaman belajar mereka untuk dijadikan sebuah pengetahuan.

Dalam e-learning, teori ini bisa diterapkan saat peserta didik dituntut untuk berkomentar terhadap materi perkuliahan yang diberikan. Komentar dari mahasiswa tersebut kemudian akan dijadikan sebagai sebuah patokan oleh dosen untuk memberikan penilaian terhadap mahasiswa yang bersangkutan.
Selain berpedoman kepada tiga teori pembelajaran di atas, pengembangan sebuah aplikasi e-learning hendaknya juga diarahkan agar mampu memenuhi empat filosofi e-learning seperti yang dikemukakan Cisco dalam Rusman (2009: 198) sebagai berikut:
1. e-Learning merupakan penyampaian informasi, komunikasi, pendidikan dan pelatihan secara online;
2. e-Learning menyediakan seperangkat alat yang dapat memperkaya nilai belajar secara konvensional (model belajar konvensional, kajian terhadap buku teks, CD-ROM, dan pelatihan berbasis komputer) sehingga dapat menjawab tantangan perkembangan globalisasi;
3. e-Learning tidak berarti menggantikan model belajar konvensional di dalam kelas, tetapi memperkuat model belajar tersebut melalui pengayaan content dan pengembangan teknologi pendidikan;
4. Kapasitas peserta didik amat bervariasi tergantung pada bentuk, isi dan cara penyampaiannya. Makin baik keselarasan antar content dan alat penyampai dengan gaya belajar, maka akan lebih baik kapasitas peserta didik yang pada gilirannya akan memberi hasil yang lebih baik.

2.3.3 Karakteristik dan Keunggulan e-Learning
Pemanfaatan e-learning yang baik akan mendorong terciptanya lingkungan belajar yang berpusat pada siswa (student-centered learning), karena e-learning menuntut peserta didik untuk belajar secara mandiri dan mengkonstruk ilmu pengetahuannya sendiri. Hal tersebut sesuai dengan karakteristik e-learning yang dikemukakan oleh Riyana (2007) sebagai berikut:
1.Daya tangkap siswa terhadap materi pembelajaran tidak tergantung kepada instruktur/guru, karena siswa mengkonstruk sendiri ilmu pengetahuannya melalui bahan-bahan ajar yang disampaikan melalui interface situs web.

2.Sumber ilmu pengetahuan tersebar di mana-mana serta dapat diakses dengan mudah oleh setiap orang. Hal ini dikarenakan sifat media Internet yang mengglobal dan bisa diakses oleh siapapun yang terkoneksi ke dalamnya.

3. Pengajar/lembaga pendidikan berfungsi sebagai mediator/pembimbing.

4. Diperlukan sebuah restrukturisasi terhadap kebijakan sistem pendidikan, kurikulum dan manajemen yang dapat mendukung pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk pendidikan secara optimal.

Empat karakteristik di atas merupakan hal yang membedakan e-learning dari kegiatan pembelajaran secara konvensional. Dalam e-learning, daya tangkap peserta didik terhadap materi pembelajaran tidak lagi tergantung kepada instruktur/pengajar, karena peserta didik mengkonstruk sendiri ilmu pengetahuannya melalui bahan-bahan ajar yang disampaikan melalui interface aplikasi e-learning. Dalam e-learning pula, sumber ilmu pengetahuan tersebar di mana-mana serta dapat diakses dengan mudah oleh setiap orang. Hal ini dikarenakan sifat media internet yang mengglobal dan bisa diakses oleh siapapun yang terkoneksi ke dalamnya. Terakhir, dalam e-learning pengajar/lembaga pendidikan berfungsi sebagai mediator/pembimbing. Hal ini berkebalikan dengan kegiatan pembelajaran konvensional di mana pengajar/lembaga pendidikan berfungsi sebagai sumber utama ilmu pengetahuan. Berdasarkan karakteristik tersebut, maka e-learning memiliki kelebihan tersendiri bila dipandang sebagai sebuah alternatif untuk model pembelajaran konvensional. Lebih lanjut, Riyana (2007: 22) menyebutkan kelebihan-kelebihan tersebut sebagai berikut:

1. Interactivity (Interaktifitas); tersedianya jalur komunikasi yang lebih banyak, baik secara langsung (synchronous), seperti chatting atau messenger atau tidak langsung (asynchronous), seperti forum, mailing list atau buku tamu.

2. Independency (Kemandirian); fleksibilitas dalam aspek penyediaan waktu, tempat, pengajar dan bahan ajar. Hal ini menyebabkan pembelajaran menjadi lebih terpusat kepada siswa (student-centered learning).

3. Accessibility (Aksesibilitas); sumber-sumber belajar menjadi lebih mudah diakses melalui pendistribusian di jaringan Internet dengan akses yang lebih luas daripada pendistribusian sumber belajar pada pembelajaran konvensional.

4. Enrichment (Pengayaan); kegiatan pembelajaran, presentasi materi kuliah dan materi pelatihan sebagai pengayaan, memungkinkan penggunaan perangkat teknologi informasi seperti video streaming, simulasi dan animasi.

2.3.4. Fungsi e-Learning
e-Learning sebagai suatu model pembelajaran yang baru memiliki beberapa fungsi terhadap kegiatan pembelajaran di dalam kelas (classroom instruction). Siahaan dalam Kamil (2010), memaparkan fungsi e-learning tersebut sebagai berikut:
1.Suplemen; Dikatakan berfungsi sebagai suplemen atau tambahan apabila peserta didik mempunyai kebebasan memilih, apakah akan memanfaatkan materi pembelajaran elektronik atau tidak. Dalam hal ini, tidak ada kewajiban/keharusan bagi peserta didik untuk mengakses materi pembelajaran.

2. Komplemen; Dikatakan berfungsi sebagai komplemen atau pelengkap apabila materi pembelajaran elektronik diprogramkan untuk melengkapi materi pembelajaran yang diterima siswa di dalam kelas (Lewis: 2002). Sebagai komplemen berarti materi pembelajaran elektronik diprogramkan untuk menjadi materi reinforcement atau remedial bagi peserta didik di dalam mengikuti kegiatan pembelajaran konvensional.

3. Substitusi; Beberapa perguruan tinggi di negara maju memberikan beberapa alternatif model kegiatan pembelajaran/perkuliahan kepada para mahasiswanya. Tujuannya agar para mahasiswa dapat secara fleksibel mengelola kegiatan perkuliahannya sesuai dengan waktu dan aktivitas lain sehari-hari mahasiswa.

2.3.5 Model-Model e-Learning
Berdasarkan definisi dari ASTD, e-learning bisa dibagi ke dalam empat model, yaitu:
1. Web-Based Learning (Pembelajaran Berbasis Web)
Pembelajaran berbasis web merupakan “sistem pembelajaran jarak jauh berbasis teknologi informasi dan komunikasi dengan antarmuka web” (Munir 2009: 231). Dalam pembelajaran berbasis web, peserta didik melakukan kegiatan pembelajaran secara online melalui sebuah situs web. Merekapun bisa saling berkomunikasi dengan rekan-rekan atau pengajar melalui fasilitas yang disediakan oleh situs web tersebut.

2. Computer-Based Learning (Pembelajaran Berbasis Komputer)
Secara sederhana, pembelajaran berbasis komputer bisa didefinisikan sebagai kegiatan pembelajaran mandiri yang bisa dilakukan oleh peserta didik dengan menggunakan sebuah sistem komputer. Rusman (2009: 49) mengemukakan bahwa
pembelajaran berbasis komputer merupakan “… program pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran dengan menggunakan software komputer yang berisi tentang judul, tujuan, materi pembelajaran dan evaluasi pembelajaran.”

3. Virtual Education (Pendidikan Virtual)
Berdasarkan definisi dari Kurbel (2001), istilah pendidikan virtual merujuk kepada suatu kegiatan pembelajaran yang terjadi di sebuah lingkungan belajar di mana pengajar dan peserta didik terpisah oleh jarak dan/atau waktu. Pihak pengajar menyediakan materi-materi pembelajaran melalui penggunaan beberapa metode seperti aplikasi LMS, bahan-bahan multimedia, pemanfaatan internet, atau konferensi video. Peserta didik menerima mater-materi pembelajaran tersebut dan berkomunikasi dengan pengajarnya dengan memanfaatkan teknologi yang sama.

4. Digital Collaboration (Kolaborasi Digital)
Kolaborasi digital adalah suatu kegiatan di mana para peserta didik yang berasal dari kelompok yang berbeda (kelas, sekolah atau bahkan negara bekerja) bersama-sama dalam sebuah proyek/tugas, sambil berbagi ide dan informasi dengan seoptimal mungkin memanfaatkan teknologi internet.

BAB 3
PEMBAHASAN

3.1 Latar belakang e-Learning pada SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto
Untuk menunjang kebutuhan sekolah akan teknologi informasi SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto sudah menggunakan komputer dan wifi internet, agar para siswa lebih mudah mendapatkan infomasi yang dibutuhkan dengan cepat. Sistem informasi pembelajaran dengan metode “e-learning” diadakan untuk menunjang proses belajar mengajar yang lebih baik dan lebih mudah. Dengan sistem ini, para guru dan para siswa dapat menyampaikan informasi dan berinteraksi dengan mudah dan cepat melalui internet. E –Learning dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya di SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto untuk pelajar yang sedang menempuh pendidikan di sekolah tersebut.
Saat ini kebutuhan akan teknologi ditingkat pendidikan sekolah menengah kejuruan meningkat terutama untuk materi pembelajaran dan mata pelajaran, memperoleh informasi mengenai pelajaran yang dipelajari maupun informasi pengetahuan umum yang diperoleh dari internet. SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto saat ini berkeinginan untuk menuju sekolah yang berbasiskan multimedia dan teknologi informasi. Dengan diterapkannya sistem seperti ini di SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto, diharapkan akan semakin mempermudah proses belajar mengajar yang berlangsung di SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto dan juga membantu kinerja
baik itu pengelola staff pengajar serta pengurus organisasi sekolah yang dalam hal ini berada dibawah naungan OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah). Dengan semakin fleksibelitasnya proses belajar mengajar tersebut, maka diharapkan dapat meningkatkan kualitas dari para siswa itu sendiri.

3.2 Sistem Pembelajaran E-Learning
Seiring perkembangan ilmu dan teknologi, proses pembelajaran mulai bergeser pada proses belajar (learning), berbasis pada masalah (case base), bersifat kontekstual dan tidak terbatas hanya untuk golongan tertentu. Pada proses pembelajaran seperti ini siswa dituntut untuk lebih aktif dengan mengoptimalkan sumber-sumber belajar yang ada.
• Sistem pembelajaran jarak jauh
Sistem pembelajaran jarak jauh merupakan suatu metode instruksional antara pengajar dan pelajar untuk memberikan kesempatan belajar tanpa dibatasi oleh kendala waktu, ruang dan tempat serta keterbatasan sistem pendidikan tradisional (Eileen, 2001). Pada sistem pembelajaran jarak jauh, pelajar tidak perlu datang ke sekolah, mendengarkan pengajar mengajar dan aktivitas pembelajaran konvensional lainnya. Siswa dapat belajar di rumah, mengerjakan soal-soal latihan seperti yang terjadi pada metode pembelajaran tradisional. Interaksi Antara pengajar dan pelajar masih tetap berlangsung dengan media yang memungkinkan interaksi tersebut terjadi.

• Teknologi Pembelajaran Jarak Jauh
Berdasarkan waktu terjadinya proses belajar mengajar, terdapat dua jenis sistem pembelajaran jarak jauh yaitu synchronous dan asynchronous. Pada system synchronous, pelajar dan pengajar berada dalam waktu bersamaan, sedangkan dalam sistem Asynchronous pengajar dan pelajaran tidak berada dalam waktu yang bersamaan.

o Web Based Learning
Web-based learning termasuk salah satu metode dan teknologi yang digunakan dalam pembelajaran jarak jauh. Pada Web- Based learning, penyampaian dan akses materi pengajaran dilakukan melalui media elektronik menggunakan Web sever untuk menyampaikan materi, Web browser untuk mengakses materi pelajaran, dan TCP/IP (Transmision Control Protocol/Internet Protocol) dan HTTP (Hyper Text Transfer Protocol) sebagai protocol untuk melakukan komunikasi

o Sistem Electronic Learning (E-Learning)
Sistem e-learning merupakan bentuk pendidikan jarak jauh yang menggunakan media elektronik sebagai media penyampaian materi dan komunikasi antara pengajar dengan pelajarnya. E-learning adalah istilah yang paling baru pada sistem pendidikan jarak jauh dan istilah ini diperuntukkan bagi pembelajaran secara elektronik termasuk media komputer dan telekomunikasi. (Int 1996).

3.3 Evaluasi e-learning pada SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto
Berdasarkan studi yang telah dilakukan oleh Hanum (2013) mengenai pengujian kefektivitasan e-learning di SMK Telkom Sandhy Putra Purwoker terdapat empat aspek e-learning yang perlu diperhatikan dalam penerapannya, antara lain:
1. Perencanaan Pembelajaran
Menurut Hanum, perencanaan pembelajaran ini berisikan segala gambaran mengenai aktivitas-aktivitas maupun tindakan yang akan dilaksanakan pada saat berlangsungnya proses pembelajaran. Dengan demikian dapat disimpulkan, aplikasi perencanaan pembelajaran yang ber- basis e-learning memuat rencana, perkiraan dan gambaran umum kegiatan pembelajaran dengan memanfaatkan jaringan komputer, baik intranet maupun internet. Lingkup perencanaan pembelajaran meliputi empat komponen utama, yaitu tujuan, materi atau bahan ajar, kegiatan belajar mengajar, dan evaluasi.

2. Perancangan dan Pembuatan Materi
Menurut Daniswara (2011: 2), dalam proses pembelajaran konten memegang peranan penting karena langsung berhubungan dengan proses pembelajaran peserta (siswa). Konten merupakan obyek pembelajaran yang menjadi salah satu parameter keberhasilan e- learning melalui jenis, isi dan bobot konten. Sistem e-learning harus dapat:
1. Menyediakan konten yang bersifat teacher-centered yaitu konten instruk- sional yang bersifat prosedural, deklaratif serta terdefinisi dengan baik dan jelas.
2. Menyediakan konten yang bersifat learner-centered yaitu konten yang menyajikan hasil (outcomes) dari instruk- sional yang terfokus pada pengembangan kreatifitas dan memaksimalkan ke- mandirian.
3. Menyediakan contoh kerja (work example) pada material konten untuk mempermudah pemahaman dan mem- berikan kesempatan untuk berlatih.
4. Menambahkan konten berupa games edukatif sebagai media berlatih alat bantu pembuatan pertanyaan.
Beberapa prinsip membuat situs pembelajaran atau website e-learning menurut Munir (2009:29) antara lain:
a. Tujuan yang jelas
Perumusan tujuan harus jelas, spesifik, teramati, dan terukur untuk mengubah perilaku pembelajar.
b. Relevan dengan kebutuhan
Program pembelajaran jarak jauh relevan dengan kebutuhan pembelajar, masyarakat, dunia kerja, atau lembaga pendidikan.
c. Mutu pendidikan
Pengembangan program pembelajaran jarak jauh merupakan upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan yaitu mutu proses pembelajaran yang ditandai dengan proses pembelajaran yang lebih aktif atau mutu lulusan yang lebih produktif.
d. Efisien dan efektivitas program
Pengembangan program pembelajaran jarak jauh harus mempertimbangkan efisiensi pelaksanaan dan ekfektivitas produk program. Efisien mencakup penghematan dalam penggunaan tenaga, biaya, sumber dan waktu, sedapat mungkin menggunakan hal-hal yang tersedia. Efektifitas memperhatikan hasil-hasil yang dicapai oleh lulusan, dampaknya terhadap program dan terhadap masyarakat.

e. Pemerataan dan perluasan kesempatan belajar.
Pemerataan dan perluasan kesempatan belajar, khususnya bagi yang tidak sempat mengikuti pendidikan formal karena jauh atau sibuk bekerja. Itulah sebabnya pembelajaran jarak jauh memberikan kemudahan bagi pembelajar untuk belajar mandiri yang belajarnya tidak terikat dengan ruangan kelas dan waktu.
f. Kemandirian
Kemandirian baik dalam pengelolaan, pembiayaan, dan kegiatan belajar.
g. Keterpaduan
Keterpaduan, yaitu mengharuskan adanya keterpaduan berbagai aspek seperti ketepaduan mata kuliah atau mata pelajaran secara multi disipliner.
h. Kesinambungan
Tugas tutor memberikan bantuan kepada pembelajar secara berkala ketika pembelajar menghadapi kesulitan dalam memahami materi pembelajaran, mengerjakan tugas, latihan, atau soal. Bantuan yang diberikan adalah membimbing untuk memahami tujuan yang akan dicapai, cara dan teknik mempelajari materi pembelajaran, penerapan metode belajar, dan bantuan lainnya yang dapat mengkondisikan pembelajar untuk belajar dan mencapai hasilnya secara optimal.
3. Penyampaian Pembelajaran
Pembelajaran dengan e-learning merupakan pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi internet untuk meningkatkan lingkungan belajar dengan konten yang kaya dengan cakupan yang luas. E-learning merupakan pemanfaatan media pembelajaran menggunakan internet, untuk mengirimkan serangkaian solusi yang dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan.

Setiap metode pembelajaran harus me- ngandung rumusan pengorganisasian bahan pelajaran, strategi penyampaian, dan penge- lolaan kegiatan dengan memperhatikan faktor tujuan belajar, hambatan belajar, karakteristik siswa, agar dapat diperoleh efektivitas, efisiensi dan daya Tarik pembelajaran.

4. Evaluasi Pelaksanaan Pembelajaran
Evaluasi pembelajaran merupakan alat indikator untuk menilai pencapaian tujuan- tujuan yang telah ditentukan serta menilai proses pelaksanaan mengajar secara ke- seluruhan. Evaluasi bukan hanya sekedar menilai suatu aktivitas secara spontan dan insidental, melainkan merupakan kegiatan untuk menilai sesuatu secara terencana, sistematik, dan terarah berdasarkan tujuan yang jelas (Rusman dkk, 2011: 42).

Kegiatan evaluasi pelaksanaan pembel- ajaran e-learning dapat dilihat dari segi peningkatan pengetahuan dan keterampilan, lingkungan belajar, dan pengaruhnya. Eva- luasi pelaksanaan e-learning merupakan proses menganalisis kualitas proses pembelajaran berbasis web (e-learning) dan sejauh mana ketercapaian dari proses e-learning tersebut untuk dapat dirasakan para pebelajar. Pelaksanaan evaluasi dilakukan sebagai bentuk penilaian terhadap berbagai komponen yang terdapat pada e-learning.
Hanun (2013) dalam studi-nya juga telah melakukan penelitian dengan mengambil sampel dari populasi guru dan siswa di SMK Telkom Sandy Putra Purwokerto. Dengan jumlah populasi 732 dan sampel sebanyak 260 dari siswa. Beserta populasi dari 42 dan 22 sebagai sampel.
Dari data-data tersebut, telah disimpulkan bahwa kecenderungan keefektifan pelaksanaan pembelajaran e-learning di SMK Telkon Sandhy Putra Purwokerto pada Tabel 3.1

No Rumus Frekuensi Persentase Klasifikasi
1. 208 ≤ M ≤ 256 4 18,18% Efektif
2. 160 ≤ M < 208 17 77,27% Cukup Efektif
3. 112 ≤ M < 160 1 4,55% Tidak Efektif
4. 64 ≤ M < 112 0 0,00% Sangat Tidak Efektif
Total 22 100%
Tabel 3.1 Distribusi Kecenderungan Keefektifan Standar Mutu Pelaksanaan E-learning sebagai Media Pembelajaran

Berdasarkan tabel 3.1, dapat dilihat bahwa pada dasarnya media e-learning sebagai media pembelajaran di SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto cenderung dalam kategori “cukup efektif” dengan tingkat persentase sebesar 77,27%. Adapu untuk lebih jelasnya, hasil dari penelitian ini dikembangkan lebih mendalam. Ketercapaian kefektifan masing-masing komponen standar mutu pelaksanaan e-learning di SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto dapat dilihat pada gambar 3.1.

Lebih lanjut, Penelitian juga dilakukan pengukuran standar mutu perencanaan e-learning apakah telah sesuai dengan indicator yang berlaku untuk konsep e-learning. Mengenai pengukuran ini dapat dilihat lebih lanjut pada gambar 3.3:

Gambar 3.3 Penilaian Indikator Standar Mutu Perencanaan E-learning

Berdasarkan gambar 3.3, dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya penerapan e-learning di SMK Sandhy Putra Purwokerto telah sesuai dengan indikator yang berlaku dan hal tersebut telah disetujui oleh sample yang diambil dengan masing-masing kategori memiliki kecenderungan “sesuai” kecuali untuk indicator kedua dimana sebanyak 83,86% memvoting indikator yang berlaku sangat sesuai.

Gambar 3.4 Penilaian Indikator Standar Mutu Perancangan dan Pembuatan Materi E-learning
Selanjutnya gambar 3.4 dan 3.5 juga menunjukkan pengukuran lainnya yaitu pada indikator mutu perancangan dan pembuatan Materi E-learning serta indikator standar mutu dalam penyampaian. Kedua hasil studi tersebut menunjukkan bahwa kesemua indikator yang diuji untuk kedua bagian ini telah sesuai dengan aturan yang berlaku. Suara terbesar pada Gambar 3.4 adalah 79,55% dimana menunjukkan suara responden tertinggi terdapat pada indikator ketiga yang menekankan bahwa perancangan dan pembuatan materi telah sesuai dengan karakteristik pembelajaran e-learning.
Adapun Munir (2009:13) telah menjelaskan bahwa karakteristik dari pembelajaran jarak jauh, antara lain:
1. Program disusun disesuaikan dengan jenjang, jenis dan sifat pendidikan
2. Dalam proses pembelajaran tidak ada pertemuan langsung secara tatap muka antara pengajar dan pembelajar.
3. Pembelajar dan pengajar terpisah sepanjang proses pembelajaran tersebut dan karenanya pembelajar harus dapat belajar secara mandiri.
4. Adanya lembaga pendidikan yang mengatur pembelajar untuk belajar mandiri.
5. Lembaga pendidikan merancang dan menyiapkan materi pembelajaran serta adanya pelayanan bantuan belajar.
6. Materi pembelajaran disampaikan melalui media pembelajaran seperti komputer dan internet.
7. Adanya komunikasi dua arah (interaktif) antara pembelajar dengan pengajar, pembelajar dengan pembelajar lain ataupun pembelajar dengan lembaga penyelenggara.
8. Tidak ada kelompok belajar yang bersifat tetap sepanjang masa belajarnya.
9. Peran pengajar yang lebih bersifat fasilitator
10. Pembelajar yang dituntut aktif dan interaktif dan partisipatif.
11. Sumber belajar adalah bahan-bahan yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan kurikulum

Gambar 3.5 Penilaian Indikator Standar Mutu Penyampaian Materi E-learning
Gambar 3.5 menunjukkan bahwa sebanyak 69,89% menggangap bahwa fasilitas tatap muka tetaplah dalam kategori “sesuai” walaupun pada intinya e-learning merupakan pembelajaran jarak jauh secara online.
Untuk kategori interaksi, e-learning di SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto berdasarkan hasil studi Hanum (2013) Interaksi yang terjadi antara siswa, guru-siswa, dan siswa-materi telah sesuai dan memenuhi kriteria, hal ini juga berlaku pada indikator bahwa interaksi dapat dilakukan baik secara synchronous maupun asynchronous.
Evaluasi juga dilakukan dengan baik oleh pihak pengelola e-learning di SMK Putra Purwokerto mulai dari isi materi, proses, pelaksanaan serta tata cara proses registrasi telah dibabarkan dengan baik.

Gambar 3.6 Halaman utama dari portal e-learning di SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto
(http://elearning.smktelkom-pwt.sch.id/login/index.php)

3.4 Kesenjangan pada proses pelaksanaan pembelajaran E-learning di SMK Telkon Sandhy Putra
Kecenderungan keefektifan pelaksanaan pembelajaran e-learning di SMK Telkon Sandhy Putra Purwokerto menunjukkan pernyataan guru, bahwa pelaksanaan pembe-lajaran e-learning sebagai media pembelajar-an di SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto secara keseluruhan cukup efektif dengan tingkat kecenderungan sebesar 77,27%. Akan tetapi, bagi sekelompok pengajar, pelaksanaan pembelajaran e-learning ini tidak efektif. Dapat diketahui persentase keefektifan standar mutu pelak-sanaan implementasi e-learning dari masing-masing variabel tergolong cukup efektif. Keefektifan komponen perencanaan pembel-ajaran sebesar 74,50%, komponen perancang-an dan pembuatan materi sebesar 75,27%, komponen penyampaian pembelajaran sebesar 75%, komponen interaksi pembelajaran sebesar 66,10%, dan komponen evaluasi pelak-sanaan sebesar 69,01%.
Kesenjangan pada komponen perencanaan pembelajaran e-learning yaitu belum adanya komitmen dari sekolah untuk melaksanakan pembelajaran e-learning secara optimal, proses pembelajaran belum diarah-kan pada pembelajaran berbasis e-learning. Sehingga tingkat urgensi pem-belajaran menggunakan media e-learning masih kurang.
Rekomendasi untuk meningkatkan keefektifan perencanaan pembelajaran e-learning yaitu perlu memperhatikan aspek utama perencanaan implementasi e-learning sebagai langkah awal pemanfaatan e-learning sebagai media pembelajaran. Hal yang perlu diperhatikan antara lain:
1. Pelaksanaan perencanaan pembelajaran dengan e-learning dapat diawali dengan analisis kebutuhan untuk mengetahui kondisi lingkungan sekolah dan pem-belajaran pada umumnya agar mampu melaksanakan pembelajaran dengan e-learning secara optimal
2. Ketersediaan jaringan (network), meren-canakan persiapan dari segi infrastruktur dan teknologi.
3. Ketersediaan fasilitas sekolah antara lain ketersediaan hardware dan software, serta ruang kelas atau laboratorium kom-puter sebagai ruang belajar dengan memanfaatkan metode blended learning yang menggunakan e-learning
4. Guru membuat atau menyediakan Ran-cangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan silabus yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran konvensional dan pelaksanaan pembelajaran dengan e-learning
5. Guru merumuskan tujuan pembelajaran yang jelas
6. Guru merencanakan materi ajar untuk menyediakannya dalam e-learning. Ma-teri diberikan sesuai dengan analisa kebutuhan dan kemampuan siswa serta disesuaikan dengan kompetensi yang dibutuhkan
7. Agar mencapai hasil yang maksimal, pihak sekolah harus membuat kebijakan agar guru melaksanakan pembelajaran e-learning dengan optimal dan siswa tertarik untuk belajar dengan meng-gunakan e-learning sekolah

Ketercapaian Standar Mutu Perancangan dan Pembuatan Materi E-learning
Kesenjangan terkait dengan komponen perancangan dan pembuatan materi e-learning pada pelaksanaan pembelajaran e-learning di SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto yaitu pembuatan e-learning belum didaftarkan hak ciptanya, sehingga belum memenuhi kaidah pembelajaran berbasis internet, serta beberapa guru belum memahami secara mendalam me-ngenai pengelolaan course dalam e-learning.
Rekomendasi untuk komponen pe-rancangan dan pembuatan materi e-learning yaitu aspek perancangan dan pembuatan materi merupakan kegiatan yang dibutuhkan dalam mengelola pembelajaran e-learning yang berkaitan dengan proses pembelajaran oleh guru. Untuk mempersiapkan pelaksanaan perancangan dan pembuatan materi, sebainya perlu diperhatikan:
1. Ketersediaan hardware dan software, dalam hal ini ketersediaan hardware yang mendukung ditinjau dari sisi server dan client, LAN WAN, switch, dan bandwidth, serta ketersediaan software sistem dan software aplikasi untuk me-ngembangkan media pembelajaran ber-basis e-learning
2. Kesiapan brainware untuk mengelola hardware dan software
3. Penerapan pembelajaran multimedia yang bersifat interaktif untuk mendorong peserta didik aktif belajar
4. Guru membuat bahan ajar yang mudah dikelola dan diperbaharui
5. Kemudahan akses bahan ajar.
6. Guru mendesain materi ajar dengan memperhatikan tampilan, interaksi/aspek interaktivitas, kontrol (melalui beberapa mekanisme antara lain menyusun menu, panel, dan fasilitas bantuan yang mem-perjelas mekanisme materi ajar), bentuk atau jenis materi, dan susunan materi.

Ketercapaian Standar Mutu Penyampaian Pembelajaran E-learning
Pembelajaran e-learning SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto yaitu strategi belajar dengan menggunakan multimedia belum sepenuhnya diadaptasi dan kurangnya penambahan materi pembelajaran yang ber-sifat interaktif untuk setiap mata pelajaran.
Rekomendasi untuk komponen pe-nyampaian pembelajaran e-learning, yaitu guru memperhatikan aspek-aspek penting dalam penyampaian pembelajaran dengan e-learning untuk meningkatkan metode pe-nyampaian pembelajarannya. Hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain:
1. Menentukan sasaran dan tujuan pembelajaran
2. Membuat isi pembelajaran, dimana dan bagaimana materi pembelajaran yang ber-sifat interaktif dapat digunakan secara efektif
3. Merancang proses pembelajaran serta operasionalnya
4. Meningkatkan keterampilan seorang peng-ajar yang berkelanjutan melalui berbagai pelatihan menggunakan multimedia kom-puter
5. Mengetahui pengoperasian dan peme-liharaan hardware serta pengetahuan tentang pemilihan software pembelajaran
6. Mengintegrasikan pembelajaran melalui e-learning dengan kurikulum
7. Mengetahui teknik-teknik pembelajaran menggunakan komputer
8. Lebih peka terhadap perkembangan tek-nologi terkini (up to date)

Ketercapaian Standar Mutu Interaksi Pembelajaran E-learning
Kesenjangan komponen interaksi pem-belajaran e-learning di SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto yaitu menyediakan interaksi pembelajaran melalui e-learning. Rekomen-dasi untuk komponen interaksi pembelajaran dengan e-learning yaitu pemanfaatan jaringan komputer untuk meningkatkan interaktivitas pembelajaran. Jaringan komputer dapat di-manfaatkan dalam pembelajaran e-learning sehingga guru dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran dengan melaksanakan penye-baran informasi, komunikasi dua arah melalui jaringan internet, sarana diskusi, dan sarana memberikan tugas atau materi.
Interaksi pembelajaran dapat berjalan apabila terdapat pengelola pembelajaran (guru), sumber belajar, subyek pembelajar (siswa), interaksi antara pengajar/guru. Penge-lolaan pembelajaran dapat dilakukan oleh guru, sehingga guru memberikan peran aktif dalam sistem pembelajaran termasuk dalam e-learning. Siswa tidak dapat belajar dengan baik, serta mengakses sistem pembelajaran jika tidak ada jaringan komputer dan konten-konten pembelajaran.

3.5 Manfaat Penerapan E-learning pada SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto
1. Memberikan tujuan dan perencanaan pembelajaran pada dasarnya merupakan gambaran mengenai beberapa aktivitas dan tindakan yang akan dilakukan pada saat berlangsungnya proses pembel-ajaran.
2. Memudahkan penyampaian materi pembelajaran kepada pembelajar secara online Pembelajaran dari mana dan kapan saja (time and place flexibility).
3. Menjangkau peserta didik dalam cakupan yang luas (global audience). Mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi pembelajaran (easy updating of content as well as archivable capabilities.
4. Memberikan bantuan dan kemudahan bagi pembelajar untuk mengerjakan tugas-tugas dengan perintah dan arahan yang jelas.
5. Memungkinkan kita juga dapat berkomunikasi dengan guru/dosen setiap saat, misalnya melalui chatting dan email. Mengingat sumber belajar yang sudah dikemas secara elektronik dan tersedia untuk diakses melalui internet, maka kita dapat melakukan interaksi dengan sumber belajar ini kapan saja dan dari mana saja, juga tugas-tugas pekerjaan rumah dapat diserahkan kepada guru/dosen begitu selesai dikerjakan.

BAB 4
PENUTUP

1.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian diperoleh kesimpulan :
• Pemanfaatan E-Learning sangat membantu sistem yang berjalan di SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto.
• Penerapan E-Learning di SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto memiliki beberapa masalah namun dapat teratasi oleh penyelesaian masalah.
• Penerapan E-Learning di SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto terus berkembang.
• Dengan implementasi configuration management, service desk di SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto dapat menyediakan kualitas pelayanan teknologi informasi yang tinggi kepada klien.

1.2 Saran
• Terkait dengan penelitian tentang kendala pelaksanaan E-Learning di SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto, perkembangan E-Learning di SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto dapat di adakan secara efektif dan efisien jika ada dukungan yang lebih baik dari karyawan dan diadakannya pelatihan.
• Penerapan E-Learning pada SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto dapat berjalan dengan lebih baik dengan adanya update dan maintenance serta perhatian penuh dari pihak yang bersangkutan yang memanfaatkan dan menggunakan sistem tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Clark, D. (2010). Defining eLearning. [Online]. Tersedia: http://nwlink.com/~Donclark/hrd/elearning/define.html
Eileen T. Bender, 2001 : Introduction to Distance Learning;
http://www.indiana.edu/~scs/dl prime.html. diambil pada mei 2006
Hanun, Numiek Sulistyo. 2013. Keefektifan e-Learning Sebagai Media Pembelajaran (Studi Evaluasi Model Pembelajaran E-Learning SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto). Diakses pada journal.uny.ac.id/index.php/jpv/article/…/1584/1314
Int, 1996 Chapter 1 : Introduction to Distance Learning;
http://www.indiana.edu/~scs/dl prime.html.
Kamil, M. (2010). e-Learning Sebuah Prospek Pembelajaran. [Online]. Tersedia: http://file.upi.edu/Direktori/SPS/PRODI.PENDIDIKAN_LUAR_SEKOLAH/196111091987031-MUSTOFA_KAMIL/Bhaan_kuliah/e-learning.pdf.
Kurbel, K. (2001). Virtuality on the Students' and on the Teachers' sides: A Multimedia and Internet based International Master Program. Berlin: ICEF Berlin GmbH (Eds.).
Munir. (2009). Pembelajaran jarak jauh ber-basis teknologi informasi dan komu-nikasi. Bandung: Alfabeta.
Moeng, B. (2004). IBM Tackles Learning in the Workplace. [Online]. Tersedia: http://www.itweb.co.za/sections/business/2004/0411081222.asp?A=BED&S=Business%20Education%20and%20Training&O=FPIN
Munir. (2009). Pembelajaran Jarak Jauh. Bandung: Alfabeta.
Riyana, C. (2007). Konsep Dasar e-Learning. Dokumen presentasi pada perkuliahan e-learning di Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.
Rusman. (2009). “Pemanfaatan Internet untuk Pembelajaran”, dalam Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pembelajaran. Bandung: Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia.
Stockley, D. (2012). E-Learning Definition and Explanation. [Online]. Tersedia: http://derekstockley.com.au/elearning-definition.html
The American Society for Training and Development (ASTD). (2012). Definition of e-Learning. [Online]. Tersedia: http://www.about-elearning.com/definition-of-e-learning.html.

LAMPIRAN
RIWAYAT HIDUP
Nama : Arni Virani
Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 26 Juli 1993
Alamat : Interkota blok A5 no. 11, Cengkareng, Jakarta Barat
No. Telepon : 08197670261
Email : ni.arnie@live.com
Jenis Kelamin : Wanita
Riwayat Pendidikan :
2011-sekarang Sistem Informasi
School of Information System, BINUS University
2008-2011 SMA Tarsisius 1
2005-2008 SMP Vianney
1999-2005 SD Vianney
1996-1999 TK Damai

Pengalaman Kerja :
2011 Sales Promotion Antivirus, Softlenses, MasterCard.
2012 PIC Mid-Year Gathering Novartis
2013 Volunteer untuk SUA Jakarta


RIWAYAT HIDUP
Nama : David Santoso
Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 13 Juni 1993
Alamat : Jl. Taman Meruya Ilir Blok I2 No.24, Jakarta Barat 11620
No. Telepon : 08988246820
Email : Santosodavid93@gmail.com
Jenis Kelamin : Laki – laki
Riwayat Pendidikan :
2011-sekarang Sistem Informasi
Peminatan : ERP
School of Information System, BINUS University
2008-2011 SMA SMA Pelita 2
2005-2008 SMP SMA Pelita 2
1999-2005 SD SMA Pelita 2
1996-1999 TK SMA Pelita 2

Pengalaman Kerja :
2011 – Sales Promotion PT. Unilever Indonesia
– Credit Card Sales Marketting of PT.UOB Buana Indonesia
2012 Liaison Officer of Asean English Olympic by BNEC


RIWAYAT HIDUP
Nama : Hendy Salim
Tempat, Tanggal Lahir : Bandar Lampung, 4 maret 1992
Alamat : Jl. Haji taisir no 5, Jakarta Barat
No. Telepon : 087899844883
Email : hendisalim21@yahoo.com
Jenis Kelamin : Laki – laki
Riwayat Pendidikan :
2011-sekarang Sistem Informasi
Peminatan : ERP
School of Information System, BINUS University
2008-2011 SMA Immanuel Bandar Lampung
2005-2008 SMP Immanuel Bandar Lampung
1999-2005 SD Immanuel Bandar Lampung
1996-1999 TK Immanuel Bandar Lampung

Pengalaman Kerja : –

RIWAYAT HIDUP
Nama : Rendy Rinaldo
Tempat, TanggalLahir : Tanjungpinang, 12 Juni 1993
Alamat : Gg. Keluarga No. 39 B, Kemanggisan, Jakarta Barat 11480
No. Telepon : 083873373828
Email : rendyrinaldo77@gmail.com
JenisKelamin : Laki – laki
RiwayatPendidikan :
2011-sekarang Sistem Informasi
Peminatan : ERP
School of Information System, BINUS University
2008-2011 SMAN 1 Tanjungpinang
2005-2008 SMPN 1 Tanjungpinang
1999-2005 SD Katolik
1996-1999 TK Djuwita

PengalamanKerja :
2013 Translator / Interpreter untuk Tech In Asia
2013 Volunteer untuk Startup Asia Jakarta
2012 – 2013 Tutor untuk kelas TOEFL dan PSP (Public Speaking and Performance)
2012 & 2013 Panitia di Binus Online Job Expo 2012 dan 2013

RIWAYAT HIDUP
Nama : Jennifer Pauling
Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 11 November 1993
Alamat : Jl. 21 No.12 B RT01 RW08 Teluk Gong, Jakarta Utara 14450
No. Telepon : 083893953885
Email : jenniferpauling11@gmail.com
Jenis Kelamin : Perempuan
Riwayat Pendidikan :
2011-sekarang Sistem Informasi
Peminatan : ERP
School of Information System, BINUS University
2008-2011 SMA Negeri 1 Tanjungpinang
2005-2008 SMP Negeri 5 Tanjungpinang
1999-2005 SD Swasta Katolik Tanajungpinang
1996-1999 TK Djuwita Tanjungpinang

Pengalaman Kerja :
2011-now – Math, Physics, and Chemistry Teacher at Proverbs Course
2012-now – Duta Binusian as Mentor in BINUS Student Learning Community (BSLC)
– English TOEFL Intermediate One Tutor in Bina Nusantara English Club (BNEC)

RIWAYAT HIDUP
Nama : Toni Sugino
Tempat, Tanggal Lahir : Pontianak, 20 Juni 1993
Alamat : Jl. Batusari Raya No.80, Palmerah, Jakarta Barat
No. Telepon : 089602466815
Email : toni_sho@ymail.com
Jenis Kelamin : Laki – laki
Riwayat Pendidikan :
2011-sekarang Sistem Informasi
Peminatan : ERP
School of Information System, BINUS University
2008-2011 SMA Gembala Baik
2005-2008 SMP Gembala Baik
1999-2005 SD Gembala Baik
1996-1999 TK Gembala Baik

Pengalaman Kerja :
2013 Translator / Interpreter for Tech In Asia
2013 Liaison Officer / Volunteer for Startup Asia Jakarta

This entry was posted in Topik Topik Lanjutan SI. Bookmark the permalink.