Hacked By RxR HaCkEr

Hacked By RxR HaCkEr

Posted in Topik Topik Lanjutan SI | Comments Off on Hacked By RxR HaCkEr

Pengelolaan Online Branding P&G (Procter & Gamble) terhadap Protes Organisasi Greenpeace terkait Perkara Pasokan Minyak Kelapa Sawit

Universitas Bina Nusantara

______________________________________________________________________

Jurusan Sistem Informasi
School of Information Systems
Karya Tulis Ilmiah
M0214 – Topik-Topik Lanjutan Sistem Informasi
Semester Genap tahun 2013/2014
Halaman Abstrak
Pengelolaan Online Branding P&G (Procter & Gamble) terhadap Protes Organisasi Greenpeace terkait Perkara Pasokan Minyak Kelapa Sawit

Kelas / Kelompok: 06PKM / 05

Anggota Kelompok:
Arni Virani : 1501155411
Toni Sugino : 1501169865
Hendy Salim : 1501178522
Rendy Rinaldo : 1501188473
Jennifer Pauling : 1501189053
David Santoso : 1501194015

ABSTRAK
Dengan semakin dinamisnya lingkungan bisnis yang juga diperkokoh dengan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi, maka perusahaan kini mulai dengan strategi yang berbeda dalam memasarkan produk dan merek perusahaan. Salah media pemasaran yang dipercaya sangat efektif pada masa kini adalah secara online melalui internet, baik itu berupa blogspot, forum diskusi, dan sosial media, seperti twitter, facebook, serta instagram. Melalui media online ini, perusahaan dapat menyebarkan informasi terkini terkait perusahaan, seperti produk terbaru, promo, atau event sosial dengan tujuan agar dapat berinteraksi aktif dengan pelanggan untuk menerima tanggapan, saran, kritik, maupun pertanyaan. Media online yang sangat luas dan terbuka ini membuat perusahaan harus sangat berhati-hati dalam mengelola reputasinya, karena pelanggan sangat sensitif terhadap isu-isu negatif dan hal ini tentunya bisa mempengaruhi pelanggan dalam memilih suatu produk atau jasa. Dalam karya tulis ini akan dibahas beberapa tindakan yang diambil oleh perusahaan P&G (Procter & Gamble) dalam memulihkan nama baiknya terkait perkara pasokan minyak kelapa sawit illegal yang merusak keanekaragaman hayati hutan di berbagai negara, seperti Indonesia, Malaysia, dan Afrika.

Kata kunci: Media Online, Sosial Media, Reputasi Perusahaan, P&G.

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Perusahaan di seluruh dunia tentunya saling berkompetisi agar produk atau jasa yang ditawarkan bisa disukai oleh banyak pelanggan. Oleh karena itu, perusahaan harus memiliki strategi kompetitif agar lebih unggul daripada perusahaan lain, sehingga kini banyak perusahaan mulai beralih menuju strategi online internet dalam memasarkan produk serta jasanya, yakni berupa e-commerce maupun e-business.

Namun persaingan di internet kini sudah semakin ketat, sehingga banyak perusahaan memperkuat posisi perusahaan melalui sosial media, seperti facebook, twitter, dan instagram. Sosial media dipilih mengingat bahwa tren komunikasi sebagian besar masyarakat dunia saat ini adalah Instant Messaging (IM), VoIP (Voice over Internet Protocol), dan sharing berbagai jenis data, gambar, video, dan musik secara simultan melalui jaringan internet.

Segala media online yang dimanfaatkan perusahan saat ini selain memberi peluang bisnis, ternyata memberi kerentanan pada perusahaan. Kerentanan ini terjadi karena informasi sangat cepat dan mudah menyebar ke seluruh lapisan masyarakat dunia, sehingga apabila perusahaan melakukan sedikit saja kesalahan, maka isu-isu negatif perusahaan dapat menimbulkan citra buruk perusahaan di mata masyarakat. Berdasarkan alasan kuat ini, maka sebagian besar perusahaan kini sudah memiliki bagian organisasi khusus yang menangani online branding perusahaan.

Online branding biasanya dimulai oleh sebuah perusahaan melalui pembuatan situs resmi milik perusahaan, sehingga masyarakat bisa memperoleh informasi lengkap terkait visi, misi, nilai dan budaya perusahaan, struktur organisasi, aktivitas sosial, hingga produk atau jasa yang ditawarkan ke masyarakat. Setelah memiliki website perusahaan akan memperkuat merek perusahaannya melalui akun pada sosial media, dengan melakukan posting terhadap poduk terbaru atau event yang diadakan perusahaan untuk mengajak masyarakat agar percaya terhadap komitmen perusahaan.

Salah satu perusahaan terkuat dunia P&G (Procter & Gamble) dengan produk unggulan yang sudah dipercaya jutaan masyarakat dunia, yaitu Head & Shoulders, Rejoice, Pantene, Gillete pada awal tahun 2014 ini menerima protes massa yang dipelopori oleh organisasi Greenpeace terkait pasokan illegal minyak kelapa sawit. Isu ini kini sudah tersebar luas di dunia maya, hal ini tentunya membuat P&G harus mencari solusi untuk pemulihan atas nama baik perusahaan agar masyarakat tidak memiliki pandangan negatif dan mulai meninggalkan produk P&G. Solusi yang diambil ke depannya oelh P&G harus disosialisasikan secara global dengan terlebih dahulu mengklarifikasikan isu negatif tersebut dan kemudian membuat sebuah kebijakan atau tindakan pertanggungjawaban terhadap masyarakat.

1.2 Ruang Lingkup
Karya tulis ilmiah ini akan membahas tentang pengelolaan online branding perusahaan dengan mencakup hal-hal di bawah ini.

1. Pemaparan berisi tentang pengelolaan online branding pada perusahaan P&G (Procter & Gamble).
2. Pembahasan online branding ini hanya terkait isu pasokan kepala sawit tahun 2014 yang dipelopori oleh organisasi Greenpeace, yang secara lebih lengkap bisa diakses melalui: http://www.greenpeace.org/seasia/id/press/releases/Tekanan-publik-berhasil-merubah-Procter–Gamble-untuk-membersihkan-produk-mereka-dari-deforestasi-/ .
3. Karya tulis ini akan memberikan gambaran awal tentang profil perusahaan P&G dan kemudian diakhiri dengan solusi yang diambil P&G terkait pemulihan online branding perusahaan.

1.3 Tujuan dan Manfaat

Tujuan dasar yang ingin dicapai dalam penyusunan karya tulis imiah ini adalah:

1. Memahami pentingnya pengelolaan online branding perusahaan.
2. Menganalisa kasus pasokan kelapa sawit P&G yang diprotes Greenpeace dan dampaknya bagi P&G.

Sedangkan beberapa manfaat yang diperoleh sebagai hasil pembahasan topik dalam karya tulis ini, antara lain:
1. Dapat mengetahui online branding yang dilakukan oleh perusahaan P&G (melalui situr resminya: http://www.pg.com/ .
2. Dapat mengidentifikasi permasalahan dan solusi pada studi kasus P&G dan Greenpeace.
3. Dapat menyimpulkan pentingnya peranan online branding dan memberikan saran terkait kasus P&G dan Greenpeace.

1.4 Metodologi Penulisan
Karya tulis ini disusun dengan dua metode utama, yaitu metode studi pustaka dan metode analisa terhadap studi kasus pasokan kelapa sawit di P& G. Metode studi pustaka dilakukan dengan mempelajari referensi dari berbagai sumber, seperti buku penunjang terkait online branding dan membaca berbagai artikel serta forum yang membahas lebih lanjut terkait online branding.
Sedangkan metode analisa dilakukan dengan mangakses kasus pada http://www.greenpeace.org kemudian mempelajarinya untuk mengidentifikasi permasalahan dan solusi yang diambil sesuai dengan relevansi terhadap profil perusahaan P&G pada http://www.pg.com/.

1.5 Sistematika Penulisan
Karya tulis ilmiah ini terdiri atas beberapa bab pembahasan, yaitu:

 BAB 1 : PENDAHULUAN
Pada bab ini akan dijelaskan mengenai gambaran awal mengenai pentingnya pengelolaan online branding pada sustu perusahaan dan sebagai pembelajaran adalah kasus protes Greenpeace terhadap P&G, yang terdiri atas latar belakang, ruang lingkup, tujuan dan manfaat penulisan, serta metodologi penulisan laporan.

 BAB 2 : LANDASAN TEORI
Pada bab ini berisikan landasan literatur berupa teori umum hingga teori khusus sebagai dasar pengetahuan untuk pemahaman tentang konsep dasar online branding, jenis brand, arsitektur brand, strategi brand, manfaat brand, dan tahapan untuk mengelola brand.

 BAB 3 : PEMBAHASAN
Pada bab ini akan membahas secara lebih nyata studi kasus online branding pada perusahaan P&G, yang mencakup penjelasan profil perusahaan tentang tujuan, nilai, prinsip, dan produk, serta pembahasan inti terkait masalah dan solusi yang dilakukan oleh perusahaan.

 BAB 4 : PENUTUP
Bab ini akan menyimpulkan keseluruhan pembahasan mengenai online branding secara umum dan secara khusus terkait dengan studi kasus, serta pada akhirnya memberikan saran bagi perusahaan P&G dalam mengelola online branding.

BAB 2
LANDASAN TEORI

2.1 Teori umum
2.1.1 Pengertian Brand
Pengertian brand menurut David A.Aaker adalah nama dan atau simbol yang bersifat membedakan (seperti sebuah logo, cap atau kemasan) dengan maksud mengidentifikasi barang atau jasa dari seorang penjual atau sebuah kelompok penjual tertentu. Dengan demikian suatu brand membedakannya dari barang dan jasa yang dihasilkan oleh kompetitor. Sedangkan menurut William J. Stanton brand adalah nama, istilah, simbol atau desain khusus atau beberapa kombinasi unsur ¬unsur ini yang dirancang untuk mengidentifikasikan barang atau jasa yang ditawarkan oleh penjual. Dengan demikian, dapat disimpulkai bahwa brand mempunyai dua unsur, yaitu Brand name yang terdiri dari huruf-huruf atau kata¬ kata yang dapat terbaca, serta Brand mark yang berbentuk symbol.brand mengandung janji perusahaan untuk secara konsisten memberikan ciri, manfaat, dan jasa tertentu kepada pembeli. brand lebih dari sekadar jaminan kualitas karena di dalamnya tercakup enam pengertian berikut ini.

1. Atribut produk, seperti halnya kualitas, gengsi, nilai jual kembali desain, dan lain-lain. Mercedes menyatakan sesuatu mahal, produk yang dibuat dengan baik, terancang baik, tahan lama, bergengsi tinggi, dan sebagainya.
2. Manfaat. Meskipun suatu brand membawa sejumlah atribut konsumen sebenarnya membeli manfaat dari produk tersebut. Dalam hal ini atribut brand diperlukan untuk diterjemahkan menjadi manfaat fungsional atau manfaat emosional. Sebagai gambaran, atribut “mahal” cenderung diterjemahkan sebagai manfaat emosional, sehingga orang yang mengendarai mercedes akan merasa dirinya dianggap penting dan dihargai.
3. Nilai. Brand juga menyatakan sesuatu tentang nilai produsen. Mercedes menyatakan produk yang berkinerja tinggi, aman, bergengsi, dan sebagainya. Dengan demikian produsen Mer¬cedes juga mendapat nilai tinggi di mata masyarakat.
4. Budaya. Brand juga mencerminkan budaya tertentu. Mercedes mencerminkan budaya Jerman yang terorganisir, konsisten, tingkat keseriusannya tinggi, efisien, dan berkualitas tinggi.
5. Kepribadian. Brand juga mencerminkan kepribadian tertentu. Sering kali produk tertentu menggunakan kepribadian orang yang terkenal untuk mendongkrak atau menopang brand produknya.
6. Pemakai. Brand menunjukkan jenis konsumen yang membeli atau menggunakan produk tersebut. Pemakai Mercedes pada umumnya diasosikan dengan orang kaya, kalangan manajer puncak, dan sebagainya. Pemakai Dimension Kiddies tentunya adalah anak-anak.

Jadi, brand adalah nama, terminologi, tanda, simbul atau desain atau kombinasi diantaranya, yang ditujukan untuk mendidentifikasi barang atau jasa dari satu penjual atau kelompok penjual dan untuk mebedakannya dari pesaing. Beberapa bagian brand antara lain adalah nama brand, tanda brand, brand dagang, dan copyright. Nama brand adalah bagian dari brand dimana bagian dari brand yang dapat disebutkan atau dieja. Tanda brand adalah bagian dari brand yang tidak dapat dieja atau disebutkan, seperti simbol, desain atau warna atau huruf yang berbeda. brand dagang adalah brand atau bagian brand yang diberikan untuk melindungi secara hukum-yaitu melindungi penjual untuk menggunakan hak eksklusif untuk menggunakan nama brand atau tanda brand. Copyright adalah hak hukum eksklusif yang diberikan untuk menggandakan, mempublikasikan, dan menjual segala sesuatu yang berbentuk buku, musik atau karya artistik.
Brand merupakan sebuah kata yang sering tidak dipahami arti kesungguhannnya dan sering menimbulkan interprestasi yang bermacam-macam. Brand sebenarnya bukanlah konsep baru. Konon, kata brand berasal dari bahasa Skandinavia kuno yaitu “Brandr” yang berarti membakar.

2.1.2. Jenis – Jenis Brand

1. Manufacturer Brand
Manufacturer brand atau merek perusahaan adalah merek yang dimiliki oleh suatu perusahaan yang memproduksi produk atau jasa. Contohnya seperti soffel, capilanos, ultraflu, so klin, philips, tessa, benq, faster, nintendo wii, vit, vitacharm, vitacimin, dan lain-lain.

2. Private brand atau merek pribadi adalah merek yang dimiliki oleh distributor atau pedagang dari produk atau jasa seperti zyrex ubud yang menjual laptop cloud everex, hipermarket giant yang menjual kapas merek giant, carrefour yang menjual produk elektrinik dengan merek bluesky, supermarket hero yang menjual gula dengan merek hero, dan lain sebagainya.

Ada juga produk generik yang merupakan produk barang atau jasa yang dipasarkan tanpa menggunakan merek atau identitas yang membedakan dengan produk lain baik dari produsen maupun pedagang. Contoh seperti sayur-mayur, minyak goreng curah, abu gosok, buah-buahan, gula pasir curah, bunga, tanaman, dan lain sebagainya.

2.1.3. Brand Strategies
Produsen, distributor atau pedagang pengecer dapat melakukan strategi merek sebagai berikut di bawah ini :

1. Individual Branding / Merek Individu
Individual branding adalah memberi merek berbeda pada produk baru seperti pada deterjen surf dan rinso dari unilever untuk membidik segmen pasar yang berbeda seperti halnya pada wings yang memproduksi deterjen merek so klin dan daia untuk segmen pasar yang beda.

2. Family Branding / Merek Keluarga
Family branding adalah memberi merek yang sama pada beberapa produk dengan alasan mendompleng merek yang sudah ada dan dikenal mesyarakat. Contoh famili branding yakni seperti merek gery yang merupakan grup dari garudafood yang mengeluarkan banyak produk berbeda dengan merek utama gery seperti gery saluut, gery soes, gery toya toya, dan lain sebagainya. Contoh lain misalnya yaitu seperti motor suzuki yang mengeluarkan varian motor suzuki smash, suzuki sky wave, suzuki spin, suzuki thunder, suzuki arashi, suzuki shodun ,suzuki satria, dan lain-lain.

2.1.4. Brand Architecture

Arsitektur brand; hirarki atau tata urutan beberapa brand yan mempunyai hubungan satu dengan yang lainnya; seringkali diawali dengan masterbrand, kemudian dijelaskan hubungannya dengan sub-brand, dan co branding.
Beberapa skenario arsitektur brand:

1. Monolithic brand
Skenario brand yang menggunakan satu brand tunggal dalam setiap produknya. Brand dipakai di semua lini produk dan jasa. Konsumen diharapkan mempunyai satu gambaran yang jelas tentang perusahaan ini, dan membuat keputusan pembelian karena loyalitas atau kepercayaan terhadap brand ini. Brand extension biasanya dinangun lewat general description. Kadang sering juga disebut Standalone atau Freestanding Brand.

2. Pluralistic Brand/Branded/Freestanding Brand
Skenario brand yang menggunakan banyak brand dalam setiap lini produk dan jasa. Setiap brand disesuaikan dengan pasar sasaran yang spesifik. Biasanya nama dari parent brand atau masterbrand tidak terlihat, atau hanya diketahui dikalangan investor.

3. Sub-brand atau subsidiary
Skenario sebuah brand yang menggunakan masterbrand digabungkan dengan brand lainnya yang berfungsi dengan nama atau jenis produk dan jasa.

4. Endorsed Brand
Adalah skenario brand dimana terjadi sinergi pemasaran antara nama produk/divisi dengan brand utaanya. Sub-brand didukung penuh oleh kredibilitas masterbrand-nya.

2.1.5. Awareness
Persentase khalayak sasaran yang mengenali keberadaan sebuah brand ketika ditanyakan dalam sebuah survei. Ada 2 tipe awareness, yang pertama adalah ‘spontaneous (spontanistas),’ yang mengukur persentase dari sejumlah orang yang secara spontan menyebut sebuah brand tertentu ketika diberi pertanyaan tentang kategori sebuah brand; dan yang kedua adalah ‘prompted (ketepatan),’ yang mengukur persentase dari sejumlah orang yang mengenal sebuah brand dari ketegori tertentu pada saat diperlihatkan daftar yang diberikan.

2.2. Mengelola Brand Asset Management
Brand Asset Management adalah proses yang telah terbukti untuk mengelola brand sebagai aset untuk memaksimalkan nilai mereka. Proses ini melibatkan empat tahapan kunci.

Phase One: Developing a Brand Vision
Pertama, menentukan strategi dan tujuan keuangan dan tujuan yang ingin dicapai oleh brand anda:
a) Seberapa baik Visi Bran anda dalam hubungannya dengan tujuan perusahaan? Jika tidak berhubungan, dapatkah Brand Asset Management membentuk hubungan itu?
b) Jurang pertumbuhan keuangan apa yang ingin anda atasi? Berapa banyak total dolar yang bisa diperoleh ?
c) Apakah pejabat manajemen setuju dengan tujuan dan obyektif brand ini? Apakah brand akan dilihat sebagai sebuah aset atau hanya piranti pemasaran ?

Phase Two: Determining Your Brand Picture
Tujuan dari fase ini adalah untuk memahami persepsi pelanggan dan sudut pandang brand anda dalam kaitannya dengan persaingan dan peluang pertumbuhan. Fase ini menanyakan beberapa hal berikut :

a) Diantara pelanggan yang ada saat ini dan yang menjadi target, apakah bran anda benar-benar dapat berdiri hari ini? Apakah kekuatan dan kelemahannya? Bagaimana jika brand kita dibandingkan dengan brand pesaing anda ?
b) Seberapa konsisten gambaran brand kita dibandingkan berbagai segmen konsumen yang lain?
c) Gambaran apa yang kita inginkan tentang brand kita di masa yang akan datang? Kontrak apa yang diinginkan? Bagaimana cara kita menjembatani jurang antara hari ini dan besuk ?
d) Bagaimana pelanggan kita membuat pilihan brand? Apakah kriteria utama pembelian mereka? Bagaimana brand kita bisa memenuhi kriteria tersebut dan dengan pesaing kita ?
e) Apakah yang tidak sesuai dengan keperluan pelanggan dan apa yang bisa dilakukan oleh brand kita saat ini?

Phase Three: Developing a Brand Asset Management Strategy
Tujuan dari fase ini adalah untuk menentukan basis strategi yang tepat untuk mencapai tujuan dan obyektif yang dinyatakan dalam Visi Brand dan di dalam persepsi pasar dan dari sudut pandang Gambaran Brand. Fase ini diarahkan dengan menggunakan pertanyaan berikut :

1) Strategi berdasarkan brand apa yang harus kita pergunakan untuk mencapai perkembangan tujuan yang telah digariskan dalam Visi Brand ?
2) Posisi apakah yang tepat untuk brand kita? Apakah posisi yang unik, kredibel, bernilai, tangguh dan sesuai dengan persepsi internal dan eksternal ?
3) Bagaimana cara memperluas brand kita? Apakah batas-batas yang ada? Layar apa yang harus kita pergunakan sebagai daya angkat untuk membuat keputusan yang dapat diperluas? Peluang produk apa yang ada di brand kita ?
4) Strategi kanal apa yang dapat mendukung tujuan kita dan obyektif untuk brand kita? Apakah cara terbaik yang bisa mempengaruhi kanal dengan brand kita
5) Dapatkah kita menghargai brand kita di tingkat yang premium berdasarkan kekuatannya dibandingkan dengan para pesaing? Seberapa mahalkah itu? Apa lagi yang bisa kita manfaatkan dari brand kita untuk meningkatkan keuntungan kita
6) Taktik komunikasi apa yang dapat memperkuat brand kita dan memaksimalkan nilai aset kita? Di manakah kekuatan proses penjualan?
7) Sekali kita bisa mencapai kekuatan tersebut, bagaimana cara kita menjaganya dan mengambil keuntungan selanjutnya?
8) Bagaimana cara kita memaksimalkan kekuatan kita dengan usaha pembentukan brand?

Phase Four: Supporting a Brand Asset Management Culture
Tujuan kedua langkah di fase ini adalah untuk menentukan cara kita dalam menggunakan brand sebagai sebuah aset dan memastikan strategi yang anda rekomendasikan dapat diterapkan dan diukur. Fase ini menggunakan beberapa pertanyaan berikut :
1) Bagaimana seharusnya kita membentuk organisasi kita untuk memaksimalkan keberhasilan brand? Bagaimana cara kita meninjau dan menghargai hal-hal yang telah terlibat dengan pengelolaan brand kita sebagai sebuah aset?
2) Matrik apa yang harus kita pergunakan untuk mengevaluasi kinerja brand kita ?
3) Keputusan apa yang bisa diberikan oleh matrik itu untuk membantu kita ?
4) Bagaimana cara kita bisa melakukan pelatihan yang efektif dan mendidik pegawai kita tentang strategi Brand Asset Management ? Bagaimana cara kita melibatkan manajemen senior untuk dapat secara aktif terlibat, mendukung dan berkomitmen dengan usaha kita ?

2.3. Manfaat Branding
2.3.1. Manfaat Branding Untuk Bisnis

1. Branding bisa menyampaikan pesan dengan jelas
Disini komunikasi memegang peranan yang cukup vital untuk menyampaikan pesan merk anda kepada para pelanggan.
Proses branding itu sendiri dalam hal ini merupakan sebuah metode komunikasi yang baik dan terarah. Sebuah merk yang baik mampu menyampaikan manfaatnya dengan jelas kepada pelanggan tanpa harus melibatkan proses periklanan yang cukup mahal.
Karenanya saat pelanggan menggunakan merk produk anda, mereka berharap bahwa merk itu mampu memberikan solusi bagi permasalahan yang mereka hadapi. Sebab itu, saat membangun merk anda harus menentukan dimuka pesan seperti apa yang hendak disampaikan kepada pelanggan saat mereka menggunakan merk produk yang anda tawarkan.
Komunikasi yang baik merupakan salah satu elemen penting dalam proses branding untuk mengkomunikasikan manfaat merk terhadap para pelanggan dengan jelas.

2. Membentuk kredibilitas
Apa yang diharapkan oleh pelanggan saat mereka memutuskan untuk membeli produk anda dibanding membeli produk pesaing? Sederhana. Mereka berharap produk anda mampu memberikan solusi yang mereka harapkan, walaupun mungkin produk pesaing juga mampu memberikan hal yang sama.
Namun karena dalam persepsi mereka merk produk anda telah berhasil diidentikkan sebagai sebuah solusi yang paling pas untuk memecahkan masalah mereka, maka produk ini telah berhasil membangun kredibilitas sebagai solusi yang paling sempurna untuk masalah yang tengah mereka hadapi. Pertanyaannya, bagaimana hal ini bisa terjadi?
Bangunlah kredibilitas produk anda dengan baik. Misalnya dengan terus berinovasi untuk menjadi lebih baik. Menunjukkan kualitas layanan yang terbaik bagi para pelanggan. Semakin tinggi tingkat kualitas merk produk anda, maka akan semakin meningkat pula kredibilitas bisnis anda di mata pelanggan.
Sehingga dengan demikian, pelanggan akan mengasosiasikan merk produk anda sebagai solusi sempurna yang tepat bagi permasalahan yang mereka hadapi.

3. Membangun hubungan emosional
Proses branding yang baik mampu menciptakan hubungan emosional antara pelanggan dengan merk. Seringkali pelanggan dalam memutuskan sesuatu lebih menggunakan emosi ketimbang logika.
Misalnya saja ketika pelanggan hendak membeli air minum dalam kemasan. Seperti yang kita ketahui ada banyak air minum dalam kemasan dengan berbagai merk yang dijual di pasaran. Rata-rata harga yang ditetapkan serta kualitasnya hampir sama. Kalaupun berbeda tidak terlalu jauh. Lantas mengapa masih banyak saja orang yang memilih air minum dengan merk Aqua? Padahal masih banyak air minum dengan merk lain yang berkualitas bahkan lebih murah dibanding merk Aqua?
Itulah kekuatan sebuah merk. Aqua telah berhasil membangun proses branding yang sangat baik terhadap pelanggannya. Mereka membangun hubungan emosional yang erat dengan mengkomunikasikan kepada para pelanggannya bahwa selain diproses dengan teknologi tinggi dan higienis sehingga sangat baik bagi kesehatan, Aqua juga turut peduli dengan lingkungan sekitar serta masyarakatnya. Mereka membuat program penghijauan lingkungan, fasilitas air bersih untuk tempat-tempat terpencil, menyediakan beasiswa bagi para pelajar yang kurang mampu, dan lain sebagainya.
Hubungan emosional yang terbentuk dengan baik antara pelanggan dengan merk akan memperkuat citra merk serta perusahaan di masyarakat, yang pada gilirannya memperkokoh posisi merk di peta persaingan.

4. Mampu memotivasi calon pelanggan
Ketika pelanggan telah menerima pesan yang disampaikan oleh merk anda dengan baik. Kemudian kredibilitas anda juga telah terbentuk dalam persepsi mereka, dimana hal ini lantas menciptakan hubungan emosional yang kuat antara merk dengan pelanggan. Setelah hubungan terjalin kuat maka merk tersebut akan menjadi motivasi tersendiri bagi pelanggan untuk secara berkesinambungan terus membeli serta menggunakan produk atau jasa anda.
Inilah hasil yang akan dicapai jika hubungan yang kuat telah terbentuk antara merk dan pelanggan. Mereka akan mengasosiasikan merk anda sebagai solusi terbaik terhadap permasalahan yang mereka hadapi. Dan hal ini hanya dapat tercapai jika tiga poin sebelumnya telah mampu anda laksanakan dengan baik.
Karenanya, fokuskan upaya anda untuk melaksanakan tiga poin diatas dengan sebaik-baiknya agar merk anda mampu memotivasi serta mempengaruhi keputusan pembelian yang dilakukan pelanggan.

5. Membangun pelanggan setia
Jika pelanggan telah membeli produk anda serta merasakan manfaatnya, dan jika proses branding diatas telah berhasil anda lakukan dengan baik maka mereka berpeluang untuk menjadi pelanggan setia anda.
Ingatlah bahwa untuk membangun pelanggan yang setia anda harus melaksanakan proses branding tersebut secara maksimal dan terurut. Karena pada intinya proses tersebut saling berhubungan satu sama lain.
Anda tidak mungkin misalnya mendapatkan pelanggan setia jika merk anda tidak mampu menimbulkan motivasi pada benak pelanggan. Dan motivasi juga tidak mungkin akan terbentuk jika hubungan antara merk dan pelanggan sendiri tidak kuat. Dan juga tidak mungkin hubungan yang kuat terbentuk jika merk anda tidak mempunyai kredibilitas di mata pelanggan. Lantas, bagaimana mungkin kredibilitas bisa terbentuk jika pesan yang hendak disampaikan oleh merk anda sendiri tidak jelas dan tidak fokus?
Kesimpulannya adalah, sekecil apapun usaha yang anda bangun, membangun merk yang kuat dan bernilai tinggi bukanlah sesuatu yang mustahil. Namun tanpa proses branding yang baik maka hal tersebut akan mustahil tercapai. Sebab itu, bangunlah merk anda dengan branding yang baik dan sempurna. Branding yang tepat akan menghasilkan merk yang kuat. Bagaimana menurut anda?

2.3.2. Manfaat Brand Identity Logo
Identitas atau logo di suatu perusahaan yang membentuk image sangat diperlukan untuk tetap menarik perhatian customer atau client. Terlebih di era Globalisasi ini yang kian bersaing ketat di berbagai belahan dunia yang memungkinkan meluasnya penyampaian informasi di berbagai pelosok di belahan dunia sehingga sangatlah penting untuk menciptakan identitas satu perusahaan agar tetap eksis dan survive dalam persaingan yang menglobal ini.
Hampir tidak ada produk yang merupakan pemain tunggal di pasar yang sangat padat dengan persaingan global ini. Perkembangan yang sangat dinamik di dunia marketing menarik banyak perusahaan besar berkecimpung di sebuah bidang usaha yang sama. Dengan demikian perusahaan saling bersaing untuk berebut perhatian dari pelanggannya atau target market mereka. Image suatu perusahaan sangat penting dalam menentukan Goals atau satu tujuan menuju keberhasilan. Image grafis tersebut berguna sebagai sarana untuk melakukan promosi, menyampaikan visi dan misi yang menggambarkan filosofi dari organisasi atau perusahaan agar lebih mudah di ingat oleh masyarakat dan memberikan citra positif kepada masyarakat.
Fungsi Corporate atau Brand Identity:
1. Sebagai patokan dari program menyeluruh strategi atau perusahaan
2. Sebagai landasan dan sistem operasional suatu perusahaan
3. Sebagai tiang jaringan (network) yang baik bagi perusahaan
4. Alat jual dan Promosi.

BAB 3
PEMBAHASAN

3.1 Company Overview Procter & Gamble
Procter & Gamble Co. atau lebih dikenal dengan P&G merupakan perusahaan internasional yang memproduksi barang keperluan sehari-hari (consumer goods). Sejarah perusahaan ini dimulai 177 tahun yang lalu, tepatnya pada 24 Agustus 1837. Saat ini P&G telah memperkerjakan lebih dari 140 ribu pekerja dan saingannya saat ini adalah Unilever.
P&G didirikan oleh William Procter, seorang pembuat lilin, dan James Gamble, seorang pembuat sabun. Ide pendirian usaha bersama ini dirintis oleh Alexander Norris, mertua mereka, yang mengadakan pertemuan di mana ia membujuk Procter dan Gamble untuk menjadi partner bisnis. Pada tanggal 24 Agustus 1837, sebagai hasil dari pertemuan tersebut, Procter & Gamble didirikan. Tanggal inilah yang kemudian diperingati sebagai hari jadi P&G pada tiap tahunnya.
Pada tanggal 24 Agustus 1858-1859, penjualan P&G berhasil mencapai $1 juta. Di titik ini, P&G memiliki sekitar 80 karyawan yang bekerja di sana. Pada masa Perang Saudara Amerika Serikat, P&G memenangkan kontrak untuk menyuplai sabun dan lilin kepada Tentara Union. Selain memberikan profit tambahan, kontrak tersebut secara tidak langsung juga memperkenalkan prodk P&G ke tentara-tentara di seluruh wilayah Amerika Serikat.
Pada tahun 1880, Procter & Gamble mulai memasarkan sebuah produk baru berupa sabun yang dapat mengambang di atas air. Perusahaan menyebut sabun tersebut sebagai Ivory. William Arnett Procter, cucu dari William Procter, mulai mengembangkan program bagi hasil ke tenaga kerja P&G pada tahun 1887. Dengan memberikan saham kepada pekerja, ia secara tepat memperkirakan risiko mogok kerja (Strike) dari pekerja menjadi kecil.
Perusahaan mulai membangun pabrik di lokasi lain di seantaro Amerika Serikat seiring dengan meningkatnya demand. Perusahaan juga mulai melakukan diversifikasi produk. Pada tahun 1911, P&G memproduksi Crisco, sejenis minyak yang terbuat dari lemak nabati alih-alih lemak binatang. Ketika radio menjadi populer pada tahun 1920-an dan 1930-an, perusahaan menyeponsori beberapa acara. Acara-acara yang disponsori oleh P&G ini di kemudian hari disebut sebagai acara “opera sabun”.
P&G juga mengembangkan usahanya ke negara lain, baik dalam hal manufaktur maupun penjualan produk, dan menjadi sebuah perusahaan internasional saat mengakuisisi Thomas Hedley Co., sebuah perusahaan yang berbasis di Newcastle upon Tyne, Inggris. Akibat akuisisi ini, P&G memiliki jaringan yang kuat dengan wilayah Barat Daya Inggris. Di saat yang sama, P&G juga banyak meluncurkan produk-produk baru dan mulai mengembangkan produksinya ke area baru. Perusahaan memperkenalkan deterjen “Tide” pada tahun 1946 dan “Prell” pada tahun 1947. Pada 1955, P&G mulai menjual pasta gigi pertama yang mengandung fluoride, yang dikenal sebagai “Crest”. Pada tahun 1955, perusahaan melebarkan sayap usahanya dengan membeli Charmin dan mulai memproduksi tissu toilet dan produk kertas lainnya. Pada tahun 1960 perusahaan meluncurkan “Downy” pelembut pakaian dan “Bounce” pada tahun 1972.
Salah satu produk inovatif yang diluncurkan P&G adlaah “Pampers” yang pertama kali dijual pada tahun 1961. Produk popok sekali pakai sudah diluncurkan sebelumnya oleh Johnson & Johnson, namun kurang populer. Produk ini menyediakan alternatif popok bayi yang ketika itu banyak menggunakan kain yang lebih mudah bocor dan sulit dibersihkan.
P&G juga membeli beberapa perusahaan dan mendiversifikasi lini produknya serta secara signifikan meningkatkan profit. Akuisisi ini termasuk pembelian Folgers Coffee, Norwich Eaton Pharmaceuticals (produsen Pepto-Bismol), Richardson-Vicks, Noxell (Noxzema), Old Spice, Max Factor, Iams, serta beberapa lainya.
Pada tahun 1994 perusahaan mengalami kerugian besar akibat skandal yang dilakukan Bankers Trust. Pada tahun 1996 P&G juga terkena skandal ketika Food and Drug Administration menyetujui produk baru perusahaan, Olestra, untuk diluncurkan ke pasar. Produk ini adalah produk pengganti lemak untuk memasak chip kentang dan makanan lainnya. Ketika itu, produk ini diketahui dapat memicu anal leakage dan masalah gastrointestinal pada manusia.
Pada tahun 2005, P&G mengumumkan akuisisi Gillete, dan membentuk perusahaan barang konsumen yang bergerak cepat terbesar kedua di dunia, dan menjadi saingan dari Unilever. Akuisisi ini disetujui oleh Uni Eropa dan Federal Trade Commission, dengan syarat P&G menjual merek-merek yang menjual produk sejenis dengan merek yang baru dibeli. P&G setuju dan menjual SpinBrush, Rembrandt, Right Guard, Soft & Dri, dan Dry Idea. Kedua perusahaan secara resmi digabung pada 1 Oktober 2005. Pada tahun 2008, P&G mengembangkan usahanya pada industri rekaman dengan melakukan sponsorship bersama Tag Records, sebagai bentuk endorsement untuk TAG Body Spray.

3.2 Tujuan, Nilai dan Prinsip Perusahaan
3.2.1 Tujuan Perusahaan
Tujuan dari P&G adalah menyediakan produk-produk dan jasa dengan kualitas dan nilai terbaik yang bisa meningkatkan kualitas kehidupan konsumennya sekarang dan untuk generasi seterusnya. Sebagai hasilnya, konsumen akan memberikan kami penjualan yang terdepan, penciptaan nilai dan laba, dan memperbolehkan orang-orang kami, para pemegang saham dan komunitas dimana kami tumbuh dan bekerja dapat menjadi sejahtera.
3.2.2 Nilai Perusahaan
Nilai-nilai yang dipegang P&G:
1. Integrity
• Kami selalu mencoba melakukan hal yang benar
• Kami jujur dan terus terang antara satu sama lain
• Kami beroperasi sesuai dengan hukum
• Kami menjunjung tinggi nilai dan prinsip dari P&G dalam setiap tindakan dan keputusan.
• Kami menyusun segala proposal dengan jujur dan berdasarkan data yang ada, termasuk dalam mengenali risiko.
2. Leadership
• Kami adalah pemimpin dalam setiap tanggung jawab yang dipikul, dengan komitmen tinggi untuk menghasilkan nilai-nilai dari pemimpin.
• Kami memiliki visi yang jelas mengenai arah yang kami tuju.
• Kami berfokus terhadap sumber daya dalam mencapai objektif dan strategi dari pemimpin.
• Kami mengembangkan kapabilitas untuk menyampaikan strategi dan mengeliminasi batas-batas organisasi
3. Ownership
• Kami menerima segala akunbilitas personal untuk memenuhi kebutuhan bisnis, meningkatkan sistem kami dan membantu dalam meningkatkan efektivitas.
• Kami bertindak sebagai pemilik, memperlakukan segala asset perusahaan seperti milik kami sendiri dan bertindak dengan kesuksesan jangka lama dalam pikiran.
4. Passion for Winning
• Kami bertekad untuk menjadi yang terbaik dalam melakukan apa yang plaing penting
• Kami memiliki ketidakpuasan dengan status quo
• Kami memiliki keinginan yang kuat untuk meningkatkan dan menang dalam pasar.
5. Trust
• Kami hormat terdahap rekan kerja, pelanggan dan konsumen P&G, dan memperlakukan mereka seperti keinginan kami dalam diperlakukan
• Kami memiliki keyakinan terhadap kapabilitas dan niat satu sama lain
• Kami percaya bahwa orang-orang bekerja dengan baik ketika ada sebuah fondasi kepercayaan
3.2.3 Prinsip Perusahaan
Prinsip yang dipegang P&G:
1. We Show Respect for All Individuals
• Kami percaya bahwa setiap individu bisa dan ingin berkontribusi dengan potensi masikmal.
• Kami menghargai perbedaan
• Kami menginspirasi dan memperbolehkan setiap orang untuk meraih ekspetasi yang tinggi, standar dan tujuan yang menantang
• Kami jujur terhadap performa setiap orang

2. The Interest of the Company and the Individual are Inseperable
• Kami percaya bahwa melakukan yang benar untuk bisnis dengan integritas akan menuntun pada kesuksesan bersama bagi perusahaan dan individual. Pencarian dalam “sukses bersama” mengikatkan kami bersama.
• Kami mendorong stock ownership dan owbership behavior.

3. We Are Strategically Focused in Our Work
• Kami beroperasi dengan objektif dan strategi yang terartikulasi dan selaras
• Kami hanya bekerja dan hanya meminta pekerjaan yang menambah nilai pada bisnis.
• Kami menyederhanakan, mengstandarisasi dan mempersingkat pekerjaan kami selama hal tersebut memungkinkan.

4. Innovation is The Cornerstone of Our Success
• Kami menempatkan nilai yang besar pada inovasi customer yang baru dan “besar”
• Kami mentang konvensi dan menemukan kembali cara dalam melakukan bisnis agar menang dalam pasar.

5. We Value Personal Mastery
• Kami percaya bahwa adalah tanggung jawab individual untuk secara menerus mengembangkan mereka sendiri dan lainnya
• Kami mendorong dan mengharapkan pemahaman teknikal yang luar biasa dan pelaksanaan yang unggul

6. We Are Externally Focused
• Kami berusaha untuk menjadi yang terbaik dalam area strategis di perusahaan
• Kami mematok kinerja kami dengan ketat baik secara internal maupun external
• Kami belajar dari kedua keberhasilan dan kegagalan kami.

7. We Are Externally Focused
• Kami mengembangkan pemahaman unggul pada konsumen dan kebutuhan mereka.
• Kami membuat dan memberikan produk, kemasan dan konsep yang membangun ekuitas merek.
• Kami mengembangkan secara dekat, hubungan yang saling produktif dengan pelanggan dan pemasok kami.
• Kami adalah warga korporat yang baik.
• Kami memastikan keberlanjutan ke dalam produk kami, kemasan dan operasi.

8. Mutual Interdependency is a Way of Life
• Kami bekerja sama dengan keyakinan dan kepercayaan di seluruh unit bisnis, fungsi, kategori dan geografi.
• Kami bangga terhadap hasil dari mengaplikasikan ide dari orang lain.
• Kami membangun hubungan unggul dengan semua pihak yang berkontribusi untuk memenuhi tujuan perusahaan kami, termasuk pelanggan dan pemasok, universitas dan pemerintah.
3.3 Struktur Perusahaan
P&G mengelompokkan Unit Bisnis Globalnya menjadi 4 sektor industry sebagai bagian dari rencana perusahaan dalam meningkatkan perfroma bisnis. Bisnis di tiap sektor berfokus pada faktor-faktor umum seperti: keuntungan konsumen, berbagi teknologi yang sama, dan menghadapi pesaing umum.
P&G Market Development Organizations (MDO) berfokus pada pemahaman konsumen dan pengecer di setiap pasar. MDO mengintegrasikan inovasi yang muncul dari Unit Bisnis Global dalam business plan untuk mengembangkan bisnis P&G di setiap negara, menggunakan keahlian mereka dalam penjualan, logistik dan pelaksanaan ritel.
Global Business Services (GBS) menggunakan bakat dan pakar mitra P&G untuk menyediakan layanan dukungan bisnis terbaik di kelasnya dengan biaya serendah mungkin untuk meningkatkan skala P&G dalam mendapatkan keuntungan.
Corporate Functions memastikan fungsi inovasi yang berkelanjutan dan peningkatan kemampuan pada P&G sehingga memastikan bahwa P&G tetap dapat bersaing secara aktif.

Gambar 3.1 Corporate Structure of P&G
(Source: http://www.pg.com/en_US/company/global_structure_operations/corporate_structure.shtml)

3.4 Produk-produk dari P&G
Berikut adalah list-list merek produk yang dikeluarkan oleh P&G mulai dari bidang kecantikan, laundry, perlengkapan bayi, pewangi, dll. Beberapa dari produk-produknya telah menjadi sebuah merek yang menjadi “icon” dan terkenal, antara lain:
1. Head & Shoulders
2. Pantene
3. Rejoice
4. SK-II
5. Olay
6. Gilette
7. Duracell
8. Ambipur
9. Downy
10. Whisper
11. Safeguard
12. Oral-B
13. Fab
14. Herbal Essences
15. Bounty
16. Tampax
17. Tide
18. dll
3.5 Masalah P&G dan greenpeace
Greenpeace menganalisis keterlibatan Protector & Gamble (P&G) untuk sebuah perusahaan yang terlibat dalam deforestasi, termasuk izin dari harimau, dan habitat orang – utan, perusakan lahan gambut, kebakaran dan konflik sosial. Pemasok utama memiliki daerah daerah berpotensial seperti Indonesia, Malaysia dan Afrika. Investigasi Greepeace menemukan pasokan kelapa sawit untuk perusahaan Protector & Gamble (P&G) diperoleh dari sumber – sumber yang diduga kuat merusak hutan Indonesia, Malaysia dan Afrika.

Gambar 3.1 Skema keterlibatan P&G dan pemasok illegal minyak kelapa sawit

Kelapa sawit merupakan bahan mentah yang produktivitasnya 7x lebih besar dari minyak nabati lainnya, jadi menguntungkan perusahaan untuk menggunakan minyak kelapa sawit untuk kebutuhan operasional perusahaannya. Karena Indonesia merupakan produsen utama minyak kelapa sawit (crude palm oil), maka deforestasi di hutan Indonesia menjdi meningkat karena banyak perusahaan yang ingin menggunakan minyak kelapa sawit.
Kebutuhan kelapa sawit untuk perusahaan pada tahun 2012 – 2013 sebesar 432 ribu ton, hanya 10 % yang bersertifikat resmi sisanya 90 % terindikasi merusak hutan karena tidak terlacak sumber kelapa sawitnya. Dari penelusuran Greenpeace terhadap beberapa pemasok P&G memperlihatkan terjadi pembukaan hutan hingga memperluas deforestasi, seperti pasokan dari BW Plantation, Kuala Lumpur Kepong (KLK) dan Musim Mas.
Hasil investigasi menunjukkan terjadinya pembukaan di habitat orangutan. Di salah satu wilayah operasi disinyalir dalam penyelidikan kepolisian terkait kematian dan penguburan sejumlah orangutan di dekat Taman Nasional Tanjung Putting. Lalu banyak perusahaan pemasok kelapa sawit di Indonesia seperti PT Adhyaksa Dharma Satya (ADS), PT Wana Catur Jaya Utama, KLK, dan lainnya terlibat kasus deforestasi dan pengrusakan habitat orangutan di beberapa hutan di Indonesia.

Dengan melakukan deforestasi hutan Indonesia secara besar besaran maka habitat satwa langka yang di lindungi seperti harimau, orangutan dan satwa liar lainnya akan terganggu dan merusak ekosistem yang ada di dalamnya. Untuk itu, maka Greenpeace mendesak P&G sebagai produsen global agar berperan untuk mencari sumber – sumber minyak kelapa sawit yang bisa di lacak / resmi.

3.6 Solusi P&G dan greenpeace
Greenpeace menyerukan kepada para pemangku kepentingan dalam minyak sawit global, pulp dan komoditas industri lainnya untuk mengambil langkah-langkah mendesak berikut untuk mengakhiri deforestasi dan memperbaiki tata kelola dan transparansi :
1. Sektor perkebunan : Berhenti merusak hutan hujan Indonesia ,termasuk habitat satwa liar
– Melaksanakan secepatnya moratorium pembangunan perkebunan di semua konsesi di mana Anda memiliki kepentingan sampai hutan dan lahan gambut diidentifikasi dan dilindungi melalui Kebijakan Konservasi Hutan , yang meliputi penghormatan terhadap hak communities local
– Tindakan Dukungan tingkat lanskap untuk melindungi dan meningkatkan ekologis penting situs, termasuk habitat harimau , orang utan dan satwa langka lainnya .

2. Traders: tidak berurusan dengan produsen kotor; mendukung perusahaan progresif danproduksi yang bertanggung jawab oleh para petani kecil .
– Suspend perdagangan dengan produsen yang terlibat dalam penggundulan hutan , pembukaan lahan gambut atau pelanggaran hak asasi manusia .
– Dukungan produsen dengan kebijakan no- deforestasi yang jelas seperti yang diadopsi oleh anggota Oil Palm Inovasi Grup ( POIG )

3. Konsumen Perusahaan : Pastikan rantai pasokan Anda tiger dan orang-utan ramah .
– Berkomitmen untuk memastikan bahwa Anda pasokan komoditas termasuk minyak sawit, kertas dan kemasan adalah penggundulan hutan bebas .
– Mulailah dengan memastikan ketertelusuran penuh dalam rantai pasokan dan perusahaan pendukungyang berkomitmen untuk menghapus kebijakan no – deforestasi seperti yang diadopsi olehanggota POIG .

4. Sektor Keuangan: . Tidak membiayai deforestasi .
– Menolak untuk memberikan dukungan atau layanan keuangan untuk kelapa sawit dan komoditas lainnyaperusahaan dengan link ke deforestasi.

5. Pemerintah negara : Memberikan perlindungan habitat dari keanekaragaman hayati negara.
– Pastikan pemerintahan yang kuat , memprioritaskan perlindungan hutan dan bermanfaat kepemimpinan industri .
– Menegakkan moratorium dan memastikan bahwa kelapa sawit , pulp dan perkebunan lainnya dikembangkan pada lahan rendah karbon .
– Menetapkan hukum dan kebijakan tambahan untuk menjamin perlindungan penuh dari semua hutan dan lahan gambut , termasuk mereka yang berada dalam batas-batas konsesi .
– Ulasan ijin konsesi yang ada . Menindak ilegalitas , termasuk kegagalan untuk mengikuti proses hukum dalam pemberian izin dan kegagalan untuk menghormati peraturan gambut atau larangan pembakaran . Mencabut konsesi pelanggar gigih sertayang diperoleh dengan melanggar undang-undang .
– Mengembangkan dan menerapkan rencana pemerintah untuk perlindungan dan rehabilitasi hutandan lanskap lahan gambut dan koridor satwa liar .
– Buat daftar umum nasional dari semua jenis konsesi – termasuk minyak sawit , pulp danbatubara – dan mempublikasikan Satu Map. Mengembangkan deforestasi nasional yang independensistem untuk membawa transparansi yang lebih besar untuk proses pemantauan , memastikan efektifpemantauan dan penegakan hukum, dan memberdayakan masyarakat lokal dan lainnya pemangku kepentingan . Hal ini akan memungkinkan para pemangku kepentingan untuk memantau dampak dari operasi ,mengekspos dan membuat pertanggungjawaban orang-orang yang bertanggung jawab atas kerusakan lingkunganseperti kebakaran , serta meningkatkan tata pemerintahan dengan meningkatkan upaya penegakan hukum terhadap mereka yang bertanggung jawab atas pelanggaran .
– Mengembangkan database lands terdegradasi untuk memungkinkan proses pertukaran lahan yang efektif ,memungkinkan konsesi hukum di kawasan hutan dan lahan gambut untuk ditukarkan konsesi di daerah nilai karbon rendah tidak terbebani dengan sosial , lingkungan atau kekhawatiran ekonomi .
– kepemimpinan industri Reward . Incentivise peningkatan produktivitas yang ada perkebunan ( misalnya, melalui insentif pajak ) .
Kebijakan nol deforestasi P&G menjanjikan untuk menghapus perusakan hutan dari rantai pasokan minyak sawit mereka dengan memastikan setiap pemasok menjamin tidak adanya konversi dari lahan gambut, menghormati hak-hak masyarakat lokal dan melindungi kawasan konservasi dan yang memiliki kandungan karbon tinggi. Hal ini mungkin terdengar rumit, tapi pasti jauh lebih baik dari ketergantungan mereka sebelumnya pada skema sertifikasi yang telah terbukti tidak efektif menghentikan perusakan hutan.
Sekarang P&G bergabung bersama Nestle, L’Oreal, Colgate-Palmolive Unilver, Mars, Kellogg, Safeway, Delhaize, Ferrero, GAR dan Wilmar – yang sama-sama berkomitmen untuk nol deforestasi. Inilah perubahan yang tak terbantahkan di jantung industri minyak sawit, sebuah perubahan yang diprovokasi oleh tekanan publik dan keinginan kuat untuk membendung gelombang kerusakan hutan.
Saat ini, sebenarnya P&G sudah membeli kelapa sawit yang bersertifikasi RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil). P&G adalah anggota RSPO dan melakukan pembelian sesuai standar yang ditetapkan oleh kriteria organisasi tersebut. Namun melalui target baru ini, komitmen P&G bertekad melakukan lebih dari standar yang ditetapkan oleh RSPO, degan tujuan untuk membangun praktek keberlanjutan yang bisa diandalkan, efektif dan awet di seluruh pemasok mereka.
Beberapa poin penting dalam memastikan komitmen anti-deforestasi dalam seluruh pasokan mereka dijabarkan dalam beberapa poin:
1. Membuat sistem yang bisa melacak sumber kelapa sawit hingga ke pabrik pengolahan mulai 31 Desember 2015.

2. Memastikan tidak ada aktivitas penebangan ilegal di dalam rantai pemasok hingga ke perkebunan di tahun 2020. Khusus untuk kelapa sawit pihak pemasok harus memasukkan rencana kerja mereka kepada pihak P&G tanggal 31 Desember 2015, dimana mereka harus bisa memastikan bahwa pihak penyuplai bisa menunjukkan bahwa mereka mampu menjamin praktek penanaman dan produksi mereka di lapangan bebas deforestasi di tahun 2020.
3. Bekerjasama dengan penyuplai, pihak industri, LSM, para pakar dan pemangku kepentingan lainnya untuk mempromosikan standar dan praktek industri yang konsisten dalam pembelian kelapa sawit yang berkelanjutan.

4. Terus mendukung hak-hak asasi manusia seperti tercantum dalam Panduan Keberlanjutan bagi Penyupai P&G, dan mendukung hak-hak masyarakat adat.

5. Memberikan laporan tahunan terkait kemajuan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.

BAB 4
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
Media komunikasi secara internet yang kini menjadi bagian dari hidup masyarakat dunia, ternyata selain memberi kemudahan bagi perusahaan dalam memasarkan produk atau jasanya, juga memberikan tantangan bagi perusahaan dalam menghadapi penyebaran isu negatif yang bisa merusak reputasi perusahaan, oleh karena itu disinilah pentingnya pengelolaan online branding.
Dalam studi kasus di atas terlihat bahwa protes kecil dari organisasi Greenpeace perlahan-lahan mulai mendapat dukungan dan kepercayaan dari masyarakat, sehingga memunculkan citra buruk perusahaan P&G di mata masyarakat. Citra buruk perusahaan tidak bisa dianggap sebelah mata, karena pelanggan masa kini sangat selektif memilih produk dan dapat dengan mudah mencari produk pengganti. Oleh karena itu, P&G harus secara global mensosialisasikan kebijakan baru terkait kasus ini serta aktivitas yang dilakukan guna membangun kembali reputasi perusahaan yang baik.
Dalam hal mengatasi kasus minyak kelapa sawit ini, perusahaan P&G telah mengambil langkah nyata yakni menambahkan kebijakan kelapa sawit dengan sasaran “ 0 deforestasi pada keseluruhan siklus supply chain kelapa sawit” dan akan membuat laporan perkembangan terkait kebijakan ini secara publik.

4.2. Saran
Atas permasalahan dan tindakan yang dihadapi dalam studi kasus antara P&G dan Greenpeace, penulis menyarankan beberapa hal beikut ini.
1. Perusahaan P&G tidak boleh menyepelekan protes sekecil apapun dan apabila terdapat isu negatif harus segera mengklarifikasikannya secara global melalui media online yang tersedia, website, facebook, twitter, dan sebagainya.
2. Untuk lebih meyakinkan kepada masyarakat atas komitmen kebijakan baru yang sudah dilakukan perusahaan P&G, lakukan posting artikel terkait aktivitas yang sudah dilakukan sesuai kebijakan minyak kelapa dengan melampirkan bukti nyata berupa gambar atau video.
3. Sebagai bentuk Corporate Social Responsibility (CSR), perusahaan P&G bisa melakukan training Environment Awareness terhadap para petani kelapa sawit di negara penyuplai.

DAFTAR PUSTAKA

Administrator. 2014. Global Structure and Governance. http://www.pg.com/en_US/index.shtml diakses pada 29 Mei 2013.
Administrator. 2014. Procter&Gamble. http://id.wikipedia.org/wiki/Procter_%26_Gamble diakses pada 29 Mei 2014
Greenpeace. (2014). P&G Dirty Secret. The Netherlands: greenpeace.org.
http://www.yptrading.co.id/artikel/detail/107/pengertian-brand.html/ Diakses pada Mei 2014
http://ahlimanajemenpemasaran.com/2011/07/prinsip-dalam-mengelola-brand-strategy-dan-brand-management/ Diakses pada Mei 2014
http://ekonomi.kompasiana.com/marketing/2012/03/19/mengapa-branding-penting-bagi-bisnis-anda-447990.html Diakses pada Mei 2014
http://www.greenpeace.org/international/Global/international/briefings/forests/2014/ProcterGambleDS_MediaBriefing_Final.pdf

Dituding Beli Kelapa Sawit Bermasalah, P&G Rilis Komitmen Nol Deforestasi


http://www.greenpeace.org/seasia/id/blog/kita-menang/blog/48873/
Scott M. Davis, Brand Asset Management: Driving Profitable Growth Through Your Brands, Jossey Bass.

LAMPIRAN
RIWAYAT HIDUP
Nama : Arni Virani
Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 26 Juli 1993
Alamat : Interkota blok A5 no. 11, Cengkareng, Jakarta Barat
No. Telepon : 08197670261
Email : ni.arnie@live.com
Jenis Kelamin : Wanita
Riwayat Pendidikan :
2011-sekarang Sistem Informasi
School of Information System, BINUS University
2008-2011 SMA Tarsisius 1
2005-2008 SMP Vianney
1999-2005 SD Vianney
1996-1999 TK Damai

Pengalaman Kerja :
2011 Sales Promotion Antivirus, Softlenses, MasterCard.
2012 PIC Mid-Year Gathering Novartis
2013 Volunteer untuk SUA Jakarta

RIWAYAT HIDUP
Nama : David Santoso
Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 13 Juni 1993
Alamat : Jl. Taman Meruya Ilir Blok I2 No.24, Jakarta Barat 11620
No. Telepon : 08988246820
Email : Santosodavid93@gmail.com
Jenis Kelamin : Laki – laki
Riwayat Pendidikan :
2011-sekarang Sistem Informasi
Peminatan : ERP
School of Information System, BINUS University
2008-2011 SMA SMA Pelita 2
2005-2008 SMP SMA Pelita 2
1999-2005 SD SMA Pelita 2
1996-1999 TK SMA Pelita 2

Pengalaman Kerja :
2011 – Sales Promotion PT. Unilever Indonesia
– Credit Card Sales Marketting of PT.UOB Buana Indonesia
2012 Liaison Officer of Asean English Olympic by BNEC

RIWAYAT HIDUP
Nama : Hendy Salim
Tempat, Tanggal Lahir : Bandar Lampung, 4 maret 1992
Alamat : Jl. Haji taisir no 5, Jakarta Barat
No. Telepon : 087899844883
Email : hendisalim21@yahoo.com
Jenis Kelamin : Laki – laki
Riwayat Pendidikan :
2011-sekarang Sistem Informasi
Peminatan : ERP
School of Information System, BINUS University
2008-2011 SMA Immanuel Bandar Lampung
2005-2008 SMP Immanuel Bandar Lampung
1999-2005 SD Immanuel Bandar Lampung
1996-1999 TK Immanuel Bandar Lampung

Pengalaman Kerja : –

RIWAYAT HIDUP
Nama : Rendy Rinaldo
Tempat, TanggalLahir : Tanjungpinang, 12 Juni 1993
Alamat : Gg. Keluarga No. 39 B, Kemanggisan, Jakarta Barat 11480
No. Telepon : 083873373828
Email : rendyrinaldo77@gmail.com
JenisKelamin : Laki – laki
RiwayatPendidikan :
2011-sekarang Sistem Informasi
Peminatan : ERP
School of Information System, BINUS University
2008-2011 SMAN 1 Tanjungpinang
2005-2008 SMPN 1 Tanjungpinang
1999-2005 SD Katolik
1996-1999 TK Djuwita

PengalamanKerja :
2013 Translator / Interpreter untuk Tech In Asia
2013 Volunteer untuk Startup Asia Jakarta
2012 – 2013 Tutor untuk kelas TOEFL dan PSP (Public Speaking and Performance)
2012 & 2013 Panitia di Binus Online Job Expo 2012 dan 2013

RIWAYAT HIDUP
Nama : Jennifer Pauling
Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 11 November 1993
Alamat : Jl. 21 No.12 B RT01 RW08 Teluk Gong, Jakarta Utara 14450
No. Telepon : 083893953885
Email : jenniferpauling11@gmail.com
Jenis Kelamin : Perempuan
Riwayat Pendidikan :
2011-sekarang Sistem Informasi
Peminatan : ERP
School of Information System, BINUS University
2008-2011 SMA Negeri 1 Tanjungpinang
2005-2008 SMP Negeri 5 Tanjungpinang
1999-2005 SD Swasta Katolik Tanajungpinang
1996-1999 TK Djuwita Tanjungpinang

Pengalaman Kerja :
2011-now – Math, Physics, and Chemistry Teacher at Proverbs Course
2012-now – Duta Binusian as Mentor in BINUS Student Learning Community (BSLC)
– English TOEFL Intermediate One Tutor in Bina Nusantara English Club (BNEC)

RIWAYAT HIDUP
Nama : Toni Sugino
Tempat, Tanggal Lahir : Pontianak, 20 Juni 1993
Alamat : Jl. Batusari Raya No.80, Palmerah, Jakarta Barat
No. Telepon : 089602466815
Email : toni_sho@ymail.com
Jenis Kelamin : Laki – laki
Riwayat Pendidikan :
2011-sekarang Sistem Informasi
Peminatan : ERP
School of Information System, BINUS University
2008-2011 SMA Gembala Baik
2005-2008 SMP Gembala Baik
1999-2005 SD Gembala Baik
1996-1999 TK Gembala Baik

Pengalaman Kerja :
2013 Translator / Interpreter for Tech In Asia
2013 Liaison Officer / Volunteer for Startup Asia Jakarta

Posted in Topik Topik Lanjutan SI | Comments Off on Pengelolaan Online Branding P&G (Procter & Gamble) terhadap Protes Organisasi Greenpeace terkait Perkara Pasokan Minyak Kelapa Sawit

Penilaian untuk perencanaan terhadap infrastruktur teknologi informasi menggunakan windows assessment and planning toolkit (MAP)

Universitas Bina Nusantara

______________________________________________________________________

Jurusan Sistem Informasi
School of Information Systems
Tugas Paper
M0214 – Topik-Topik Lanjutan Sistem Informasi
Semester Genap tahun 2013/2014
Halaman Abstrak

Penilaian untuk perencanaan terhadap infrastruktur teknologi informasi menggunakan windows assessment and planning toolkit (MAP)

Kelas / Kelompok: 06PKM / 05

Anggota Kelompok:
Arni Virani : 1501155411
Toni Sugino : 1501169865
Hendy Salim : 1501178522
Rendy Rinaldo : 1501188473
Jennifer Pauling : 1501189053
David Santoso : 1501194015

ABSTRAK
IT Assesment merupakan suatu metode pengukuran untuk memahami suatu objek tertentu dan merupakan sistematika dalam mengumpulkan data seseorang atau suatu hal. Kegunaan IT assessment merupakan untuk mengaudit / menilai suatu hal yang berkaitan dengan IT, untuk memastikan bahwa kerperluan perusahaan sudah sesuai dengan realisasi / implementasi suatu system. Microsoft Assesment and planning toolkit (MAP) merupakan sodtware yang dikembangkan Microsoft untuk menilai perencanaan terhadap desktop, server dan migrasi cloud pada komputer berbasis OS windows. MAP diharapkan dapat memberikan scenario untuk membantu perusahaan untuk merencanakan infrastruktur IT massa mendatang dan mendukung proses bisnis suatu perusahaan.

Kata kunci: IT Assessment ,Microsoft Assesment & Planning Toolkit (MAP)

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Perkembangan IT sangat berkembang pesat dalam zaman modern sekarang ini, oleh karena itu suatu perusahaan membutuhkan suatu IT assessment untuk mengukur dan menilai suatu penggunaan IT dalam suatu perusahaannya untuk memastikan bahwa IT yang di gunakan saat ini berjalan sesuai dengan kebutuhan perusahaan yang sedang mengimplementasikannya.
IT assessment merupakan suatu metode yang dilakukukan untuk menganalisis infrastruktur IT yang ada saat ini, kebutuhan perusahaan dan merancang infrastuktur / rancanagan IT masa depan. IT assessment berbasiskan fakta, untuk mengukur ekspektasi stakeholder / pengguna dan perspektif IT dalam hal kemampuan, resource, kerentanan system dan ptioritas internal IT.
Penggunaan suatu Microsoft Assesment & Planning (MAP) / tools sangat membantu perusahaan untuk merencanakan perancangan infrastruktur IT di masa depan (future) bagi suatu perusahaan.

1.2 Ruang Lingkup

Berikut adalah batasan cakupan dari karya tulis ini, antara lain:
1. Pengenalan tentang Microsoft Assesment and Planning Toolkit (MAP)
2. Manfaat dan Keuntungan Microsoft Assesment & Planning Toolkit (MAP)
3. Fitur dan cakupan teknologi dari Microsoft Assessment & Planning Toolkit (MAP)
4. Instalasi Microsoft Assesment & Planning Toolkit (MAP)
5. Cara Pemakaian Microsoft Assesment & Planning Toolkit (MAP)
6. Isu terkait keamanan dan trafik data map
7. Feedback pelanggan terhadap map

1.3 Tujuan dan Manfaat

Tujuan dasar yang ingin dicapai dalam penyusunan karya tulis ini adalah:
1. Memahami pentingnya IT assessment bagi suatu perusahaan
2. Mengenalkan, mengetahui manfaat, fitur, cara instalasi, dan cara pemakain dari Microsoft Assesment & Planning Toolkit (MAP)
Sedangkan beberapa manfaat yang diperoleh sebagai hasil karya tulis ini, antara lain :

1. Dapat mengetahui tools yang dapat digunakan untuk menunjang IT assessment dalam suatu perusahaan.
2. Dapat mengetahui cara pemakaian Microsoft Assesment & Planning Toolkit (MAP)

1.4 Metodologi Penulisan
Dalam penulisan karya tulis ini dipergunakan berbagai informasi pendukung berdasarkan metode studi kepustakaan yang diperoleh melalui berbagai sumber, seperti buku penunjang mengenai IT assessment, jurnal-jurnal online yang mengupas topik tentang pemanfaatan IT assessment , skripsi, dan beberapa website yang menyediakan informasi mengenai pemanfaatan IT assessment. Berdasarkan informasi dari berbagai sumber ini akan dibuat seebuah pembahasan tentang Penilaian untuk perencanaan terhadap infrastruktur teknologi informasi menggunakan windows assessment and planning toolkit (MAP).

1.5 Sistematika Penulisan

Karya tulis ilmiah ini terdiri atas beberapa bab pembahasan, yaitu :

• BAB 1 : PENDAHULUAN
Pada bab ini akan dijelas mengenai pemahaman awal tentang IT assessment secara umum dan secara khusus mengenai penerapannya di dunia nyata, yang terdiri atas latar belakang, ruang lingkup, tujuan dan manfaat penulisan, serta metodologi penulisan laporan.

• BAB 2 : LANDASAN TEORI
Pada bab ini berisikan teori-teori umum hingga teori khusus yang dijadikan sebagai dasar pengetahuan untuk memahami pengertian, strategi, tingkatan, tantangan dan manfaat IT assessment.

• BAB 3 : PEMBAHASAN
Pada bab ini akan dijelaskan pembahasan inti tentang Penilaian untuk perencanaan terhadap infrastruktur teknologi informasi menggunakan windows assessment and planning toolkit (MAP).

• BAB 4 : PENUTUP
Bab ini akan memaparkan kesimpulan dari keselurhan pembahasan mengenai Penilaian untuk perencanaan terhadap infrastruktur teknologi informasi menggunakan windows assessment and planning toolkit (MAP), serta memaparkan beberapa saran untuk solusi atas permasalahan mengenai penerapan E-Learning pada SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto.

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Teori umum
2.1.1 Pengertian IT Assesment
Berikut adalah beberapa pengertian assessment:
1. Menurut Heru Mugiarso dan Sunawan
Assessment mengacu pada penggunaan berbagai metode pengukuran untuk memahami suatu objek. Sedangkan menurut Robert M Smith (2002), assessment merupakan suatu penilaian yang komprehensif dan melibatkan anggota tim untuk mengetahui kelemahan dan kekuatan yang mana hasil keputusannya dapat digunakan untuk layanan pendidikan yang dibutuhkan anak sebagai dasar untuk menyusun suatu rancangan pembelajaran
2. Menurut James A.Mc.Lounghlin dan Rena B Lewis
Assessment merupakan proses sistematika dalam mengumpulkan data seseorang anak yang berfungsi untuk melihat kemampuan dan kesulitan yang dihadapi seseorang saat itu sebagai bahan untuk menentukan apa yang sesungguhnya dibutuhkan.
3. Bomstein dan Kazdin (1985)
Assessment yaitu mengidentifikasi masalah dan menyeleksi target intervensi, memilih dan mendesain program treatment, mengukur dampak treatment yang diberikan secara terus menerus, mengevaluasi hasil-hasil umum dan ketepatan dari terapi.
4. Menurut Lidz (2003)
Assessment merupakan proses pengumpulan informasi untuk mendapatkan profil psikologis anak yang meliputi gejala dan intensitasnya, kendala yang dialami, kelebihan dan kekurangannya serta peran penting yang dibutuhkan anak.

Sedangkan pengertian Informasi Teknologi adalah sebagai berikut:
Menurut Turban, Rainer dan Potter (2009, p6), “Information technology relates to any computer-based to that people use to work with information and to support the information and information processing needs of an organization”. Yang diartikan sebagai berikut: teknologi informasi berkaitan dengan segala sesuatu yang berbasis komputer yang digunakan orang untuk melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan informasi untuk mendukung dan mengolah informasi tersebut sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
Menurut O’Brien (2007, p6) teknologi informasi adalah teknologi pendukung dari sistem informasi, yaitu sistem berbasis TI yang mengelola komponen-komponennya berupa hardware, software, netware, dataware, dan brainware untuk melakukan transformasi data menjadi informasi. Jadi teknologi informasi dapat disimpulkan sebagai hardware, software, netware, dataware, brainware, dan teknologi pemrosesan informasi lainnya untuk mendukung sistem informasi.

Maka dapat disimpulkan bahwa IT Assessment pada dasarnya merupakan sebuah studi yang dilakukan untuk mencari kerentanan dan risiko pada keamanan IT disertai dengan tinjauan komprehensif dan menyeluruh pada sistem teknologi perusahaan dan lingkungannya dan di tahap terakhir akan menghasilkan evaluasi tertulis dan rekomendasi.
Pengkajian akan menilai bagaimana teknologi membantu atau menghambat bisnis inti dan merekomendasikan bagaimana menggunakan teknologi untuk memenuhi tujuan bisnis dan tujuan. Penilaian tersebut dapat mencakup, tetapi tidak terbatas pada, jaringan dan sistem kinerja, audit perangkat lunak, pengujian konsep dan pengembangan, evaluasi strategis, tinjauan teknis, dan manajemen risiko.

2.1.2 Informasi
Kata informasi berasal dari kata Perancis kuno yaitu informacion yang diambil dari bahasa Latin informationem yang berarti “garis besar, konsep, ide”. Informasi merupakan kata benda dari informare yang berarti aktivitas dalam “pengetahuan yang dikomunikasikan”.
Menurut Pendapat O’Brien (2005, p27), Informasi adalah data yang telah diolah atau diubah menjadi konteks yang berarti dan berguna bagi para pemakai akhir tertentu. Menurut McLeod & Schell (2007, p15), informasi adalah data yang telah diproses atau data yang memiliki arti, biasanya informasi menjelaskan sesuatau yang belum diketahui kepada user.
2.1.2 Latar Belakang
Sebuah sistem IT tidak hanya teknologi untuk kepentingan teknologi . Teknologi akan membantu memenuhi tujuan bisnis yang spesifik dan memberikan nilai . Penilaian IT dapat memastikan bahwa teknologi ini mencapai tujuan ini , atau memberikan cetak biru untuk meningkatkan teknologi dan template spesifik dan terukur untuk mencapai tujuan bisnis. Hal ini juga dapat memastikan bahwa teknologi dan keamanan sesuai dengan pedoman pemerintah dan praktik terbaik.
Setiap bisnis dalam lingkungan hari ini berjalan pada jaringan komputer yang terhubung, server, printer , dan perangkat keras lainnya . Jaringan merupakan tulang punggung dari seluruh perusahaan dan dapat menjadi hambatan utama dalam aplikasi bisnis . Penilaian IT akan memberikan review kinerja jaringan dan membuat rekomendasi berdasarkan lalu lintas, kesalahan , packet loss , dan konflik yang dapat membawa jaringan bisnis berhenti . Investasi dalam komputer terbaru dan server adalah buang-buang uang jika itu melekat ke jaringan sub – optimal.
Software yang keluar dari kepatuhan lisensi atau disalin secara ilegal dapat menyebabkan denda besar dan hukuman untuk bisnis . Penilaian IT akan mengevaluasi perangkat lunak yang ada untuk kepatuhan dan menciptakan proses audit untuk perangkat lunak masa depan. Sebuah audit software sekarang sebagai bagian dari penilaian TI adalah biaya jauh lebih efektif daripada audit kemudian oleh sebuah perusahaan perangkat lunak.
Keamanan data adalah kunci untuk setiap bisnis . Langkah-langkah keamanan yang tepat tidak hanya melindungi data dari hacker luar , tetapi kemampuan untuk menunjukkan keamanan yang baik sangat penting untuk penjualan baru dan retensi pelanggan . Penilaian IT akan mengevaluasi dan membuat rekomendasi untuk menutup lubang di keamanan dan membantu menciptakan lingkungan komputasi antipeluru untuk data penting.
Akhirnya , kelangsungan bisnis adalah bagian penting dari rencana bisnis yang baik . Dalam hal terjadi bencana , teknologi harus mampu untuk terus beroperasi sehingga hari itu untuk bisnis hari dapat melanjutkan . Prosedur yang tepat cadangan , sistem berlebihan , dan metode pemulihan harus berada di tempat . Penilaian IT dapat memberikan rencana pemulihan bencana untuk memastikan bahwa bisnis terus dalam hal apa pun dari masalah listrik kecil untuk bencana besar .

2.1.3 Tujuan IT Assesment
Tujuan dari penilaian keamanan, (juga dikenal sebagai audit keamanan atau peninjauan keamanan), adalah untuk memastikan bahwa kontrol keamanan yang diperlukan diintegrasikan ke dalam desain dan implementasi proyek. Sebuah penilaian keamanan diselesaikan dengan baik harus menyediakan dokumentasi menguraikan kesenjangan keamanan antara desain proyek dan kebijakan keamanan perusahaan yang disetujui. Manajemen dapat mengatasi celah keamanan dalam tiga cara: Manajemen dapat memutuskan untuk membatalkan proyek tersebut, mengalokasikan sumber daya yang diperlukan untuk memperbaiki celah keamanan, atau menerima risiko berdasarkan analisis risiko.
Hood & Johnson (1993) menjelaskan bahwa asesmen dalam bimbingan dan konseling mempunyai beberapa tujuan, yaitu:
1. Orientasi masalah, yaitu untuk membuat klien mengenali dan menerima permasalahan yang dihadapinya, tidak mengingkari bahwa ia bermasalah
2. Identifikasi masalah, yaitu membantu baik bagi klien maupun konselor dalam mengetahui masalah yang dihadapi klien secara mendetil
3. Memilih alternatif solusi dari berbagai alternatif penyelesaian masalah yang dapat dilakukan oleh klien
4. Pembuatan keputusan alternatif pemecahan masalah yang paling menguntungkan dengan memperhatikan konsekuensi paling kecil dari beberapa alternatif tersebut
5. Verifikasi untuk menilai apakah konseling telah berjalan efektif dan telah mengurangi beban masalah klien atau belum.

Menurut Bomstein dan Kazdin (1985) Tujuan dari asesmen adalah
1. Mengidentifikasi masalah dan menyeleksi target intervensi
2. Memilih dan mendesain program treatmen
3. Mengukur dampak treatmen yg diberikan secara terus menerus
4. Mengevaluasi hasil-hasil umum dan ketepatan dari terapi

Adapun lebih lanjut, Hood & Johnson (1993) menjelaskan ada beberapa fungsi assessment, diantaranya adalah.
1. Menstimulasi klien maupun konselor mengenai berbagai isu permasalahan.
2. Menjelaskan masalah yang senyatanya
3. Memberi alternative solusi untuk masalah
4. Menyediakan metode untuk membandingkan alternative sehingga dapat diambil kesimpulan.
5. Memungkinkan evaluasi efektivitas konseling.

2.1.4 Ruang Lingkup Assesment
Hood & Johnson (1993) menjelaskan ruang lingkup dalam asesmen (assesment need areas) dalam bimbingan dan konseling ada lima, yaitu:
1. Systems assessment
Sebuah asesmen yang dilakukan untuk mendapatkan informasi mengenai status dari suatu sistem, yang membedakan antara apa ini (what is it) dengan apa yang diinginkan (what is desired) sesuai dengan kebutuhan dan hasil konseling; serta tujuan yang sudah dituliskan/ ditetapkan atau outcome yang diharapkan dalam konseling.
2. Program planning
Adalah perencanaan program untuk memperoleh informasi-informasi yang dapat digunakan untuk membuat keputusan dan untuk menyeleksi bagian–bagian program yang efektif dalam pertemuan-pertemuan antara konselor dengan klien; untuk mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan khusus pada tahap pertama. Di sinilah muncul fungsi evaluator dalam asesmen, yang memberikan informasi-informasi nyata yang potensial.
Hal inilah yang kemudian membuat asesmen menjadi efektif, yang dapat membuat klienmampu membedakan latihan yang dilakukan pada saat konseling dan penerapannya di kehidupan nyata dimana klien harus membuat suatu keputusan, atau memilih alternatif -altenatif yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalahnya.
3. Program Implementation
Yaitu bagaimana asesmen dilakukan untuk menilai pelaksanaan program dengan memberikan informasi-informasi nyata; yang menjadikan program-program tersebut dapat dinilai apakah sesuai dengan pedoman.
4. Program Improvement
Dimana asesmen dapat digunakan dalam dalam perbaikan program, yaitu yang berkenaan dengan:
a. Evaluasi terhadap informasi-informasi yang nyata
b. Tujuan yang akan dicapai dalam program
c. Program-progam yang berhasil, dan
d. Informasi-informasi yang mempengaruhi proses pelaksanaan program-program yang lain.
5. Program certification
Merupakan akhir kegiatan. Menurut Center for the Study of Evaluation (CSE), program sertifikasi adalah suatu evaluasi sumatif, hal ini memberikan makna bahwa pada akhir kegiatan akan dilakukan evaluasi akhir sebagai dasar untuk memberikan sertifikasi kepada klien. Dalam hal ini evaluator berfungsi pemberi informasi mengenai hasil evaluasi yang akan digunakan sebagai dasar untuk mengambil keputusan.

2.1.4 Metodologi
Berikut ini menguraikan metodologi yang diajukan sebagai sarana efektif dalam melakukan penilaian keamanan.
1. Competency Profiles
2. Learning Areas
3. Learning Model Versus Level per Competency
4. Competency & Learning Topic
5. Learning Topic Details
6. Syllabus

2.1.5 Contoh Laporan Penilaian Keamanan
Laporan Penilaian Keamanan harus mencakup informasi berikut:
• Pendahuluan / latar belakang informasi
• Eksekutif dan Manajemen ringkasan
• Ruang lingkup dan tujuan penilaian
• Asumsi dan keterbatasan
• Metode dan alat penilaian yang digunakan
• Lingkungan saat ini atau deskripsi sistem dengan diagram jaringan, jika ada
• Persyaratan Keamanan
• Ringkasan temuan dan rekomendasi
• Kontrol umum hasil kajian
• Hasil tes kerentanan
• Hasil penilaian risiko termasuk aset diidentifikasi, ancaman, kerentanan, dampak dan penilaian kemungkinan, dan analisis hasil risiko
• Direkomendasikan pengamanan

2.1.6 Kritik dan Kekurangan
Penilaian risiko keamanan IT seperti banyak penilaian risiko di bidang TI, tidak benar-benar kuantitatif dan tidak mewakili risiko dengan cara apapun aktuaria-suara. Mengukur risiko kuantitatif dapat memiliki dampak yang signifikan terhadap memprioritaskan risiko dan mendapatkan persetujuan investasi (Doug Hubbard lari gawang Risiko, CIO Magazine 1998).
Analisis risiko kuantitatif telah diterapkan untuk keamanan TI dalam studi pemerintah AS besar pada tahun 2000. The federal CIO Council komisi studi tentang investasi $ 100.000.000 keamanan IT untuk Departemen Urusan Veteran dengan hasil yang ditunjukkan kuantitatif.

2.1.7 Sertifikasi Profesional
Ada sertifikasi vendor netral umum profesional untuk melakukan penilaian keamanan.
• CISSP
• CISA
• BS7799 Lead Auditor – ISO / IEC 27001:2005 Auditor / Lead Auditor

BAB 3
PEMBAHASAN

3.1 Pengenalan tentang Microsoft Assesment and Planning Toolkit (MAP)

Melakukan penilaian pada komponen infrastruktur Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam perusahaan sangatlah penting agar perusahaan dapat mengetahui seberapa baik kinerja sistem serta menemukan komponen sistem yang perlu diperbaiki atau ditingkatkan lagi untuk implementasi ke depannya.
Salah satu software assessment yang dikembangkan Microsoft yaitu Microsoft Assesment & Planning (MAP). MAP adalah tools penilaian yang bisa diunduh gratis untuk perencanaan yang lebih cepat dan mudah terhadap desktop, server, dan migrasi cloud pada komputer yang sistem operasinya berbasis Windows. MAP akan akan menyediakan laporan kesiapan yang berisikan informasi mengenai hardware dan software, memberikan rekomendasi tindakan yang dapat membantu perusahaan dalam mempercepat perencanaan dan proses dari infrastruktur IT, serta mengumpulkann detail informasi mengenai asset yang terdapat pada kondisi saat ini.

3.2 Manfaat dan Keuntungan Microsoft Assesment & Planning Toolkit (MAP)

Versi terbaru MAP telah menambahkan skenario terbaru untuk membantu perusahaan dalam merencanakan infrastruktur IT pada masa mendatang (future) serta untuk mendukung proses bisnis perusahaan pada saat ini (current). Skenario ini memberikan berbagai manfaat antara lain berupa:
• Merencanakan pengembangan Windows 8 dan Windows Server 2012 terhadap penilaian kesiapan infrastruktur IT di perusahaan.
• Menilai lingkungan kerja dari Office 2013 dan Office 365.
• Merencenakan migrasi menuju Windows Azure Virtual Machines.
• Melacak penggunaan terhadap Lyn Enterprise/Plus.
• Mengukur kebutuhan virtualisasi desktop yang dibutuhkan untuk Virtual Desktop Infrastructure (VDI) dan session berbasis virtual untuk Remote Desktop Service.
• Mempersiapkan platform informasi komputer untuk Cloud melalui SQL Server 2012.
• Menilai pemenuhan terhadap license Microsoft.
• Menilai license pada saat melakukan pendaftaran terhadap Server dan Cloud.

Berdasarkan manfaat di atas, MAP akan memberikan berberapa keuntungan yang bisa dirasakan perusahaan antara lain:
• Menyediakan inventori yang cepat, bisa diukur (scalable), dan tanpa perantara (agentless), sehingga biaya pengeluaran yang rendah.
• Merupakan toolkit otomatisasi terintegrasi untuk perencanaan migrasi dari desktop ke server.
• Menyediakan laporan kesiapan infrastruktur IT dan rekomendasi aktivitas yang perlu dilakukan untuk Sistem Operasi Windows 7, Microsoft Office 2010, dan Windows Server 2008 R2.
• Menyediakan penilaian terhadap konsolidasi dan virtualisasi server untuk membantu perusahaan dalam mengidentifikasi sumber daya yang kurang terpakai dan menentukan kandidat server.
• Menyediakan konsolidasi melalui SQL Server Inventory dan pemulihan basis data.
• Mengurangi waktu dan biaya administrasi dalam mengelola software, server, dan Client Access License (CAL).

3.3 Fitur dan cakupan teknologi dari Microsoft Assessment & Planning Toolkit (MAP)

Untuk lebih jelasnya mengenai manfaat dan keuntungan dari penggunaan MAP, berikut ini adalah beberapa fitur yang ditawarkan oleh MAP:
a) Server Environmnet Inventory yang Heterogen
MAP Toolkit menyediakan inventory jaringan terhadap aset IT secara remote tanpa melaui agen perantara. MAP dapat mengidentifkasi server environment yang heterogen seperti Windows Server, Sistem Operasi Linux, serta mencakup virtual environment.

b) Pelacakan Penggunaan Software
MAP menyediakan laporan penggunaan software untuk produk Microsfot Server, seperti Windows Server, SharePoint Server, Exchange Server, SQL Server, System Center Configuration Manager, dan sebagainya. MAP akan mengupdate laporan sehingga dapat menilai penggunaan software pada saat ini dan juga histori akses client pada lingkungan sistem, hal ini tentunya dapat mengurangi waktu dan biaya untuk mengelola server dan Client Access License (CAL) serta dapat membantu untuk melangsingkan pengelolaan aset software.

c) Laporan Kesiapan
MAP dapat mengidentifikasi sistem operasi yang saat ini terinstall di lingkungan kerja IT perusahaan, menyedikan analisis mendetail mengenai hardware dan kompabilitas perangkat sera rekomendasi untuk migrasi ke produk Microsoft, seperti Windows 7, Windows Server R2, Microsoft Office 2010, dan lain-lain. Secara lebih jelasnya laporan kesiapan tersebut akan dibuat dengan scenario sebagai berikut:
• Evaluasi hardware yang ada terhadap rekomendasi system requirements yang dibutuhkan, mencakup mesin mana yang sesuai requirements dan mesin mana yang hardwarenya harus diupdate.
• Mengumpulkan data kinerja fisikal dan virtual berbasis Linux dan menggunakan informasi tersebut untuk menjalankan virtualisasi dan analisis terhadap perencanaan cloud untuk Windows dan Linux.
• Menyediakan laporan terhadap web browser, Microsoft ActiveX control, dan add-on untuk migrasi ke sistem operasi yang kompatibel dengan web browser tersebut.
• Identifikasim mesi virtual pada Hyper-V dan VMWare, beserta detail lengkap mengenai host dan guest.
• Inventaris produk software Microsoft menggunakan Software Identification (SWID) tag.
• Deteksi basis data SQL Server dan Oracle.
d) Laporan Konsolidasi Server
MAP menyediakan detail mengenai inventori server pada jaringan perusahaan dan efisiensi potensial yang diperoleh dengan mengkonsolidasikannya menjadi server fisik dengan jumlah yang lebih sedikit menggunakan Hyper-V.
Berdasarkan fitur di atas dapat disimpulkan bahwa Microsoft Assesment & Planning Toolkit dapat mencakup inventori terhadap teknologi berikut ini:
• Windows 8
• Windows 7
• Windows Vista
• Windows XP Professional
• Office 2013 and previous versions
• Windows Server 2012
• Windows Server 2008 or Windows Server 2008 R2
• Windows Server 2003 or Windows Server 2003 R2
• Windows 2000 Professional or Windows 2000 Server
• Internet Explorer
• VMware vSphere
• VMware vCenter
• VMware ESX
• VMware ESXi
• VMware Server
• Selected Linux distributions
• SQL Server
• Oracle
• Hyper-V
• Lync
• System Center Configuration Manager
• Forefront Endpoint Protection
• Exchange Server
• SharePoint Server
• BizTalk Server
• Visual Studio 2010 and 2012 Premium and Ultimate editions
• Software ID (SWID) Tags

Gambar3.1
Cakupan Teknologi Microsoft Assesment & Planning Tool (Source: Microsoft Technet)

3.4 Instalasi Microsoft Assesment & Planning Toolkit (MAP)

Microsoft Assesment & Planning Toolkit (MAP) memudahkan untuk menilai infrastruktur TI Anda saat ini untuk berbagai proyek migrasi teknologi. Solusi ini memberikan persediaan, penilaian, dan pelaporan alat yang ampuh untuk menyederhanakan proses perencanaan migrasi secara cepat.
MAP adalah agentless , otomatis , multi-produk perencanaan dan penilaian alat untuk lebih cepat dan lebih mudah dekstop , Server dan migrasi cloud . MAP memberikan rinci laporan penilaian kesiapan dan proposal eksekutif dengan hardware yang luas dan informasi perangkat lunak , dan rekomendasi ditindaklanjuti untuk membantu organisasi mempercepat proses perencanaan infrastruktur TI mereka , dan mengumpulkan informasi lebih rinci tentang aset yang berada dalam lingkungan mereka saat ini . MAP juga menyediakan data utilisasi server untuk perencanaan virtualisasi server Hyper – V.
MAP Toolkit mencakup komponen-komponen berikut :
– MAPSetup.exe . Paket berisi alat dan SQL LocalDB
– readme_en.htm . Tersedia sebagai download yang terpisah . Menyediakan informasi untuk membaca sebelum menginstal MAP Toolkit , termasuk prasyarat instalasi dan masalah yang diketahui .
– MAP_Sample_Documents.zip . Tersedia sebagai download yang terpisah . Berisi laporan sampel dan proposal .
– MAP_Training_Kit.zip . Tersedia sebagai download yang terpisah . Berisi database contoh dan petunjuk untuk menyelesaikan berbagai latihan

System requirements
OS yang mendukung:
Windows 7 Service Pack 1, Windows 8, Windows 8.1, Windows Server 2008 R2 SP1, Windows Server 2012, Windows Server 2012 R2

Hardware yang mendukung:
Sebuah komputer dengan setidaknya berikut konfigurasi minimum :
– Sebuah prosesor dual- core 1.5GHz
– 2.0 GB RAM
– 1 GB ruang disk yang tersedia
– Kartu adaptor jaringan
– Adapter grafis yang mendukung resolusi 1024×768 atau lebih tinggi . Pada 1024×768 , menggunakan pengaturan DPI lebih dari 100 % tidak didukung . Pada resolusi yang lebih tinggi , DPI pengaturan lebih tinggi dari 100 % yang didukung .

Catatan : Inventarisasi , penilaian, dan pelaporan kinerja didasarkan terutama pada kecepatan CPU dan jumlah RAM yang tersedia
Persyaratan Software :
Sistem operasi . Salah satu dari berikut :
– Jendela 8.1 ( Professional dan Enterprise edisi saja)
– Windows 8 ( Professional dan Enterprise edisi saja)
– Windows 7 dengan Service Pack 1 ( edisi Professional , Enterprise, dan Ultimate saja)
– Windows Server 2012 R2
– Windows Server 2012
– Windows Server 2008 R2 dengan Service Pack 1
– NET Framework. 4.5
– Secara default , MAP Toolkit akan menginstal SQL Server 2012 ekspres LocalDB selama setup . Anda juga dapat menggunakan instalasi yang sudah ada SQL Server 2008 , SQL Server 2008 R2 , atau SQL Server 2012 jika Anda membuat sebuah instance bernama ” MAPS ” sebelum menjalankan installer MAP Toolkit . MAP Toolkit memerlukan urutan pengumpulan mesin database harus ditetapkan untuk ” SQL_Latin1_General_CP1_CI_AS ” .

Catatan :
Beberapa prasyarat ini memerlukan restart komputer Anda . Anda mungkin harus me-restart beberapa kali jika semua prasyarat tidak dipenuhi sebelum menjalankan Microsoft Penilaian dan Perencanaan Toolkit setup.

Tergantung Skenario persyaratan :
Untuk mesin yang akan digunakan untuk menjalankan Forefront Endpoint Protection Penggunaan Tracking , Lync Penggunaan Tracking , Exchange Server Penggunaan Tracking , atau Volume Licensing skenario , harap dicatat: PowerShell 2.0 atau lebih tinggi harus diinstal .

Untuk mesin yang akan digunakan untuk mengumpulkan informasi Oracle skema , harap dicatat: The 64 bit Oracle client harus diinstal pada mesin MAP untuk mengumpulkan informasi skema . Jika klien 64 bit tidak terpasang , MAP hanya akan dapat mengumpulkan informasi misalnya. MAP tidak akan mengumpulkan informasi skema jika 32 bit Oracle client diinstal .

Solusi akselerator adalah, panduan berbasis skenario gratis dan otomatisasi dirancang untuk membantu IT Profesional yang proaktif perencanaan, penggelaran, dan operasi sistem TI menggunakan produk-produk dan teknologi Microsoft. Skenario Solusi Accelerator fokus pada keamanan dan kepatuhan, manajemen dan infrastruktur, dan komunikasi dan kolaborasi.
3.5 Cara Pemakaian Microsoft Assesment & Planning Toolkit (MAP)
cara mengoperasikan MAP:
• MAP alat Terbuka
• Buat database persediaan yang akan digunakan untuk menyimpan data persediaan dan mengumpulkan statistik di dalamnya ketika bekerja dengan alat MAP, secara default SQL express terinstal secara default ketika menginstal alat MAP, SQL express digunakan untuk host database persediaan.

• Setelah membuat database. MAP konsol meluncurkan memberikan pilihan untuk memilih skenario Inventarisasi Anda, karena MAP alat yang dapat digunakan untuk menargetkan skenario yang berbeda seperti konsolidasi database SQL, migrasi VM, jendela upgrade, lync kesiapan cek, dll …

• MAP alat akan meluncurkan layar awal (Inventarisasi dan penilaian) halaman, untuk skenario yang paling Anda butuhkan untuk menjalankan dua langkah pertama sebagai langkah persiapan sebelum melakukan penilaian apapun, langkah ini adalah:
o Melakukan inventarisasi
o Mengumpulkan data kinerja

• MAP alat akan meluncurkan layar awal (Inventarisasi dan penilaian) halaman, untuk skenario yang paling Anda butuhkan untuk menjalankan dua langkah pertama sebagai langkah persiapan sebelum melakukan penilaian apapun, langkah ini adalah:
o Melakukan inventarisasi
o Mengumpulkan data kinerja

• Pilih account yang memiliki izin administratif pada server yang ditargetkan, Anda dapat menambahkan lebih dari satu akun, dan MAP alat akan mencoba untuk login ke server menggunakan semua account berurutan sampai berhasil login

Memilih semua SQL

Meskipun menjalankan thread yang berbeda di mana Anda dapat terus menggunakan alat secara bersamaan tetapi untuk SQL MAP Anda harus menunggu sampai ini (mengumpulkan counter) benar-benar selesai.

Lalu simpan data performa telah selesai

• Karena MAP alat yang digunakan untuk menutupi beberapa skenario penilaian teknologi, kita tidak perlu untuk menjalankan seluruh langkah-langkah di bawah ini dalam kasus SQL konsolidasi, hanya pindah ke langkah berikutnya sekarang (langkah 8)

• Untuk melanjutkan dengan SQL konsolidasi, Dari tampilan struktur pohon kiri, klik memperluas Database, menjalankan skenario yang belum selesai untuk memiliki penilaian konsolidasi SQL lengkap

• Jika Anda berencana untuk mengkonsolidasikan lingkungan yang memiliki peralatan hardware Anda saat ini, pastikan untuk menjalankan Microsft Database konsolidasi Appliance Wizard:
o Klik tombol Go
o Saat Anda memiliki dua rasa hardware, versi 1.2 adalah prosesor Intel berbasis di mana v1.2 didasarkan prosesor AMD, untuk lingkup v1.2 ini dipilih

o Pilih server dan SQL yang diinginkan untuk dilihat

Selesai

3.6. Isu terkait keamanan dan trafik data map
Pertanyaan yang sering ditanyakan untuk isu keamanan dan trafik data map :
a) Apakah tool ini aman?
MAP memerlukan user untuk memasukkan ID admin lokal untuk mesin dan server klien, user non-admin tidak dapat mendapatkan akses menuju mesin dan tidak mendapat hasil dari MAP tool
b) Seberapa banyak data traffic yang kita dapatkan?
Jaringan desktop yang tipikal biasanya mendapat 300KB – 1MB per PC dari data traffic yang dikeluarkan oleh MAP
c) Apa akibat yang diterima setiap komputer?
Sangat minimal. MAP toll hanya melakukan ping terhadap sekitar 30 mesin pada instans yang diberikan.

3.7 Feedback pelanggan terhadap map
Testimonial feedback dari user :
• “IT Staff Costco menggunakan MAP Toolkit untuk mengevaluasi server load. Dengan menggunakan toolkit, staff member dapat mengetahui bahwa, dalam berbagai kasus, server dijalankan hanya dengan 5 persen utiliasi, membuatnya kandidat yang cocok untuk konsolidasi” – Costco Wholesale Corp., Microsoft Customer in US
• “Karena rekomendasi tool, CHS memutuskan untuk tidak mengganti semua komputernya seperti rencana awal. Dengan mengganti hanya setengah dari komputer, perusahaan dapat merendahkan kebutuhan hardware, dari budget awal sebesar $76.000, menjadi 50 persen.” – Sumeeth Evans, Collegiate Houseing Services, Microsoft Customer in US
• “Tidak seperti tools lainnya di pasaran, tool ini menyediakan assessment yang cepat, aman, dan tidak ber-agen untuk hardware dan device compability dalam jangkat waktu per jam, bukan per hari. Kami merekomendasikan tool ini untuk sales untuk mengeluarkan permintaan terhadap pengembangan Windows Vista.” – David Feng, Systex Corporation, Gold Certified Partner in Taiwan

BAB 4
PENUTUP

1.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian diperoleh kesimpulan :
• IT Assessment sangat penting bagi perusahaan untuk mengukur kinerja IT dalam suatu perusahaan
• Tool MAP membantu perusahaan untuk mendukung perencanaan infrastruktur masa mendatang (Future).
• Tool MAP dari Microsoft juga memberikan keuntungan untuk memberikan inventori yang cepat dan terukur serta otomatis terintegrasi untuk perencanaan migrasi dari desktop ke server.

1.2 Saran
• Penggunaan MAP secara efektif sangat berguna bagi suatu perusahaan.
• Penilaian menggunakan MAP dapat mempermudah perusahaan untuk menilai migrasi proyek.

DAFTAR PUSTAKA

Agustianingsih, Siwi. 2013. Review Teori Assesment. Diakses pada http://agustianingsihsiwi.blogspot.com/2013/06/teori-assesment.html
Asyah, Issa. Diakses pada 2014 http://blogs.technet.com/b/meamcs/archive/2012/09/24/how-to-use-map-tool-microsoft-assessment-and-planning-toolkit.aspx
Hood, Johnson. 1993. Assesment in Counseling : a guide to the Use Psychological Assesment Procedures. American Counseling Association.
http://www.unitiv.com/it-solutions-blog/bid/18953/What-is-an-IT-Assessment
http://en.wikipedia.org/wiki/Information_Technology_Security_Assessment
McLeod, R. & Schell, G.P. (2007). Management Information Systems, edisi ke-10. Pearson Prentice Hall, New Jersey.
Microsoft. Diakses pada 2014 http://www.microsoft.co.id/en-us/download/details.aspx?id=7826
O’Brien, James. 2005. Introduction to Information System. 12th edition. MacGraw-Hill, New-
York.
Turban, Rainer, Potter. 2005. Introduction to Information Technology. John Wiley & Sons,
Inc. USA

LAMPIRAN
RIWAYAT HIDUP
Nama : Arni Virani
Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 26 Juli 1993
Alamat : Interkota blok A5 no. 11, Cengkareng, Jakarta Barat
No. Telepon : 08197670261
Email : ni.arnie@live.com
Jenis Kelamin : Wanita
Riwayat Pendidikan :
2011-sekarang Sistem Informasi
School of Information System, BINUS University
2008-2011 SMA Tarsisius 1
2005-2008 SMP Vianney
1999-2005 SD Vianney
1996-1999 TK Damai

Pengalaman Kerja :
2011 Sales Promotion Antivirus, Softlenses, MasterCard.
2012 PIC Mid-Year Gathering Novartis
2013 Volunteer untuk SUA Jakarta


RIWAYAT HIDUP
Nama : David Santoso
Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 13 Juni 1993
Alamat : Jl. Taman Meruya Ilir Blok I2 No.24, Jakarta Barat 11620
No. Telepon : 08988246820
Email : Santosodavid93@gmail.com
Jenis Kelamin : Laki – laki
Riwayat Pendidikan :
2011-sekarang Sistem Informasi
Peminatan : ERP
School of Information System, BINUS University
2008-2011 SMA SMA Pelita 2
2005-2008 SMP SMA Pelita 2
1999-2005 SD SMA Pelita 2
1996-1999 TK SMA Pelita 2

Pengalaman Kerja :
2011 – Sales Promotion PT. Unilever Indonesia
– Credit Card Sales Marketting of PT.UOB Buana Indonesia
2012 Liaison Officer of Asean English Olympic by BNEC


RIWAYAT HIDUP
Nama : Hendy Salim
Tempat, Tanggal Lahir : Bandar Lampung, 4 maret 1992
Alamat : Jl. Haji taisir no 5, Jakarta Barat
No. Telepon : 087899844883
Email : hendisalim21@yahoo.com
Jenis Kelamin : Laki – laki
Riwayat Pendidikan :
2011-sekarang Sistem Informasi
Peminatan : ERP
School of Information System, BINUS University
2008-2011 SMA Immanuel Bandar Lampung
2005-2008 SMP Immanuel Bandar Lampung
1999-2005 SD Immanuel Bandar Lampung
1996-1999 TK Immanuel Bandar Lampung

Pengalaman Kerja : –

RIWAYAT HIDUP
Nama : Rendy Rinaldo
Tempat, TanggalLahir : Tanjungpinang, 12 Juni 1993
Alamat : Gg. Keluarga No. 39 B, Kemanggisan, Jakarta Barat 11480
No. Telepon : 083873373828
Email : rendyrinaldo77@gmail.com
JenisKelamin : Laki – laki
RiwayatPendidikan :
2011-sekarang Sistem Informasi
Peminatan : ERP
School of Information System, BINUS University
2008-2011 SMAN 1 Tanjungpinang
2005-2008 SMPN 1 Tanjungpinang
1999-2005 SD Katolik
1996-1999 TK Djuwita

PengalamanKerja :
2013 Translator / Interpreter untuk Tech In Asia
2013 Volunteer untuk Startup Asia Jakarta
2012 – 2013 Tutor untuk kelas TOEFL dan PSP (Public Speaking and Performance)
2012 & 2013 Panitia di Binus Online Job Expo 2012 dan 2013

RIWAYAT HIDUP
Nama : Jennifer Pauling
Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 11 November 1993
Alamat : Jl. 21 No.12 B RT01 RW08 Teluk Gong, Jakarta Utara 14450
No. Telepon : 083893953885
Email : jenniferpauling11@gmail.com
Jenis Kelamin : Perempuan
Riwayat Pendidikan :
2011-sekarang Sistem Informasi
Peminatan : ERP
School of Information System, BINUS University
2008-2011 SMA Negeri 1 Tanjungpinang
2005-2008 SMP Negeri 5 Tanjungpinang
1999-2005 SD Swasta Katolik Tanajungpinang
1996-1999 TK Djuwita Tanjungpinang

Pengalaman Kerja :
2011-now – Math, Physics, and Chemistry Teacher at Proverbs Course
2012-now – Duta Binusian as Mentor in BINUS Student Learning Community (BSLC)
– English TOEFL Intermediate One Tutor in Bina Nusantara English Club (BNEC)

RIWAYAT HIDUP
Nama : Toni Sugino
Tempat, Tanggal Lahir : Pontianak, 20 Juni 1993
Alamat : Jl. Batusari Raya No.80, Palmerah, Jakarta Barat
No. Telepon : 089602466815
Email : toni_sho@ymail.com
Jenis Kelamin : Laki – laki
Riwayat Pendidikan :
2011-sekarang Sistem Informasi
Peminatan : ERP
School of Information System, BINUS University
2008-2011 SMA Gembala Baik
2005-2008 SMP Gembala Baik
1999-2005 SD Gembala Baik
1996-1999 TK Gembala Baik

Pengalaman Kerja :
2013 Translator / Interpreter for Tech In Asia
2013 Liaison Officer / Volunteer for Startup Asia Jakarta

Posted in Topik Topik Lanjutan SI | Comments Off on Penilaian untuk perencanaan terhadap infrastruktur teknologi informasi menggunakan windows assessment and planning toolkit (MAP)

Penerapan E-Learning di SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto

Universitas Bina Nusantara

______________________________________________________________________

Jurusan Sistem Informasi
School of Information Systems
Tugas Paper
M0214 – Topik-Topik Lanjutan Sistem Informasi
Semester Genap tahun 2013/2014
Halaman Abstrak
Penerapan E-Learning di SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto

Kelas / Kelompok: 06PKM / 05

Anggota Kelompok:
Arni Virani : 1501155411
Toni Sugino : 1501169865
Hendy Salim : 1501178522
Rendy Rinaldo : 1501188473
Jennifer Pauling : 1501189053
David Santoso : 1501194015

ABSTRAK
E-Learning merupakan sebuah teknik belajar mengajar yang berbasis web di mana internet digunakan untuk mencapai sasaran – sasaran dan mendukung konsep pembelajaran yang modern. Melalui e-learning instansi pendidikan dapat memberikan informasi dengan tujuan untuk memperluas pengetahuan karena sifat dari internet adalah tidak terbatas waktu dan tempat. Informasi yang ditampilkan melalui e-learning dapat dibuat lebih menarik dan lengkap sehingga mampu menarik minat dari murid/mahasiswa. E-Learning pada dasarnya memberikan kemudahan kepada instansi pendidikan tentang bagaimana memberikan informasi kepada pihak-pihak yang terkait dengan proses belajar mengajar yang ada. Dengan meninjau E-Learning yang berjalan, evaluasi terhadap E-Learning akan dibutuhkan.

Kata kunci: E-Learning, Evaluasi E-Learning.

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki jumlah penduduk terpadat di dunia. Namun, hal ini bukanlah fakta yang buruk bagi dunia pendidikan. Hal ini semakin jelas terlihat ketika banyak instansi pendidikan yang mulai memanfaatkan teknologi hampir di berbagai daerah di Indonesia. Instansi tersebut memanfaatkan teknologi yang disebut dengan e-learning agar para mahasiswa menguasai materi yang sangat sedang diajarkan lebih baik.

Maraknya penggunaan media online berbasis internet sebagai salah satu sarana untuk belajar telah dimanfaatkan oleh beberapa instansi pendidikan untuk membantu proses belajar mengajar mereka. Melihat dari permasalahan ini, timbul sebuah peluang untuk mengembangkan sebuah sarana dan lingkungan berbasis web yang dapat digunakan sebagai sarana yang menghubungkan antara guru dan murid dalam proses belajar mengajar dengan bertukaran informasi. Sehingga membuka lingkungan belajar yang sifatnya elektronik dan luas.

Pembelajaran yang dilakukan lewat internet tersebut biasanya dikenal dengan istilah e-learning. E-learning merupakan sebuah teknik belajar mengajar yang berbasis web di mana internet digunakan untuk mencapai sasaran – sasaran dan mendukung konsep pembelajaran yang modern. Selain itu ketersediaan e-learning dalam instansi pendidikan akan membantu baik guru dan murid dapat saling mengenal dan berkomunikasi satu sama lain secara cepat dan real-time sehingga dapat meningkatkan keuntungan bagi kedua belah pihak.

1.2 Ruang Lingkup

Berikut adalah batasan cakupan dari karya tulis ini, antara lain:

1. Pembahasan menjelaskan tentang konsep E-learning
2. Penjelasan mengenai manfaat, hambatan, tingkatan dari penerapan E-Learning
3. Pemfokusan tentang evaluasi tentang implementasi E-Learning di SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto

1.3 Tujuan dan Manfaat

Tujuan dasar yang ingin dicapai dalam penyusunan karya tulis ini adalah:
1. Memahami pentingnya penerapan E-Learning
2. Mengevaluasi manfaat, hambatan, tingkatan dari penerapan E-Learning di SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto

Sedangkan beberapa manfaat yang diperoleh sebagai hasil evaluasi dalam karya tulis ini, antara lain:

1. Dapat mengetahui hambatan serta solusi dari permasalahan penerapan
E-Learning di SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto
2. Dapat mengetahui cara implementasi, perancangan sistem, arsitektur sistem dan proses E-Learning di SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto

1.4 Metodologi Penulisan
Dalam penulisan karya tulis ini dipergunakan berbagai informasi pendukung berdasarkan metode studi kepustakaan yang diperoleh melalui berbagai sumber, seperti buku penunjang mengenai E-Learning, jurnal-jurnal online yang mengupas topik tentang pemanfaatan E-Learning di SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto , skripsi, dan beberapa website yang menyediakan informasi mengenai pemanfaatan E-Learning. Berdasarkan informasi dari berbagai sumber ini akan dibuat seebuah pembahasan tentang evaluasi penerapan E-Learning pada SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto dan kemudian akan dibuat kesimpulan dan saran untuk pengembangan selanjutnya.

1.5 Sistematika Penulisan

Karya tulis ilmiah ini terdiri atas beberapa bab pembahasan, yaitu :

• BAB 1 : PENDAHULUAN
Pada bab ini akan dijelas mengenai pemahaman awal tentang E-Learning secara umum dan secara khusus mengenai penerapannya di dunia nyata, yang terdiri atas latar belakang, ruang lingkup, tujuan dan manfaat penulisan, serta metodologi penulisan laporan.

• BAB 2 : LANDASAN TEORI
Pada bab ini berisikan teori-teori umum hingga teori khusus yang dijadikan sebagai dasar pengetahuan untuk memahami pengertian, strategi, tingkatan, tantangan dan manfaat E-Learning.

• BAB 3 : PEMBAHASAN
Pada bab ini akan dijelaskan pembahasan inti tentang evaluasi pelaksanaan dan implementasi E-Learning pada SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto.

• BAB 4 : PENUTUP
Bab ini akan memaparkan kesimpulan dari keselurhan pembahasan mengenai evaluasi E-Learning pada SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto, serta memaparkan beberapa saran untuk solusi atas permasalahan mengenai penerapan E-Learning pada SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto.

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Teori umum
2.1.1 System Analyst
Seorang System Analyst merupakan seseorang yang mengembangkan system. Seorang System Analyst mempelajari masalah dan kebutuhan / requirement dari system yang ingin di bangun. Seorang System Analyst dapat didefinisikan sebagai :
• Seseorang yang menggunakan pengetahuannya tentang aplikasi komputer yang dimilikinya untuk memecahkan masalah – masalah bisni dibawah petunjuk seorang manager system (PM).
• Seseorang yang bertanggung jawab untuk menterjemahkan kebutuhan – kebutuhan user kedalam sebuah spesifikasi tehnik yang diperlukan oleh seorang programmer yang membuatnya dan diawasi oleh seorang project manager.
(Jogiyanto, 1990)
Pengertian seorang project manager dapat di gambarkan sebagai berikut :

Gambar 2.1 Pengertian System Analyst

2.1.2 Fungsi / peran System Analyst
Seorang System Analyst memiliki beberapa fungsi dalam pembuatan suatu system, yaitu :
• Mengidentifikasikan masalah yang sedang dihadapi suatu perusahaan / user
• Menberikan sasaran secara spesifik tentang sasaran yang inigin dicapai untuk memenuhi kebutuhan user.
• Memiliki alternative – alternative metode pemecahan masalah
• Merencanakan dan menerapkan rancangan systemnya sesuai dengan permintaan dan kebutuhan suatu perusahaan / user.
(Jogiyanto, 1990)

2.1.3 Konsep Analisis System Informasi

Konsep Analisis system informasi merupakan sebuah kegiatan pengembangan terhadap sebuah system dengan menguraikan / membagi system kedalam komponen – komponen untuk diidentifikasi dan dievaluasi terhadap kelemahan – kelemahan system, kebutuhan perushaan terhadap suatu system, peluang untuk pengembangan system, maupun kesalahan – kesalahan yang terjadi dalam sebuah system. Ada kerangka dalam menganalisis suatu system informasi, yaitu :

• Pengembangan ANSI
• Penguraian / pembagian
• Identifikasi dan evaluasi
– Kelemahan
– Kebutuhan
– Peluang
– Kesalahan
– Perubahan pengembangan system
– Control system
• System lama sebagi pembanding
• Standarisasi (Burch, 1992)

2.1.4 Informasi
Menurut rainer. K.R., Jr, (2007, p5), Informasi mengacu pada data yang telah teorganisir sehingga data memiliki makna dan nilai kepada penerima.
Jadi, dari pengertian di atas dapat disimpilkan bahwa informasi adalah kumpulan data-data yang telah diolah menjadi bentuk yang lebih dimengerti dan bermakna bagi si penerima.

2.1.5 Sistem Informasi
Menurut Rainer. K.R., Jr, (2007, p6), Sistem Informasi adalah sebuah proses yang mengumpulkan, memproses, menyimpan, menganalisis, dan menyebarkan informasi untuk tujuan tertentu.

Menurut Satzinger et al., (2005, p7), Sistem Informasi adalah kumpulan komponen yang dihubungkan melalui proses pengumpulan, pengolahan, penyimpanan, dan hasilnya akan menjadi informasi yang dibutuhkan untuk melengkapi tugas bisnis.

Menurut Satzinger et al,. (2005, p7-8), Sistem Informasi terdiri dari komponen-komponen penting, antara lain sebagai berikut :
1. Hardware (perangkat keras)
Adalah sekumpulan perangkat keras yang digunakan untuk menerima data dan informasi, memprosesnya, dan menampilkannya kembali.

2. Software (perangkat lunak)
Adalah koleksi atau sekumpulan program yang dapat memerintah hardware-hardware yang ada untuk memproses data.

3. Database (basis data)
Adalah basis data yang berisikan dari sekumpulan file atau table yang berkaitan dan berhubungan antara satu sama lain, dan di dalam file atau table tersebut berisikan data.

4. Network (jaringan komputer)
Adalah sebuah system jembatan perhubung, baik menggunakan kabel (wireline) mapupun tanpa menggunakan kabel (wireless) yang memiliki peranan penting dalam menghubungkan beberapa komputer yang berbeda untuk berbai sumber daya yang mereka miliki.

5. Procedure (prosedur)
Adalah sebuah instruksi, aturan, dan prosedur yang berisikan cara bagaimana menggabungkan komponen-komponen diatas dalam rangka memproses informasi dan menghasilkan apa yang diinginkan

6. People (orang)
Adalah sumber daya manusia yang akan mengoperasikan hardware dan software, berhubungan dengan mereka dan menggunakan hasil dari pemrosesan tersebut.

Gambar 2.1 Komponen Sistem Informasi

2.2 Langkah-Langkah dalam Analisa Sistem

Menurut Purjanto (2009) analisis sistem adalah penelitian atas sistem yang telah ada dengan tujuan untuk merancang sistem yang baru atau diperbarui. Tahap analisis sistem ini merupakan tahap yang sangat kritis dan sangat penting, karena kesalahan di dalam tahap ini akan menyebabkan juga kesalahan di tahap selanjutnya. Tugas utama analis sistem dalam tahap ini adalah menemukan kelemahan-kelemahan dari sistem yang berjalan sehingga dapat diusulkan perbaikannya.

Di dalam tahap analisis sistem terdapat langkah-langkah dasar yang harus dilakukan oleh analis sistem :

1. Identify
Mengidentifikasi (mengenal) masalah merupakan langkah pertama yang dilakukan dalam tahap analisis sistem. Masalah (problem) dapat didefinisikan sebagai suatu pertanyaan yang diinginkan untuk dipecahkan.

2. Understand
Langkah kedua dari tahap analisis sistem adalah memahami kerja dari sistem yang ada. Langkah ini dapat dilakukan dengan mempelajari secara terinci bagaimana sistem yang ada beroperasi. Untuk mempelajari operasi dari sistem ini diperlukan data yang dapat diperoleh dengan cara melakukan penelitian.

3. Analyze
Langkah ini dilakukan berdasarkan data yang telah diperoleh dari hasil penelitian yang telah dilakukan. Menganalisis hasil penelitian sering sulit dilakukan oleh analis sistem yang masih baru. Pengalaman menunjukkkan bahwa banyak analis sistem yang masih baru mencoba untuk memecahkan masalah tanpa menganalisisnya.

4. Report
Setelah proses analisis sistem ini selesai dilakukan, tugas berikutnya dari analis sistem dan timnya adalah membuat laporan hasil analisis. Laporan ini diserahkan kepada steering committe (komite/panitia pengarah pengembangan sistem) yang nantinya akan diteruskan ke manajemen. Pihak manajemen bersama-sama dengan panitia pengarah dan pemakai sistem akan mempelajari temuan-temuan dan analisis yang telah dilakukan oleh analis sistem yang disajikan dalam laporan ini.

2.3. Konsep E- Learning
2.3.1 Pengertian e-Learning
e-Learning atau pembelajaran elektronik, merupakan salah satu bentuk dari aplikasi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam kegiatan pembelajaran. Ada beberapa definisi e-learning yang dikemukakan oleh para ahli. Definisi-definisi tersebut memiliki cakupan yang berbeda, tergantung dari perspektif yang digunakan oleh ahli yang bersangkutan. Berikut adalah beberapa definisi e-learning yang penulis dapatkan dari berbagai sumber:

1. “A broad combination of processes, content, and infrastructure to use computers and networks to scale and/or improve one or more significant parts of a learning value chain, including management and delivery.” (Adrich dalam Clark: 2010)
Clark Adrich dalam bukunya yang berjudul “Simulations and the Future of Learning” menekankan definisi e-learning pada kerangka berpikir penggunaan jaringan komputer. Ia menyatakan bahwa e-learning merupakan sebuah kombinasi antara proses, materi dan infrastruktur dalam penggunaan komputer dan jaringannya dalam rangka meningkatkan kualitas pada satu atau lebih bagian signifikan dari aspek-aspek rangkaian kegiatan pembelajaran, termasuk di antaranya adalah aspek manajemen dan aspek pendistribusian materi pelajaran.

2. “The use of innovative technologies and learning models to transform the way individuals and organisations acquire new skills and access knowledge.” (Jeurissen dalam Moeng: 2004)
Victor Jeurissen dalam artikel “IBM tackles learning in the workplace” yang ditulis oleh B. Moeng, mengemukakan definisi e-learning yang lebih umum. Ia mendefinisikan e-learning sebagai pengaplikasian teknologi dan model pembelajaran inovatif untuk mengubah
cara individu atau organisasi dalam mengakses ilmu pengetahuan dan memperoleh keterampilan baru.

3. “The delivery of a learning, training or education program by electronic means. E-learning involves the use of a computer or electronic device (e.g. a mobile phone) in some way to provide training, educational or learning material.” (Stockley: 2003)
Derek Stockley, seorang ahli pendidikan dari Australia dalam situs webnya (derekstockley.com.au) memberikan definisi bahwa e-learning adalah proses penyampaian program pembelajaran, pelatihan atau pendidikan secara elektronik. e-Learning melibatkan penggunaan komputer atau alat elektronik (misalnya telepon seluler) dalam berbagai cara untuk menyediakan bahan-bahan pelatihan, pendidikan atau pembelajaran.

4. “E-learning is a broad set of applications and processes which include web-based learning, computer-based learning, virtual and digital classrooms. Much of this is delivered via the Internet, intranets, audio and videotape, satellite broadcast, interactive TV, and CD-ROM. The definition of e-learning varies depending on the organization and how it is used but basically it is involves electronic means of communication, education, and training.” (The American Society for Training and Development/ASTD: 2009)

Organisasi Masyarakat Amerika untuk Kegiatan Pelatihan dan Pengembangan (The American Society for Training and Development/ASTD) memberikan definisi umum yang lebih spesifik terhadap metode maupun media yang digunakan dalam proses e-learning. Definisi ini dimuat dalam situs web about-elearning.com. Definisi tersebut menyatakan bahwa e-learning merupakan proses dan kegiatan penerapan pembelajaran berbasis web (web-based learning), pembelajaran berbasis komputer (computer based learning), pendidikan virtual (virtual education) dan/atau kolaborasi digital (digital collaboration). Materi-materi dalam kegiatan pembelajaran elektronik tersebut kebanyakan dihantarkan melalui media internet, intranet, tape video atau audio, penyiaran melalui satelit, televisi interaktif dan CD-ROM. Definisi ini juga menyatakan bahwa definisi dari e-learning bisa bervariasi tergantung dari penyelenggara kegiatan e-learning tersebut dan bagaimana cara penggunaannya, termasuk juga apa tujuan penggunaannya.

Definisi ini juga menyiratkan simpulan yang menyatakan bahwa e-learning pada dasarnya adalah pengaplikasian kegiatan komunikasi, pendidikan dan pelatihan secara elektronik.
Definisi dari ASTD inilah yang banyak digunakan/dijadikan pedoman oleh institusi-institusi pendidikan/penyedia layanan/software e-learning. Contohnya learnframe.com yang menyediakan sistem manajemen e-learning atau aplikasi CMS e-learning moodle yang banyak digunakan oleh institusi pendidikan konvensional dalam kegiatan blended learningnya.

Berdasarkan 4 definisi e-learning yang telah dikemukakan oleh Clark Adrich, Victor Jeurissen, Derek Stockley dan organisasi The American Society for Training and Development/ASTD di atas, penulis bisa membuat suatu simpulan bahwa, “e-learning adalah penggunaan teknologi komputer dan jaringan komputer yang disertai oleh penerapan model pembelajaran inovatif dalam rangka pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang akan memberikan akses luas kepada peserta didik terhadap ilmu pengetahuan agar mereka bisa memperoleh keterampilan baru.”

Proses pembelajaran elektronik ini dilaksanakan guna meningkatkan kualitas rangkaian kegiatan pembelajaran. Selain menggunakan komputer sebagai sumber utama pengetahuan, kegiatan pembelajaran ini juga memungkinkan penggunaan perangkat elektronik lain seperti telepon seluler atau perangkat elektronik bergerak lainnya sebagai media penyampaian materi pelajaran.

Model pembelajaran yang bisa digunakan adalah model Pembelajaran Berbasis Web (Web-Based Learning), Pembelajaran Berbasis Komputer (Computer Based Learning), Pendidikan Virtual (Virtual Education) dan/atau Kolaborasi Digital (Digital Collaboration). Sedangkan materi pelajarannya sendiri bisa dihantarkan melalui media internet, intranet, tape video atau audio, penyiaran melalui satelit, televisi interaktif dan CD-ROM.

2.3.2. Teori-Teori yang Melandasi Pengembangan e-Learning
Lahirnya konsep e-learning hingga terus berkembang dan mencapai bentuk-bentuk aplikasinya yang sekarang didukung oleh beberapa paradigma pendidikan seperti paradigma pembelajaran, pola-pola pembelajaran dari Barry Morries, konsep e-learning resources dll.

Thorpe (2002) menyebutkan bahwa kegiatan pembelajaran secara elektronik (e-learning) memiliki makna yang sama dengan makna pendidikan pada umumnya. Maka dari itu, ada beberapa pedagogi yang bisa diterapkan ke dalam kegiatan e-learning tersebut. Weller (2002) membuat daftar pedagogi-pedagogi tersebut sebagai berikut:
1. Konstruktivisme (Constructivism)
2. Pembelajaran Berbasis Sumber Daya (Resource-based Learning)
3. Pembelajaran Kolaboratif (Collaborative Learning)
4. Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem-based Learning)
5. Pengajaran Naratif (Narrative-based teaching)
6. Pembelajaran Terkondisi (Situated Learning)

Pada dasarnya, teknologi (apapun bentuknya) memiliki sifat yang netral. Sehingga dalam pendidikan, kita bisa mencoba melakukan penerapan berbagai pendekatan pendidikan atau pedagogis terhadap teknologi tersebut, dalam hal ini teknologi pendukung e-learning.

1. Konstruktivisme (Constructivism)
Pendekatan konstruktivisme memandang bahwa peserta didik mengkonstruk/membangun sendiri pengetahuan yang akan mereka miliki. Pengkonstrukan (pembangunan) pengetahuan tersebut dilakukan berdasarkan pengalamannya sendiri atau dari pengalaman orang lain. Unsur terpenting dalam teori ini ialah seseorang membina pengetahuan dirinya secara aktif dengan cara membandingkan informasi baru dengan pemahamannya yang sudah ada. Bahan
pengajaran yang disediakan perlu mempunyai perkaitan dengan pengalaman peserta didik untuk menarik minat mereka.
Konstruktivisme memiliki kaitan erat dengan pembelajaran elektronik (e-learning), karena dalam e-learning siswa melakukan pembelajarannya secara mandiri melalui bahan-bahan ajar yang disampaikan melalui situs web.

2. Pembelajaran Terkondisi (Situated Learning)
Pendekatan terkondisi pertama kali dikemukakan oleh Jean Lave dan Etienne Wenger pada tahun 1991 sebagai sebuah model pembelajaran dalam suatu komunitas belajar. Lave dan Wenger berpendapat bahwa pembelajaran bukan hanya sekedar proses transmisi ilmu pengetahuan yang terbatas dari guru dan murid saja, tetapi pembelajaran itu haruslah menjadi sebuah proses sosial di mana pengetahuan pada peserta didik terkonstruksi oleh pemahaman mereka sendiri.
Teori ini juga bisa menjadi pendukung bagi pembelajaran elektronik (e-learning), di mana dalam aplikasinya, peserta didik bisa saling berinteraksi dalam sebuah forum, mailing list, chatbox atau bulletin board untuk saling bertukar informasi dan membangun pemahaman bersama terhadap suatu materi pembelajaran.

3. Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem-based Learning)
Pembelajaran berbasis masalah merupakan sebuah strategi pembelajaran yang berpusat kepada peserta didik (student-centered learning), di mana peserta didik bekerja secara kolaboratif untuk memecahkan masalah dan menyerap intisari dari pengalaman belajar mereka untuk dijadikan sebuah pengetahuan.

Dalam e-learning, teori ini bisa diterapkan saat peserta didik dituntut untuk berkomentar terhadap materi perkuliahan yang diberikan. Komentar dari mahasiswa tersebut kemudian akan dijadikan sebagai sebuah patokan oleh dosen untuk memberikan penilaian terhadap mahasiswa yang bersangkutan.
Selain berpedoman kepada tiga teori pembelajaran di atas, pengembangan sebuah aplikasi e-learning hendaknya juga diarahkan agar mampu memenuhi empat filosofi e-learning seperti yang dikemukakan Cisco dalam Rusman (2009: 198) sebagai berikut:
1. e-Learning merupakan penyampaian informasi, komunikasi, pendidikan dan pelatihan secara online;
2. e-Learning menyediakan seperangkat alat yang dapat memperkaya nilai belajar secara konvensional (model belajar konvensional, kajian terhadap buku teks, CD-ROM, dan pelatihan berbasis komputer) sehingga dapat menjawab tantangan perkembangan globalisasi;
3. e-Learning tidak berarti menggantikan model belajar konvensional di dalam kelas, tetapi memperkuat model belajar tersebut melalui pengayaan content dan pengembangan teknologi pendidikan;
4. Kapasitas peserta didik amat bervariasi tergantung pada bentuk, isi dan cara penyampaiannya. Makin baik keselarasan antar content dan alat penyampai dengan gaya belajar, maka akan lebih baik kapasitas peserta didik yang pada gilirannya akan memberi hasil yang lebih baik.

2.3.3 Karakteristik dan Keunggulan e-Learning
Pemanfaatan e-learning yang baik akan mendorong terciptanya lingkungan belajar yang berpusat pada siswa (student-centered learning), karena e-learning menuntut peserta didik untuk belajar secara mandiri dan mengkonstruk ilmu pengetahuannya sendiri. Hal tersebut sesuai dengan karakteristik e-learning yang dikemukakan oleh Riyana (2007) sebagai berikut:
1.Daya tangkap siswa terhadap materi pembelajaran tidak tergantung kepada instruktur/guru, karena siswa mengkonstruk sendiri ilmu pengetahuannya melalui bahan-bahan ajar yang disampaikan melalui interface situs web.

2.Sumber ilmu pengetahuan tersebar di mana-mana serta dapat diakses dengan mudah oleh setiap orang. Hal ini dikarenakan sifat media Internet yang mengglobal dan bisa diakses oleh siapapun yang terkoneksi ke dalamnya.

3. Pengajar/lembaga pendidikan berfungsi sebagai mediator/pembimbing.

4. Diperlukan sebuah restrukturisasi terhadap kebijakan sistem pendidikan, kurikulum dan manajemen yang dapat mendukung pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk pendidikan secara optimal.

Empat karakteristik di atas merupakan hal yang membedakan e-learning dari kegiatan pembelajaran secara konvensional. Dalam e-learning, daya tangkap peserta didik terhadap materi pembelajaran tidak lagi tergantung kepada instruktur/pengajar, karena peserta didik mengkonstruk sendiri ilmu pengetahuannya melalui bahan-bahan ajar yang disampaikan melalui interface aplikasi e-learning. Dalam e-learning pula, sumber ilmu pengetahuan tersebar di mana-mana serta dapat diakses dengan mudah oleh setiap orang. Hal ini dikarenakan sifat media internet yang mengglobal dan bisa diakses oleh siapapun yang terkoneksi ke dalamnya. Terakhir, dalam e-learning pengajar/lembaga pendidikan berfungsi sebagai mediator/pembimbing. Hal ini berkebalikan dengan kegiatan pembelajaran konvensional di mana pengajar/lembaga pendidikan berfungsi sebagai sumber utama ilmu pengetahuan. Berdasarkan karakteristik tersebut, maka e-learning memiliki kelebihan tersendiri bila dipandang sebagai sebuah alternatif untuk model pembelajaran konvensional. Lebih lanjut, Riyana (2007: 22) menyebutkan kelebihan-kelebihan tersebut sebagai berikut:

1. Interactivity (Interaktifitas); tersedianya jalur komunikasi yang lebih banyak, baik secara langsung (synchronous), seperti chatting atau messenger atau tidak langsung (asynchronous), seperti forum, mailing list atau buku tamu.

2. Independency (Kemandirian); fleksibilitas dalam aspek penyediaan waktu, tempat, pengajar dan bahan ajar. Hal ini menyebabkan pembelajaran menjadi lebih terpusat kepada siswa (student-centered learning).

3. Accessibility (Aksesibilitas); sumber-sumber belajar menjadi lebih mudah diakses melalui pendistribusian di jaringan Internet dengan akses yang lebih luas daripada pendistribusian sumber belajar pada pembelajaran konvensional.

4. Enrichment (Pengayaan); kegiatan pembelajaran, presentasi materi kuliah dan materi pelatihan sebagai pengayaan, memungkinkan penggunaan perangkat teknologi informasi seperti video streaming, simulasi dan animasi.

2.3.4. Fungsi e-Learning
e-Learning sebagai suatu model pembelajaran yang baru memiliki beberapa fungsi terhadap kegiatan pembelajaran di dalam kelas (classroom instruction). Siahaan dalam Kamil (2010), memaparkan fungsi e-learning tersebut sebagai berikut:
1.Suplemen; Dikatakan berfungsi sebagai suplemen atau tambahan apabila peserta didik mempunyai kebebasan memilih, apakah akan memanfaatkan materi pembelajaran elektronik atau tidak. Dalam hal ini, tidak ada kewajiban/keharusan bagi peserta didik untuk mengakses materi pembelajaran.

2. Komplemen; Dikatakan berfungsi sebagai komplemen atau pelengkap apabila materi pembelajaran elektronik diprogramkan untuk melengkapi materi pembelajaran yang diterima siswa di dalam kelas (Lewis: 2002). Sebagai komplemen berarti materi pembelajaran elektronik diprogramkan untuk menjadi materi reinforcement atau remedial bagi peserta didik di dalam mengikuti kegiatan pembelajaran konvensional.

3. Substitusi; Beberapa perguruan tinggi di negara maju memberikan beberapa alternatif model kegiatan pembelajaran/perkuliahan kepada para mahasiswanya. Tujuannya agar para mahasiswa dapat secara fleksibel mengelola kegiatan perkuliahannya sesuai dengan waktu dan aktivitas lain sehari-hari mahasiswa.

2.3.5 Model-Model e-Learning
Berdasarkan definisi dari ASTD, e-learning bisa dibagi ke dalam empat model, yaitu:
1. Web-Based Learning (Pembelajaran Berbasis Web)
Pembelajaran berbasis web merupakan “sistem pembelajaran jarak jauh berbasis teknologi informasi dan komunikasi dengan antarmuka web” (Munir 2009: 231). Dalam pembelajaran berbasis web, peserta didik melakukan kegiatan pembelajaran secara online melalui sebuah situs web. Merekapun bisa saling berkomunikasi dengan rekan-rekan atau pengajar melalui fasilitas yang disediakan oleh situs web tersebut.

2. Computer-Based Learning (Pembelajaran Berbasis Komputer)
Secara sederhana, pembelajaran berbasis komputer bisa didefinisikan sebagai kegiatan pembelajaran mandiri yang bisa dilakukan oleh peserta didik dengan menggunakan sebuah sistem komputer. Rusman (2009: 49) mengemukakan bahwa
pembelajaran berbasis komputer merupakan “… program pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran dengan menggunakan software komputer yang berisi tentang judul, tujuan, materi pembelajaran dan evaluasi pembelajaran.”

3. Virtual Education (Pendidikan Virtual)
Berdasarkan definisi dari Kurbel (2001), istilah pendidikan virtual merujuk kepada suatu kegiatan pembelajaran yang terjadi di sebuah lingkungan belajar di mana pengajar dan peserta didik terpisah oleh jarak dan/atau waktu. Pihak pengajar menyediakan materi-materi pembelajaran melalui penggunaan beberapa metode seperti aplikasi LMS, bahan-bahan multimedia, pemanfaatan internet, atau konferensi video. Peserta didik menerima mater-materi pembelajaran tersebut dan berkomunikasi dengan pengajarnya dengan memanfaatkan teknologi yang sama.

4. Digital Collaboration (Kolaborasi Digital)
Kolaborasi digital adalah suatu kegiatan di mana para peserta didik yang berasal dari kelompok yang berbeda (kelas, sekolah atau bahkan negara bekerja) bersama-sama dalam sebuah proyek/tugas, sambil berbagi ide dan informasi dengan seoptimal mungkin memanfaatkan teknologi internet.

BAB 3
PEMBAHASAN

3.1 Latar belakang e-Learning pada SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto
Untuk menunjang kebutuhan sekolah akan teknologi informasi SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto sudah menggunakan komputer dan wifi internet, agar para siswa lebih mudah mendapatkan infomasi yang dibutuhkan dengan cepat. Sistem informasi pembelajaran dengan metode “e-learning” diadakan untuk menunjang proses belajar mengajar yang lebih baik dan lebih mudah. Dengan sistem ini, para guru dan para siswa dapat menyampaikan informasi dan berinteraksi dengan mudah dan cepat melalui internet. E –Learning dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya di SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto untuk pelajar yang sedang menempuh pendidikan di sekolah tersebut.
Saat ini kebutuhan akan teknologi ditingkat pendidikan sekolah menengah kejuruan meningkat terutama untuk materi pembelajaran dan mata pelajaran, memperoleh informasi mengenai pelajaran yang dipelajari maupun informasi pengetahuan umum yang diperoleh dari internet. SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto saat ini berkeinginan untuk menuju sekolah yang berbasiskan multimedia dan teknologi informasi. Dengan diterapkannya sistem seperti ini di SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto, diharapkan akan semakin mempermudah proses belajar mengajar yang berlangsung di SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto dan juga membantu kinerja
baik itu pengelola staff pengajar serta pengurus organisasi sekolah yang dalam hal ini berada dibawah naungan OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah). Dengan semakin fleksibelitasnya proses belajar mengajar tersebut, maka diharapkan dapat meningkatkan kualitas dari para siswa itu sendiri.

3.2 Sistem Pembelajaran E-Learning
Seiring perkembangan ilmu dan teknologi, proses pembelajaran mulai bergeser pada proses belajar (learning), berbasis pada masalah (case base), bersifat kontekstual dan tidak terbatas hanya untuk golongan tertentu. Pada proses pembelajaran seperti ini siswa dituntut untuk lebih aktif dengan mengoptimalkan sumber-sumber belajar yang ada.
• Sistem pembelajaran jarak jauh
Sistem pembelajaran jarak jauh merupakan suatu metode instruksional antara pengajar dan pelajar untuk memberikan kesempatan belajar tanpa dibatasi oleh kendala waktu, ruang dan tempat serta keterbatasan sistem pendidikan tradisional (Eileen, 2001). Pada sistem pembelajaran jarak jauh, pelajar tidak perlu datang ke sekolah, mendengarkan pengajar mengajar dan aktivitas pembelajaran konvensional lainnya. Siswa dapat belajar di rumah, mengerjakan soal-soal latihan seperti yang terjadi pada metode pembelajaran tradisional. Interaksi Antara pengajar dan pelajar masih tetap berlangsung dengan media yang memungkinkan interaksi tersebut terjadi.

• Teknologi Pembelajaran Jarak Jauh
Berdasarkan waktu terjadinya proses belajar mengajar, terdapat dua jenis sistem pembelajaran jarak jauh yaitu synchronous dan asynchronous. Pada system synchronous, pelajar dan pengajar berada dalam waktu bersamaan, sedangkan dalam sistem Asynchronous pengajar dan pelajaran tidak berada dalam waktu yang bersamaan.

o Web Based Learning
Web-based learning termasuk salah satu metode dan teknologi yang digunakan dalam pembelajaran jarak jauh. Pada Web- Based learning, penyampaian dan akses materi pengajaran dilakukan melalui media elektronik menggunakan Web sever untuk menyampaikan materi, Web browser untuk mengakses materi pelajaran, dan TCP/IP (Transmision Control Protocol/Internet Protocol) dan HTTP (Hyper Text Transfer Protocol) sebagai protocol untuk melakukan komunikasi

o Sistem Electronic Learning (E-Learning)
Sistem e-learning merupakan bentuk pendidikan jarak jauh yang menggunakan media elektronik sebagai media penyampaian materi dan komunikasi antara pengajar dengan pelajarnya. E-learning adalah istilah yang paling baru pada sistem pendidikan jarak jauh dan istilah ini diperuntukkan bagi pembelajaran secara elektronik termasuk media komputer dan telekomunikasi. (Int 1996).

3.3 Evaluasi e-learning pada SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto
Berdasarkan studi yang telah dilakukan oleh Hanum (2013) mengenai pengujian kefektivitasan e-learning di SMK Telkom Sandhy Putra Purwoker terdapat empat aspek e-learning yang perlu diperhatikan dalam penerapannya, antara lain:
1. Perencanaan Pembelajaran
Menurut Hanum, perencanaan pembelajaran ini berisikan segala gambaran mengenai aktivitas-aktivitas maupun tindakan yang akan dilaksanakan pada saat berlangsungnya proses pembelajaran. Dengan demikian dapat disimpulkan, aplikasi perencanaan pembelajaran yang ber- basis e-learning memuat rencana, perkiraan dan gambaran umum kegiatan pembelajaran dengan memanfaatkan jaringan komputer, baik intranet maupun internet. Lingkup perencanaan pembelajaran meliputi empat komponen utama, yaitu tujuan, materi atau bahan ajar, kegiatan belajar mengajar, dan evaluasi.

2. Perancangan dan Pembuatan Materi
Menurut Daniswara (2011: 2), dalam proses pembelajaran konten memegang peranan penting karena langsung berhubungan dengan proses pembelajaran peserta (siswa). Konten merupakan obyek pembelajaran yang menjadi salah satu parameter keberhasilan e- learning melalui jenis, isi dan bobot konten. Sistem e-learning harus dapat:
1. Menyediakan konten yang bersifat teacher-centered yaitu konten instruk- sional yang bersifat prosedural, deklaratif serta terdefinisi dengan baik dan jelas.
2. Menyediakan konten yang bersifat learner-centered yaitu konten yang menyajikan hasil (outcomes) dari instruk- sional yang terfokus pada pengembangan kreatifitas dan memaksimalkan ke- mandirian.
3. Menyediakan contoh kerja (work example) pada material konten untuk mempermudah pemahaman dan mem- berikan kesempatan untuk berlatih.
4. Menambahkan konten berupa games edukatif sebagai media berlatih alat bantu pembuatan pertanyaan.
Beberapa prinsip membuat situs pembelajaran atau website e-learning menurut Munir (2009:29) antara lain:
a. Tujuan yang jelas
Perumusan tujuan harus jelas, spesifik, teramati, dan terukur untuk mengubah perilaku pembelajar.
b. Relevan dengan kebutuhan
Program pembelajaran jarak jauh relevan dengan kebutuhan pembelajar, masyarakat, dunia kerja, atau lembaga pendidikan.
c. Mutu pendidikan
Pengembangan program pembelajaran jarak jauh merupakan upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan yaitu mutu proses pembelajaran yang ditandai dengan proses pembelajaran yang lebih aktif atau mutu lulusan yang lebih produktif.
d. Efisien dan efektivitas program
Pengembangan program pembelajaran jarak jauh harus mempertimbangkan efisiensi pelaksanaan dan ekfektivitas produk program. Efisien mencakup penghematan dalam penggunaan tenaga, biaya, sumber dan waktu, sedapat mungkin menggunakan hal-hal yang tersedia. Efektifitas memperhatikan hasil-hasil yang dicapai oleh lulusan, dampaknya terhadap program dan terhadap masyarakat.

e. Pemerataan dan perluasan kesempatan belajar.
Pemerataan dan perluasan kesempatan belajar, khususnya bagi yang tidak sempat mengikuti pendidikan formal karena jauh atau sibuk bekerja. Itulah sebabnya pembelajaran jarak jauh memberikan kemudahan bagi pembelajar untuk belajar mandiri yang belajarnya tidak terikat dengan ruangan kelas dan waktu.
f. Kemandirian
Kemandirian baik dalam pengelolaan, pembiayaan, dan kegiatan belajar.
g. Keterpaduan
Keterpaduan, yaitu mengharuskan adanya keterpaduan berbagai aspek seperti ketepaduan mata kuliah atau mata pelajaran secara multi disipliner.
h. Kesinambungan
Tugas tutor memberikan bantuan kepada pembelajar secara berkala ketika pembelajar menghadapi kesulitan dalam memahami materi pembelajaran, mengerjakan tugas, latihan, atau soal. Bantuan yang diberikan adalah membimbing untuk memahami tujuan yang akan dicapai, cara dan teknik mempelajari materi pembelajaran, penerapan metode belajar, dan bantuan lainnya yang dapat mengkondisikan pembelajar untuk belajar dan mencapai hasilnya secara optimal.
3. Penyampaian Pembelajaran
Pembelajaran dengan e-learning merupakan pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi internet untuk meningkatkan lingkungan belajar dengan konten yang kaya dengan cakupan yang luas. E-learning merupakan pemanfaatan media pembelajaran menggunakan internet, untuk mengirimkan serangkaian solusi yang dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan.

Setiap metode pembelajaran harus me- ngandung rumusan pengorganisasian bahan pelajaran, strategi penyampaian, dan penge- lolaan kegiatan dengan memperhatikan faktor tujuan belajar, hambatan belajar, karakteristik siswa, agar dapat diperoleh efektivitas, efisiensi dan daya Tarik pembelajaran.

4. Evaluasi Pelaksanaan Pembelajaran
Evaluasi pembelajaran merupakan alat indikator untuk menilai pencapaian tujuan- tujuan yang telah ditentukan serta menilai proses pelaksanaan mengajar secara ke- seluruhan. Evaluasi bukan hanya sekedar menilai suatu aktivitas secara spontan dan insidental, melainkan merupakan kegiatan untuk menilai sesuatu secara terencana, sistematik, dan terarah berdasarkan tujuan yang jelas (Rusman dkk, 2011: 42).

Kegiatan evaluasi pelaksanaan pembel- ajaran e-learning dapat dilihat dari segi peningkatan pengetahuan dan keterampilan, lingkungan belajar, dan pengaruhnya. Eva- luasi pelaksanaan e-learning merupakan proses menganalisis kualitas proses pembelajaran berbasis web (e-learning) dan sejauh mana ketercapaian dari proses e-learning tersebut untuk dapat dirasakan para pebelajar. Pelaksanaan evaluasi dilakukan sebagai bentuk penilaian terhadap berbagai komponen yang terdapat pada e-learning.
Hanun (2013) dalam studi-nya juga telah melakukan penelitian dengan mengambil sampel dari populasi guru dan siswa di SMK Telkom Sandy Putra Purwokerto. Dengan jumlah populasi 732 dan sampel sebanyak 260 dari siswa. Beserta populasi dari 42 dan 22 sebagai sampel.
Dari data-data tersebut, telah disimpulkan bahwa kecenderungan keefektifan pelaksanaan pembelajaran e-learning di SMK Telkon Sandhy Putra Purwokerto pada Tabel 3.1

No Rumus Frekuensi Persentase Klasifikasi
1. 208 ≤ M ≤ 256 4 18,18% Efektif
2. 160 ≤ M < 208 17 77,27% Cukup Efektif
3. 112 ≤ M < 160 1 4,55% Tidak Efektif
4. 64 ≤ M < 112 0 0,00% Sangat Tidak Efektif
Total 22 100%
Tabel 3.1 Distribusi Kecenderungan Keefektifan Standar Mutu Pelaksanaan E-learning sebagai Media Pembelajaran

Berdasarkan tabel 3.1, dapat dilihat bahwa pada dasarnya media e-learning sebagai media pembelajaran di SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto cenderung dalam kategori “cukup efektif” dengan tingkat persentase sebesar 77,27%. Adapu untuk lebih jelasnya, hasil dari penelitian ini dikembangkan lebih mendalam. Ketercapaian kefektifan masing-masing komponen standar mutu pelaksanaan e-learning di SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto dapat dilihat pada gambar 3.1.

Lebih lanjut, Penelitian juga dilakukan pengukuran standar mutu perencanaan e-learning apakah telah sesuai dengan indicator yang berlaku untuk konsep e-learning. Mengenai pengukuran ini dapat dilihat lebih lanjut pada gambar 3.3:

Gambar 3.3 Penilaian Indikator Standar Mutu Perencanaan E-learning

Berdasarkan gambar 3.3, dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya penerapan e-learning di SMK Sandhy Putra Purwokerto telah sesuai dengan indikator yang berlaku dan hal tersebut telah disetujui oleh sample yang diambil dengan masing-masing kategori memiliki kecenderungan “sesuai” kecuali untuk indicator kedua dimana sebanyak 83,86% memvoting indikator yang berlaku sangat sesuai.

Gambar 3.4 Penilaian Indikator Standar Mutu Perancangan dan Pembuatan Materi E-learning
Selanjutnya gambar 3.4 dan 3.5 juga menunjukkan pengukuran lainnya yaitu pada indikator mutu perancangan dan pembuatan Materi E-learning serta indikator standar mutu dalam penyampaian. Kedua hasil studi tersebut menunjukkan bahwa kesemua indikator yang diuji untuk kedua bagian ini telah sesuai dengan aturan yang berlaku. Suara terbesar pada Gambar 3.4 adalah 79,55% dimana menunjukkan suara responden tertinggi terdapat pada indikator ketiga yang menekankan bahwa perancangan dan pembuatan materi telah sesuai dengan karakteristik pembelajaran e-learning.
Adapun Munir (2009:13) telah menjelaskan bahwa karakteristik dari pembelajaran jarak jauh, antara lain:
1. Program disusun disesuaikan dengan jenjang, jenis dan sifat pendidikan
2. Dalam proses pembelajaran tidak ada pertemuan langsung secara tatap muka antara pengajar dan pembelajar.
3. Pembelajar dan pengajar terpisah sepanjang proses pembelajaran tersebut dan karenanya pembelajar harus dapat belajar secara mandiri.
4. Adanya lembaga pendidikan yang mengatur pembelajar untuk belajar mandiri.
5. Lembaga pendidikan merancang dan menyiapkan materi pembelajaran serta adanya pelayanan bantuan belajar.
6. Materi pembelajaran disampaikan melalui media pembelajaran seperti komputer dan internet.
7. Adanya komunikasi dua arah (interaktif) antara pembelajar dengan pengajar, pembelajar dengan pembelajar lain ataupun pembelajar dengan lembaga penyelenggara.
8. Tidak ada kelompok belajar yang bersifat tetap sepanjang masa belajarnya.
9. Peran pengajar yang lebih bersifat fasilitator
10. Pembelajar yang dituntut aktif dan interaktif dan partisipatif.
11. Sumber belajar adalah bahan-bahan yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan kurikulum

Gambar 3.5 Penilaian Indikator Standar Mutu Penyampaian Materi E-learning
Gambar 3.5 menunjukkan bahwa sebanyak 69,89% menggangap bahwa fasilitas tatap muka tetaplah dalam kategori “sesuai” walaupun pada intinya e-learning merupakan pembelajaran jarak jauh secara online.
Untuk kategori interaksi, e-learning di SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto berdasarkan hasil studi Hanum (2013) Interaksi yang terjadi antara siswa, guru-siswa, dan siswa-materi telah sesuai dan memenuhi kriteria, hal ini juga berlaku pada indikator bahwa interaksi dapat dilakukan baik secara synchronous maupun asynchronous.
Evaluasi juga dilakukan dengan baik oleh pihak pengelola e-learning di SMK Putra Purwokerto mulai dari isi materi, proses, pelaksanaan serta tata cara proses registrasi telah dibabarkan dengan baik.

Gambar 3.6 Halaman utama dari portal e-learning di SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto
(http://elearning.smktelkom-pwt.sch.id/login/index.php)

3.4 Kesenjangan pada proses pelaksanaan pembelajaran E-learning di SMK Telkon Sandhy Putra
Kecenderungan keefektifan pelaksanaan pembelajaran e-learning di SMK Telkon Sandhy Putra Purwokerto menunjukkan pernyataan guru, bahwa pelaksanaan pembe-lajaran e-learning sebagai media pembelajar-an di SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto secara keseluruhan cukup efektif dengan tingkat kecenderungan sebesar 77,27%. Akan tetapi, bagi sekelompok pengajar, pelaksanaan pembelajaran e-learning ini tidak efektif. Dapat diketahui persentase keefektifan standar mutu pelak-sanaan implementasi e-learning dari masing-masing variabel tergolong cukup efektif. Keefektifan komponen perencanaan pembel-ajaran sebesar 74,50%, komponen perancang-an dan pembuatan materi sebesar 75,27%, komponen penyampaian pembelajaran sebesar 75%, komponen interaksi pembelajaran sebesar 66,10%, dan komponen evaluasi pelak-sanaan sebesar 69,01%.
Kesenjangan pada komponen perencanaan pembelajaran e-learning yaitu belum adanya komitmen dari sekolah untuk melaksanakan pembelajaran e-learning secara optimal, proses pembelajaran belum diarah-kan pada pembelajaran berbasis e-learning. Sehingga tingkat urgensi pem-belajaran menggunakan media e-learning masih kurang.
Rekomendasi untuk meningkatkan keefektifan perencanaan pembelajaran e-learning yaitu perlu memperhatikan aspek utama perencanaan implementasi e-learning sebagai langkah awal pemanfaatan e-learning sebagai media pembelajaran. Hal yang perlu diperhatikan antara lain:
1. Pelaksanaan perencanaan pembelajaran dengan e-learning dapat diawali dengan analisis kebutuhan untuk mengetahui kondisi lingkungan sekolah dan pem-belajaran pada umumnya agar mampu melaksanakan pembelajaran dengan e-learning secara optimal
2. Ketersediaan jaringan (network), meren-canakan persiapan dari segi infrastruktur dan teknologi.
3. Ketersediaan fasilitas sekolah antara lain ketersediaan hardware dan software, serta ruang kelas atau laboratorium kom-puter sebagai ruang belajar dengan memanfaatkan metode blended learning yang menggunakan e-learning
4. Guru membuat atau menyediakan Ran-cangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan silabus yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran konvensional dan pelaksanaan pembelajaran dengan e-learning
5. Guru merumuskan tujuan pembelajaran yang jelas
6. Guru merencanakan materi ajar untuk menyediakannya dalam e-learning. Ma-teri diberikan sesuai dengan analisa kebutuhan dan kemampuan siswa serta disesuaikan dengan kompetensi yang dibutuhkan
7. Agar mencapai hasil yang maksimal, pihak sekolah harus membuat kebijakan agar guru melaksanakan pembelajaran e-learning dengan optimal dan siswa tertarik untuk belajar dengan meng-gunakan e-learning sekolah

Ketercapaian Standar Mutu Perancangan dan Pembuatan Materi E-learning
Kesenjangan terkait dengan komponen perancangan dan pembuatan materi e-learning pada pelaksanaan pembelajaran e-learning di SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto yaitu pembuatan e-learning belum didaftarkan hak ciptanya, sehingga belum memenuhi kaidah pembelajaran berbasis internet, serta beberapa guru belum memahami secara mendalam me-ngenai pengelolaan course dalam e-learning.
Rekomendasi untuk komponen pe-rancangan dan pembuatan materi e-learning yaitu aspek perancangan dan pembuatan materi merupakan kegiatan yang dibutuhkan dalam mengelola pembelajaran e-learning yang berkaitan dengan proses pembelajaran oleh guru. Untuk mempersiapkan pelaksanaan perancangan dan pembuatan materi, sebainya perlu diperhatikan:
1. Ketersediaan hardware dan software, dalam hal ini ketersediaan hardware yang mendukung ditinjau dari sisi server dan client, LAN WAN, switch, dan bandwidth, serta ketersediaan software sistem dan software aplikasi untuk me-ngembangkan media pembelajaran ber-basis e-learning
2. Kesiapan brainware untuk mengelola hardware dan software
3. Penerapan pembelajaran multimedia yang bersifat interaktif untuk mendorong peserta didik aktif belajar
4. Guru membuat bahan ajar yang mudah dikelola dan diperbaharui
5. Kemudahan akses bahan ajar.
6. Guru mendesain materi ajar dengan memperhatikan tampilan, interaksi/aspek interaktivitas, kontrol (melalui beberapa mekanisme antara lain menyusun menu, panel, dan fasilitas bantuan yang mem-perjelas mekanisme materi ajar), bentuk atau jenis materi, dan susunan materi.

Ketercapaian Standar Mutu Penyampaian Pembelajaran E-learning
Pembelajaran e-learning SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto yaitu strategi belajar dengan menggunakan multimedia belum sepenuhnya diadaptasi dan kurangnya penambahan materi pembelajaran yang ber-sifat interaktif untuk setiap mata pelajaran.
Rekomendasi untuk komponen pe-nyampaian pembelajaran e-learning, yaitu guru memperhatikan aspek-aspek penting dalam penyampaian pembelajaran dengan e-learning untuk meningkatkan metode pe-nyampaian pembelajarannya. Hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain:
1. Menentukan sasaran dan tujuan pembelajaran
2. Membuat isi pembelajaran, dimana dan bagaimana materi pembelajaran yang ber-sifat interaktif dapat digunakan secara efektif
3. Merancang proses pembelajaran serta operasionalnya
4. Meningkatkan keterampilan seorang peng-ajar yang berkelanjutan melalui berbagai pelatihan menggunakan multimedia kom-puter
5. Mengetahui pengoperasian dan peme-liharaan hardware serta pengetahuan tentang pemilihan software pembelajaran
6. Mengintegrasikan pembelajaran melalui e-learning dengan kurikulum
7. Mengetahui teknik-teknik pembelajaran menggunakan komputer
8. Lebih peka terhadap perkembangan tek-nologi terkini (up to date)

Ketercapaian Standar Mutu Interaksi Pembelajaran E-learning
Kesenjangan komponen interaksi pem-belajaran e-learning di SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto yaitu menyediakan interaksi pembelajaran melalui e-learning. Rekomen-dasi untuk komponen interaksi pembelajaran dengan e-learning yaitu pemanfaatan jaringan komputer untuk meningkatkan interaktivitas pembelajaran. Jaringan komputer dapat di-manfaatkan dalam pembelajaran e-learning sehingga guru dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran dengan melaksanakan penye-baran informasi, komunikasi dua arah melalui jaringan internet, sarana diskusi, dan sarana memberikan tugas atau materi.
Interaksi pembelajaran dapat berjalan apabila terdapat pengelola pembelajaran (guru), sumber belajar, subyek pembelajar (siswa), interaksi antara pengajar/guru. Penge-lolaan pembelajaran dapat dilakukan oleh guru, sehingga guru memberikan peran aktif dalam sistem pembelajaran termasuk dalam e-learning. Siswa tidak dapat belajar dengan baik, serta mengakses sistem pembelajaran jika tidak ada jaringan komputer dan konten-konten pembelajaran.

3.5 Manfaat Penerapan E-learning pada SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto
1. Memberikan tujuan dan perencanaan pembelajaran pada dasarnya merupakan gambaran mengenai beberapa aktivitas dan tindakan yang akan dilakukan pada saat berlangsungnya proses pembel-ajaran.
2. Memudahkan penyampaian materi pembelajaran kepada pembelajar secara online Pembelajaran dari mana dan kapan saja (time and place flexibility).
3. Menjangkau peserta didik dalam cakupan yang luas (global audience). Mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi pembelajaran (easy updating of content as well as archivable capabilities.
4. Memberikan bantuan dan kemudahan bagi pembelajar untuk mengerjakan tugas-tugas dengan perintah dan arahan yang jelas.
5. Memungkinkan kita juga dapat berkomunikasi dengan guru/dosen setiap saat, misalnya melalui chatting dan email. Mengingat sumber belajar yang sudah dikemas secara elektronik dan tersedia untuk diakses melalui internet, maka kita dapat melakukan interaksi dengan sumber belajar ini kapan saja dan dari mana saja, juga tugas-tugas pekerjaan rumah dapat diserahkan kepada guru/dosen begitu selesai dikerjakan.

BAB 4
PENUTUP

1.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian diperoleh kesimpulan :
• Pemanfaatan E-Learning sangat membantu sistem yang berjalan di SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto.
• Penerapan E-Learning di SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto memiliki beberapa masalah namun dapat teratasi oleh penyelesaian masalah.
• Penerapan E-Learning di SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto terus berkembang.
• Dengan implementasi configuration management, service desk di SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto dapat menyediakan kualitas pelayanan teknologi informasi yang tinggi kepada klien.

1.2 Saran
• Terkait dengan penelitian tentang kendala pelaksanaan E-Learning di SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto, perkembangan E-Learning di SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto dapat di adakan secara efektif dan efisien jika ada dukungan yang lebih baik dari karyawan dan diadakannya pelatihan.
• Penerapan E-Learning pada SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto dapat berjalan dengan lebih baik dengan adanya update dan maintenance serta perhatian penuh dari pihak yang bersangkutan yang memanfaatkan dan menggunakan sistem tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Clark, D. (2010). Defining eLearning. [Online]. Tersedia: http://nwlink.com/~Donclark/hrd/elearning/define.html
Eileen T. Bender, 2001 : Introduction to Distance Learning;
http://www.indiana.edu/~scs/dl prime.html. diambil pada mei 2006
Hanun, Numiek Sulistyo. 2013. Keefektifan e-Learning Sebagai Media Pembelajaran (Studi Evaluasi Model Pembelajaran E-Learning SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto). Diakses pada journal.uny.ac.id/index.php/jpv/article/…/1584/1314
Int, 1996 Chapter 1 : Introduction to Distance Learning;
http://www.indiana.edu/~scs/dl prime.html.
Kamil, M. (2010). e-Learning Sebuah Prospek Pembelajaran. [Online]. Tersedia: http://file.upi.edu/Direktori/SPS/PRODI.PENDIDIKAN_LUAR_SEKOLAH/196111091987031-MUSTOFA_KAMIL/Bhaan_kuliah/e-learning.pdf.
Kurbel, K. (2001). Virtuality on the Students' and on the Teachers' sides: A Multimedia and Internet based International Master Program. Berlin: ICEF Berlin GmbH (Eds.).
Munir. (2009). Pembelajaran jarak jauh ber-basis teknologi informasi dan komu-nikasi. Bandung: Alfabeta.
Moeng, B. (2004). IBM Tackles Learning in the Workplace. [Online]. Tersedia: http://www.itweb.co.za/sections/business/2004/0411081222.asp?A=BED&S=Business%20Education%20and%20Training&O=FPIN
Munir. (2009). Pembelajaran Jarak Jauh. Bandung: Alfabeta.
Riyana, C. (2007). Konsep Dasar e-Learning. Dokumen presentasi pada perkuliahan e-learning di Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.
Rusman. (2009). “Pemanfaatan Internet untuk Pembelajaran”, dalam Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pembelajaran. Bandung: Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia.
Stockley, D. (2012). E-Learning Definition and Explanation. [Online]. Tersedia: http://derekstockley.com.au/elearning-definition.html
The American Society for Training and Development (ASTD). (2012). Definition of e-Learning. [Online]. Tersedia: http://www.about-elearning.com/definition-of-e-learning.html.

LAMPIRAN
RIWAYAT HIDUP
Nama : Arni Virani
Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 26 Juli 1993
Alamat : Interkota blok A5 no. 11, Cengkareng, Jakarta Barat
No. Telepon : 08197670261
Email : ni.arnie@live.com
Jenis Kelamin : Wanita
Riwayat Pendidikan :
2011-sekarang Sistem Informasi
School of Information System, BINUS University
2008-2011 SMA Tarsisius 1
2005-2008 SMP Vianney
1999-2005 SD Vianney
1996-1999 TK Damai

Pengalaman Kerja :
2011 Sales Promotion Antivirus, Softlenses, MasterCard.
2012 PIC Mid-Year Gathering Novartis
2013 Volunteer untuk SUA Jakarta


RIWAYAT HIDUP
Nama : David Santoso
Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 13 Juni 1993
Alamat : Jl. Taman Meruya Ilir Blok I2 No.24, Jakarta Barat 11620
No. Telepon : 08988246820
Email : Santosodavid93@gmail.com
Jenis Kelamin : Laki – laki
Riwayat Pendidikan :
2011-sekarang Sistem Informasi
Peminatan : ERP
School of Information System, BINUS University
2008-2011 SMA SMA Pelita 2
2005-2008 SMP SMA Pelita 2
1999-2005 SD SMA Pelita 2
1996-1999 TK SMA Pelita 2

Pengalaman Kerja :
2011 – Sales Promotion PT. Unilever Indonesia
– Credit Card Sales Marketting of PT.UOB Buana Indonesia
2012 Liaison Officer of Asean English Olympic by BNEC


RIWAYAT HIDUP
Nama : Hendy Salim
Tempat, Tanggal Lahir : Bandar Lampung, 4 maret 1992
Alamat : Jl. Haji taisir no 5, Jakarta Barat
No. Telepon : 087899844883
Email : hendisalim21@yahoo.com
Jenis Kelamin : Laki – laki
Riwayat Pendidikan :
2011-sekarang Sistem Informasi
Peminatan : ERP
School of Information System, BINUS University
2008-2011 SMA Immanuel Bandar Lampung
2005-2008 SMP Immanuel Bandar Lampung
1999-2005 SD Immanuel Bandar Lampung
1996-1999 TK Immanuel Bandar Lampung

Pengalaman Kerja : –

RIWAYAT HIDUP
Nama : Rendy Rinaldo
Tempat, TanggalLahir : Tanjungpinang, 12 Juni 1993
Alamat : Gg. Keluarga No. 39 B, Kemanggisan, Jakarta Barat 11480
No. Telepon : 083873373828
Email : rendyrinaldo77@gmail.com
JenisKelamin : Laki – laki
RiwayatPendidikan :
2011-sekarang Sistem Informasi
Peminatan : ERP
School of Information System, BINUS University
2008-2011 SMAN 1 Tanjungpinang
2005-2008 SMPN 1 Tanjungpinang
1999-2005 SD Katolik
1996-1999 TK Djuwita

PengalamanKerja :
2013 Translator / Interpreter untuk Tech In Asia
2013 Volunteer untuk Startup Asia Jakarta
2012 – 2013 Tutor untuk kelas TOEFL dan PSP (Public Speaking and Performance)
2012 & 2013 Panitia di Binus Online Job Expo 2012 dan 2013

RIWAYAT HIDUP
Nama : Jennifer Pauling
Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 11 November 1993
Alamat : Jl. 21 No.12 B RT01 RW08 Teluk Gong, Jakarta Utara 14450
No. Telepon : 083893953885
Email : jenniferpauling11@gmail.com
Jenis Kelamin : Perempuan
Riwayat Pendidikan :
2011-sekarang Sistem Informasi
Peminatan : ERP
School of Information System, BINUS University
2008-2011 SMA Negeri 1 Tanjungpinang
2005-2008 SMP Negeri 5 Tanjungpinang
1999-2005 SD Swasta Katolik Tanajungpinang
1996-1999 TK Djuwita Tanjungpinang

Pengalaman Kerja :
2011-now – Math, Physics, and Chemistry Teacher at Proverbs Course
2012-now – Duta Binusian as Mentor in BINUS Student Learning Community (BSLC)
– English TOEFL Intermediate One Tutor in Bina Nusantara English Club (BNEC)

RIWAYAT HIDUP
Nama : Toni Sugino
Tempat, Tanggal Lahir : Pontianak, 20 Juni 1993
Alamat : Jl. Batusari Raya No.80, Palmerah, Jakarta Barat
No. Telepon : 089602466815
Email : toni_sho@ymail.com
Jenis Kelamin : Laki – laki
Riwayat Pendidikan :
2011-sekarang Sistem Informasi
Peminatan : ERP
School of Information System, BINUS University
2008-2011 SMA Gembala Baik
2005-2008 SMP Gembala Baik
1999-2005 SD Gembala Baik
1996-1999 TK Gembala Baik

Pengalaman Kerja :
2013 Translator / Interpreter for Tech In Asia
2013 Liaison Officer / Volunteer for Startup Asia Jakarta

Posted in Topik Topik Lanjutan SI | Comments Off on Penerapan E-Learning di SMK Telkom Sandhy Putra Purwokerto

Bussiness Case : Kunci sukses digital Marketing

Universitas Bina Nusantara

______________________________________________________________________

Jurusan Sistem Informasi
School of Information Systems
Tugas Paper
M0214 – Topik-Topik Lanjutan Sistem Informasi
Semester Genap tahun 2013/2014
Halaman Abstrak
Bussiness Case : Kunci sukses digital Marketing

Kelas / Kelompok: 06PKM / 05

Anggota Kelompok:
Arni Virani : 1501155411
Toni Sugino : 1501169865
Hendy Salim : 1501178522
Rendy Rinaldo : 1501188473
Jennifer Pauling : 1501189053
David Santoso : 1501194015

ABSTRAK
Kemajuan Teknologi Informasi membawa dampak transformasional yang menciptakan paradigma baru dalam bisnis dalam bentuk digital marketing. Penerapan e-Marketing atau digital marketing sangat membantu perusahaan dalam berkompetisi di era pasar bebas. Untuk itu, perusahaan perlu mendapatkan informasi tentang persepsi pelanggan dalam menilai e-marketing atau digital marketing yang dimilikinya (website). Seperti pemasaran telah menjadi alat yang sangat penting bagi setiap industri untuk mencapai konsumen itu menjadi sangat kompleks untuk memutuskan apa yang media yang tepat untuk pemasaran. Ketika dunia telah dimodernisasi secara dramatis dalam dekade terakhir media digital telah mencapai setiap rumah dan karenanya menjadi wahana yang sangat penting untuk pemasaran.

Kata kunci: E-Marketing, Digital Marketing, Teknologi Informasi

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Digital marketing era adalah sebuah era di mana setiap perusahaan berlomba-lomba untuk memasarkan produknya bukan lagi dengan cara konvensional (offline), seperti melalui iklan TV, radio, koran, baliho, dll, melainkan dengan cara online, seperti online store, e-mail, ad-banner, social network, dll. Survei tahun 2011 di negara Inggris terhadap ratusan perusahaan besar membuktikan bahwa budget perusahaan untuk biaya kampanye online marketing sudah melebihi budget untuk offline marketing. Ada anggapan bahwa media digital bisa memberikan segala kemudahan bagi konsumen.
Tetapi, pada kenyataannya, karena terlalu banyaknya jenis media digital, konsumen menjadi bingung. Ironisnya, bahwa setiap hari selalu ada jutaan jenis promosi melalui media digital dari seluruh dunia yang di-launch oleh perusahaan, baik kecil maupun besar. Seorang marketer memiliki peran penting untuk membuat strategi digital marketing-nya selalu tampil beda dibanding milik perusahaan lainnya. Semakin beda dan unik suatu strategi marketing, maka akan semakin memudahkan konsumen untuk mengingat perbedaan tersebut. Hal ini bertujuan agar konsumen tidak kesulitan lagi saat mencari informasi dan transaksi via media digital, karena mereka telah mengingat perbedaan itu lebih dulu.

Sebelum kita pahami cara membuat perbedaan itu, ada baiknya kita melihat dulu perkembangan dunia digital sejak tahun 1900 hingga sekarang. Dengan memahami perkembangan yang ada, maka kita dapat melakukan digital marketing dengan lebih tepat. Sejak tahun 1900 perkembangan dunia digital sebenarnya telah dimulai, walaupun bentuknya masih sangat primitif. Beberapa contohnya adalah berupa telepon, radio, dan telegram. Orang tidak perlu lagi repot untuk ketemu, atau mengirimkan pesan melalui surat yang memakan waktu lama untuk pengirimannya. Dengan adanya telepon, radio, dan telegram pada waktu itu, jarak antar tempat di belahan dunia lain serasa lebih dekat dari sebelumnya. Aktivitas marketing yang paling banyak dilakukan pada masa ini adalah memasarkan produk melalui iklan di radio.

Karena tidak semua rumah memiliki telepon permanen, maka aktivitas tele-marketing pada masa ini belum terlalu booming. Tahun 1950-an mulai muncul televisi hitam putih. Industri musik dan film mulai menggeliat pada masa ini. Aktivitas pemasaran melalui iklan di media televisi pun mulai bermunculan. Iklan Coca-Cola versi hitam putih pertama kali ditayangkan di TV pada akhir 1950-an. Tahun 1980-an dunia mengalami satu lagi kemajuan teknologi, yakni dengan hadirnya mesin Facsimile. Surat tidak perlu lagi dikirim melalui pos, cukup melalui mesin Fax, surat tersebut dapat tiba dalam waktu sekian detik saja. Aktivitas surat-menyurat antar perusahaan menjadi lebih cepat. Akibatnya, perkembangan industri pada masa ini mengalami kemajuan yang sangat pesat. Amerika, Jepang, dan negara-negara di Eropa terhubung menjadi satu kekuatan ekonomi yang hebat saat itu.

Tahun 1995, dunia mulai mengenal adanya internet. Tampilan website pada waktu itu masih sangat statis dan sederhana. Fungsi website hanyalah untuk media informasi saja. Perusahaan menggunakan website untuk mengenalkan pada dunia bahwa dirinya memiliki produk dengan fitur dan manfaat seperti apa saja. Informasi hanya bersifat satu arah, sebab si pembaca web tidak dapat berinteraksi secara langsung dengan perusahaan tersebut misal jika ada pertanyaan dan sebagainya, maka perusahaan tersebut tidak bisa langsung menjawabnya. Selain internet dan email sebagai sarana surat-menyurat, pada masa itu setiap orang juga mulai memiliki handphone pribadi, walaupun fungsi handphone saat itu hanya bisa digunakan untuk telepon dan SMS saja.

Tahun 2000 hingga 2005, internet terus mengalami perkembangan, Google sebagai mesin pencari mulai disukai banyak orang, karena fungsinya yang sangat berguna. Aplikasi teknologi wireless untuk perang juga mulai dikomersilkan. Buktinya pada masa itu mulai bermunculan laptop dengan fitur bluetooth dan wi-fi. Aktivitas marketing secara online mulai marak. Website portal berita dan informasi mulai menjual ‘kapling-kapling’ banner-nya untuk logo dan promosi perusahaan. Tarif pay-per-click (PPC) sangat disukai karena selain lebih murah, setiap perusahaan tidak perlu bayar ke penyedia layanan itu jika ternyata tidak ada orang yang akses ke link web-nya.

Tahun 2005-2010 perkembangan social networking, seperti Facebook berhasil mengubah tatanan digital marketing yang ada. Melalui Facebook, semua orang yang sudah lama tidak jumpa, bisa ketemu, ngobrol, dan berhubungan dengan jarak yang lebih dekat. Akhirnya tablet PC yang hadir pada tahun 2010-an seperti iPad, Galaxy Tab, dll mampu menjadi benang merah yang menghubungkan perkembangan teknologi sejak tahun 1900 hingga sekarang. Mengapa demikian? Dengan menggunakan tablet PC, kita dapat telepon, mendengar radio, melihat TV, video, browsing website, mengirimkan email, SMS, MMS, mengirimkan data via bluetooth, koneksi wi-fi, melakukan social networking, main game, dan banyak lagi hal lain yang tidak mungkin saya sebutkan satu per satu di sini. Apakah ini akhir dari Digital Marketing Era? Di mana kita bisa melakukan bisnis hanya dengan bantuan satu alat saja? Melakukan bisnis di mana saja? Kapan saja? Jawabannya tentu tidak, masa sekarang adalah awal dari kebangkitan Digital Marketing Era.

Tahun 2020, prediksi yang diberikan oleh The Chartered Institute of Marketing, UK, bahwa perkembangan marketing akan jauh lebih pesat dari sekarang. Akan ada TV 5 dimensi, di mana kita dapat melihat, mendengar, mencium, meraba, dan mengecap apa yang ditampilkan di TV tersebut. Akan ada juga komputer yang mampu mengerjakan semua perintah yang kita berikan, cukup menyambungkan komputer ke bagian syaraf otak kita, sehingga kita tidak perlu lagi susah payah mengetik di keyboard dan menggerakan mouse. Dan akan ada portable printer yang mampu mencetak produk bentuk 3D, jadi tidak lagi hanya print-out gambar 2D di atas selembar kertas. Kembali ke pertanyaan saya di awal, yakni bagaimana cara membedakan diri kita dibandingkan kompetitor ? Jawabannya adalah selalu gunakan konsep digital marketing yang dinamis, yang tepat guna untuk masa sekarang, namun masih tepat sasaran untuk masa mendatang. Kuncinya adalah selalu mampu berpikir kreatif dan inovatif dalam merumuskan strategi digital marketing di setiap zaman yang akan kita lalui bersama.

1.2 Ruang Lingkup

Untuk membatasi pembahasan agar tidak terlalu meluas, maka kami membatasi pembahasan masalah pada Ruang lingkup yang lebih spesifik dan terdekat yakni Penerapan Digital Marketing di Tesco / Homeplus.
Kami membatasi masalah dengan mengetahui keefektifan penerapan digital marketing pada Tesco / Homeplus , mengetahui permasalahan yang dihadapi , dan perencanaan solusi untuk mengatasi masalah tersebut.

1.3 Tujuan dan Manfaat

Tujuan dasar yang ingin dicapai dalam penyusunan karya tulis ini adalah:

1. Memahami pentingnya penerapan Digital Marketing pada Tesco/ HomePlus
2. Mengetahui masalah- masalah pada penerapan Digital Marketing.

Sedangkan beberapa manfaat yang diperoleh sebagai hasil evaluasi dalam karya tulis ini, antara lain:

1. Mengetahui manfaat penerapan Digital Marketing pada Tesco / Homeplus.
2. Mengetahui permasalahan yang dihadapi dan dampak signifikan pada Tesco / Homeplus.

1.4 Metodologi Penulisan

Dalam penulisan karya tulis ini dipergunakan berbagai informasi pendukung berdasarkan metode studi kepustakaan yang diperoleh melalui berbagai sumber, seperti buku penunjang mengenai ITIL Framework, jurnal-jurnal online yang mengupas topik tentang pemanfaatan ITIL Framework di PT. Tridas Widiantara , skripsi, dan beberapa website yang menyediakan informasi mengenai pemanfaatan ITIL Framework. Berdasarkan informasi dari berbagai sumber ini akan dibuat seebuah pembahasan tentang evaluasi penerapan ITIL Framework pada PT. Tridas Widiantara dan kemudian akan dibuat kesimpulan dan saran untuk pengembangan selanjutnya.

1.5 Sistematika Penulisan

Karya tulis ilmiah ini terdiri atas beberapa bab pembahasan, yaitu :

• BAB 1 : PENDAHULUAN
Pada bab ini akan dijelas mengenai pemahaman awal tentang teknologi secara umum dan secara khusus mengenai penerapannya di dunia nyata, yang terdiri atas latar belakang, ruang lingkup, tujuan dan manfaat penulisan, serta metodologi penulisan laporan.

• BAB 2 : LANDASAN TEORI
Pada bab ini berisikan teori-teori umum hingga teori khusus yang dijadikan sebagai dasar pengetahuan untuk memahami pengertian, strategi, tingkatan, tantangan dan menjadi kunci sukses marketing

• BAB 3 : PEMBAHASAN
Pada bab ini akan dijelaskan pembahasan inti tentang business case

• BAB 4 : PENUTUP
Bab ini akan memaparkan kesimpulan dari keselurhan pembahasan mengenai pembahasan kasus digital marketing, serta memaparkan beberapa saran untuk solusi atas permasalahan mengenai digital marketing.

BAB 2
LANDASAN TEORI

2.1 Teori umum
2.1.1 System Analyst
Seorang System Analyst merupakan seseorang yang mengembangkan system. Seorang System Analyst mempelajari masalah dan kebutuhan / requirement dari system yang ingin di bangun. Seorang System Analyst dapat didefinisikan sebagai :
• Seseorang yang menggunakan pengetahuannya tentang aplikasi komputer yang dimilikinya untuk memecahkan masalah – masalah bisni dibawah petunjuk seorang manager system (PM).
• Seseorang yang bertanggung jawab untuk menterjemahkan kebutuhan – kebutuhan user kedalam sebuah spesifikasi tehnik yang diperlukan oleh seorang programmer yang membuatnya dan diawasi oleh seorang project manager.
(Jogiyanto, 1990)
Pengertian seorang project manager dapat di gambarkan sebagai berikut :

Gambar 2.1 Pengertian System Analyst

2.1.2 Fungsi / peran System Analyst
Seorang System Analyst memiliki beberapa fungsi dalam pembuatan suatu system, yaitu :
• Mengidentifikasikan masalah yang sedang dihadapi suatu perusahaan / user
• Menberikan sasaran secara spesifik tentang sasaran yang inigin dicapai untuk memenuhi kebutuhan user.
• Memiliki alternative – alternative metode pemecahan masalah
• Merencanakan dan menerapkan rancangan systemnya sesuai dengan permintaan dan kebutuhan suatu perusahaan / user.
(Jogiyanto, 1990)

2.1.3 Konsep Analisis System Informasi

Konsep Analisis system informasi merupakan sebuah kegiatan pengembangan terhadap sebuah system dengan menguraikan / membagi system kedalam komponen – komponen untuk diidentifikasi dan dievaluasi terhadap kelemahan – kelemahan system, kebutuhan perushaan terhadap suatu system, peluang untuk pengembangan system, maupun kesalahan – kesalahan yang terjadi dalam sebuah system. Ada kerangka dalam menganalisis suatu system informasi, yaitu :
• Pengembangan ANSI
• Penguraian / pembagian
• Identifikasi dan evaluasi
– Kelemahan
– Kebutuhan
– Peluang
– Kesalahan
– Perubahan pengembangan system
– Control system
• System lama sebagi pembanding
• Standarisasi (Burch, 1992)
2.1.4 Informasi
Menurut rainer. K.R., Jr, (2007, p5), Informasi mengacu pada data yang telah teorganisir sehingga data memiliki makna dan nilai kepada penerima.
Jadi, dari pengertian di atas dapat disimpilkan bahwa informasi adalah kumpulan data-data yang telah diolah menjadi bentuk yang lebih dimengerti dan bermakna bagi si penerima.

2.1.5 Sistem Informasi
Menurut Rainer. K.R., Jr, (2007, p6), Sistem Informasi adalah sebuah proses yang mengumpulkan, memproses, menyimpan, menganalisis, dan menyebarkan informasi untuk tujuan tertentu.
Menurut Satzinger et al., (2005, p7), Sistem Informasi adalah kumpulan komponen yang dihubungkan melalui proses pengumpulan, pengolahan, penyimpanan, dan hasilnya akan menjadi informasi yang dibutuhkan untuk melengkapi tugas bisnis.
Menurut Satzinger et al,. (2005, p7-8), Sistem Informasi terdiri dari komponen-komponen penting, antara lain sebagai berikut :
1. Hardware (perangkat keras)
Adalah sekumpulan perangkat keras yang digunakan untuk menerima data dan informasi, memprosesnya, dan menampilkannya kembali.
2. Software (perangkat lunak)
Adalah koleksi atau sekumpulan program yang dapat memerintah hardware-hardware yang ada untuk memproses data.
3. Database (basis data)
Adalah basis data yang berisikan dari sekumpulan file atau table yang berkaitan dan berhubungan antara satu sama lain, dan di dalam file atau table tersebut berisikan data.

4. Network (jaringan komputer)
Adalah sebuah system jembatan perhubung, baik menggunakan kabel (wireline) mapupun tanpa menggunakan kabel (wireless) yang memiliki peranan penting dalam menghubungkan beberapa komputer yang berbeda untuk berbai sumber daya yang mereka miliki.
5. Procedure (prosedur)
Adalah sebuah instruksi, aturan, dan prosedur yang berisikan cara bagaimana menggabungkan komponen-komponen diatas dalam rangka memproses informasi dan menghasilkan apa yang diinginkan
6. People (orang)
Adalah sumber daya manusia yang akan mengoperasikan hardware dan software, berhubungan dengan mereka dan menggunakan hasil dari pemrosesan tersebut.

Gambar 2.1 Komponen Sistem Informasi

2.1.6 SWOT Analysis

Kekuatan (Strength), kelemhan (Weakness), Peluang (Opportunity), dan ancaman (threat) SWOT Analysis menganalisi keadaan secara menyeluruh dalam suatu perusahaan (enterprise) dengan mengidentifikasi faktor internal dan eksternal dari suatu perusahaan yang dapat mengungkapkan area yang dapat di improve (kembangkan) dan fokus.
(Bernard, 2012)

Contoh pemakaian SWOT Analysis :

Faktor Eksternal

Faktor internal

Kekuatan (Strength)
S1. Komunitas user
S2.Hubungan baik
S3.Keterlibahan leadership
S4.In-House Technology
S5.Legacy Architectur Kelemahan (Weakness)
W1.Policy
W2.IT Skill – System
W3. IT –Skill – Process
W4.Enterprise architecture
Peluang (Opportunity)
O1. Contracting
O2.Teknologi baru
O3.Partnership
SO

S5/O2 : Legacy web portal
S5/O2 : Security WO

W4/O3 : EA Sharing
Ancaman (Threat)
T1.Funding
T2.Market driver
T3.IT Adoption rate

ST

S1/T2 :FED requirement
S1/T3 : IT awareness WT

W4/T1 : Funding data
Gambar 2.2 SWOT Analysis

2.1.7 Five Forces Model Porter
Menurut Kiki (2009) Five Forces Model Porter adalah strategi bisnis yang digunakan untuk melakukan analisis dari sebuah struktur lternat. Analisis tersebut dibuat berdasarkan 5 kekuatan kompetitif yaitu:

1. Masuknya Kompetitor. Bagaimana Cara yang mudah atau sulit untuk lternativ baru untuk mulai bersaing lternat yang sudah ada
2. Ancaman Produk atau Jasa pengganti. Cara mudah masuknya produk atau jasa yang dapat menjadi lternative dari produk atau jasa yang sudah ada, khususnya yang dibuat dengan biaya lebih murah.
3. Daya tawar dari pembeli. Bagaimana kuatnya posisi pembeli. Pembeli mempunyai kekuatan utk menentukan kemana dia akan melakukan transaksi.
4. Daya tawar dari supplier. Bagaimana kuatnya posisi penjual. Apakah ada banyak supplier atau hanya beberapa supplier saja, bisa jadi mereka memonopoli supply barang.
5. Persaingan di antara pemain yang sudah ada. Bagaimana kuatnya persaingan diantara pemain yang sudah ada.Apaka ada pemain yang sangat dominan atau semuanya sama.

Terkadang ditambahkan kekuatan kompetitif yang ke-enam yaitu
6. Pemerintah

Gambar 2.3 Porter’s Five Competitive Forces

2.1.8 Risiko
Definisi risiko menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah akibat yang kurang menyenangkan (merugikan, membahayakan) dari suatu perbuatan atau tindakan. Menurut Arthur J. Keown (2000), risiko adalah prospek suatu hasil yang tidak disukai (operasional sebagai deviasi standar).
Sedangkan menurut Lubis(2011) definisi risiko adalah suatu kondisi yang timbul karena ketidakpastian dengan seluruh konsekuensi tidak menguntungkan yang mungkin terjadi.

Vaughan yang diterjemahkan oleh Herman Darmawi (1997: 18) mengemukakan beberapa definisi risiko sebagai berikut:
1. Risk is the chance of loss (risiko adalah kans kerugian)
Chance of Loss biasanya dipergunakan untuk menunjukkan suatu keadaan dimana terdapat suatu keterbukaan terhadap kerugian atau suatu kemungkinan Kerugian. sebaliknya jika disesuaikan dengan istilah yang dipakai dalam statistik, maka chance sering dipergunakan untuk menunjukkan tingkat probabilitas akan munculnya situasi tertentu.

2. Risk is the possibility of loss (risiko adalah kemungkinan kerugian)
Istilah possibility berarti bahwa probabilitas sesuatu peristiwa berada di antara nol dan satu. Definisi ini barangkali sangat mendekati dengan pengertian risiko yang dipakai sehari-hari, akan tetapi definisi ini agak longgar, tidak cocok dipakai dalam analisis secara kuantitatif
3. Risk is uncertainty (risiko adalah ketidakpastian)
Tampaknya ada kesepakatan bahwa risiko berhubungan dengan ketidakpastian. Karena itulah ada penulis yang mengatakan bahwa risiko itu sama artinya dengan ketidakpastian.
Maka dapat disimpulkan bahwa risiko adalah suatu keadaan yang tidak pasti dan berkemungkinan besar mengakibatkan hal yang negatif.

2.1.9 Solusi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, solusi (so•lu•si) adalah sebuah penyelesaian, pemecahan (masalah, dsb) atau jalan keluar.

Menurut artikel dari ikhtisar.com solusi adalah aktivitas penting dalam penyelesaian masalah yang ada, dan merupakan kegiatan yang bersifat Praktis, Taktis serta Strategis. Maka dapat disimpulkan solusi adalah sebuah cara untuk menyelesaikan pemasalahan yang ada.

2.2 Langkah-Langkah dalam Analisa Sistem

Menurut Purjanto (2009) analisis sistem adalah penelitian atas sistem yang telah ada dengan tujuan untuk merancang sistem yang baru atau diperbarui. Tahap analisis sistem ini merupakan tahap yang sangat kritis dan sangat penting, karena kesalahan di dalam tahap ini akan menyebabkan juga kesalahan di tahap selanjutnya. Tugas utama analis sistem dalam tahap ini adalah menemukan kelemahan-kelemahan dari sistem yang berjalan sehingga dapat diusulkan perbaikannya.

Di dalam tahap analisis sistem terdapat langkah-langkah dasar yang harus dilakukan oleh analis sistem :
1. Identify
Mengidentifikasi (mengenal) masalah merupakan langkah pertama yang dilakukan dalam tahap analisis sistem. Masalah (problem) dapat didefinisikan sebagai suatu pertanyaan yang diinginkan untuk dipecahkan.

2. Understand
Langkah kedua dari tahap analisis sistem adalah memahami kerja dari sistem yang ada. Langkah ini dapat dilakukan dengan mempelajari secara terinci bagaimana sistem yang ada beroperasi. Untuk mempelajari operasi dari sistem ini diperlukan data yang dapat diperoleh dengan cara melakukan penelitian.

3. Analyze
Langkah ini dilakukan berdasarkan data yang telah diperoleh dari hasil penelitian yang telah dilakukan. Menganalisis hasil penelitian sering sulit dilakukan oleh analis sistem yang masih baru. Pengalaman menunjukkkan bahwa banyak analis sistem yang masih baru mencoba untuk memecahkan masalah tanpa menganalisisnya.
4. Report
Setelah proses analisis sistem ini selesai dilakukan, tugas berikutnya dari analis sistem dan timnya adalah membuat laporan hasil analisis. Laporan ini diserahkan kepada steering committe (komite/panitia pengarah pengembangan sistem) yang nantinya akan diteruskan ke manajemen. Pihak manajemen bersama-sama dengan panitia pengarah dan pemakai sistem akan mempelajari temuan-temuan dan analisis yang telah dilakukan oleh analis sistem yang disajikan dalam laporan ini.

BAB 3
PEMBAHASAN

3.1 Studi Kasus
Pasar Korea Selatan merupakan pasar besar yang sulit untuk ditaklukkan, bahkan Walmart dan Carrefour sudah merasakan kegagalan saat mencoba masuk ke pasar. Home Plus menjadi tantangan yang berat untuk dihadapi jika ingin mendominasi pasar Korea Selatan.

Home Plus mengadakan riset mengenai perilaku penduduk Korea Selatan, dan dari hasil riset ditemukan bahwa penduduk Korea Selatan merupakan penduduk dengan tingkat produktivitas yang tinggi sehingga berbelanja merupakan salah satu aktivitas yang dibenci karena dianggap hanya menghabiskan waktu mereka.

Korea Selatan merupakan negara dengan penetrasi internet yang tinggi—82,7% dan 40 juta pengguna internet. Di tahun 2009, hanya ada 470.000 pengguna smartphone di Korea Selatan. Pada Maret 2011, jumlah pengguna smartphone sudah mencapai 10 juta dan meningkat menjadi dua kali lipat (20 juta pengguna) di bulan Oktober 2011.

Home Plus melakukan inovasi pada channel strategy mereka. Home Plus tidak menggunakan strategi konvensional dengan menambah pegawai maupun jumlah toko, namun mereka berinovasi menggunakan digital channel. Home Plus meluncurkan ide “Let the store come to people”. Ide ini diwujudkan dengan menciptakan virtual store di subway.

Virtual store ini memiliki tampilan yang sangat mirip dengan tampilan di supermarket. Konsumen dapat melihat dan membeli barang yang diinginkan dengan melakukan scanning QR code melalui smartphone. Home Plus akan segera mengantarkan barang yang dibeli ke rumah mereka dalam waktu singkat.

Selama dilakukan campaign ini, penjualan online dari Home Plus meningkat 130%, jumlah member meningkat 76%, dan 10.287 konsumen mengunjungi mobile siteHome Plus melalui smartphone. Home Plus juga menjadi nomor 1 untuk online market dan nomor 2 di offline market.

3.2 Analisa Perusahaan
3.2.1 Profil Perusahaan
Home Plus adalah perusahaan ritel yang berasal dari Korea. Home Plus adalah anak perusahaan dari Tesco, sebuah perusahaan ritel yang berasal dari Inggris. Home Plus adalah perusahaan ritel terbesar kedua setelah Grup Shingsegae.

3.2.2 Bisnis Perusahaan
Homeplus beroperasi dengan mengadaptasi konsep hypermart serta proses sistem belanja online. Dengan kata lain, Home Plus menyediakan berbagai macam kebutuhan masyarakat dengan sistem pengantaran kerumah. Jadi, konsumen cukup memilih barang dan menunggu barang tersebut diantar ke tempat tujuan.
Home Plus menyediakan berbagai kebutuhan rumah tangga, seperti pakaian, elektronik dan barang-barang pendukung lainnya. Home Plus juga menjual barang-barang seperti makanan cepat saji, tiket-tiket perjalanan wisata, obat-obatan atau bahkan buku-buku bacaan. Home Plus memang ingin membuat sebuah hypermart yang menyediakan berbagai kebutuhan dengan sistem online.
Pada tahun 2011, Home Plus membuka supermarket virtual yang pertama di dunia di Stasiun Seolleung dan jaringan kereta bawah tanah kota Seoul. Disebut virtual karena konsumen cukup memfoto QR code barang yang ingin dibeli yang tertera di dinding atau platforms ditempat yang disediakan. Konsumen cukup menunggu barang yang dibeli tadi dirumah dan akan diantar di hari yang sama.
3.3 Analisis SWOT
a. Kekuatan dan Peluang:
Bisnis perusahaan ini mampunyai keuntungan yang lebih baik dibandingkan dengan toko fisik yang perlu investasi dan pegawai yang harus di biayai dan akan membebani biaya penjualan produk secara keseluruhan. Sementara itu peluang muncul dengan sangat baik karena bertambahnya jumlah populasi penduduk dengan kategori tingkat ekonomi menengah yang sibuk dan melek teknologi. Dengan anaisa ini perusahaan akan mengembangan bisnisnya dengan membuka lebih banyak servise point/gudang untuk menjangkau lebih banyak pelanggan dan mempercepat pengiriman barang sampai pelanggan menjadi dalam hitungan jam saja.

b. Kelemahan dan Peluang:
Belum dikenalnya sistem belanja ini oleh masyarakat luas sementara jumlah pelanggan potensial begitu banyak dan belum tersentuh, maka perusahaan harus melakukan pengenalan sistem belanja yang baru dan memperkenalkanmobile shoping dan virtual shop dari Homeplus ini sebagai satu paradigma berbelanja yang baru dan lebih efisien. Untuk itu perusahaan akan menganggarkan biaya untuk melakukan promosi baik melalui media jejaring sosial, web site, sms, pamflet/banner dan media masa.

c. Kekuatan dan Ancaman:
Sebagai bisnis yang berbasis sistem informasi maka biaya penjualan (sales cost) akan lebih competitive dibandingkan dengan pasar swalayan. Akan tetapi jika pasar swalayan atau supermarket ini juga akan terjun menggunakan sistem yang sama dengan Homeplus untuk juga menjajakan produknya di dunia maya dengan sejenis virtual store mereka maka hal ini akan sangat mengancam keberlangsungan Homeplus. Oleh karena itu perusahaan akan melakukan pendekatan dengan perusahaan atau supermarket ini untuk menjalin kerjasama dengan melakukaninternetwroking.

d. Kelemahan dan Ancaman:
Ancaman akan masuknya pebisnis ritel besar ke model bisnis ini dengan kondisi sementara ini paradigma pelanggan belum berubah dari cara transaksi jual beli tradisional dan cara transaksi jual beli vitual untuk produk-produk kebutuhan pokok masih akan memberikan waktu bagi perusahaan untuk mengendalikan tingkat resiko dari kemungkinan tersebut. Akan tetapi, Homeplus harus tetap menjalankan strategi untuk mengajak bekerja sama para pemain retail yang ada sehingga saat paradigma model bisnis ini sudah diterima masyarakat Homeplus sudah siap dengan melakukan kerjasama dan mencegak ritel besar masuk ke model bisnis yang sama dengan Homeplus.
3.4 Model Lima Daya Saing Porter (Porter’s Five Competitive Force Model)
Salah satu tools untuk digunakan untuk menganalisa kondisi lingkungan perusahaan terhadap beberapa persaingan pasar yang sangat ketat. Porter lebih dalam menelaah potensi persaingan ini tidak hanya terjadi antara perusahaan dengan perusahaan kompetitor, tetapi juga terdapat persaingan lain yang perlu diperhatikan, seperti para pendatang baru, pembeli, pemasok, dan juga barang pengganti. Perusahaan harus mampu menganalisa berbagai jenis persaingan ini, menentukan dampakya bagi perusahaan, dan pada akhirnya membuat strategi untuk mengatasi kelemahan pasar dan meningkatkan potensi kekuatan pasar. Berikut adalah tabel lima daya saing Porter pada perusahaan Home Plus (anak perusahaan Tesco) di Korea Selatan.

Tabel 3.1 Lima Daya Saing Porter pada Home Plus Korea Selatan
No. Daya Saing Penjelasan Pengaruh
1. Perusahaan Kompetitor Saat Ini Home Plus bersaing dengan berbagai perusahaan ritel ternama di Korea Selatan seperti E-Mart, Lotte Mart, Costco. TINGGI
Terjadi perebutan pasar ritel Korea Selatan untuk menjadi nomor satu. Pesaing paling tangguh adalah E-Mart yang memiliki jumlah toko fisik (brick-to-mortar) terbanyak.
2. Pendatang Baru Pendatang baru berupa perusahaan ritel sejenis yang bisa menawarkan layanan yang lebih menarik, terutama terkait layanan elektronik yang menarik bagi masyarakat Korea Selatan. SEDANG
Pendatang baru cukup sulit untuk memahami pola pasar Korea Selatan dan harus memikirkan teknologi yang bisa dijangkau masyarakat Korea Selatan.
3. Kekuatan Pemasok Pemasok memiliki kekuatan untuk mengontrol pemasokan barang di Home Plus, baik dari segi harga maupun jumlah persediaan di toko. SEDANG
Pemasok sangat penting untuk menjamin kepuasan pembeli di Home Plus, tetapi posisi Home Plus sebagai salah satu tempat perbelanjaan yang digemari menjadikan banyak pemasok yang tertarik untuk bekerja sama, sehingga kekuatan kontrol pemasok tidak begitu kuat.
4. Kekuatan Pembeli Pembeli memiliki kekuatan untuk memilih produk atau layanan dari kompetitor lain dibandingkan Home Plus. TINGGI
Pembeli Korea Selatan sangat sensitif dikarenakan produktivitasnya tinggi dan jadwalnya padat, oleh karena itu Home Plus bersaing dengan kompetitornya dalam menyediakan layanan elektronik yang mampu menambah jumlah pembeli loyal, sehingga kekuatan memilih dari pembeli sangat kuat.
5.
Produk atau Layanan Pengganti Adanya produk atau layanan yang bisa menggantikan produk atau layanan yang ditawarkan Home Plus. TINGGI
Perusahaan ritel Korea Selatan kini berlomba-lomba membuat layanan elektronik yang bisa memudahkan pembeli dalam berbelanja, misalnya menggunakan smart card discount, online shopping, flying store agar pembeli lebih memilih untuk berbelanja pada perusahaan mereka.

3.5 Solusi yang diterapkan Home Plus Korea Selatan
Kondisi lingkungan pasar Korea Selatan unik serta sulit dijangkau dimana sebagian besar masyarakatnya sibuk, berproduktivitas tinggi, dan menganggap aktivitas belanja sangat menyita waktu. Selain itu, masyarakat Korea Selatan sangat mengikuti tren perkembangan teknologi informasi, hal ini terlihat pada riset yang menunjukkan bahwa pada Oktober 2011 pengguna smartphone di Korea Selatan mencapai 20 juta jiwa.

Berdasarkan fakta tersebut Home Plus mengambil dua pendekatan solusi, yaitu solusi terhadap customer service dan solusi terhadap teknologi. Kedua solusi ini diterapkan untuk mencapai sebuah misi yaitu “Menjadi ritel nomor satu di Korea Selatan tanpa menambah toko fisik”. Dan untuk mencapai misi tersebut tentunya diperlukan solusi yang inovatif untuk meningkatkan penjualan, mempertahankan pelanggan lama, dan menarik banyak pelanggan baru.

3.5.1 Solusi Customer Service
Solusi ini dikembangkan dengan sebuah konsep ide dasar unik, yaitu “Biarkan toko yang menemui pelanggannya”. Berdasarkan ide ini Home Plus berinisiatif untuk membuat toko virtual dengan implementasi pertama pada stasiun kereta api bawah tanah, tempat sebagian besar masyarakat Korea Selatan akan berlalu lalang saat beraktivitas. Artinya Home Plus ingin memberikan kemudahan bagi masyarakat Korea Selatan dalam berbelanja, dimana sambil menunggu kedatangan kereta, masyarakat bisa berbelanja kebutuhan melalui toko virtual ini dengan cepat dan mudah tanpa menggangu waktu beraktivitas mereka yang padat.

Toko virtual ini dibuat dengan menempelkan poster yang berisikan produk-produk yang dijual di toko fisik Home Store, disertakan harga dan QR code. Pembeli akan menggunakan smartphone untuk scan QR code produk yang diinginkan, pembelian terhadap semua barang kemudian akan diproses oleh staff Home Plus. Pembayaran dilakukan menggunakan credit card secara online dan pembayaran juga bisa menggunakan beberapa kupon penawaran menarik dari Home Plus.

Setelah melakukan pembayaran maka pesanan pembeli akan langsung diantar ke depan rumah mereka. Dalam hal ini, Home Plus mempunyai target bahwa pesanan harus sampai ke rumah pembeli secepatnya, misalnya pembeli melakukan pesanan pada siang hari di tengah kesibukan beraktivitas, maka Home Plus menargetkan pesanan akan sudah sampai ke rumah saat pembeli pulang beraktivitas. Melalui konsep toko virtual ini, masyarakat yang kurang menyukai aktivitas berbelanja tidak perlu lagi berbelanja di toko fisik yang sebenarnya, karena toko virtual ini sudah menyediakan produk yang sama seperti pada toko fisik, sehingga memberikan efisiensi waktu dan biaya kepada pembeli. Jadi ketika pembeli tidak memiliki waktu untuk mengunjungi toko fisik, kini Home Plus telah mengubahnya menjadi sebaliknya, toko virtual inilah yang akan menemui langsung para pembelinya.

3.5.2 Solusi Teknologi

Solusi toko virtual Home Plus pada dasarnya didukung oleh dua jenis teknologi yaitu mobile application, mengingat banyaknya pengguna smartphone di Korea Selatan dan QR Code untuk memberikan kode khusus pada setiap barang.

3.5.2.1 Mobile Application
Berdasarkan artikel teknologi pada http://www.journalofaccountancy.com/ (Drew:2013) menyebutkan bahwa mobile application adalah perangkat lunak yang didesain khusus untuk berjalan pada Sistem Operasi (OS) spesifik pada perangkat selaluler. Artinya pada dasaranya aplikasi native pada iOS tidak dapat beroperasi pada Android, dan sebaliknya.

Saat ini sudah bermunculan berbagai macam platform untuk aplikasi seluler, seperti iOS, Android, Blackberry, Windows Mobile, Symbian, dsb. Dengan dua platform terbaik yang paling bersaing ketat adalah iOS dan Android. Beberapa keuntungan dari mobile application menurut (Dixon:2013) pada artikelnya di http://info.groveis.com/ antara lain:
• Mengolah data secara real-time batanik berupa teks, foto, angka, tanda tangan, lokasi GPS, dan QR Code.
• Bekerja secara offline, ada beberapa mobile application yang bisa mensinkronisasi data secara offline, namun aplikasi mobile Home Plus masih bersifat online mengingat pada akhir transaksi akan dilakukan pembayaran.
• Terkustomisasi untuk kebutuhan hidup sehari-hari, aplikasi mobile Home Plus didesain untuk memenuhi kebutuhan berbelanja bagi masyarakat Korea Selatan.
• Branding Perusahaan, dimana sebuah aplikasi mobile akan menjadi merek legal miliki perusahaan, baik dari logo hingga fitur aplikasinya.
• Proses cepat dan mudah digunakan, aplikasi mobile Home Plus didesain dengan menu sesederhana mungkin sesuai kebutuhan proses bisnis sehingga para user novice sekalipun bisa menggunakannya dengan mudah.
• Pendaftaran mudah, pertama dengan mengunduh aplikasi di store platform perangkat seluler, kemudian memasukkan email dan data pribadi lainnya serta verifikasi pendaftaran melalui SMS atau email.

Aplikasi mobile Home Plus juga dilengkapi dengan fitur menarik seperti informasi mengenai event yang seperti promo, diskon, surprise delivery, dsb. Home Plus juga menyediakan Family Card untuk mempermudah transaksi pembeli.

Gambar 3.1 Tampilan Mobile Application Home Plus di Android

3.5.2.2 QR Code
Untuk mengidentifikasi barang apa saja yang dibeli melalui toko virtual Home Plus diperlukan sebuah QR Code pada tiap item barang, sehingga para staff Home Plus bisa mengidentifikasi jumlah dan jenis barang yang diinginkan.

Menurut(Rouse:2013) pada http://whatis.techtarget.com/, Quick Response Code (QR Code) adalah jenis barcode matriks dua dimenesi yang digunakan untuk menyediakan akses informasi yang mudah melalui smartphone. Dan QR Code ini pada dasaranya terdiri atas dua jenis static code dan dynamic code. Static code adalah kode yang tidak bisa diubah-ubah dan bisa discan oleh siapa saja, sedangkan pada Dynamic code kode bisa diubah-ubah dan bisa menargetkan akses pada individu tertentu saja.

Namun menurut (Narayanan:2012) QR Code berbeda dari barcode 2D biasanya dari segi jumlah data yang dikelolanya. Barcode hanya bisa menampung 20 digit angka, sedangkan QR Code matriks bisa menampung 7.089 karakter angka serta 4,296 karakter alphanumeric, dan 1,817 karakter kanji.

Gambar 3.2 Perbedaan Utama QR Code Matriks dan Barcode 2D (Narayanan:2012)

Berikut ini adalah alur proses bisnis menggunakan QR Code pada Home Plus:
1. Pembeli melakukan scan QR Code melalui smartphone pada produk yang ingin dibeli.
2. Staff Home Plus mengakses pembelian dan mempersiapkan barang-barang tersebut.
3. Proses packing secara aman dan higienis terhadap barang yang dibeli untuk mencegah kerusakan.
4. Barang yang sudah dipacking rapi akan dimasukkan ke dalam alat transportasi menuju alamat tujuan pembeli.
5. Pembeli langsung menerima pesanan di depan rumahnya,

Gambar 3.3 Alur Proses Bisnis QR Code Home Plus (Source: http://www.youtube.com/watch?v=nJVoYsBym88 )

3.5.3 Strategi Pendukung Home Plus
Selain kedua solusi di atas Home Plus juga membangun website untuk memperbanyak jalur transaksi dan penyampaian informasi kepada pelanggan, Selain itu, Home Plus juga secara interaktif melalui media masa ingin berkomunikasi dengan para pelanggannya terutama untuk menyampaikan informasi terbaru terkait produk, layanan, dan event terbaru.

Gambar 3.4 Website Home Plus (Source: http://www.homeplus.co.kr/)

Gambar 3.5 Media Masa Facebook Home Plus

3.6 Resiko dan Mitigasi

Terlepas dari keunggulan-keunggulannya, kegiatan digital marketing juga menghasilkan risiko yang harus dikelola oleh pelaku usaha. Berkaitan dengan platform dan perannya, risiko utama yang melekat pada digital marketing adalah cyber-security risk. Cyber-security risk adalah risiko yang disebabkan inefektivitas dari pengamanan digital, yang memungkinkan sistem digital dan informasi di dalamnya untuk dibajak oleh peretas dan tidak dapat berproses sesuai dengan keinginan pemilik sistem. Hal yang biasa terjadi adalah pencurian aset penting sebuah perusahaan seperti intellectual property, customer data maupun transaksi finansial yang berada di internet. Dan sangat penting diketahui oleh para pelaku bisnis, bahwa cyber-risk akan terus menerus berevolusi juga memiliki dampak yang besar seiring bertambah majunya tekonologi. Di era modern ini, cyber risk juga harus ditanggapi secara serius karena sifatnya intangible namun memiliki dampak yang besar terhadap perusahaan.

Selain risiko yang disebutkan di atas, digital marketing juga berpotensi menimbulkan risiko-risiko lain yaitu:
1. Risiko pemasaran
Risiko kegagalan pemasaran dapat terjadi akibat tidak efektifnya digital marketing yang dilakukan pelaku bisnis dalam menarik konsumen untuk membeli produknya. Kegagalan dapat terjadi akibat kesalahan konten pemasaran berkaitan dengan target dan segmen pasarnya, ketidakjelasan informasi, dan ketidakpercayaan konsumen.

2. Risiko fraud
Risiko penipuan muncul karena adanya kemungkinan praktik penipuan oleh penjual maupun pembeli.
Menghadapi risiko-risiko yang ditimbulkan dari kegiatan digital marketing, pelaku bisnis harus dapat bersifat proaktif dengan cara menerapkan manajemen risiko dalam usaha melindungi dan menciptakan nilai tambah bagi usahanya. Dalam menangani cyber-security risk, pelaku usaha dapat menerapkan cyber-security risk management. Menurut Lawrence A. Gordon, seorang Profesor dari University of Maryland Institute for Advanced Computer Studies, cyber-security risk dapat dikelola dengan cara melakukan pengembangan teknis, kontrol internal, pengembangan perilaku karyawan dan kultur organisasi, melakukan information sharing, dan menerapkan asuransi pada cyber-security. Kegiatan-kegiatan tersebut diharapkan dapat mengurangi bahkan menghilangkan kemungkinan terjadinya peretasan dan penyebaran informasi rahasia perusahaan. Untuk mengelola risiko pemasaran, pelaku bisnis dapat meningkatkan kualitas digital marketing dengan cara mengontrol output pemasaran digital atau mempekerjakan tenaga ahli di bidang tersebut. Perusahaan juga dapat melakukan diversifikasi metode pemasaran untuk mencapai target pemasarannya. Sedangkan untuk mengantisipasi risiko fraud, pelaku bisnis dapat menggunakan sistem transaksi yang didesain khusus untuk menghindari penipuan, misalnya sistem cash on delivery (CoD).

3.7 Hasil Penerapan Solusi dan Benefitnya

1. Core Company
Bagi Homeplus, tentunya sistem belanja QC code virtual shop ini sangat menguntungkan. Selain cara baru dalam berbelanja yang belum pernah ada sebelumnya di dunia, cara ini akan menghemat dari sisi pengeluaran tetap perusahaan. Maksudnya adalah dengan QC code virtual shop, Homeplus tidak perlu membangun toko disetiap pemukiman penduduk. Cukup dengan sistem pengantaran kerumah, kami sudah bisa melayani pelanggan. Tidak perlu lagi kami survei tempat untuk membangun toko, membayar tagihan-tagihan tetap bulanan, atau bahkan membangun toko itu sendiri.

Selain keuntungan dari segi fisik bangunan, sistem QC code virtual shop akan meningkatkan angka penjualan bagi perusahaan. Secara signifikan angka penjualan akan meningkat karena pelanggan bisa mengakses kegiatan jual beli dimana saja selama tersedia catalog dan perangkat handphone.

Bisnis e-commerce yang dikembangkan ini sesuai dengan target market yang di buat dan pengguna yang akan menjadi calon pembeli produk yang kita tawarkan. Dari analisa rantai nilai (value chain analysis) dapat di definisikan benefit yang akan diterima oleh perusahaan dengan menjalankan bisnis ini.

1. Revenue, dalam skala bisnis keuntungan dapat di ambil dari berbagai rantai yang terjadi selama bisnis ini berjalan. Tentu saja utamanya dalah pendapatan dari selisih harga jual dan harga beli yang terjadi pada semua transaksi yang ada.

2. Iklan, perusahaan ini menggunakan sistem virtual store dimana katalog produk yang di tawarkan dapat di display melalui beberapa metode.

– Brochure: perusahaan menggunakan brosur yang sudah dilengkapi dengan barcode untuk trasaksi pembelian oleh user dengan menggunakan handphone.
– Pamflet dan poster yang di pasang di lokasi strategis dimana target customer berada. Dari pemasangan pamflet dan brosur ini perusahaan bisa menarik fee untuk promosi produk kepada produsen dari produk yang kita pasarkan.

3. Cost saving, dengan menggunakan teknologi informasi semua transaksi dengan pelanggan dapat dilakukan secara vitual dengan tidak mengunakan tenaga kerja sehingga bisa menghemat cost operasional perusahaan yang pada akhirnya akan meningkatkan keunggulan perusahaan dari sisi cost dan harga jual.

4. Ketepatan delivery, dengan menggunakan ERP yang dipadukan dengan suply chain untuk kepentingan logistik dan distribusi produk yang diperjualbelikan, paling tidak perusahaan bisa mendapatkan dua benefit;

– Jaminan akan adanya sistem delivery yang handal sehingga tingkat kepastian pengiriman barang ke pelanggan lebih dapat andalkan.

– Jaminan akan kepastian untuk mendapatkan barang dari suplier atau produser yang lebih terpercaya karena sudah ada sistem yang mengatur secara online atas semua produk yang di butukan.

5. Sistem pembayaran online memungkinkan perushaan nntuk menerima pembayaran saat transaksi dilakukan. Dengan bekerjasama dengan online banking juga memudahkan pelanggan untuk melakukan pembayaran dengan relatif mudah.

2. Stakeholders

Seperti ditabulasikan pada Tabel 1, bahwa perkembangan kepemilikan mobile phonepada tahun 2015 akan mencapai 4,85 billion user. Itu artinya lebih dari setengah umat manusia di planet ini (67% dengan jumlah populasi sebersar 7,25 billion ditahun 2015) akan menggunakan handphone. Wilson Kerr, seorang pakar dalam urusan pembangunan situs dan e-commerce¬ menyatakan bahwa m-commerce akan meledak dikemudian hari sehingga ada baiknya seluruh perusahaan yang bergerak dibidang e-commerce¬ perlu menjadi perusahaan yang bergerak dibidang m-commerce (diy-marketing.blogspot.com). Hal ini akan sangat berkaitan dengan jumlah transaksi perbankan yang bekerja sama dengan persusahaan kami.

Bayangkan bila akan banyak orang, terutama wanita karir yang membawa handphone atau tab dan mereka bisa berbelanja distasiun kereta atau terminal tanpa harus menenteng keranjang atau kantong plastik. Mereka cukup memfoto QR code dari komoditi yang akan mereka beli dan menunggu dirumah. Jumlah transaksi perbankan mereka, terutama kartu kredit akan meningkat signifikan. Contoh nyata penerapan QR code dapat meningkatkan penjualan adalah pada perusahaan Verizon. Penjualan Verizon mengingkat 200% dalam jangka waktu satu minggu promosi. Bila diuangkan maka pendapatan Verizon bertambah US$ 35.000 untuk biaya promosi sekitar US$ 1000. Verizon menggunakan sarana social media seperti Facebook untuk promosi barangnya (www.instant.ly).

Benefit yang lain juga akan didapatkan oleh stakeholder tapi lebih banyak mereka menerima benefit atau manfaat dari penggunaan jasa yang merekan tawarkan ke perusahaan. Sebagai contoh Bank akan menerima lebih banyak aliran transaksi keuangan dalam proses pembayaran, perusahaan logistic dan suply chain akan menjalin bisnis dengan perusahaan dengan menjadi bagian dari sistem expedisi barang yang di perdagangkan. Perusahaan internet dan telekomunikasi akan menerima lebih banyak income dari penggunaan pelayanan mereka yang makin meningkat.

BAB 4
PENUTUP

1.1 Kesimpulan
Homeplus merupakan sebuah online shop yang terintegrasi oleh sistem informasi yang berkualitas. Homeplus dalam bisnisnya didukung oleh sistem yang memungkinkan efisiensi dan efektifitas yang tinggi.Selain itu dukungan dari Tesco juga membuat Homeplus dapat kompetitif.

Penggunaan QR Code dan berbagai teknologi lainnya sesuai dengan pangsa pasar dari Homeplus sehingga memiliki pengaruh yang positif dalam penggunaannya. Homeplus sendiri memang menargetkan kelas menengah yang sedang berkembang dimana pada kelas tersebut sudah memiliki kemampuan mumpuni dalam bertransaksi secara online. Homeplus merupakan contoh kasus yang unik dimana sistem informasi yang baik dapat menjadi sesuatu nilai tambah bagi perusahaan.Sistem informasi memiliki peranan penting dalam bisnis Homeplus.

Analisis dan strategi untuk menghadapi competitive force pada perusahaan Homeplus, yaitu:

a. Potential entrants
Bisnis dengan menggunakan QR code adalah bisnis dengan dengan menggunakan teknologi dan sistem informasi. Dikarenakan perusahaan Homeplus bergerak dibidang distribusi pangan dan sudah memiliki ukuran tersendiri dalam produknya, maka untuk potensi ancaman dari pendatang baru akan berkurang. Karena tidak banyak toko ritel atau convenience store yang rela menginvestasikan uang mereka untuk teknologi QR code ini. Untuk kedepannya juga perusahaan Homeplus akan bekerja sama dengan beberapa convenience store demi kemudahan bertransaksi.Untuk membendung ancaman perdagangan dari pendatang baru, maka kami akan membuat jaringan bisnis yang lebih besar. Contohnya adalah kami mengambil konsep virtual shop dari Korea Selatan. Masyarakat Korea Selatan cukup memfoto QR code padacatalog atau banner yang terletak di stasiun-stasiun atau terminal dan mereka akan mendapatkan semacam notifikasi di handphone mereka.

b. Suppliers
Tidak bisa dipungkiri bahwa ketergantungan perusahaan Homeplus terhadap supplier cukup besar. Untuk menjaga komoditas kami tetap dalam keadaan standar minimum perusahaan, maka perusahaan Homeplus akan banyak membutuhkan supplier. Perusahaan Homeplus pun kurang memiliki kekuatan untuk tawar menawar dengan supplier karena ketergantungan kami cukup besar.Tanpa mereka, bisnis Homeplus akan tersendat karena tidak adanya komoditi yang akan kami jual. Yang bisa kami lakukan adalah memperbanyak jumlah suppliers agar pada saat satu tidak bisa memenuhi kebutuhan Perusahaan Homeplus, maka akan ada penggantinya.

c. Subtitutes
Perusahaan Homeplus optimis bahwa teknologi virtual shop ini belum memiliki produk pengganti dengan market share yang besar. Saingan perusahaan Homeplus adalah pasar tradisional dan tukang sayur keliling. Tapi sekali lagi, dikarenakan Secara jelas terlihat bahwa Homeplus belum memiliki perusahaan pengganti atau pesaing yang sejenis. Karena umumnya perusahaan ritel masih mengandalkan toko fisik., maka tidak akan menjadi masalah.

d. Bargaining power of costumer
Konsep virtual shop tidak memungkinkan untuk konsumen tawar menawar harga dengan pembeli karena tidak ada interaksi langsung. Tapi itu tidak menjadi alasan bahwa konsumen tidak memiliki bargaining power yang kuat.Bargaining power konsumen pada kasus Homeplus terletak saat konsumen ingin membeli produk dengan harga yang tidak kompetitif, maka konsumen akan beralih ke cara konvensional.Tapi dikarenakan kami tidak perlu membayar biaya-biaya selayaknya toko konvensional, seperti listrik, air telepon dan sewa gedung, maka harga yang Homeplus jual pun tidak akan lebih mahal dari toko konvensional.

e. Intensity of competitive rivalry
Perusahaan Homeplus menyatakan bahwa untuk indikator yang satu ini, Homeplus memiliki satu keuntungan besar, yaitu belum adanya kompetisi berimbang di pasar.. Akan tetapi untuk menutup potensi persaingan, maka strategi kami adalah dengan bekerja sama dengan convenience store lain seperti yang sudah dijelaskan di atas.
4.2 Saran
Pengembangan dimasa mendatang yang disarankan penulis akan diterapkan oleh perusahaan Homeplus, antara lain:
1. Bekerja sama dengan convenience store lain untuk tetap menjaga stabilitas penjualan.
2. Membangun banyak gudang penyimpanan agar cakupan bisnis perusahaan kami menjadi seluruh Indonesia atau bahkan mendunia.
3. Mengembangkan sebaran jumlah catalog Homeplus menjadi di gedung-gedung perkantoran.

DAFTAR PUSTAKA

Admin. Hal-hal Penting dalam Sebuah Solusi bagi Manajemen Strategi Perusahaan Anda. 2013. Diakses pada http://ikhtisar.com/beberapa-hal-penting-dalam-sebuah-solusi/#sthash.Xf0fb3JF.dpuf
Bernard, S. A. (2012). An Introduction to enterprise architecture. Bloomington: AuthorHouse.
Burch, J.G., System, Analysis, Design, and Implementation, Boyd & Fraser Publishing Company, 1992.
Bria, T.A, 2012.-.Diakses pada e-journal.uajy.ac.id/402/3/2MTS01427.pdf
Dixon, M. (2013, August 29). 7 Benefits of Using a Mobile Business App. Retrieved May 10 2014, from http://info.groveis.com/: http://info.groveis.com/blog/bid/186170/7- Benefits-of-using-a-Mobile-Business-App
Drew, J. (2013, February). How to Develop and Publish Mobile App. Retrieved May 10, 2014, from http://www.journalofaccountancy.com/: http://www.journalofaccountancy.com/issues/2013/feb/20126350
Jogiyanto, Analisis dan Disain System Informasi, ANDI OFFSET Yogyakarta, 1990
Kamus Besar Bahasa Indonesia. Diakses pada http://kbbi.web.id/solusi
Lubis. 2011. – . Diakses pada http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/26888/3/Chapter%20II.pdf
Narayanan, A. S. (2012). QR Codes and Security Solutions. International Journal of Computer Science and Telecommunications , 69-71.
Pujanto. 2009. Analisa Sistem. Diakses pada pujianto.blog.ugm.ac.id/files/2009/12/Apsi2.pdf
Rouse, M. (2013, January). Quick Response Code (QR Code). Retrieved May 10, 2014, from http://whatis.techtarget.com/: http://whatis.techtarget.com/definition/QR-code-quick- response-code
Satzinger, J. W., Jackson, R. B., & Burd, S. D. (2004). Object-Oriented Analysis and Design with the Unified Process. Boston: Course Technology.

LAMPIRAN
RIWAYAT HIDUP
Nama : Arni Virani
Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 26 Juli 1993
Alamat : Interkota blok A5 no. 11, Cengkareng, Jakarta Barat
No. Telepon : 08197670261
Email : ni.arnie@live.com
Jenis Kelamin : Wanita
Riwayat Pendidikan :
2011-sekarang Sistem Informasi
School of Information System, BINUS University
2008-2011 SMA Tarsisius 1
2005-2008 SMP Vianney
1999-2005 SD Vianney
1996-1999 TK Damai

Pengalaman Kerja :
2011 Sales Promotion Antivirus, Softlenses, MasterCard.
2012 PIC Mid-Year Gathering Novartis
2013 Volunteer untuk SUA Jakarta


RIWAYAT HIDUP
Nama : David Santoso
Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 13 Juni 1993
Alamat : Jl. Taman Meruya Ilir Blok I2 No.24, Jakarta Barat 11620
No. Telepon : 08988246820
Email : Santosodavid93@gmail.com
Jenis Kelamin : Laki – laki
Riwayat Pendidikan :
2011-sekarang Sistem Informasi
Peminatan : ERP
School of Information System, BINUS University
2008-2011 SMA SMA Pelita 2
2005-2008 SMP SMA Pelita 2
1999-2005 SD SMA Pelita 2
1996-1999 TK SMA Pelita 2

Pengalaman Kerja :
2011 – Sales Promotion PT. Unilever Indonesia
– Credit Card Sales Marketting of PT.UOB Buana Indonesia
2012 Liaison Officer of Asean English Olympic by BNEC


RIWAYAT HIDUP
Nama : Hendy Salim
Tempat, Tanggal Lahir : Bandar Lampung, 4 maret 1992
Alamat : Jl. Haji taisir no 5, Jakarta Barat
No. Telepon : 087899844883
Email : hendisalim21@yahoo.com
Jenis Kelamin : Laki – laki
Riwayat Pendidikan :
2011-sekarang Sistem Informasi
Peminatan : ERP
School of Information System, BINUS University
2008-2011 SMA Immanuel Bandar Lampung
2005-2008 SMP Immanuel Bandar Lampung
1999-2005 SD Immanuel Bandar Lampung
1996-1999 TK Immanuel Bandar Lampung

Pengalaman Kerja : –

RIWAYAT HIDUP
Nama : Rendy Rinaldo
Tempat, TanggalLahir : Tanjungpinang, 12 Juni 1993
Alamat : Gg. Keluarga No. 39 B, Kemanggisan, Jakarta Barat 11480
No. Telepon : 083873373828
Email : rendyrinaldo77@gmail.com
JenisKelamin : Laki – laki
RiwayatPendidikan :
2011-sekarang Sistem Informasi
Peminatan : ERP
School of Information System, BINUS University
2008-2011 SMAN 1 Tanjungpinang
2005-2008 SMPN 1 Tanjungpinang
1999-2005 SD Katolik
1996-1999 TK Djuwita

PengalamanKerja :
2013 Translator / Interpreter untuk Tech In Asia
2013 Volunteer untuk Startup Asia Jakarta
2012 – 2013 Tutor untuk kelas TOEFL dan PSP (Public Speaking and Performance)
2012 & 2013 Panitia di Binus Online Job Expo 2012 dan 2013

RIWAYAT HIDUP
Nama : Jennifer Pauling
Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 11 November 1993
Alamat : Jl. 21 No.12 B RT01 RW08 Teluk Gong, Jakarta Utara 14450
No. Telepon : 083893953885
Email : jenniferpauling11@gmail.com
Jenis Kelamin : Perempuan
Riwayat Pendidikan :
2011-sekarang Sistem Informasi
Peminatan : ERP
School of Information System, BINUS University
2008-2011 SMA Negeri 1 Tanjungpinang
2005-2008 SMP Negeri 5 Tanjungpinang
1999-2005 SD Swasta Katolik Tanajungpinang
1996-1999 TK Djuwita Tanjungpinang

Pengalaman Kerja :
2011-now – Math, Physics, and Chemistry Teacher at Proverbs Course
2012-now – Duta Binusian as Mentor in BINUS Student Learning Community (BSLC)
– English TOEFL Intermediate One Tutor in Bina Nusantara English Club (BNEC)

RIWAYAT HIDUP
Nama : Toni Sugino
Tempat, Tanggal Lahir : Pontianak, 20 Juni 1993
Alamat : Jl. Batusari Raya No.80, Palmerah, Jakarta Barat
No. Telepon : 089602466815
Email : toni_sho@ymail.com
Jenis Kelamin : Laki – laki
Riwayat Pendidikan :
2011-sekarang Sistem Informasi
Peminatan : ERP
School of Information System, BINUS University
2008-2011 SMA Gembala Baik
2005-2008 SMP Gembala Baik
1999-2005 SD Gembala Baik
1996-1999 TK Gembala Baik

Pengalaman Kerja :
2013 Translator / Interpreter for Tech In Asia
2013 Liaison Officer / Volunteer for Startup Asia Jakarta

Posted in Topik Topik Lanjutan SI | Comments Off on Bussiness Case : Kunci sukses digital Marketing

Evaluasi Implementasi e-KTP di Indonesia

Universitas Bina Nusantara

______________________________________________________________________

Jurusan Sistem Informasi
School of Information Systems
Tugas Paper
M0214 – Topik-Topik Lanjutan Sistem Informasi
Semester Genap tahun 2013/2014
Halaman Abstrak
Evaluasi Implementasi e-KTP di Indonesia

Kelas : 06PKM
Nama : Hendy Salim
NIM : 1501178522

ABSTRAK
Penggunaan teknologi Informasi untuk membantu lembaga pemerintahan untuk memudahkan menjalankan proses administrasi dalam pemerintahan / e-government. Penerapan e-KTP yang merupakan salah satu kegiatan e-Government, diharapkan dapat bermanfaat untuk mencegah KTP ganda, mendukung kependudukan yang akurat, meningkatkan keamanan Negara, mempermudah masyarakat untuk mendapatkan pelayanan. Proses dari perencanaan dan pengimplementasian KTP diharapkan dapat mewujudkan tujuan awal di buatnya e-KTP di Indonesia. Oleh karena itu sebuah evaluasi pengimplementasian e-KTP di Indonesia di gunakan untuk mengetahui kendala / kegagalan yang telah dialami agar menjadi pembelajaran dan mendapatkan solusi dari beberapa kegagalan tersebut.

Kata kunci: e-government , e-KTP, evaluasi


BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Administrasi kependudukan sebagai salah satu system bagi penduduk yang diharapkan dapat memberikan pemenuhan atas hak-hak administrasi penduduk dalam pelayanan publik serta memberikan perlindungan yang berkenan dengan penerbitan dikumen kependudukan tanpa adanya perlakuan yang diskriminatif melalui peran aktif pemerintah dan pemerintah daerah.

Penerapan e-KTP yang sedang dilaksanakan merupakan bagian dari upaya untuk mempercepat dan mendukung akurasi terbangunnya database kependudukan yang terintegrasi di seluruh kabupaten/kota, povinsi maupun database kependudukan secara nasional.

Penerapan e-KTP secara nasional merupakan hal yang penting dalam penataan sistem administrasi kependudukan sesuai dengan amanat undang – undang nomor 23 tahun 2006 tentang administrasi kependudukan. Adapun beberapa manfaat e-KTP yang diharapkan seperti mencegah dan menutupnya peluang adanya KTP ganda dan KTP palsu, untuk mendukung terwujudnya database kependudukan yang akurat, dapat mendukung peningkatan keamanan Negara sebagai dampak positif dari peluang KTP ganda dan KTP palsu, mempermudah masyarakat untuk mendapatkan pelayanan untuk pengurusan berbagai izin dari lembaga pemerintahan, dan NIK di e-KTP untuk menjadi dasar penerbitan SIM, NPWP, paspor.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk mensukseskan program e-KTP termasuk percepatan pada tahun 2014, pemerintah telah melakukan koordinasi antar instansi dan antar daerah, membentuk system, pedoman, dan standar serta melakukan pembinaan, pembimbingan, supervise, pemantauan, evaluasi dan konsultasi kepada pemerintah daerah kabupaten / kota.

Evaluasi yang dilakukan juga dapat menjadi tolak ukur untuk program e-KTP yang telah di laksanakan di Indonesia. Evaluasi yang di lakukan mulai dari perencanaan program, penerapan, permasalahan dan kegagalan yang terjadi dalam penerapaan
e-KTP yang dilakukan di Indonesia. Hasil evaluasi ini juga dapat menjadi referensi untuk mendapatkan sebuah solusi dari permasalahan yang sedang dialami dalam pemgimplementasian e-KTP di Indonesia.

Setiap kendala yang dijumpai dalam pengimplementasian yang sudah dilakukan seperti kurangnya peralatan yang diberikan di beberapa daerah – daerah. Serta ketersediaan daya listrik diseluruh kecamatan / tempat pelayanan e-KTP sekabupaten karena belum tersedianya anggaran untuk pembelian genset yang mencukupi, biaya bahan bakar relative mahal dan susahnya dijangkau, serta memerlukan waktu lama dalam proses pengadaan pembelian genset. Kendala yang di hadapi dapat menjadi pembelajaran agar program e-KTP ini dapat berjalan lebih baik ke depannya.


1.2 Ruang Lingkup
Berikut adalah batasan cakupan dari karya tulis ini, antara lain:

1. Perencanaan e-KTP di Indonesia
2. Penerapan e-KTP di Indonesia
3. Kegiatan dalam proses penerapan e-KTP di Indonesia
4. Kegagalan e-KTP di Indonesia

1.3 Tujuan dan Manfaat
Tujuan dasar yang ingin dicapai dalam penyusunan karya tulis ini adalah:

1. Memahami pentingnya e-KTP di Indonesia
2. Mengevaluasi pengadaan e-KTP di Indonesia

Sedangkan beberapa manfaat yang diperoleh sebagai hasil evaluasi dalam karya tulis ini, antara lain:

1. Mengetahui perancangan, penerapan, permasalahan dan informasi pengadaan e-KTP di Indonesia
2. Dapat mencari solusi atas permasalahan pengadaan e-KTP di Indonesia

1.4 Metodologi Penulisan
Dalam penulisan karya tulis ini dipergunakan berbagai informasi pendukung berdasarkan metode studi kepustakaan yang diperoleh melalui berbagai sumber, seperti buku penunjang mengenai e-government, jurnal-jurnal online yang mengupas topik tentang e-KTP, skripsi, dan beberapa website yang menyediakan informasi mengenai informasi mengenai e-KTP. Berdasarkan informasi dari berbagai sumber ini akan dibuat seebuah pembahasan tentang evaluasi implementasi e-KTP di Indonesia dan kemudian akan dibuat kesimpulan dan saran untuk pengembangan selanjutnya.

1.5 Sistematika Penulisan
Karya tulis ilmiah ini terdiri atas beberapa bab pembahasan, yaitu :

• BAB 1 : PENDAHULUAN
Pada bab ini akan dijelas mengenai pemahaman awal tentang e-government dan e-KTP, yang terdiri atas latar belakang, ruang lingkup, tujuan dan manfaat penulisan, serta metodologi penulisan laporan.

• BAB 2 : LANDASAN TEORI
Pada bab ini berisikan teori-teori dijadikan sebagai dasar pengetahuan untuk memahami e-government dan e-KTP untuk mendukung pembahasan lebih lanjut.

• BAB 3 : PEMBAHASAN
Pada bab ini akan dijelaskan pembahasan inti evaluasi implementasi e-KTP di Indonesia yang meliputi perencanaan, penerapan, permasalahan dan kegagalan yang terjadi dalam pengimplementasian e-KTP di Indonesia.

• BAB 4 : PENUTUP
Bab ini akan memaparkan kesimpulan dari keselurhan pembahasan mengenai evaluasi e-KTP di Indonesia, serta memaparkan beberapa saran untuk pengembangan selanjutnya.


BAB 2
LANDASAN TEORI

2.1 Teori umum

2.1.1 Pengertian Sistem
Menurut Satzinger et al. (2010, p6), sistem adalah sekumpulan dari komponen yang terpisah yang bekerja sama untuk mencapai suatu hasil.
Berdasarkan pendapat O’ Brien dan Marakas (2008, p24), sistem adalah sekelompok komponen yang saling berkaitan dan bekerja sama ke arah tujuan bersama dengan menerima inputan – inputan dan menghasilkan output dalam proses pengelolaan transformasi / perubahan.
Dari definisi – definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa sistem adalah kumpulan dari beberapa komponen yang terpisah tetapi saling berhubungan dan terintegrasi untuk mencapai tujuan tertentu yang sama.

2.1.2 Pengertian Data
Menurut Dalkir (2011, p9), data adalah fakta objektif tentang suatu peristiwa yang secara langsung diamati dan diverifikasi. Menurut Davenport dan Prusak yang dikutip oleh Dalkir (2011, p60), data merupakan sekumpulan fakta dari sebuah kejadian yang berlainan.
Berdasarkan pengertian di atas, maka simpulan dari pengertian data adalah suatu fakta yang menggambarkan karakteristik dari entitas seperti orang-orang, tempat, benda atau kejadian yang direkam, diklasifikasikan dan disimpan tetapi tidak diorganisasikan untuk menyampaikan makna tertentu.

2.1.3 Pengertian Informasi
Menurut Satzinger et al. (2010, p7), informasi adlaha data yang telah dikumpulkan, disimpan, dan diproses untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain.
Pendapat O’Brien dan Marakas (2008, p24), mengatakan bahwa informasi adalah data yang ditempatkan dalam konteks yang berarti dan berguna untuk pengguna terakhir.
Dari definisi – definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa informasi merupakan data mentah atau fakta – fakta yang telah diolah sehingga memiliki suatu arti dan nilai bagi penerimanya.Adapun nilai – nilai yang terkandung dalam informasi tersebut dapat dilihat dari beberapa dimensi yaitu informasi tersebut relevan, akurat, tepat waktu, dan lengkap.

2.1.4 Pengertian Sistem Informasi
Menurut Satzinger et al. (2010, p6), sistem informasi adalah suatu kumpulan komponen yang saling terkait yang mengumpulkan, memproses, menyimpan, dan menyediakan sebagai output informasi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas – tugas bisnis.
Menurut O’Brien dan Marakas (2006, p5), sistem informasi adalah kombinasi teratur apapun dari orang – orang, hardware, software, jaringan komunikasi, dan sumber daya yang mengumpulkan, mengubah, dan menyebarkan informasi dalam sebuah organisasi.
Dari definisi – definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa sistem informasi adalah sekumpulan komponen yang saling terkait, yang mengumpulkan, memproses, menyimpan, dan menyediakan informasi dalam sebuah organisasi untuk membantu dalam penyelesaian tugas bisnis dan pengambilan keputusan.

2.2 Pengertian E-Government

The World Bank Group (2006), mendefinisikan “Electronic government refers to the use by government agencies of informationtechnologies (such as wide area networks, the internet, and mobile computing) that havethe ability to transform relations with citizens, businesses, and other arms of government. These technologies can serve a variety of different ends : better delivery of governmentservices to citizens, improve interactions with business and industry, citizenempowerment through access to information, or more efficient government management. The resulting benefits can be less corruption, increased transparency, greaterconvenience, revenue growth, and / or cost reductions. “e- Government sebagai penggunaan teknologi informasi oleh badan-badan pemerintahan, seperti: Wide Area Networks, Internet, dan Mobile Computing. Dijelaskan pula Legislative Analyst’s Office (2006), bahwa e-Government merupakan proses trasaksi bisnis antara masyarakat dan pemerintah melalui penggunaan sistem yang terotomatisasi dan jaringan internet, biasanya disebut World Wide Web. Pemerintah federal Amerika Serikat (dalam Legislative Analyst Office. 2001) mendefinisikan e-Government secara ringkas, padat dan jelas, e- Government mengacu kepada penyampaian informasi dan pelayanan online pemerintahan melalui internet atau media digital lainnya.

E-Government adalah dapat di definisikan sebagai penggunaan teknologi informasi oleh pemerintah untuk memberikan informasi dan pelayanan bagi warganya, urusan bisnis, serta hal-hal lain yang berkenaan dengan pemerintahan. E-Government tidak saja dianggap sebagai pemerintahan online yang berbasis Internet (internet based government). Namun, terdapat juga teknologi pemerintahan electronic non-Internet yang dapat digunakan dalam hal ini.
Karena itu, dalam melihat E-Government, jangan terpaku oleh unsur ‘e’ – nya semata, tetapi yang terpenting adalah proses dan jalannya pemerintahan melalui
fasilitas internet atau media online. Terdapat dua hal utama dalam pengertian E- Government:

1. Penggunaan teknologi komunikasi informasi (salah satunya adalah internet) sebagai alat bantu.
2. Tujuan pemanfaatannya agar kinerja pemerintahan dapat lebih efisien.

Dua negara besar terdepan dalam mengimplementasikan konsep e-Government, yaitu Amerika dan Inggris melalui Al Gore dan Tony Blair (dalam indrajit. 2004), secara terperinci menggambarkan manfaat yang diperoleh dengan diterapkannya konsep e-Government bagi suatu negara adalah:
1. Memperbaiki kualitas pelayanan pemerintah kepada para stakeholder- nya (masyarakat, kalangan bisnis dan industri) terutama dalam hal kinerja efektifitas dan efisiensi diberbagai bidang kehidupan bernegara

2. Meningkatkan transparansi kontrol dan akuntabilitas penyelenggaraan pemerintahan dalam rangka penerapan konsep Good Corporate Governance

3. Mengurangi secara signifikan total biaya administrasi, relasi dan interaksi yang dikeluarkan pemerintah maupun stakeholder-nya untuk keperluan aktifitas sehari-hari

4. Memberikan peluang bagi pemerintah untuk mendapatkan sumber- sumber pendapatan baru melalui interaksinya dengan pihak-pihak yang berkepentingan

5. Menciptakan suatu lingkungan masyarakat baru yang dapat secara tepat dan cepat menjawab berbagai permasalahan yang dihadapi sejalan dengan berbagai perubahan global dan trend yang ada

6. Memberdayakan masyarakat dan pihak-pihak lain sebagai mitra pemerintah dalam proses pengambilan berbagai kebijakan publik secara merata dan demokratis.

2.3 Pengembangan e-Government di Lembaga Pemerintahan
Dalam penerapan e-Government di setiap lembaga pemerintah harus mengacu kepada Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan e-Government (INPRES No.3 Tahun 2003) Model penerapan e-Government di setiap lembaga pemerintah disusun dalam bentuk Rencana Induk Pengembangan e-Government Lembaga dan memuat tahapan pengembangan dan penerapan e-Government dalam bentuk, yaitu :

• Kerangka pemikiran dasar lembaga (e-Government Conceptual Framework).
• Cetak Biru Pengembangan (e-Government Blue Print).
• Solusi Pentahapan Pengembangan (e-Government Roadmap).
• Rencana Implementasi (e-Government Implementation Plan).

Dasar pelaksanaan e-Government di Indonesia, yaitu :
• Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 6 tahun 2001 tentang
Pengembangan dan Pendayagunaan Telematika di Indonesia.
• Keputusan Presiden RI Nomor 228/M tahun 2001 tentang Pembentukan Kabinet Gotong Royong.
• Keputusan Presiden RI nomor 101 tahun 2001 tentang kedudukan, tugas, fungsi, kewenangan, susunan organisasi dan tata kerja menteri Negara
• Kerangka kerja Teknologi Informasi Nasional (National IT Framework/NITF).
• Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2003 tentang TimKoordinasi Telematika Indonesia.
• Instruksi Presiden Republik Indonesia No.3 Tahun 2003, tentang Strategi dan Kebijakan Nasional Pengembangan e-Government.
Konsep pengembangan e-Government di setiap lembaga pemerintah sangat ditentukan oleh tugas pokok dan fungsi dari setiap lembaga, jenis informasi sumber daya, dan jenis layanan yang diberikan oleh masing-masing lembaga. Hal inilah yang menentukan struktur data dan proses bisnis yang menjadi dasar penyusunan rencana induk e-Government di setiap lembaga pemerintah. (Jurnal Panduan Penyusunan Rencana Penduduk Pengembangan E-Government Lembaga).

Pengembangan e-Government di lembaga pemerintahan juga dilandasi oleh 4 infrastruktur utama yang meliputi :
• Infrastruktur e-Government yang memuat kepemimpinan manajemen lembaga, sumber daya manusia, dan peraturan di tingkat lembaga yang terkait dalam pemgembangan e-Government.
• Infrastruktu jaringan yang memuat protocol komunikasi topologi, teknologi, dan keamanan yang lebih lanjut.
• Infrastruktur informasi yang memuat Antara lain struktur data, format data, metode berbagai data dan system pengamanan.
• Infrastruktur aplikasi yang memuat aplikasi layanan public, user interface dan aplikasi back office dan dapat di lihat pada panduan standar mutu.

Dalam penerapan e-Government mengacu kepada tahapan pengembangan e-Government secara nasional dan disesuaikan dengan kondisi yang ada pada setiap lembaga yang memiliki cakupan, yaitu :
• Prioritas layanan elektronik yang dimiliki
• Kondisi infrastruktur informasi yang dimiliki
• Kondisi kegiatan layanan
• Kondisi anggaran dan sumber daya (SDM)
Jangak waktu penerapan e-Government di lembaga pemerintah bervariasi sesuai dengan kondisi yang terjadi namun tetap dalam kerangka rencana penerapan
e-Government secara nasional. Tahapan dalam penerapana e-Government di setiap lembaga pemerintahan meliputi :
• Tingkat Persiapan, Antara lain :
o Pembuatan sebuah website untuk pemerintahan
o Pendidikan dan pelatihan SDM untuk penerapan e-Government
o Penyediaan saran akses public
o Sosialiasi keberadaan layanan informasi elektronik
o Pengembangan motivasi kepemimpinan dan kesadaran akan pentingnya manfaat e-Government dalam pemerintahan
o Persiapan peraturan pendukung
• Tingkat pematangan, Antara lain :
o Pembuatan sebuah website yang informative sebagai layanan public yang interaktif.
o Membuat hubungan melalui website dengan lembaga lainnya.

• Tingkat pemanfaatan, Antara lain :
o Pembuatan berbagai aplikasi untuk pelayanan G2G, G2B, dan G2C yang saling terintegrasi.
o Pengembagan proses layanan e-Government yang efektif dan efisien.
o Penyempurnaan menuju kualitas layanan yang lebih baik.
2.4 Definisi Kartu tanda penduduk (KTP)

Kartu tanda penduduk (KTP) merupakan (Kementerian dalam negeri, 2010) :
• Kartu bukti tanda kependudukan bagi setiap penduduk dalam wilayah republik Indonesia.
• Penduduk yang telah berumur 17 atau telah menikah wajib memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP)
• Masa berlaku KTP bagi yang berusai 17 sampai 60 tahun adalah 5 tahun, sedangkan bagi penduduk yang berusia 60 tahun keatas masa berlaku KTP seumur hidup.
• Permohonan pembuatan KTP baru dapat diajukan jika terjadi perubahan data, rusak, hilang, dan masa berlakunya habis.

2.5 Dasar Hukum pengadaan Kartu Tanda Penduduk (KTP)

Dasar Hukum pengadaan KTP bagi penduduk Indonesia tercantum pada undang – undang no 23 tahun 2006 tentang administrasi kependudukan pada no 14 yang berbunyi:
“Kartu tanda penduduk selanjutnya disingkat KTP, adalah identitas resmi penduduk sebagai bukti diri yang diterbitkan instansi pelaksanaan yang berlaku di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)”. (Kementerian dalam negeri, 2010)

2.6 Nomor Induk Kependudukan (NIK)

Nomor induk Kependudukan (NIK) merupakan nomor identitas penduduk yang bersifat unik atau khusus, tunggal dan melekat pada seseorang yang terdaftar sebagai penduduk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). (Kementerian dalam negeri, 2010)
Ada beberapa tata cara yang dilakukan untuk penamaan dalam konfigurasi Nomor Induk Kependudukan (NIK), yaitu :
• 6 digit pertama merupakan kode wilayah, yaitu : 2 digit kode provinsi, 2 digit kode kabupaten dan 2 digit kode kecamatan.
• 6 Digit kedua merupakan tanggal lahir pemegang NIK.
2 Digit tanggal lahir (Bagi perempuan ditambah 40), 2 digit diberikan oleh system.

2.7 Definisi E- KTP (Kartu tanda penduduk elektronik)

E – KTP merupakan kartu tanda penduduk yang berbasis elektronik dalam pengadaannya dan di desain dengan metode autentikasi dan pemgamanan data yang tinggi.
Dalam Pasal 64 ayat (3) UU No. 23 tahun 2006, disebutkan bahwa dalam KTP harus disediakan ruang untuk memuat kode keamanan dan rekaman elektronik data kependudukan. Hal ini dijabarkan dalam Perpres No. 26 Tahun 2009 bahwa dalam E – KTP harus tersimpan biodata diri, pas photo, dan sidik jari penduduk (e – Jurnal Parlemen).

2.8 Fungsi atau Kegunaan E-KTP
Ada beberapa fungsi / kegunaan dalam E – KTP, yaitu :

1. Sebagai identitas jati diri penduduk Indonesia

2.Berlaku Nasional, sehingga tidak perlu lagi membuat KTP lokal untuk pengurusan izin, pembukaan rekening Bank, dan kepentingan lainnya.

3. Mencegah KTP ganda dan pemalsuan KTP, sehingga dapat terciptanya keakuratan data penduduk untuk mendukung program pembangunan.
Penerapan KTP berbasis NIK (Nomor Induk Kependudukan) telah sesuai dengan pasal 6 Perpres No.26 Tahun 2009 tentang Penerapan KTP berbasis Nomor Induk Kependudukan Secara Nasional Jo Perpres No. 35 Tahun 2010 tentang perubahan atas Perpres No. 26 Tahun 2009 yang berbunyi :

1. KTP berbasis NIK memuat kode keamanan dan rekaman elektronik sebagai alat verifikasi dan validasi data jati diri penduduk;
2. Rekaman elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berisi biodata, tanda tangan, pas foto, dan sidik jari tangan penduduk yang bersangkutan;
3.Rekaman seluruh sidik jari tangan penduduk disimpan dalam database kependudukan;

4. Pengambilan seluruh sidik jari tangan penduduk sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan pada saat pengajuan permohonan KTP berbasis NIK, dengan ketentuan : Untuk WNI, dilakukan di Kecamatan; dan Untuk orang asing yang memiliki izin tinggal tetap dilakukan di Instansi Pelaksana *).

5. Rekaman sidik jari tangan penduduk yang dimuat dalam KTP berbasis NIK sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berisi sidik jari telunjuk tangan kiri dan jari telunjuk tangan kanan penduduk yang bersangkutan;

6. Rekaman seluruh sidik jari tangan penduduk sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat diakses oleh pihak-pihak yang berkepentingan sesuai dengan peraturan perundang-undangan;

7. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perekaman sidik jari diatur oleh Peraturan Menteri. (Anggoro, 2013)
2.9 Latar Belakang Pembuatan E – KTP di Indonesia

Proyek E – KTP di Indonesia di latarbelangi oleh adanya system pembuatan KTP konvensional yang ada di Indonesia yang memungkinkan seseorang memiliki lebih dari 1 KTP. Karena belum adanya basis data yang terintegrasi untuk menghimpun data penduduk di seluruh Indonesia. Dengan adanya system KTP konvesional menimbulkan peluang masyarakat untuk berbuat curang dengan menduplikasikna KTP-nya. Kecurangan yang dapat dilakukan yaitu :
• Menghindari pajak Negara
• Memudahkan pembuatan paspor yang tidak dapat dibuat di seluruh kota.
• Mengamankan kasus korupsi
• Menyembunyikan identitas asli (contohnya : teroris)
Celah system di Indonesia yang dapat memberikan kesempatan bagi warganya untuk berbuat curang merupakan factor utama latar belakang pembuatan proyek E –KTP di Indonesia. (Anggoro, 2013)

2.10 Tata Cara Pembuatan E – KTP di Indonesia

Ada beberapa syarat yang harus dipeunhi untuk membuat E –KTP, yaitu :

1. Berusia 17 tahun / telah menikah.
2. Menunjukkan surat pengantar dari kepala desa (RT / RW)
3. Mengisi formulir F.1.
4. Photo copy Kartu Keluarga (KK)
5. Menunjukkan / photo copy KTP
Proses Pembuatan E – KTP, yaitu :
1. Penduduk yang ingin membuat E –KTP datang ke tempat pelayanan pembuatan E –KTP dengan membawa surat panggilan dan persyaratan yang telah dicantumkan.
2. Pemohon menggambil nomor antrian.
3. Pemohon menunggu pemanggilan nomor antrian.
4. Pemohon menuju loket yang telah ditentukan.
5. Petugas melakukan verifikasi data penduduk dalam database.
6. Petugas mengambil foto pemohon secara langsung
7. Pemohon memberikan tanda tangan pada alat perekam tanda tangan.
8. Petugas merekam sidik jari dan retina mata.
9. Petugas memberikan tanda tangan dan stempel pada surat panggilan yang menjadi bukti bahwa penduduk telah melakukan perekaman foto, tanda tangan dan sidik jari.
10. Pemohon dipersilahkan pulang untuk menunggu hasil E-KTP –nya.

Bab III
PEMBAHASAN

3.1 Perencanaan dan Pelaksanaan E – KTP di Indonesia

Idealnya pemerintah seharusnya sudah memiliki grand-design kependudukan. Dalam ketentuan UU 23/2006, seharusnya sudah memiliki grand-design SIAK yang terpadu dan terintegrasi. Setiap daerah secara inisiatif melakukan pemutakhiran data kependudukan dibawah koordinasi kementrian dalam negeri. Namun, faktanya beberapa daerah membangun system administrasi kependudukan yang tidak terintegrasi dengan system yang dimiliki oleh kementrian dalam negeri.
Masalah lainnya yang terjadi dalam proses perencanaan E- KTP adalah proyek
E-KTP tidak dijadikan pembelajaran pada pelaksanaan uji petik di 6 wilayah di Indonesia. Padahal Dalam proses implementasi uji petik banyak mengalami kendala dan hambatan secara teknis maupun non teknis. Diantaranya, teknologi, data dan informasi, proses, dan organisasi Pelaksana.
Tterdapat 2 hal utama yang harus di rencanakan dalam pelaksanaan tender E-KTP ini. Pertama, tersedianya barang dan jasa, perangkat keras, perangkat lunak dan blanko Kartu Tanda Penduduk berbasis NIK secara nasional yang terangkai sebagai sebuah system yang terpadu.
Dan Kedua, untuk melakukan pelayanan perekaman data kependudukan dan identifikasi ketunggalan identitas seseorang sehingga terbangunnya database Kependudukan Nasional yang akurat dan terbitnya Database Kependudukan Nasional yang akurat dan terbitnya KTP yang tunggal dan otentik.

Dalam pelaksanaannya, pemerintah tidak menjalankan rekomendasi KPK dan LKPP, sehingga dalam pelaksanaanya diduga ada pelangaran terhadap ketentuan pengadaan barang dan jasa. Seperti, post bidding, penandatangan kontrak dimasa sanggah banding dan persaingan usaha tidak sehat.
• Post-biding
Panitia dianggap melakukan perubahan terhadap spesifikasi signature PAD, berupa penambahan persyaratan fungsi fitur “urutan titik (x,y, and time coordinat)” untuk forensic tandatangan, bahwa berdasarkan penjelasan panitia, spesifikasi signature PAD berupa data conversion rate yang dimaksud dalam dokumen pengadaan adalah terkait dengan output format yang dihasilkan berupa urutan titik-titik berasarkan fungsi dari waktu (x,y, and time coordinat).
Berdasarkan keterangan tersebut panitia diduga melanggar Perpres 54 tahun 2010 Pasal 79 ayat (2) dalam evaluasi penawaran ULP/Pejabat pengadaan dan penyedia barang/jasa dilarang melakukan tindakan post-biding. Tindakan postbiding adalah tindakan mengubah, menambah, mengganti, dan/atau mengurangi dokumen pengadaan dan/atau dokumen penawaran setelah batas akhir pemasukan penawaran.

• Penandatanan kontrak pada masa sanggah banding
Berdasarkan surat nomor B/866/LKPP/SES/04/2011. Ada beberapa hal yang disampaikan yang disampaikan oleh LKPP kepada mendagri. Ada 2 hal utama yang disampaikan oleh LKPP. Pertama, Tim LKPP menyarankan kepada panitia pengadaan untuk menunda pemberian berita acara addendum dokumen pemilihan dan bilamana dianggap perlu memberikan kesempatan untuk addendum dokumen pemilihan, namun rekomendasi ini tidak di dengarkan.
Dengan demikian LKPP, sejak saat itu tidak lagi dilibatkan dalam proses tender kementrian dalam negeri juga diduga melakukan pelanggaran yang sangat fatal. Dimana kementrian melakukan penandatangan kontrak dalam masa sanggah banding. Untuk pekerjaan penerapan kartu tanda penduduk berbasis nomor induk kependudukan secara nasional (KTP Elektronik) pada tanggal 1 juli 2011. Penandatanganan ini dilakukan pada saat masa sanggah banding.
Dalam kurun waktu tersebut masih terjadi proses sanggah banding. Kemendagri menerima dua surat sanggah banding dari konsorsium Telkom dan konsorsium lintas bumi lestari. Konsorsium Telkom menyampaikan surat sanggah banding pada pada tanggal 5 juli 2011 dilengkapi jaminan sanggah banding sebesar Rp 50.000.000,- dengan menggunakan jaminan bank Negara Indonesia No:2011/GBR/065/5377. Sedangkan konsorsium lintas bumi lestari juga menyampaikan surat sanggah banding ditanggal yang sama.
Artinya, penandatangan kontrak yang dilakukan melanggar ketentuan perpres 54 tahun 2010 pasal 82. Bahwa sanggahan banding menghentikan proses lelang.
Berdasarkan pertimbangan tersebut ada beberapa hal yang harus dilakukan;
1. Kejaksaan untuk mempercepat penyidikan kasus dugaan korupsi proyek uji petik e-KTP 2009
2. BPKP segera menyelesaikan hasil perhitungan kerugian dalam kasus dugaan korupsi proyek uji petik e-KTP 2009, mengingat kasus tersebut sudahberulang tahun di kejaksaan
3. Kemendagri lakukan pemeriksaan ulang terhadap proyek e-KTP, untuk memastikan dugaan pelanggaran dalam proses tender
4. KPPU untuk melakukan kajian terhadap dugaan terjadinya persaingan usaha tidak sehat (Widoyoko, 2004)
gambar di bawah ini merupakan rancangan e-KTP yang akan di terapkan di Indonesia.

Gambar 3.1 Rancangan e-KTP (Kependudukan & Tanjung Pinang, 2010)
3.2 Penerapan E – KTP di Indonesia

Secara nasional penerapan E –KTP di Indonesia pada tanggal 1 januari 2014. Namun, penerapan ini gagal terealisasi, kegagalan ini mengakibatkan banyak warga yang tidak tercatat datanya. Untuk penerapan E –KTP pemerintah telah mengeluarkan dana sebesar RP. 5 Trilliun lebih sejak 2011.
Berikut ini kronologi penerapan E – KTP di Indonesia.

• Tahun 2008 – 2009
Kementerian Dalam Negeri mematangkan rencana pelaksanaan e-KTP setelah dilakukan uji coba di beberapa wilayah.

• Februari tahun 2011
Program e-KTP resmi diluncurkan. Pelaksanaan awal terbagi dalam dua tahapan. Tahap pertama dimulai pada Februari.

• 30 April tahun 2012
Batas terakhir dari tahap pertama pembuatan e-KTP untuk 67 juta penduduk di 2.348 kecamatan dan 197 kabupaten dan kota. Tahap kedua akhir 2012

• November tahun 2013
Perekaman data penduduk mencapai 173.325.378 jiwa, Kemendagri menyatakan angka itu sudah melampaui target, yakni hingga akhir 2012 mencapai 172 juta e-KTP.

• 26 September tahun 2013
Rapat paripurna DPR menyepakati perubahan UU Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan. Salah satu poin penting yang ada dalam undang-undang itu adalah pemberlakukan e-KTP seumur hidup. Kemendagri menyatakan, pemberlakuan e-KTP seumur hidup menghemat anggaran hingga Rp4 triliun.

• 31 desember tahun 2013
Batas akhir pembuatan e-KTP secara nasional. Pemerintah merencanakan mulai 1 Januari 2014 e-KTP berlaku efektif.

• 1 januari 2014
Kemendagri memperpanjang lagi masa efektif e-KTP akibat masih adanya sejumlah kendala dalam proses distribusi kepemilikan kartu identitas tersebut. Kemendagri menuding banyak warga belum melakukan rekam data. Sebagai konsukuensi, masa belaku KTP non-elektronik atau KTP lama diperpanjang hingga 31 Desember 2014. (SINDO, 2014)

3.3 Kegiatan dalam Proses Penerapan e-KTP

Ada beberapa kegiatan yang dilakukan dalam penerapan e-KTP di Indonesia, yaitu :
• Inventaris kabupaten / kota sudah siap dan memenuhi persyaratan penerapan e-KTP secara nasional, yaitu :
o Nemenklatur instansi pelaksanaan menangani kependudukan dan pencatatan sipil wajib disesuaikan menjadi dinas kependudukan dan pencatatatan sipil.
o Mempunyai peraturan daerah tentang administrasi kependudukan yang mengacu pada regulasi nasional di bidang administrasi kependudukan.
o Melaksanakan system informasi administrasi kependudukan (SIAK) dalam pelayanan pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil.
o Sudah memiliki database kependudukan yang saling terintegrasi
o Mempersiapkan dan menyediakan tenaga teknis pelayanan penerbitan e-KTP
o Sanggup menyediakan genset di tempat pelayanan penerbitan e-KTP bagi kecamatan yang belum ada listrik.
o Siap dan bertanggung jawab untuk melaksanakan mobilisasi penduduk wajib KTP dan pelayanan penerbitan e-KTP.
• BINTEK dan DAMTEK sesuai dengan jadwal yang disepakati.
• Pengadaan perangkat pendukung operasional di data center kependudukan dan daerah
• Penyediaan jasa jaringan komunikasi data di kecamatan, kabupaten / kota, pusat dan provinsi untuk sinkronisasi database kependudukan kabupaten / kota dengan pusat (Online).
• Pelayanan penerbitan e-KTP di kecamatan yang di dukung oleh mobilisasi penduduk wajib KTP.
Dalam proses yang berlangsung, ada juga penggunaan anggaran untuk pemutakhiran data kependudukan, yaitu :
• Anggaran disediakan melalui dekonsentrasi, penggunaan utamanya untuk kegiatan pemutakhiran data di kabupaten / kota, sampai dengan petugas RT / RW.
• Penggunaannya telah dituangkan dalam petunjuk teknis pelaksanaan anggaran.
• Ada beberapa prinsip yang diperhatikan, yaitu :
o Satu jenis pekerjaan tidak boleh menggunakan 2 sumber dana.
o Apabila terdapat sumber dana dari APBD tahun 2010, dapat dilakukan :
 Anggaran dari APBD direvisi pemanfaatannya untuk keperluan diluar pemutakhiran data
 Anggaran APBD tetap digunakan dengan konsekuensi anggaran dekosentrasi disetor kembali ke kas Negara
 Sebagian tahapan menggunakan APBD dan sebagian tahapan lainnya menggunakan anggaran dekosentrasi.

Ada juga penggunaan anggaran untuk penerbitan NIK, yaitu :
• Anggaran disediakan melalui DIPA ditjen adminduk, untuk keperluan :
o Sewa jaringan komunikasi data
o Pengadaan perangkat pendukung
o Formulir surat pemberitahuan NIK per keluarga
o Sosialisasi

• Hal – hal yang harus diperhatikan, yaitu :
o Sewa jaringan sampai dengan tahun 2010 akan dianggarkan melalui APBN.
o Sewa jaringan setelah tahun 2012 dan pemeliharaan perangkat dibiayai melalui APBD.
Penggunaan anggaran untuk penerapan e-KTP di Indonesia, yaitu :
• Anggaran disediakan melalui DIPA ditjen adminduk, untuk keperluan :
o Menyewa jaringan komunikasi data
o Pengadaan perangkat keras, perangkat lunak, system dan blangko e-KTP
o Pendampingan pelayanan oleh tim pusat.
o Sosialisai

• Beberapa prinsip yang harus diperhatikan, yaitu :
o Sewa jaringan samapi dengan tahun 2012 akan dianggarkan melalui APBN.
o Sewa jaringan setelah tahun 2012 dan pemeliharaan perangkat dibiayai melalui APBD
o Anggaran untuk penerbitan e-KTP secara regular dibebankan pada APBD
(Kependudukan & Tanjung Pinang, 2010)

3.4 Tugas, tanggung jawab dan kewenangan dalam program e-KTP

Penugasan, tanggung jawabab dan kewenangan beberapa bagian dalam program e-KTP yaitu :
• Pemerintah pusat
o Menyiapkan pedoman dan petunjuk teknis
o Menyediakan anggaran untuk pemutakhiran data kependudukan secara massal pada tahun 2010, penerbitan NIK tahun 2010 dan 2011, penerapan e-KTP tahun 2011 dan 2012.
o Menyiapkan perangkat keras, perangkat lunak, system, menyewa jaringan, blangko e-KTP untuk pertama kalinya.
o Melakukan sosialisasi, BINTEK, dan DAMTEK.

• Pemerintah Provinsi
o Melakukan sosialisaso
o Mengkoordinasikan, memberikan bimbingan, supervise dan konsultasi kepada kabupaten / kota di provinsi masing – masing.
o Monitoring dan evaluasi, serta melaporkan kepada pemerintah pusat.

• Pemerintah Kabupaten / kota
o Melakukan sosialisasi kepada aparat dan masyarakat.
o Mengkoordinasikan penyelenggaraan semua kegiatan administrasi kependudukan di kabupaten / kota masing – masing.
o Menyelenggarakan/ melaksananakan pemutakhiran data kependudukan, penerbitan NIK dan penerapan e-KTP, dengan melibatkan kecamatan, desa / kelurahan, RT / RW.
o Monitoring dan evaluasi, serta melaporkannya kepada pemerintah provinsi dan pusat. (Kependudukan & Tanjung Pinang, 2010)

3.5 Kegagalan Penerapan e–KTP di Indonesia

Penerapan e–KTP diklaim gagal dan penuh dengan indikasi kecurangan (korupsi) karena banyaknya kejanggalan pada produk yang telah di hasilkan. Tujuan untuk mempermudah proses registrasi dan administrasi penduduk tidak dapat diwujudkan pemerintah dengan program e-KTP.
Database yang tidak terintegrasi secara nasional dan system aplikasi perekan e-KTP yang tidak jelas menjadi factor yang menyebabkan program e-KTP diaggap gagal.

Selain itu penemuan 65 juta e-KTP bodong (identitas palsu / tidak ada) yang ditemukan oleh KPU, kepemilikan e-KTP yang ganda dan e-KTP yang sidik jarinya tidak jelas merupakan indikasi kuat kegagalan proyek pemerintah tersebut. Selain itu, pengadaan e-KTP ini juga menyebabkan kerugian Negara sebesar RP. 1.8 trilliun hingga RP. 21 trilliun. (Subiyanto,2013)

Selain itu, kepala kependudukan dan catatan sipil kota Parepare sudah mengembalikan ratusan Kartu Tanda Penduduk Elektronik (e-KTP) ke kementrian dalam negeri dan ada sekitar 150 lembar e-KTP yang telah dikembalikan ke Jakarta.
Pengembalian ini didasarkan karena chip yang tidak terbaca atau kesalahan data. (.CO,2013)

Sebanyak 52.000 Kartu Tanda Penduduk Elektronik (e-KTP) di kabupaten Muarenim bermasalah dan dinas kependudukan dan catatan sipil harus mengembalikan e-KTP yang bermasalah tersebut. Selain itu tercatat sebanyak 518.000 warga berhak menerima e-KTP, namun hingga kini sebanyak hanya 402.000 warga yang telah memberikan datanya ke dinas kependudukan. (SINDO k, 2013).

Sebanyak 3.200 Kartu Tanda Penduduk (e-KTP) di kabupaten Karanganyar harus dikembalikan karena salah cetak. Kesalahan tersebut diketahui setelah dilakukan pengecekan terhadap e-KTP yang dikirim dari pemerintah pusat. Kesalahan yang terjadi juga bervariasi seperti perubahan status pemilik e-KTP yang belum menikah menjadi sudah menikah. Kesalahan ini terjadi berasal dari pemerintah pusat da nada juga kesalahan saat perekaman / pengambilan data di kantor kecamatan.
(SINDO k., 2013)

Pengurusan Kartu Tanda Penduduk Elektronik (e-KTP) di kantor camat Bringkanaya, Makasar ternyata tidak bisa dilakukan dan kondisi ini sudah terjadi selama 1 bulan. Alasan tidak bisa dilakukannya jika tidak error atau alatnya memang tidak tersedia. Alat yang diambil untuk diperbaiki oleh petugas IT sejak beberapa hari belum juga di kembalikan. Tidak adanya kejelasan yang pasti kapan warga dapat menguru e-KTP di kantor camat Bringkaraya lagi. Selain itu, ada sekitar 200.000 warga makasar yang belum memiliki e-KTP. (News, 2013)
Data ganda yang terjadi di database Kartu Tanda Penduduk (e-KTP) merupakan pertanda buruk bagi proyek e-KTP. Sebab, e-KTP memakai data yang sama sekali tidak mungkin sama yaitu sidik jari dan kornea mata. Adanya warga yang memiliki 2 e-KTP menunjukkan database e-KTP belum terintegrasi ke seluruh Indonesia. Hal ini juga membuktikan bahwa sistem aplikasi e-KTP juga belum tepat.
Setiap data yang direkam di kantor kelurahan seharusnya terkoneksi ke database. Sistem aplikasi bertugas untuk mengecek apakah adanya redudansi data. Hal ini menimbulkan dugaan bahwa database yang digunakan belum terintegrasi dan hanya menjadi tempat pengumpulan data sehingga menyebabkan seseorang dapat memiliki 2 e-KTP. (News, 2013)

BAB 4
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian diperoleh kesimpulan :
• Tujuan pemanfaatan e-KTP belum dapat terealisasi sepenuhnya
• Masih banyaknya tindakan kecurangan dalam impementasi e-KTP
• Belum siapnya setiap daerah untuk pengadaan e-KTP dalam skala nasional
• Masih kurangnya persiapan untuk pengadaan e-KTP untuk seluruh pelosok daerah di Indonesia.

4.2 Saran
• Faktor perekaman / pengambilan data wajib e-KTP sebaiknya meniru pada salah satu provinsi sehingga tidak ada permasalahan administrasi kependudukan di Indonesia yang terjadi.
• Persiapan peralatan yang di butuhkan sebaiknya sudah tersedia dan di uji coba sebelum di umumkan pengadaan serempak ke beberapa daerah.
• Database yang menyimpan sebaiknya saling terintegrasi.
• Percetakan e-KTP sebaiknya di berikan kepada setiap daerah yang bertanggung jawab untuk mengurangi kemungkinan kegagalan produk / salah cetak.

DAFTAR PUSTAKA

A definition of e-Government.2006 the world bank group,
http>://www.worldbank.org/publik sector/egov/definition.html
Anggoro, B. (2013, June 4). bagaimana cara membuat e-KTP. Retrieved 2014, from Bafum Anggoro website: https://homeq.wordpress.com/tag/bagaimana-cara-membuat-e-ktp/
CO, T. (2013). Salah Cetak, Ratusan E-KTP Dikembalikan ke Jakarta. Jakarta: TEMPO.
Direktorat Jenderal Administrasi Kependudukan. (2005). Panduan Penyusunan Rencana Penduduk Pengembangan E-Government. Departemen Dalam Negeri, Jakarta
Kementrian Dalam Negeri RI, Pendataan Kependudukan, (Jakarta: Kementrian
Dalam Negeri RI, 2010).
Kependudukan, K. D., & Tanjung Pinang, P. K. (2010, December). Kartu tanda penduduk (KTP) berbasis NIK secara nasional. Tanjung Pinang, Indonesia.
News, T. (2013). Waduh, Urus E-KTP di Kantor Camat Biringkanaya Tak Bisa. Makasar: Tribun news.
News, T. (2013). Warga Punya Dua e-KTP Bukti Database Belum Terintegrasi. Jakarta: Tribunnews.
O’Brien, J. & Marakas, G.M. (2008).Management Informasion Systems. New York : McGraw-Hill Irwin.
Pengembangan E-Government”. http://library.binus.ac.id/Collections/ethesis_detail/TSA-2011-0046
Satzinger, J.W., Jackson, R.B., Burd, S.D. (2010). Systems Analysis and Design in a Changing World. 5th Edition.Boston : Course Technology.
SINDO, k. (2013). 3.200 E-KTP di Karanganyar Salah Cetak. Karanganyar: SINDO.
SINDO, k. (2013). 52.000 E-KTP Bermasalah. Muaraenim: SINDO.
SINDO, K. (2014, januari 8). News : Jalan Panjang e-KTP. Retrieved April 2014, from okezone website: http://news.okezone.com/read/2014/01/08/337/923496/jalan-panjang-e-ktp
Subiyanto , R. (2013). E-KTP Diklaim Gagal & Berpotensi Rugikan Negara Hingga Rp2,1 Triliun. Jakarta: bisnis-kti.
Widoyoko, D. (2004). content: Mengupas Perencanaan & Pelaksanaan Proyek e-KTP. Retrieved April 11, 2014, from Indonesian coruption watch : http://www.antikorupsi.org/id/content/mengupas-perencanaan-pelaksanaan-proyek-e-ktp-1

RIWAYAT HIDUP

Nama : Hendy Salim
Tempat, Tanggal Lahir : Bandar Lampung, 4 maret 1992
Alamat : Jl. Haji taisir no 5, Jakarta Barat
No. Telepon : 087899844883
Email : hendisalim21@yahoo.com
Jenis Kelamin : Laki – laki
Riwayat Pendidikan :
2011-sekarang Sistem Informasi
Peminatan : ERP
School of Information System, BINUS University
2008-2011 SMA Immanuel Bandar Lampung
2005-2008 SMP Immanuel Bandar Lampung
1999-2005 SD Immanuel Bandar Lampung
1996-1999 TK Immanuel Bandar Lampung

Pengalaman Kerja : –

Posted in Topik Topik Lanjutan SI | Comments Off on Evaluasi Implementasi e-KTP di Indonesia

Evaluasi Penerapan ITIL Pada Sistem Manajemen Service Deck

Universitas Bina Nusantara

______________________________________________________________________

Jurusan Sistem Informasi
School of Information Systems
Tugas Paper
M0214 – Topik-Topik Lanjutan Sistem Informasi
Semester Genap tahun 2013/2014
Halaman Abstrak
Evaluasi Penerapan ITIL Pada Sistem Manajemen Service Deck

Kelas / Kelompok: 06PKM / 05

Anggota Kelompok:
Arni Virani : 1501155411
Toni Sugino : 1501169865
Hendy Salim : 1501178522
Rendy Rinaldo : 1501188473
Jennifer Pauling : 1501189053
David Santoso : 1501194015

ABSTRAK
ITIL (Information Technology Infrastructure Library) merupakan sebuah framework yang dibuat dan dikembangkan oleh Office of Government Commerce (OGC) di Inggris. ITIL merupakan kumpulan dari best practice tata kelola layanan teknologi informasi diberbagai bidang dan industri, dari mulai manufaktur sampai finansial, industri besar dan kecil, swasta dan pemerintah. ITIL mendukung pernyataan bahwa layanan IT harus selaras dengan kebutuhan bisnis dan mendukung inti dari proses bisnis yang dijalnkan. ITIL pada dasarnya memberikan panduan kepada organisasi tentang bagaimana menggunakan IT sebagai alat untuk memfasilitasi perubahan bisnis, transformasi dan pertumbuhan . Praktik terbaik ITIL saat ini adalah dalam merinci lima hal inti yang menyediakan pendekatan yang sistematis dan profesional untuk pengelolaan layanan IT, memungkinkan perusahaan untuk memberikan layanan yang tepat dan secara terus-menerus memastikan bahwa perusahaan memenuhi tujuan bisnis dan memberikan manfaat ke pelanggannya.

Kata kunci: Information Technology Infrastructure Library, ITIL, Evaluasi ITIL.

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) mengubah kehidupan manusia, terutama mengubah hubungan karakteristik antar hubungan manusia, bisnis, dan mengubah hubungan antara pendidikan dan pengetahuan. Kebutuhan informasi yang cepat membuat manusia memerlukan best practice tata kelola layanan teknologi informasi diberbagai bidang.
ITIL merupakan kumpulan dari best practice tata kelola layanan teknologi informasi diberbagai bidang dan industri, dari mulai manufaktur sampai finansial, industri besar dan kecil, swasta dan pemerintah.
ITIL mendukung pernyataan bahwa layanan IT harus selaras dengan kebutuhan bisnis dan mendukung inti dari proses bisnis yang dijalnkan. ITIL pada dasarnya memberikan panduan kepada organisasi tentang bagaimana menggunakan IT sebagai alat untuk memfasilitasi perubahan bisnis, transformasi dan pertumbuhan .
ITIL juga bermanfaat bagi organisasi yaitu membuat organisasi dapat mengembangkan struktur yang lebih jelas, prosesnya menjadi lebih efefktif dan efisien, serta lebih fokus pada tujuan organisasi.
Selain itu, ITIL juga menyediakan kerangka untuk komunikasi internal dan komunikasi eksternal, serta untuk standarisasi dan identifikasi prosedur. Sehingga Organisasi bisa memegang kendali atau kontrol pada infrastruktur dan servis, serta perubahan yang terjadi lebih mudah dikelola.

1.2 Ruang Lingkup

Berikut adalah batasan cakupan dari karya tulis ini, antara lain:

1. Pembahasan menjelaskan tentang konsep ITIL Framework
2. Penjelasan mengenai manfaat, hambatan, tingkatan dari penerapan ITIL Framework
3. Pemfokusan tentang evaluasi tentang implementasi ITIL Framework di PT. Tridas Widiantara

1.3 Tujuan dan Manfaat

Tujuan dasar yang ingin dicapai dalam penyusunan karya tulis ini adalah:

1. Memahami pentingnya penerapan ITIL Framework
2. Mengevaluasi manfaat, hambatan, tingkatan dari penerapan ITIL Framework di PT. Tridas Widiantara

Sedangkan beberapa manfaat yang diperoleh sebagai hasil evaluasi dalam karya tulis ini, antara lain:

1. Dapat mengetahui hambatan serta solusi dari permasalahan penerapan
ITIL Framework di PT. Tridas Widiantara
2. Dapat mengetahui cara implementasi, perancangan sistem, arsitektur sistem dan proses ITIL Framework di PT. Tridas Widiantara

1.4 Metodologi Penulisan
Dalam penulisan karya tulis ini dipergunakan berbagai informasi pendukung berdasarkan metode studi kepustakaan yang diperoleh melalui berbagai sumber, seperti buku penunjang mengenai ITIL Framework, jurnal-jurnal online yang mengupas topik tentang pemanfaatan ITIL Framework di PT. Tridas Widiantara , skripsi, dan beberapa website yang menyediakan informasi mengenai pemanfaatan ITIL Framework. Berdasarkan informasi dari berbagai sumber ini akan dibuat seebuah pembahasan tentang evaluasi penerapan ITIL Framework pada PT. Tridas Widiantara dan kemudian akan dibuat kesimpulan dan saran untuk pengembangan selanjutnya.

1.5 Sistematika Penulisan

Karya tulis ilmiah ini terdiri atas beberapa bab pembahasan, yaitu :

• BAB 1 : PENDAHULUAN
Pada bab ini akan dijelas mengenai pemahaman awal tentang ITIL Framework secara umum dan secara khusus mengenai penerapannya di dunia nyata, yang terdiri atas latar belakang, ruang lingkup, tujuan dan manfaat penulisan, serta metodologi penulisan laporan.

• BAB 2 : LANDASAN TEORI
Pada bab ini berisikan teori-teori umum hingga teori khusus yang dijadikan sebagai dasar pengetahuan untuk memahami pengertian, strategi, tingkatan, tantangan dan manfaat ITIL Framework.

• BAB 3 : PEMBAHASAN
Pada bab ini akan dijelaskan pembahasan inti tentang evaluasi pelaksanaan dan implementasi ITIL Framework pada PT. Tridas Widiantara.

• BAB 4 : PENUTUP
Bab ini akan memaparkan kesimpulan dari keselurhan pembahasan mengenai evaluasi ITIL Framework pada PT. Tridas Widiantara, serta memaparkan beberapa saran untuk solusi atas permasalahan mengenai penerapan ITIL Framework pada PT. Tridas Widiantara.

BAB 2
LANDASAN TEORI

2.1 Pemahaman tentang ITIL Framework

ITIL (Information Technology Infrastructure Library) adalah kerangka manajemen internasional secara de facto yang menjelasakan best practices untuk IT Service Management (ITSM) yang pada dasarnya digunakan untuk menyediakan nilai tambah bagi perusahan dalam hal pemberian layanan terbaik bagi pelanggan.

ITIL Framework sudah dikembangkan untuk pertama kalinya pada tahun 1980 dengan kegunaan dan literatur yang masih sangat minim. Kemudian setelah tahun 2000 dimunculkan ITIL versi 2, namun dengan semakin tingginya kebutuhan akan nilai IT, orientasi pelanggan, keamananan, dan tata kelola yang semakin meningkat maka penerapan ITIL Framework ini harus terus dikembangkan dan diperluas. Akhirnya pada tahun 2007 ITIL versi 3 dimunculkan oleh UK Office of Government Commerce (OGC) dengan fitur yang lebih lengkap dan ruang lingkup yang lebih luas daripada ITIL versi 2.

Tabel 2.1 Perbandingan Fitur ITIL Vesi 2 dan ITIL Versi 3

Pada dasaranya terdapat tujuh modul inti dalam ITIL Framework yang harus diselaraskan dan disesuaikan dengan bisnis dan teknologi yang diterapkan dalam perusahaan. Tujuh modul tersebut antara lain:
a. Service Delivery
 Mencakup proses yang dibutuhkan dalam perencanaan dan penyampaian kualitas dalam Pelayanan IT serta melihat pada proses jangka panjang yang terkait untuk peningkatan kualitas dari layanan IT yang sudah ada.
b. Service Support
 Menjelaskan proses yang dibutuhkan dalam mendukung aktivitas sehari-hari (day-to-day support) serta aktivitas pemeliharaan yang sesuai dengan ketentuan dari layanan IT.
c. Information and Communication (ICT) Infrastructure Management
 Mencakup beberapa alur aktivitas, seperti menentukan kebutuhan bisnis (requirements), melakukan pengetesan sistem (testing), instalasi dan penyebaran aplikasi (install and deploy), serta optimalisasi komponen IT Services dan ICT dalam operasional yang berlangsung.
d. Perencanaan untuk Implementasi Manajemen Servis
 Mengecek isu dan tugas yang terlibat dalam perencanaan, implementasi, dan peningkatan proses manajemen servis dalam organisasi, termasuk di dalamnya mengeni budaya, perubahan dalam organisasi, pengembangan visi dan strategi, serta metode pendekatan yang paling tepat.
e. Manajemen Aplikasi
 Menjelaskan bagaimana cara untuk mengelola aplikasi dari awal kebutuhan bisnis hingga seluruh tahap dalam sikluas hidup sistem, serta memastikan bahwa projek IT dan strategi selaras dengan bisnis.
f. Perspektif Bisnis
 Menyediakan saran dan pedoman untuk membantu personel IT dalam memahami bagaimana mereka bisa berkontribusi dalam tujuan bisinis serta bagaimana peran dan layanan mereka bisa diselaraskan untuk memaksimalkan kontribusi ini.
g. Manajemen Keamanan
 Memberikan detil mengenai proses perencanaan dan pengelolaan dari level keamanan bagi informasi dan layanan IT, termasuk seluruh aspek yang terkait dengan reaksi terhadapa insiden keamanan, penaksiran serta manajemen resiko dan kerentanan, dan implementasi dari tindakan penganggulangan.

Gambar 2.1 Tujuh Modul ITIL Framework
2.3 Konsep Dasar ITIL Framework
Pemahaman tentang ITIL Framework didasarkan pada lima pilar konsep, yaitu:
a. Customer Care
 Konsep ini penting dalam mengelola layanan IT bagi pelanggan, yaitu dengan menempatkan kebutuhan pelanggan pada posisi utama. Artinya, fokus utama bukan terletak pada sistem baru atau pada kekuatan infrastruktur melainkan yang terpenting adalah memenuhi kebutuhan fungsional pelanggan dengan menyediakan solusi yang akurat dan optimal.
b. The Service Life Cycle
 Lima fase siklus hidup penyediaan servis berkelanjutan bagi pelanggan terdiri dari, service strategy, service design, service transition, service operation, dan continuous service improvement. Siklus ini akan menyediakan keseluruhan strategi bagi organisasi IT, yang kemudian akan digunakan untuk mengarahkan bagaimana servis akan didesain, ditransisisi, didukung, dan dikembangkan untuk memberikan nilai maksimum kepada pelanggan dan semua pemangku pentingan. Keberlanjutan lima fase dalam siklus ini akan membentuk sebuah pedoman yang berisikan sekumpulan informasi serta best practices yang dapat digunakan untuk mencapai kesuksesan. Kesuksesan ini bisa berupa terjalinnya hubungan yang erat dengan pelanggan ataupun memungkinkan dibuatnya sebuah perencanaan yang matang mengenai sumber daya, tenaga ahli, serta budget yang dibutuhkan. Lima fase ini dalam pelaksanaannya akan diuraikan lebih lanjut pada pembahasan di Bab 3.
c. The Process Concept
 Konsep proses berkaitan tentang alur aktivitas yang dilakukan dalam organisasi, dimana mencakup pembuatan indikator kinerja untuk mengukur apakah hasil dari program atau projek tertentu dapat mendukung serta memberi nilai tambah bagi proses-proses yang sudah didefiniskan dalam perushaan.
d. The Quality Concept
 Konsep ini menjelaskan bahwa kualitas dari pelayanan merupakan sebuah kesempatan untuk memenuhi harapan pelanggan sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Artinya, pelanggan bisa loyal dan merasa puas akan pelayanan ketika perusahaan bisa menghargai semua kebutuhannya, memenuhi kebutuhannya dalam waktu yang tepat, dan layanan yang diberikan sesuai dengan spesifikasi yang telah disepakati dengan pelanggan.
e. Komunikasi
 Salah satu kontribusi penting dari ITIL Framework adalaah tersedianya komunikasi yang baik, dimana komunikasi ini akan memberikan pemahaman yang mendalam antara pelanggan dan perususahaan serta menghapus ambiguitas mengenai Service Level Agreement (SLA) yang sudah disepakati oleh kedua belah pihak. Komunikasi yang baik ini juga memungkinkan adanya negosiasi antara kedua belah pihak apabila terjadi masalah, insiden, atau perubahan tertentu untuk ditemukan solusi yang saling menguntungkan( win-win solution).

2.3 Permasalahan dan Manfaat dari Penerapan ITIL Framework
Berikut ini adalah beberapa masalah atau kesalahan potensial yang terjadi pada saat penerapan ITIL Framework.
 Pengenalan awal terhadap ITIL Framework mmbutuhkan waktu yang lama dan usaha yang signifikan, hal ini mencakup perubahan pada budaya organisasi.
 Jika struktur proses menjadi tujuan, maka bisa berdampak negatif pada kualitas pelayanan. Pada scenario ini, prosedur-prosedur yang tidak perlu dilihat sebagai gangguan birokratis yang harus dihindari.
 Tidak ada peningkatan pada IT Service dikarenakan kurangnya pemahaman tentang proses yang terkait, indikator kinerja yang sesuai, dan bagaimana proses bisa terkontrol dengan baik.
 Peningkatan pada ketentuan servis dan pengurangan biaya tidak cukup terlihat, karena tidak ada landasan data yang tersedia untuk perbandingan atau untuk mengidentifikasi target yang salah.
 Implementasi yang sukses membutuhkan keterlibatan dan komitmen dari personel di semua level organisasi. Pengambilan keputusan sepihak bisa saja mengakibatkan terjadinya penolakan dari divisi lain.
 Jika tidak ada investasi yang cukup dalam menyediakan tools atau training, maka servis tidak akan bisa ditingkatkan. Oleh karean itu, sumber daya dan personel tambahan bisa saja dibutuhkan dalam jangka pendek apabila perusahaan sedang disibukkan dengan rutinitas aktivitas.
Selain potensi permasalahan, penerapan ITIL Framework ini juga memberikan manfaat bagi organisasi dan juga bagi pelanggan. Manfaat ITIL Framework bagi organisasi antara lain:
 Organisasi dapay mengembangkan struktur yang lebih jelas, prosesnya menjadi lebih efefktif dan efisien, serta lebih fokus pada tujuan organisasi.
 Organisasi bisa memegang kendali atau kontrol pada infrastruktur dan servis, serta perubahan yang terjadi lebih mudah dikelola.
 Dengan mengikuti best practices dari ITIL Framework, dihasilkan sebuah perubahan dalam menyediakan servis dan memperkenalkan Quality Management berdasarkan ISO 9000 atau BS15000.
 Menyediakan kerangka untuk komunikasi internal dan komunikasi eksternal, serta untuk standarisasi dan identifikasi prosedur.
Sedangkan manfaat yang bisa dirasakan pelanggan dengan ITIL Framework antara lain:
 Ketentuan terkait dengan IT Service lebih fokus pada pelanggan dan kesepakatan tentang kualitas servis dapat mempererat hubungan.
 Servis dapat dijelaskan dengan lebih baik, yaitu disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan dan disertai dengan detail yang jelas.
 Kualitas, ketersediaan, keterpercayaan dan biaya dari servis bisa dikelola dengan baik, serta adanya peningkatan komunikasi dengan organisasi.

BAB 3
PEMBAHASAN

3.1 Overview mengenai ITIL Framework
ITIL atau Information Technology Infrastructure Library, merupakan sebuah framework yang dibuat dan dikembangkan oleh Office of Government Commerce (OGC) di Inggris. ITIL merupakan kumpulan dari best practice tata kelola layanan teknologi informasi diberbagai bidang dan industri, dari mulai manufaktur sampai finansial, industri besar dan kecil, swasta dan pemerintah.
Dalam perkembangannya ITIL telah mengalami perkembangan seiring dengan berkembangnya teknologi informasi. Pada awal perkembangannya, dokumentasi ITIL terdiri dari kurang lebih 40 publikasi yang terbagi kedalam modul-modul terpisah, setelah itu untuk simplifikasi serta kemudahan implementasi ITIL dibagi kedalam 7 domain yang masing-masing saling berhubungan dan dapat berdiri sendiri. Dalam perkembangan fase ini atau sekarang disebut juga dengan ITIL versi 2, domain Service Support dan Service Delivery dijadikan sebagai CORE dalam tata kelola layanan teknologi informasi atau IT Service Management.
Versi terakhir dari ITIL adalah versi 3. Perubahan mendasar pada versi ini terletak dari sudut pandang pengelolaan IT, dimana pada versi 2 ITIL mengelola layanan sebagai sekumpulan proses dan fungsi sementara dalam ITIL versi 3 layanan sebagai sebuah lifecycle / daur hidup.
ITIL mendukung pernyataan bahwa layanan IT harus selaras dengan kebutuhan bisnis dan mendukung inti dari proses bisnis yang dijalnkan. ITIL pada dasarnya memberikan panduan kepada organisasi tentang bagaimana menggunakan IT sebagai alat untuk memfasilitasi perubahan bisnis, transformasi dan pertumbuhan .
Praktik terbaik ITIL saat ini adalah dalam mericnci lima hal inti yang menyediakan pendekatan yang sistematis dan profesional untuk pengelolaan layanan IT, memungkinkan perusahaan untuk memberikan layanan yang tepat dan secara terus-menerus memastikan bahwa perusahaan memenuhi tujuan bisnis dan memberikan manfaat ke pelanggannya.

Lima panduan inti memetakan seluruh ITIL Service Lifecycle , dimulai dengan identifikasi kebutuhan dan driver persyaratan TI pelanggan, melalui desain dan implementasi layanan ke dalam operasi dan akhirnya , pada pemantauan dan fase perbaikan layanan.

Mengadopsi ITIL dapat dalam sebuah perusahaan dapat memberikan manfaat, antara lain:
• Peningkatan layanan IT
• Mengurangi biaya
• Meningkatkan kepuasan pelanggan melalui pendekatan yang lebih profesional untuk pelayanan
• Peningkatan produktivitas
• Peningkatan skills dan memperkaya pengalaman

Dikutip dari http://www.saigonctt.com.vn/uploads/Trainings/itsm-v3.gif
Gambar 3.1 Siklus ITIL Framework
Seperti yang telah dijabarkan di atas, ada lima bagian inti yang dijabarkan dalam siklus hidup ITIL Framework, yaitu:
1. Service Strategy
2. Service Design
3. Service Transition
4. Service Operation
5. Continual Service Improvement

Service Strategy

Inti dari ITIL Service Lifecycle adalah Service Strategy.
Service Strategy memberikan panduan kepada pengimplementasi ITSM pada bagaimana memandang konsep ITSM bukan hanya sebagai sebuah kemampuan organisasi (dalam memberikan, mengelola serta mengoperasikan layanan TI), tapi juga sebagai sebuah aset strategis perusahaan. Panduan ini disajikan dalam bentuk prinsip-prinsip dasar dari konsep ITSM, acuan-acuan serta proses-proses inti yang beroperasi di keseluruhan tahapan ITIL Service Lifecycle.
Topik-topik yang dibahas dalam tahapan lifecycle ini mencakup pembentukan pasar untuk menjual layanan, tipe-tipe dan karakteristik penyedia layanan internal maupun eksternal, aset-aset layanan, konsep portofolio layanan serta strategi implementasi keseluruhan ITIL Service Lifecycle. Proses-proses yang dicakup dalam Service Strategy, di samping topik-topik di atas adalah:
1. Service Portfolio Management
2. Financial Management
3. Demand Management
Bagi organisasi TI yang baru akan mengimplementasikan ITIL, Service Strategy digunakan sebagai panduan untuk menentukan tujuan/sasaran serta ekspektasi nilai kinerja dalam mengelola layanan TI serta untuk mengidentifikasi, memilih serta memprioritaskan berbagai rencana perbaikan operasional maupun organisasional di dalam organisasi TI.
Bagi organisasi TI yang saat ini telah mengimplementasikan ITIL, Service Strategy digunakan sebagai panduan untuk melakukan review strategis bagi semua proses dan perangkat (roles, responsibilities, teknologi pendukung, dll) ITSM di organisasinya, serta untuk meningkatkan kapabilitas dari semua proses serta perangkat ITSM tersebut.
Service Design
Agar layanan TI dapat memberikan manfaat kepada pihak bisnis, layanan-layanan TI tersebut harus terlebih dahulu di desain dengan acuan tujuan bisnis dari pelanggan. Service Design memberikan panduan kepada organisasi TI untuk dapat secara sistematis dan best practice mendesain dan membangun layanan TI maupun implementasi ITSM itu sendiri. Service Design berisi prinsip-prinsip dan metode-metode desain untuk mengkonversi tujuan-tujuan strategis organisasi TI dan bisnis menjadi portofolio/koleksi layanan TI serta aset-aset layanan, seperti server, storage dan sebagainya.
Ruang lingkup Service Design tidak hanya untuk mendesain layanan TI baru, namun juga proses-proses perubahan maupun peningkatan kualitas layanan, kontinyuitas layanan maupun kinerja dari layanan.
Proses-proses yang dicakup dalam Service Design yaitu:
1. Service Catalog Management
2. Service Level Management
3. Supplier Management
4. Capacity Management
5. Availability Management
6. IT Service Continuity Management
7. Information Security Management
Service Transition
Service Transition menyediakan panduan kepada organisasi TI untuk dapat mengembangkan serta kemampuan untuk mengubah hasil desain layanan TI baik yang baru maupun layanan TI yang diubah spesifikasinya ke dalam lingkungan operasional. Tahapan lifecycle ini memberikan gambaran bagaimana sebuah kebutuhan yang didefinisikan dalam Service Strategy kemudian dibentuk dalam Service Design untuk selanjutnya secara efektif direalisasikan dalam Service Operation.
Service Operation
Service Operation merupakan tahapan lifecycle yang mencakup semua kegiatan operasional harian pengelolaan layanan-layanan TI. Di dalamnya terdapat berbagai panduan pada bagaimana mengelola layanan TI secara efisien dan efektif serta menjamin tingkat kinerja yang telah diperjanjikan dengan pelanggan sebelumnya. Panduan-panduan ini mencakup bagaiman menjaga kestabilan operasional layanan TI serta pengelolaan perubahan desain, skala, ruang lingkup serta target kinerja layanan TI.
Continual Service Improvement
Continual Service Improvement (CSI) memberikan panduan penting dalam menyusun serta memelihara kualitas layanan dari proses desain, transisi dan pengoperasiannya. CSI mengkombinasikan berbagai prinsip dan metode dari manajemen kualitas, salah satunya adalah Plan-Do-Check-Act (PDCA) atau yang dikenal sebagi Deming Quality Cycle

3.2 Penerapan ITIL Framework dalam Dunia Nyata
PT. Tridas Widiantara adalah sebuah perusahaaan yang bergerak di bidang IT. Namun, sebagai perusahaan yang berkembang perusahaan ini masih memiliki beberapa masalah terutama dalam proses bisnisnya. Dimana berdasarkan hasil analisis yang dilakukan oleh Infitharina (2007) dalam karangan skripsi-nya yang berjudul “Penerapan Information Technology Infrastructure Library Framework Pada Sistem Manajemen Service Desk (Studi Kasus: PT Tridas Widiantara)”, Infitharina menyimpulkan bahwa perlu diterapkan sistem manajemen service desk yang dapat membantu perusahaan Tridas Widiantara untuk meningkatkan kualitas pelayanan IT terhadap client, dengan beberapa catatan, antara lain:
• Sistem ini dikembangkan dengan menggunakan metode SDLC
• Pengembangan sistem ini dilakukan dalam enam tahap yang berurutan, dari mulai analisis sistem sampai pada operasionalisasi dan pemeliharaan sistem.
• Analisis Sistem
Pada tahap ini dilakukan analisis terhadap sistem yang akan dikembangkan berdasar pada hasil rumusan masalah yang terjadi di perusahaan. Dalam manajemen pelayanan IT perusahaan, masalah-masalah yang paling sering muncul adalah sulitnya pencatatan keluhan-keluhan atau pertanyaan-pertanyaan dari client yang masuk
penyampaian penyelesaian masalah yang diberikan kepada client selama ini kurang efektif dan efisien komunikasi dalam pelayanan terhadap client kurang lancar
• Client menghendaki pelayanan yang optimal.

Untuk mengatasi masalah tersebut maka diperlukan sistem manajemen service desk yang dapat mempermudah perusahaan dalam menangani dan mengolah data laporan incident dari client. Selain itu sistem juga harus dapat mengelompokkan masalah, melakukan penunjukan personal untuk menangani masalah, memberikan informasi status dari suatu masalah, dan melakukan dokumentasi masalah yang sudah terselesaikan. Pengguna sistem dibagi menjadi empat, yaitu client, operator, tim support(engineer), dan administrator. Client adalah pihak perusahaan yang menjadi client PT. Tridas Widiantara.
Pada sistem ini, client dapat membuat, meng-update, atau menutup call ticket. Tim support bertugas menyelesaikan dan menjawab persoalan tingkat lanjut yang diajukan oleh client dan tidak dapat ditangani langsung oleh operator. Administrator bertugas mengelola segala hal teknis yang berkaitan dengan sistem, seperti data pengguna, data produk, dan data perusahaan client. Selain operator, keberadaan tim support tetap dibutuhkan untuk memberikan solusi kepada client. Tingkat pengetahuan dan pengalaman tim support yang lebih tinggi dibutuhkan untuk memberikan solusi untuk mengatasi permasalahan client yang tidak dapat diselesaikan oleh operator.

Spesifikasi Kebutuhan Sistem

Berdasar pada studi lapangan dan pustaka mengenai pelayanan terhadap laporan client (komplain, pertanyaan, dan lain-lain) yang berstandar ITIL, pelayanan yang diperlukan mencakup penanganan masalah secara terstruktur dan pemberian solusi secara cepat.

Permasalahan Solusi Penerapan IBP
ITIL Framework
Tidak ada pencatatan laporan Pencatatan laporan menggunakan service
desk
Sulit mengetahui perkembangan
penanganan incident Melihat perkembangan dengan status call
ticket
Sulit mengontrol proses penanganan incident Pencatatan dalam service desk mempermudah kontrol
proses
Manajemen engineer tidak terkontrol Menerapkan escalation

Tabel 3.1 Permasalahan dan solusi penerapan IBP ITIL Framework pada PT TridasWidiantara

Selama ini, manajemen perusahaan hampir tidak pernah melakukan pencatatan laporan aktivitas perusahaan seperti progress repor. proyek dan final report proyek. Pelayanan yang dilakukan terhadap para client pun masih belum optimal, bahkan dapat dikatakan masih minim. Dalam menjalin hubungan dengan client kadang-kadang terjadi salah komunikasi dan pengertian sehingga menyebabkan incident tidak dapat ditangani dengan tepat dan segera sesuai dengan harapan client.

Dalam internal perusahaan sendiri juga kadang masih terjadi kekacauan, di antaranya kesulitan dalam pengendalian proses penanganan incident yang sedang dihadapi oleh client. Di dalam perusahaan tidak ada kejelasan pembagian tugas dan tanggung jawab dalam pelayanan terhadap client. Oleh karena itu, salah satu alternatif untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan mengembangkan sistem manajemen service desk yang berbasis web online sehingga client bisa berhadapan langsung dengan tenaga ahli. PT. Tridas Widiantara dalam menangani kesulitan-kesulitan yang ada.

Perancangan Sistem
Pada tahap ini dilakukan perancangan sistem manajemen service desk. Perancangan sistem dilakukan berdasarkan hasil analisis dan spesifikasi kebutuhan sistem sebelumnya.

Perancangan Masukan
Masukan pada sistem disesuaikan dengan kebutuhan penunjang pelayanan terhadap client, antara lain dapat menerima masukan call ticket dari client. Sistem ini juga dilengkapi dengan pendaftaran secara online agar mempermudah client dalam mendaftarkan diri dan dapat segera berkomunikasi dengan tenaga ahli perusahaan untuk menangani incident. Setiap pengguna mempunyai hak-hak yang berbeda dalam memberikan masukan pada sistem. Client dapat membuat call ticket; meng-update dan mencari call ticket yang sudah pernah dibuat; dan menutup call ticket (menganggap kasus telah selesai). Selain itu client juga dapat mendaftarkan diri dan meng-update profilnya sendiri. Masukan yang dapat diberikan operator dan tim support berupapencarían, jawaban, dan penutupan call ticket; eskalasi; dan update profil. Sedangkan pengelolaan teknis sistem dilakukan oleh administrator.

Halaman submit call ticket berupa area teks. Pada bagian short description, client dapat memasukkan inti masalah (penjelasan singkat mengenai masalah) yang ingin ditanyakan. Sedangkan di bagian detail description, client dapat memberi penjelasan yang lebih detail mengenai masalah yang ditanyakan sehingga operator dapat memahami lebih jelas incident yang sedang dihadapi. Untuk memudahkan pengguna dalam mencari call ticket yang pernah dibuat, sistem dilengkapi dengan fasilitas pencarían call ticket yang dapat digunakan oleh semua pengguna. Kontrol objek yang dapat digunakan pengguna berupa text box, combo box, text area, dan button. Masukan dari pengguna akan diperiksa melalui proses verifikasi dan validasi data. Contohnya, pada proses login dilakukan proses verifikasi dan validasi data username dan password. Administrator berhak memasukkan data baru. Data tersebut dapat berupa data profil pengguna, produk, severity, grup pengguna, dan penugasan.

Perancangan Arsitektur Sistem dan Proses
Pada tahap ini dilakukan perancangan arsitektur sistem dan proses yang mendukung pelayanan client berdasarkan ITIL. Sistem memberikan fasilitas pencatatan call ticket dan eskalasi agarpermasalahan dapat tercatat dengan baik dan dapat ditangani langsung oleh ahlinya sehingga penanganan suatu masalah menjadi lebih terstruktur dan lebih cepat.
Proses yang terjadi dalam sistem antara lain pemasukan data, pengubahan data, penghapusan data, dan pencarian data. Sistem juga dilengkapi dengan beberapa fungsi yang mendukung pelayanan terhadap client dan membantu incident management. Fungsi tersebut antara lain :
• submit call ticket, berfungsi untuk memasukkan aduan, komplain, atau pun pertanyaan dari client
• assignment, berfungsi sebagai penunjukan engineer yang akan menangani suatu call ticket
• escalation, meneruskan/melemparkan call ticket ke level teknisi (level 2) jika operator tidak dapat memberikan solusi yang diperlukan client
• resolution, operator atau teknisi memberikan solusi kepada client
• closing, proses menutup kasus call ticket, yang berarti bahwa masalah telah terselesaikan atau dianggap selesai.
• manajemen pengguna, berfungsi untuk menambah, mengubah, dan menghapus data pengguna; menentukan hak akses

Melalui sistem tersebut client dapat mengakses fungsi submit call ticket. Bersamaan dengan fungsi tersebut, client dapat menentukan severity. Fungsi severity memudahkan operator dalam mengetahui apakah kasus incident tersebut ringan atau berat sehingga operator dapat membuat keputusan tentang tindakan yang harus diambil dengan lebih mudah. Client dapat melakukan komunikasi secara kontinyu dengan operator atau tim support melalui fungsi update call ticket. Setelah operator atau tim support memberikan solusi melalui fungsi update call ticket, client dapat memberitahu kemajuan penanganan incident juga melalui fungsi update call ticket tersebut hinggaincident tertangani dengan tepat. Selain dapat mengakses fungsi update call ticket untuk menjawab pertanyaan client, operator dapat mengeskalasi call ticket kepada engineer melalui fungsi eskalasi yang terdapat dalam sistem.

Sistem dilengkapi dengan fungsi control panel yang mencakup pengelolaan data pengguna, data perusahaan client, data produk dan komponen, dan pencatatan aktivitas pengguna. Semua fungsi tersebut hanya dapat diakses oleh administrator. Selain itu, sistem dilengkapi dengan fungsifungsi yang menunjang kemudahan pengguna, antara lain fungsi registrasi online dan pencarian call ticket.

Perumusan Masalah
PT Tridas Widiantara belum melakukan pencatatan laporan-laporan dari client secara terstruktur, baik secara manual sekali pun sehingga perusahaan sulit melakukan kontrol penanganan incident. Hal itu juga menyebabkan client mengalami kesulitan dalam mengetahui perkembangan status incident yang sedang dihadapi dan sejauh mana incident telah ditangani. Hal lain yang masih sering dialami adalah perusahaan dan client mengalami kesulitan untuk mengetahui siapa engineer yang ditugasi untuk menangani incident. Perusahaan juga mengalami beberapa kendala lain dalam berhubungan dengan client, baik kendala jarak, waktu, maupun biaya. Banyak perusahaan client yang barada di luar kota seperti Air Mancur di Surakarta, Indosat di Medan, dan Unocal di Balikpapan sehingga komunikasi antara client dan perusahaan memerlukan waktu yang terbatas serta biaya yang tidak sedikit.

Selain mendapatkan produk yang sesuai dengan permintaan client, client juga menginginkan layanan paska pengembangan produk berupa garansi masa pemeliharaan produk, perbaikan produk jika mengalami ketidaksesuaian, dan bantuan dalam menyelesaikan incident yang mungkin timbul pada produk yang digunakan. Berdasarkan pada fakta di atas, PT. Tridas Widiantara masih perlu meningkatkan kualitas dukungan layanan terhadap client terkait produk yang digunakan client. Perusahaan memerlukan suatu sistem yang mendukung layanan terhadap client yang dapat memberikan penyelesaian masalah secara tepat, sederhana, dan sesuai dengan harapan atau keinginan client, serta memberikan kenyamanan dan kepercayaan pada client.

Studi Pustaka
Dari hasil analisis dan perumusan masalah, dilakukan studi pustaka untuk mencari alternative pemecahan masalah yang terjadi dalam PT Tridas Widiantara. Pada tahap ini dilakukan pembelajaran terhadap ITIL framework yang akan diterapkan pada perusahaan sebagai solusi atas permasalahan mengenai kualitas pelayanan IT terhadap client.

Dari semua disiplin ITIL framework yang cukup luas, yang lebih sesuai untuk kondisi PT Tridas Widiantara saat ini adalah penerapan bagian disiplin service support, yaitu service desk dan incident management. Penerapan disiplin service desk dan incident management dilakukan karena pada service desk perusahaan dapat melakukan pencatatan laporan incident dari client dan eskalasi sehingga incident management perusahaan dapat lebih mudah dilakukan, terkontrol, dan terstruktur.
Studi Lapangan
Selain studi pustaka, juga dilakukan studi lapangan terkait dengan service desk yang akan diterapkan. Pada tahap ini dilakukan observasi terhadap aplikasi service desk yang banyak digunakan di dunia, yaitu ServiceCenter dari Peregrine System, HP OpenView Service Map dari HP, dan Unicenter ServicePlus Service Desk dari Computer Associate. Data aplikasi service desk tersebut diperoleh dari PT Tridas Widiantara.

ServiceCenter dan HP OpenView Service Map merupakan aplikasi service desk yang sangat besar dan lengkap. Aplikasi ini telah menerapkan ITIL framework secara penuh dan mencakup seluruh disiplin dalam ITIL. Sedangkan Unicenter ServicePlus Service Desk tidak selengkap aplikasi service desk lainnya. Aplikasi ini menerapkan sebagian ITIL framework, yaitu fokus kepada ITSM.
Analisis Sistem
Pada tahap ini dilakukan analisis terhadap sistem yang akan dikembangkan berdasar pada hasil rumusan masalah yang terjadi di perusahaan. Dalam manajemen pelayanan IT perusahaan, masalah-masalah yang paling sering muncul adalah :

– Sulitnya pencatatan keluhan-keluhan atau pertanyaan-pertanyaan dari client yang masuk.
– Penyampaian penyelesaian masalah yang diberikan kepada client selama ini kurang efektif dan efisien.
– Komunikasi dalam pelayanan terhadap client kurang lancar .
– Client menghendaki pelayanan yang optimal .

Untuk mengatasi masalah tersebut maka diperlukan sistem manajemen service desk yang dapat mempermudah perusahaan dalam menangani dan mengolah data laporan insiden dari client. Selain itu sistem juga harus dapat mengelompokkan masalah, melakukan penunjukan personal untuk menangani masalah, memberikan informasi status dari suatu masalah, dan melakukan dokumentasi masalah yang sudah terselesaikan.

Pengguna sistem dibagi menjadi empat, yaitu client, operator, tim support (engineer), dan administrator. Client adalah pihak perusahaan yang menjadi client PT. Tridas Widiantara. Pada sistem ini, client dapat membuat, meng-update, atau menutup call ticket. Setelah client membuat atau mengubah call ticket, operator segera menjawab, mengatur atau mengeskalasi call ticket kepada tim support, atau menutup call ticket. Tim support bertugas menyelesaikan danmenjawab persoalan tingkat lanjut yang diajukan oleh client dan tidak dapat ditangani secara langsung oleh operator. Administrator bertugas mengelola segala hal teknis yang berkaitan dengan sistem, seperti data pengguna, data produk, dan data perusahaan client.

Selain operator, keberadaan tim support tetap dibutuhkan untuk memberikan solusi kepada client. Tingkat pengetahuan dan pengalaman tim support yang lebih tinggi dibutuhkan untuk memberikan solusi untuk mengatasi permasalahan client yang tidak dapat diselesaikan oleh operator.

Permasalahan Solusi Penerapan ITIL Framework
Tidak ada pencatatan laporan Pencatatan laporan menggunakan service desk
Sulit mengetahui perkembangan penanganan incident Melihat perkembangan dengan status call ticket
Sulit mengontrol proses penanganan incident Pencatatan dalam service desk yang mempermudah kontrol proses
Manajemen engineer tidak terkontrol Menerapkan escalation
Tabel 3.2 Permasalahan dan solusi penerapan ITIL Framework pada PT Tridas Widiantara
Selama ini, manajemen perusahaan hampir tidak pernah melakukan pencatatan laporan aktivitas perusahaan seperti progress report proyek dan final report proyek. Pelayanan yang dilakukan terhadap para client pun masih belum optimal. Dalam menjalin hubungan dengan client terkadang terjadi salah komunikasi dan pengertian sehingga menyebabkan incident tidak dapat ditangani dengan tepat dan segera sesuai dengan harapan client.
Dalam internal perusahaan sendiri juga masih terjadi kekacauan, di antaranya kesulitan dalam pengendalian proses penanganan incident yang sedang dihadapi oleh client. Di dalam perusahaan tidak ada kejelasan pembagian tugas dan tanggung jawab dalam pelayanan terhadap client.
Oleh karena itu, salah satu alternatif untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan mengembangkan sistem manajemen service desk yang berbasis web online sehingga client bisa berhadapan langsung dengan tenaga ahli PT. Tridas Widiantara dalam menangani kesulitan-kesulitan yang ada. Hasil analisis dan spesifikasi detil dari aplikasi service desk dimodelkan ke dalam diagram use case seperti yang ditunjukkan gambar dibawah ini.

Gambar diatas merupakan diagram use case sistem. Sistem ini diharapkan dapat melakukan pencatatan dan penyimpanan call ticket dari client sehingga staf perusahaan dengan segera dapat menangai incident yang terjadi. Sistem juga perlu dilengkapi dengan fungsi eskalasi yang memungkinkan call ticket diteruskan kepada engineer yang bertanggung jawab terhadap penanganan produk tertentu. Dengan begitu, perusahaan dapat memanfaatkan sistem manajemen service desk sebagai sebagian dari penerapan ITIL framework dan dapat meningkatkan pengelolaan layanan teknologi informasi.

Analisis Pemanfaatan Sistem Manajemen Service Desk

Setelah dilakukan penerapan sistem manajemen service desk pada PT Tridas Widiantara, control management perusahaan mengalami perubahan ke arah yang lebih baik. Semua dokumentasi dalam proses bisnis dapat tercatat dengan baik dan terstruktur sehingga dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan proses bisnis selanjutnya. Penerapan sistem manajemen service desk juga dapat meningkatkan kualitas dalam pelayanan perusahaan. Keuntungan yang didapat dari hasil penerapan ITIL framework tidak hanya pada peningkatan kualitas pelayanan, tetapi juga peningkatan di bidang internal (misalnya keuntungan produksi), inovasi perusahaan, dan keuangan.

Dengan adanya penerapan ITIL pada perusahaan, sumber daya manusia yang diperlukan dalam proses bisnis dapat dikurangi, yang tentu saja juga akan mengurangi biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan. Incident dapat diselesaikan dalam waktu yang jauh lebih singkat dibandingkan dengan pelayanan perusahaan yang tanpa menerapkan ITIL. Dan pada akhirnya, terjadi inovasi di dalam perusahaan di mana manajemen perusahaan menjadi lebih terkontrol dengan baik.

Untuk mendukung penggunaan sistem service desk dalam perusahaan diperlukan training khusus terhadap staf perusahaan yang berkaitan langsung dalam penerapan service desk ini, khususnya para staf yang bertugas sebagai operator dan engineer. Hal ini sangat diperlukan karena keberhasilan serta peningkatan kualitas dalam pelayanan terhadap client tidak semata-mata bergantung pada faktor sistem, tetapi juga bergantung pada SDM yang menggunakannya. Bersamaan dengan para staf yang terlatih, penerapan sistem manajemen service desk dalam perusahaan diharapkan akan lebih optimal.

Manfaat lain yang dapat diperoleh oleh perusahaan dalam penerapan ITIL framework sehubungan dengan penggunaan sistem manajemen service desk, antara lain :
– Melalui implementasi configuration management, service desk memiliki pengetahuan yang lebih besar mengenai hubungan antarpengguna, konfigurasi, dan incident.
– Dengan meningkatkan pengetahuan support level 1 (operator service desk) melalui problem management, organisasi dapat meningkatkan nilai resolusi level 1, dan kemudian mengurangi pekerjaan level 2 (engineer/tim support) yang biayanya empat sampai enam kali lebih mahal.
– Mengurangi waktu penanganan incident.
Kelebihan Sistem

Sistem manajemen service desk ini memiliki kelebihan dalam aspek peningkatan kualitas pelayanan terhadap client. Sistem ini dikembangkan dengan menerapkan metode ITIL, yaitu dengan mengaplikasikan service desk yang merupakan salah satu komponen service support dan sangat sesuai untuk peningkatan mutu perusahaan dalam persaingan bisnis dan teknologi sekarang ini.

Selain itu, dengan tampilan yang menarik, sederhana, dan user frendly, client dapat dengan mudah dan nyaman berinteraksi dengan pihak pengembang produk. Meskipun client berada di tempat yang jauh, perusahaan dan client dapat dengan cepat dan mudah berkomunikasi secara online sehingga incident yang dialami oleh client dapat sesegera mungkin terselesaikan. Biaya yang diperlukan dalam berkomunikasi dan menangani incident juga jauh lebih sedikit
dibandingkan dengan tanpa menerapkan sistem manajemen service desk.

Selain itu, penerapan sistem manajemen service desk diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan teknologi informasi kepada client. Dalam sistem manajemen service desk terdapat fungsi call ticket yang berfungsi mencatat segala laporan dari client mengenai incident yang dihadapi sehingga pihak perusahaan dapat dengan mudah mengetahui permasalahannya.

Sistem manajemen service desk juga dilengkapi dengan fitur eskalasi yang memungkinkan operator menunjuk engineer tertentu untuk menangani incident. Dengan begitu, client juga mengetahui siapa yang membantu menangani incident yang sedang dihadapi. Pencatatan yang terstruktur seperti itu memudahkan perusahaan dalam melakukan kontrol. Selanjutnya, perusahaan dan client dapat mengetahui perkembangan penanganan incident dengan baik karena adanya pencatatan yang valid tersebut. Sejauh mana penanganan suatu incident dapat diketahui melalui fungsi penentuan status call ticket yang terdapat dalam sistem.

BAB 4
PENUTUP

1.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian diperoleh kesimpulan :
• Pemanfaatan ITIL Framework sangat membantu sistem yang berjalan di PT. Tridas Widiantara.
• Penerapan ITIL Framework di PT. Tridas Widiantara memiliki beberapa masalah namun dapat teratasi oleh penyelesaian masalah.
• Penerapan ITIL Framework di PT. Tridas Widiantara terus berkembang.
• Dengan implementasi configuration management, service desk di PT. Tridas Widiantara dapat menyediakan kualitas pelayanan teknologi informasi yang tinggi kepada klien.

1.2 Saran
• Terkait dengan penelitian tentang kendala pelaksanaan ITIL Framework di PT. Tridas Widiantara, perkembangan ITIL Framework di PT. Tridas Widiantara dapat di adakan secara efektif dan efisien jika ada dukungan yang lebih baik dari karyawan dan diadakannya pelatihan.
• Penerapan ITIL Framework pada PT. Tridas Widiantara dapat berjalan dengan lebih baik dengan adanya update dan maintenance serta perhatian penuh dari pihak yang bersangkutan yang memanfaatkan dan menggunakan sistem tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Blokdijk, Gerard. (2008). ITIL V3 Foundation Complete Certification Kit. Australia: The Art of Service.
OGO. (2005). Introduction to ITIL. Netherlands: The Stationary Office.
Himi, Abdelaali, Samir Bahsani, Alami Semma. (2011). The IT Service Management according to the ITIL framework applied to the enterprise value chain. International Journal of Computer Science Issue , 515-522.
Infitharina, E. (2007). Penerapan ITIL Framework pada Sistem Manajemen Service Desk. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
[itSMF, Ltd] Information Technology Service Management Forum. 2004.IT Service Management, An Introduction Based on ITIL. United Kingdom: Van Haren Publishing.
Fowler M. 2004. UML Distilled, 3th Ed., A Brief Guide to the Standard Object

Pedersen, Allan Salling, Niels Bjørn-Andersen. Towards a framework for understanding adoption, implementation adn institusionalization ITIL. Denmark: Copenhagen Business School.
University, Bryant. ITIL Process Framework. Retrieved March 30, 2014, from http://bryant2.bryant.edu/: http://bryant2.bryant.edu/~commtech/itil_fw.html

LAMPIRAN
RIWAYAT HIDUP
Nama : Arni Virani
Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 26 Juli 1993
Alamat : Interkota blok A5 no. 11, Cengkareng, Jakarta Barat
No. Telepon : 08197670261
Email : ni.arnie@live.com
Jenis Kelamin : Wanita
Riwayat Pendidikan :
2011-sekarang Sistem Informasi
School of Information System, BINUS University
2008-2011 SMA Tarsisius 1
2005-2008 SMP Vianney
1999-2005 SD Vianney
1996-1999 TK Damai

Pengalaman Kerja :
2011 Sales Promotion Antivirus, Softlenses, MasterCard.
2012 PIC Mid-Year Gathering Novartis
2013 Volunteer untuk SUA Jakarta


RIWAYAT HIDUP
Nama : David Santoso
Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 13 Juni 1993
Alamat : Jl. Taman Meruya Ilir Blok I2 No.24, Jakarta Barat 11620
No. Telepon : 08988246820
Email : Santosodavid93@gmail.com
Jenis Kelamin : Laki – laki
Riwayat Pendidikan :
2011-sekarang Sistem Informasi
Peminatan : ERP
School of Information System, BINUS University
2008-2011 SMA SMA Pelita 2
2005-2008 SMP SMA Pelita 2
1999-2005 SD SMA Pelita 2
1996-1999 TK SMA Pelita 2

Pengalaman Kerja :
2011 – Sales Promotion PT. Unilever Indonesia
– Credit Card Sales Marketting of PT.UOB Buana Indonesia
2012 Liaison Officer of Asean English Olympic by BNEC


RIWAYAT HIDUP
Nama : Hendy Salim
Tempat, Tanggal Lahir : Bandar Lampung, 4 maret 1992
Alamat : Jl. Haji taisir no 5, Jakarta Barat
No. Telepon : 087899844883
Email : hendisalim21@yahoo.com
Jenis Kelamin : Laki – laki
Riwayat Pendidikan :
2011-sekarang Sistem Informasi
Peminatan : ERP
School of Information System, BINUS University
2008-2011 SMA Immanuel Bandar Lampung
2005-2008 SMP Immanuel Bandar Lampung
1999-2005 SD Immanuel Bandar Lampung
1996-1999 TK Immanuel Bandar Lampung

Pengalaman Kerja : –

RIWAYAT HIDUP
Nama : Rendy Rinaldo
Tempat, TanggalLahir : Tanjungpinang, 12 Juni 1993
Alamat : Gg. Keluarga No. 39 B, Kemanggisan, Jakarta Barat 11480
No. Telepon : 083873373828
Email : rendyrinaldo77@gmail.com
JenisKelamin : Laki – laki
RiwayatPendidikan :
2011-sekarang Sistem Informasi
Peminatan : ERP
School of Information System, BINUS University
2008-2011 SMAN 1 Tanjungpinang
2005-2008 SMPN 1 Tanjungpinang
1999-2005 SD Katolik
1996-1999 TK Djuwita

PengalamanKerja :
2013 Translator / Interpreter untuk Tech In Asia
2013 Volunteer untuk Startup Asia Jakarta
2012 – 2013 Tutor untuk kelas TOEFL dan PSP (Public Speaking and Performance)
2012 & 2013 Panitia di Binus Online Job Expo 2012 dan 2013

RIWAYAT HIDUP
Nama : Jennifer Pauling
Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 11 November 1993
Alamat : Jl. 21 No.12 B RT01 RW08 Teluk Gong, Jakarta Utara 14450
No. Telepon : 083893953885
Email : jenniferpauling11@gmail.com
Jenis Kelamin : Perempuan
Riwayat Pendidikan :
2011-sekarang Sistem Informasi
Peminatan : ERP
School of Information System, BINUS University
2008-2011 SMA Negeri 1 Tanjungpinang
2005-2008 SMP Negeri 5 Tanjungpinang
1999-2005 SD Swasta Katolik Tanajungpinang
1996-1999 TK Djuwita Tanjungpinang

Pengalaman Kerja :
2011-now – Math, Physics, and Chemistry Teacher at Proverbs Course
2012-now – Duta Binusian as Mentor in BINUS Student Learning Community (BSLC)
– English TOEFL Intermediate One Tutor in Bina Nusantara English Club (BNEC)

RIWAYAT HIDUP
Nama : Toni Sugino
Tempat, Tanggal Lahir : Pontianak, 20 Juni 1993
Alamat : Jl. Batusari Raya No.80, Palmerah, Jakarta Barat
No. Telepon : 089602466815
Email : toni_sho@ymail.com
Jenis Kelamin : Laki – laki
Riwayat Pendidikan :
2011-sekarang Sistem Informasi
Peminatan : ERP
School of Information System, BINUS University
2008-2011 SMA Gembala Baik
2005-2008 SMP Gembala Baik
1999-2005 SD Gembala Baik
1996-1999 TK Gembala Baik

Pengalaman Kerja :
2013 Translator / Interpreter for Tech In Asia
2013 Liaison Officer / Volunteer for Startup Asia Jakarta

Posted in Topik Topik Lanjutan SI | Comments Off on Evaluasi Penerapan ITIL Pada Sistem Manajemen Service Deck

Opportunity to have Global Careers with Multinational Company

Universitas Bina Nusantara
______________________________________________________________________

Jurusan Sistem Informasi
School of Information Systems
Tugas Paper
M0214 – Topik-Topik Lanjutan Sistem Informasi
Semester Genap tahun 2013/2014
Halaman Abstrak
Opportunity to have Global Careers with Multinational Company

Kelas / Kelompok: 06PKM / 05

Anggota Kelompok:
Arni Virani : 1501155411
Toni Sugino : 1501169865
Hendy Salim : 1501178522
Rendy Rinaldo : 1501188473
Jennifer Pauling : 1501189053
David Santoso : 1501194015

ABSTRAK
Perusahaan multinasional adalah sebuah perusahaan yang memiliki kantor pusat di banyak negara lain dan umumnya menggunakan sistem desentralisasi dalam pengambilan keputusan. Hingga saat ini telah berdiri berbagai macam perusahaan multinasional yang telah berkiprah cukup lama. Banyak perusahaan multinasional ini ditandai dengan adanya unit produksi atau perwakilannya di luar negara asal dan secara tidak langsung mereka memiliki program, kebijakan yang lebih kompleks dalam menjalankan bisnisnya atau dalam merekrut sumber daya manusianya. Salah satu contoh dari perusahaan global adalah perusahaan Accenture. Sebagai salah satu perusahaan multinasional, Accenture telah berhasil membuktikan kiprahnya di kancah internasional dengan berbagai struktur kebijakan yang ada serta inovasi dan teknologi yang digunakan.
Kata kunci: Perusahaan multinasional, kebijakan


BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Pertumbuhan perusahaan multinasional di Indonesia bisa dikategorika sebagai pertumbuhan yang cukup cepat. Secara tidak langsung, hal ini didukung dengan adanya perjanjian kerjasama secara global untuk mengadakan daerah pasar bebas yang mendorong banyak pihak eksternal atau yang dalam hal ini adalah perusahaan-perusahaan besar untuk berinvestasi ke negara-negara berkembang yang memiliki kelebihan dalam aspek Sumber Daya Manusia dan bahan baku yang mudah di dapatkan pada kawasan Asia Tenggara, khususnya Indonesia.

Dalam dekade terakhir ribuan perusahaan telah bermunculan dan tumbuh di Indonesia. Dari ribuan perusahaan yang ada, beberapanya telah memiliki sebuah perputaran roda bisnis yang besar dan telah mengekspansi roda bisnisnya ke negara lain. Hal inilah yang disebut dengan perusahaan multinasional, Sebagai perusahaan yang termasuk dalam skala besar, perusahaan-perusahaan ini selalu diidolakan oleh para pencari kerja dari segala belahan dunia dikarenakan mereka telah memiliki sebuah struktur yang baik dalam menjalankan bisnisnya.

Adapun yang dimaksud struktur di sini tidak hanya menyangkut struktur organisasi namun juga berkaitan dengan perihal bagaimana ia menjalankan bisnisnya, nilai yang diusung perusahaan terbseut dan bagaimana cara perusahaan tersebut memperlakukan sumber dayanya. Maka tidak bisa dipungkiri bahwa perusahaan multinasional selalu dijadikan patokan atau standar bagi perusahaan lain dalam rangka meningkatkan bisnis mereka. Salah satu perusahaan multinasional yang telah membuktikkan performanya sebagai perusahaan multinasional adalah Accenture Indonesia. Untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai segala hal terhadap perusahaan multinasional khususnya dari sisi sumber dayanya dan strategi yang digunakan; penulis dalam kesempatan ini mengambil Accenture Indoensia sebagai pembahasan dalam penulisan makalah ini.

1.2 Ruang Lingkup
Berikut adalah batasan cakupan dari karya tulis ini, antara lain:

1. Pembahasan menjelaskan tentang keadaan dan sejarah Accenture
2. Penjelasan mengenai kebijakan yang dijalankan di perusahaan Accenture dimulai dari program dan tunjangan, tahap perekrutan, jenjang karir, dan lingkungan kerja di Accenture.

1.3 Tujuan dan Manfaat
Tujuan dasar yang ingin dicapai dalam penyusunan karya tulis ini adalah:

1. Memahami bagaimana perusahaan multinational Accenture mengelola sumber daya manusianya yang dimulai dari proses perekrutan, jenjang karir dan program serta tunjangan yang diberikan.
2. Memahami bagaimana strategi Accenture dalam menajalankan bisnisnya

Sedangkan beberapa manfaat yang diperoleh sebagai hasil evaluasi dalam karya tulis ini, antara lain:
1. Dapat mengetahui bagaimana perusahaan multinasional, Accenture, menjalankan roda bisnisnya dan secara kritis mempelajari hal-hal positif dari perusahaan Accenture

1.4 Metodologi Penulisan
Dalam penulisan karya tulis ini dipergunakan berbagai informasi pendukung berdasarkan metode studi kepustakaan yang diperoleh melalui berbagai sumber, seperti buku penunjang, jurnal-jurnal online, skripsi dan beberapa website yang menyediakan informasi mengenai perusahaan global. Berdasarkan informasi dari berbagai sumber iniakan dibuat sebuah pembahasan tentang perusahaan multinational yakni perusahaan Accenture.

1.5 Sistematika Penulisan
Karya tulis ilmiah ini terdiri atas beberapa bab pembahasan, yaitu :

• BAB 1 : PENDAHULUAN
Pada bab ini akan dijelas mengenai pemahaman awal tentang perusahaan multinationalsecara umum dan secara khusus mengenai bagaimana perusahaan multinational bergerak dalam bidangnya masing-masing, yang terdiri atas latar belakang, ruang lingkup, tujuan dan manfaat penulisan, serta metodologi penulisan laporan.

• BAB 2 : LANDASAN TEORI
Pada bab ini berisikan teori-teori umum hingga teori khusus yang dijadikan sebagai dasar pengetahuan untuk memahami pengertian, ciri-ciri, hambatan, karakter dan teknologi yang digunakan di perusahaan multinasional

• BAB 3 : PEMBAHASAN
Pada bab ini akan dijelaskan pembahasan inti tentang pelaksanaan kegiatan dan kebijakan dalam perusahaan multinasional, Accenture.

• BAB 4 : PENUTUP
Bab ini akan memaparkan kesimpulan dari keselurhan pembahasan mengenai pelaksanaan dan kebijakan yang ada di dalam perusahaan Accenture, serta memaparkan beberapa saran untuk solusi atas permasalahan yang terjadi di perusahaan Accenture.
BAB 2
LANDASAN TEORI

2.1 Definisi tentang multinasional company
Sebuah perusahaan yang memiliki fasilitas dan asset lebih dari satu negara selain Negara asalnya. Perusahaan seperti ini memiliki kantor dan pabrik di Negara berbeda dan biasanya memiliki kantor pusat yang terpusat di mana dapat mengkoordinasikan manajemen global. Perusahaan multinasional yang sangat besar memiliki anggaran yang lebih besar dibandingkan banyak negara kecil. (Multinational Corporation, 2014)
Multinasional company memiliki kode etik bagi perusahaan, dapat didefinisikan sebagai seperangkat prinsip yang disetujui perusahaan secara sukarela untuk mematuhinya dalam segala konteks kegiatan yang dilakukan perusahaan. Prinsip – prinsip ini mungkin berhubungan dengan aspek – aspek yang beragam seperti praktek perdagangan, perilaku dan etika perusahaan, standar lingkungan, kondisi kerja dan hak asasi manusia, dan berlaku untuk anak perusahaannya

2.2 Hambatan perkembangan multinasional company
Beberapa hambatan dalam pengembangan multinational company, yaitu :

1. Batasan Perdagangan dan Tarif bea cukai
Dalam melaksanakan bisnis internasional khususnya yang berbentuk perdagangan internasional yaitu ekspor atau impor, hambatan utamanya akan berupa hambatan dalam hal perdagangan serta sering terjadinya pembatasan-pembatasan tarif bea masuk. Hambatan inilah yang selalu menjadi objek perdebatan antar bangsa-bangsa yang belangsung dalam sidang internasional “ GATT “ yaitu singkatan dari “General agreement on Tariffs and Trade”.
Hambatan perdagangan adalah antara lain berupa pemilihan partner dagang dari suatu Negara tertentu saja yang biasanya partner tersebut dipilih atas dasar pertimbangan baik ekonomis maupun nonekonomis.

2. Perbedaan bahasa, sosial budaya/kultural
Perbedaan dalam bahasa sering kali merupakan hambatan bagi kelancaran bisnis internasional, hal ini disebabkan karena bahasa adalah merupakan alat komunikasi yang vital baik bahsa lisan maupun bahsa tulis.Perbedaan kondisi sosial budaya merupakan suatu masalah yang harus di cermati pula dalam melakukan bisnis internasional.

3. Kondisi politik dan hukum/ perundang-undangan
Ketentuan hukum atau pun perundang-undangan yang berlaku di suatu Negara kadang juga membatasi berlangsungnya bisnis internasional.Misalnya Negara-Negara Arab melarang barang-barang mengandung daging maupun minyak Babi.

4. Hambatan Operasional
Transportasi sering kali sukar untuk dilakukan karena anatra kedua Negara itu belum memiki jalur pelayaran kapal laut yang reguler . (Cess,2013)

2.3 Ciri – ciri perusahaan multinasional
Ciri – ciri perusahaan multinasional antara lain :
1. Lingkup kegiatan income generating (perolehan pendapatan) perusahaan multinasional melampau batas- batas Negara.
2. Perdagangan dalam perusahaan multinasional kebanyakan terjadi di dalam lingkup perusahaan itu sendiri, walaupun antarnegara.
3. Control terhadap pemakaian teknologi dan modal sangat diutamakan mengingat kedua factor tersebut merupakan keuntungan kompetitif perusahaan multinasional.
4. Pengembangan system managemen dan distribusi yang melintasi batas-batas Negara, terutama system modal ventura, lisensi dan franchise.

2.4 Karakter Perusahaan Multinasional
Perusahaan multinasional biasanya memiliki ciri – ciri :
1. Membentuk cabang – cabang di luar negeri
2. Visi dan strategi yang digunakan untuk memproduksi suatu barang bersifat global (mendunia), jadi perusaan tersebut membuat atau menghasilkan barang yang dapat digunakan di semua negara.
3. Lebih cenderung memilih kegiatan bisnis tertentu, umumnya manufaktur.
4. Menempatkan cabang pada negara – negara maju.
5. Kehadiran anak perusahaan bagi negara cabang banyak memberikan keuntungan untuk negara tersebut diantaranya pemberian pajak untuk perusahaan tersebut yang cukup besar.Tidak hanya itu, dengan adanya suatu anak perusahaan dinegara lain, berarti sedikit membantu membuka peluang kerja bagi penduduk yang belum kerja dinegara tersebut.

2.5 Contoh- contoh perusahaan Multinasional yang ada di Indonesia
1. DUNKIN DONUTS
Dunkin’Donuts pertama kali masuk ke Indonesia melalui Penanaman Modal Asing Langsungnya dengan membuka perusahaan pertamanya di Jakarta. Dunkin’ Donuts sebelumnya juga telah membuka cabang-cabangnya (franchise) di berbagai negara, seperti negara-negara di Eropa. Dunkin’Donuts pada mulanya tumbuh dan berkembang di kota Boston, Amerika Serikat pada tahun 1940 (dengan nama awal Open Kettle). Kemudian perusahaan ini terus tumbuh dan berkembang hingga akhirnya pada tahun 1970, Dunkin’Donuts telah berhasil menjadi perusahaan dengan merek internasional. Kemudian pada tahun 1983 perusahaan Dunkin’Donuts dibeli oleh Domecq Sekutu (Allied Domecq) yang juga membawahi Togo’s dan Baskin Robins. Di bawah Allied Domecq, perluasan pasar Dunkin’Donuts secara internasional semakin diintensifkan. Hingga akhirnya gerai Dunkin’Donuts tersebar tidak hanya di benua Amerika saja, tetapi juga meluas ke benua-benua seperti Eropa dan Asia. Di Indonesia sendiri, Dunkin’ Donuts mulai merambah pasarnya pada tahun 1985 dengan gerai pertama didirikan di Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Pusat. Khusus wilayah Indonesia, master franchise Dunkin’Donuts dipegang oleh Dunkin’ Donuts Indonesia[10]. Saat pertama kali Dunkin’Donuts membuka gerai pertamanya di Indonesia (pada tahun 1980-an), tidak ada reaksi keras dari masyarakat yang menentang perusahaan tersebut untuk masuk.Masyarakat cenderung menganggap positif atas upaya perusahaan tersebut dalam memperluas jaringan pasarnya.Mereka justru cenderung merasa senang atas hadirnya Dunkin’Donuts di Indonesia.
2. LEVI’S JEAN
Sebuah kisah menggambarkan sejarah celana jeans yang telah diciptakan oleh Levi Strauss tahun 1880 ini, delapan tahun setelah jeans masuk ke Amerika Serikat (AS) tahun 1872. Jeans Levis pertama kali dibuat di Genoa, Italia tahun 1560-an. Kain celana ini biasa dipakai oleh angkatan laut. Orang Prancis menyebut celana ini dengan sebutan “bleu de Génes”, yang berarti biru Genoa. Meski tekstil ini pertama kali diproduksi dan dipakai di Eropa, tetapi sebagai fashion, jeans dipopulerkan di AS oleh Levi Strauss, seorang pemuda berusia dua puluh tahunan yang mengadu peruntungannya ke San Francisco sebagai pedagang pakaian.Ketika itu, AS sedang dilanda demam emas.Levi Strauss & Co. adalah produsen pakaian Amerika Serikat yang didirikan pada tahun 1853 oleh Levi Strauss. Perusahaan ini bersifat internasional dengan 3 divisi geografis Levi Strauss North Americas, bermarkas di San Francisco, Levi Strauss Europe, dengan markas di Kota Brusel dan Levi Strauss Asia Pacific, markas di Singapura. Jumlah karyawan perusahaan Levi Strauss & Co.sampai saat ini telah mencapai sekitar 8.850 di seluruh dunia.
3. EPSON
Awalnya EPSON yang ada saat ini memang bukan berasal dari Indonesia.Produk asal Jepang ini menjadikan Indonesia menjadi pusat produksinya didunia. Epson sesungguhnya berawal dari usaha jam merek Seiko. Ya, merek jam yang selama ini kita kenal itu merupakan cikal bakal berdirinya EPSON. Boleh dibilang EPSON adalah anak kandung Seiko.Didirikan Hisao Yamazaki pada 1942, Seiko berada di bawah bendera Daiwa Kogyo. Kala itu, Seiko amat terkenal akan keunggulannya dalam teknologi presisi kinetiknya. Teknologi ini sangat memperhatikan detail, ketepatan, serta keakuratan secara mekanis dan berulang. Sebuah teknologi yang mencerminkan gaya hidup orang Jepang.
4. KFC
KFC (dulu dikenal dengan nama Kentucky Fried Chicken) adalah suatu merek dagang waralaba dari Yum! Brands, Inc., yang bermarkas di Louisville, Kentucky, Amerika Serikat. Didirikan oleh Col. Harland Sanders, KFC dikenal terutama karena ayam gorengnya, yang biasa disajikan dalam bucket. Col. Sanders mulai menjual ayam gorengnya di pom bensin miliknya pada tahun 1939 di Corbin, Kentucky yang selanjutnya pindah ke sebuah motel. Ia menutup usahanya pada akhir 1940-an sewaktu jalan tol Interstate melalui kotanya. Pada awal 1950-an, ia mulai berkeliling Amerika Serikat dan bertemu dengan Pete Harman di Salt Lake City, Utah, dan pada tahun 1952 bersama-sama mendirikan restoran Kentucky Fried Chicken yang pertama di dunia (restoran pertamanya tidak menggunakan nama tersebut). Sanders menjual seluruh waralaba KFC pada tahun 1964 senilai 2 juta USD, yang sejak itu telah dijual kembali sebanyak tiga kali. Pemilik terakhir adalah PepsiCo, yang menggabungkannya ke dalam divisi perusahaan Tricon Global Restaurants yang sekarang dikenal sebagai Yum! Brands, Inc. Pada tahun 1997, Tricon terpisah dari PepsiCo. Di Indonesia, pemegang hak waralaba tunggal KFC adalah PT. Fastfood Indonesia, Tbk (IDX: FAST) yang didirikan oleh Kelompok Usaha Gelael pada tahun 1978, dan terdaftar sebagai perusahaan publik sejak tahun 1994. Restoran KFC pertama di Indonesia dibuka pada bulan Oktober 1979 di Jalan Melawai, Jakarta.
5. LG
Didirikan pada 1947, Lucky Chemical Industrial Co. (sekarang disebut LG Chemical), adalah merupakan perusahaan kimia pertama di Korea. Perusahaan ini merupakan sebuah kerja sama antara keluarga Koo dan Heo, yang telah memiliki bisnis yang saling bersaing satu sama lain untuk beberapa generasi. Grup ini memperluas ke peralatan rumah tangga pada 1958 di bawah nama Goldstar Electronics Co. GeumSung being Planet Venus)(sekarang disebut LG Electronics), yang merupakan perusahaan elektronik pertama di negara tersebut. LG Indonesia didirikan pada 15 Desember 1990 yang berpusat di Gedung Garuda Indonesia. LG Indonesia juga sebagai sponsor resmi Persija Jakarta
6. BLACKBERRY
Berawal dari perusahaan kecil dengan modal hasil pinjaman, RIM berkembang menjadi perusahaan yang paling di kagumi dan di hormati dai Kanada. Kisah sukses perusahaan dengan nama lengkap Research In Motion Ltd, berawal dari keinginan seorang pemuda yang di drop out dari kampusnya untuk membuktikan diri. Adalah seorang yunani bernama Mike Lazardis yang berimigrasi dari Turki ke Kanada pada th 1967. Usianya yang ke 23 Lazardis mendapat kenyataan pahit karena di keluarkan dari Universitas Waterloo, dimana dia mendalami teknik elektro.Lazardis mendapat pinjaman modal usaha dari teman dan keluarganya. Dengan modal tersebut, Lazarsis dan dua temannya mendirikan RIM di Waterloo,Ontario Kanada th 1984. BlackBerry pertama kali diperkenalkan di Indonesia pada pertengahan Desember 2004 oleh operator Indosat dan perusahaan Starhub.Perusahaan Starhub merupakan pengejewantahan dari RIM yang merupakan rekan utama BlackBerry.

2.6 Dampak perusahaan Multinasional
Dewasa ini kehadiran perusahaan-perusahaan multinasional di bidang ekonomi dan politik dunia, terasa sangat mencolok.Perusahaan-perusahaan multinasional yang “menancapkan kukunya” juga tentu saja memberikan implikasi kepada, saya sebut sebagai, Negara yang di’ekspansi’nya, baik dampak positif maupun dampak negatifnya.Dampak positif pertama yang paling sering disebut-sebut sebagai sumbangan positif penanaman modal asing ini adalah, peranannya dalam mengisi kekosongan atau kekurangan sumber daya antara tingkat investasi yang ditargetkan dengan jumlah actual “tabungan domestik” yang dapat dimobilisasikan. Dampak positif kedua adalah, dengan memungut pajak atas keuntungan perusahaan multinasional dan ikut serta secara financial dalam kegiatan-kegiatan mereka di dalam negeri, pemerintah Negara-negara berkembang berharap bahwa mereka akan dapat turut memobilisasikan sumber-sumber financial dalam rangka membiayai proyek-proyek pembangunan secara lebih baik.
Dampak positif ketiga adalah, perusahaan multinasional tersebut tidak hanya akan menyediakan sumber-sumber financial dan pabrik-pabrik baru saja kepada Negara-negara miskin yang bertindak sebagai tuan rumah, akan tetapi mereka juga menyediakan suatu “paket” sumber daya yang dibutuhkan bagi proses pembangunan secara keseluruhan, termasuk juga pengalaman dan kecakapan manajerial, kemampuan kewirausahaan, yang pada akhirnya nanti dapat dimanifestasikan dan diajarkan kepada pengusaha-pengusaha domestic
Dampak positif keempat adalah, perusahaan multinasional juga berguna untuk mendidik para manajer local agar mengetahui strategi dalam rangka membuat relasi dengan bank-bank luar negeri, mencari alternative pasokan sumber daya, serta memperluas jaringan-jaringan pemasaran sampai ke tingkat internasional. Dampak positif kelima adalah, perusahaan multinasional akan membawa pengetahuan dan teknologi yang tentu saja dinilai sangat maju dan maju oleh Negara berkembang mengenai proses produksi sekaligus memperkenalkan mesin-mesin dan peralatan modern kepada Negara-negara dun ia ketiga.
Selain dampak positif yang telah dikatakan diatas, tentu saja dalam pelaksanaan kegiatan ekonominya, perusahaan multinasional juga mempunyai dampak negatif yang terjadi pada Negara tamu.Pada umumnya pasar yang menjadi sasaran pemasaran perusahaan multinasional ini memang adalah Negara-negara yang notabenenya adalah Negara-negara yang sedang berkembang atau Negara-negara dunia ketiga. Hal ini mereka lakukan karena Negara-negara dunia ketiga ini dinilai belum mempunyai perlindungan yang baik atau belum mempunyai “kekuatan” yang cukup untuk menolak “kekuatan” daripada perusahaan-perusahaan raksasa multinasional ini sehingga bukan tidak mungkin mereka bisa melakukan intervensi terhadap pemerintahan yang dilangsungkan oleh Negara yang bersangkutan, atau dengan kata lain Negara-negara ini menghadapi dilema di mana sebagian besar negara terlalu lemah untuk menerapkan prinsip aturan hukum, dan juga perusahaan-perusahaan raksasa ini sangat kuat menjalankan kepentingan ekonomi untuk keuntungan mereka sendiri.
Kemudian kita juga harus menyadari bahwa perusahaan-perusahaan mutinasional ini tidak tertarik untuk menunjang usaha pembangunan suatu Negara.Perhatian mereka hanya tertuju kepada upaya maksimalisasi keuntungan atau tingkat hasil financial atas setiap sen modal yang mereka tanamkan.Perusahaan-perusahaan multi nasional ini senantiasa mencari peluang ekonomi yang paling menguntungkan, dan mereka tidak bisa diharapkan untuk memberi perhatiam kepada soal-soal kemiskinan, ketimpangan pendapatan dan lonjakan pengangguran.Pada umumnya, perusahaan-perusahaan multinasional hanya sedikit memperkerjakan tenaga-tenaga setempat.Operasi mereka cenderung terpusat di sector modern yang mampu menghasilkan keuntungan yang maksimal yaitu di daerah perkotaan.
Selain tidak bisa diharapkan untuk ikut membantu mengatasi masalah ketenagakerjaan di Negara tuan rumah, mereka bahkan seringkali memberi pengaruh negative terhadap tingkat upah rata-rata, karena mereka biasanya memberikan gaji dan aneka tunjangan kesejahteraan yang jauh lebih tinggi ketimbang gaji gaji rata-rata kepada para karyawannya, baik itu yang berasal dari Negara setempat atau yang didatangkan dari Negara-negara lain. Di atas telah dikatakan bahwa keuatan mereka juga ditunjang oleh posisi oligopolitik yang mereka genggam dalam perekonomian domestik atau bahkan internasional pada sektor atau jenis-jenis produk yang mereka geluti.Hal ini bertolak berlakang dari keyataan bahwa mereka cenderung beroperasi di pasar-pasar yang dikuasai oleh beberapa penjual dan pembeli saja. Situasi seperti ini memberi mereka kemampuan serta kesempatan yang sangat besar untuk secara sepihak menentukan harga-harga dan laba yang mereka kehendaki, bersekongkol dengan perusahaan lainnya dalam membagi daerah operasinya serta sekaligus untuk mencegah atau membatasi masuknya perusahaan-perusahaan baru yang nantinya dikhawatirkan akan menjadi saingan mereka.
Hal-hal tersebut mereka upayakan dengan menggunakan kekuatan yang mereka miliki dalam penguasaan teknologi-teknologi baru yang paling canggih dan efisien, keahlian-keahlian khusus, diferensiasi produk, serta berbagai kegiatan periklanan secara gencar dan besar-besaran untuk mempengaruhi, kalau perlu mengubah, selera dan minat konsumen. Kemudian walaupun dampak-dampak awal (berjangka awal) dari penanaman modal perusahaan multinasional memang dapat memperbaiki posisi devisa Negara yang menerima mereka (Negara tuan rumah), tetapi dalam jangka panjang dampak-dampaknya justru negatif, yakni dapat mengurangi penghasilan devisa itu, baik dari sisi neraca transaksi berjalan maupun neraca modal. Neraca transaksi berjalan bisa memburuk karena adanya impor besar-besaran atas barang-barang setengah jadi dan barang modal oleh perusahaan multinasional itu, dan hal tersebut masih diperburuk lagi oleh adanya pengiriman kembali keuntungan hasil bunga, royalty, dan biaya-biaya jasa manajemen ke Negara asalnya. Jadi praktis pihak Negara tuan rumah tidak memperoleh bagian keuntungan yang adil dan wajar.
Selain itu perusahaan-perusahaan multinasional berpotensi besar untuk merusak perekonomian tuan rumah dengan cara menekan timbulnya semangat bisnis para usahawan local, dan menggunakan tingkat penguasaan pengetahuan teknologi mereka yang superior, jaringan hubungan luar negeri yang luas dan tertata baik, keahlian dan agresivitas di bidang periklanan, serta penguasaan atas berbagai berbagai jenis jasa pelengkap lainnya untuk mendorong keluar setiap perusahaan local yang cukup potensial yang dianggap mengganggu atau mengancam dalam kancah persaingan, dan sekaligus untuk menghalangi munculnya perusahaan-perusahaan baru yang berpotensi untuk menjadi saingan mereka. Perusahaan-perusahaan multinasional juga sering menggunakan kekuatan ekonomi mereka untuk mempengaruhi, menyuap, dan memanipulasi berbagai kebijakan pemerintah di Negara tuan rumah ke arah yang tidak menguntungkan bagi pembangunannya.

2.7 Keuntungan Multinasional Company

Beberapa Keuntungan Multinasional Company bagi negara tuan rumah, yaitu
1. Tingkat investasi, tingkat pekerjaan, dan tingkat pendapatan dari negara tuan rumah meningkat karena operasi multinasional company.
2. Industri dari Negara tuan rumah mendapatkan teknologi terbaru dari Negara – Negara asing melalui multinasional company.
3. Bisnis Negara tuan rumah juga mendapatkan kemampuan management dari Multinasional company.
4. Pedagang domestic dan perantara pasar negara tuan rumah akan meningkatakn bisnis dari pengoperasian multinasional company.
5. MNC break proctectionalism, mengekang monopoli local, menciptakan persaingan Antara perusahaan domestic dan dapat meningkatkan daya saing perusahaan.
6. Industri dalam negeri dapat menggunakan RnD (Research and development) dari hasil multinasional company.
7. Negara tuan rumah dapat mengurangi impor dan meningkatkan ekspor karena barang yang diproduksi oleh MNC di negara tuan rumah. Hal ini membantu untuk meningkatkan neraca pembayaran.
8. Tingkat pembangunan industry dan ekonomi akibat pertumbuhan MNC di Negara tuan rumah. (Soni, 2012)
2.7 Teknologi yang digunakan MNC untuk merekrut pegawai baru
2.7.1 Internet
Internet adalah jaringan komputer di seluruh dunia yang memungkinkan ” berbagi ” atau ” jaringan ” di lokasi terpencil dari lembaga lain akademis , perusahaan swasta , instansi pemerintah , dan individu .
Menurut Kelly , internet adalah jaringan dari jaringan yang menghubungkan semua komputer dari seluruh dunia menggunakan TCP / IP sebagai prosedur standar.

2.7.2 URL
Uniform Resource Locator ( URL ) dapat ditentukan sebagai alamat kontak di World Wide Web . Ini adalah himpunan surat-surat yang menunjuk ke lokasi sumber daya yang spesifik di web. Contoh URL adalah http://www.siluwed-club.com .

2.7.3 HTTP
Hypertext Transfer Protocol ( HTTP ) adalah protokol level aplikasi yang digunakan untuk transfer atau menyampaikan informasi di World Wide Web . Ini adalah protokol request / respon yang relatif sederhana antara klien dan server . Ini mendefinisikan bagaimana klien meminta halaman web dari server dan bagaimana mentransfer server halaman web untuk klien . Ketika klien meminta halaman web , browser mengirim pesan permintaan HTTP untuk objek dalam halaman untuk server . Server menerima permintaan pesan dan merespon dengan pesan respon HTTP yang berisi benda-benda

2.7.4 Web browser
Web browser adalah aplikasi perangkat lunak yang memungkinkan pengguna untuk menampilkan dan berinteraksi dengan informasi yang terletak di halaman web . Aplikasi ini berkomunikasi melalui HTTP , mengatur HTML , dan menampilkan beberapa jenis data teks, grafik , dan suara. Beberapa contoh browser adalah Internet Explorer , Mozilla Firefox , Opera , dan Netscape .

2.7.5 HTML
HTML ( Hyper Text Markup Language ) adalah bahasa untuk membuat halaman web . HTML berisi campuran teks biasa dengan ” markup ” tag yang menjelaskan teks . Tag ini menggambarkan penampilan atau tata letak teks dan konten . Meski begitu keputusan penampilan dan tata letak masih tergantung pada browser

2.7.6 Hypertext Preprocessor (PHP)
Menurut(Brooks:1-2) PHP adalah bahasa server-side yang dokumennya terletak pada server lokal bukan didownload pada komputer klien lokal, sehingga mampu mengakses file dari server lokal dan mengolah informasi dari sebuah dokumen HTML. Oleh karena itu, PHP merupakan bahasa scripting yang terpasang pada HTML yang mampu memberikan beberapa keuntungan pada website (Powers : 1) yaitu :
 Memberikan umpan balik secara langsung dari website ke mailbox.
 Mengupload file melalui web page.
 Menampilkan gambar dengan pixel yang besar.
 Membaca dan menulis file.
 Menampilkan dan mengupdate informasi secara dinamis.
 Menggunakan database untuk menampilkan dan menyimpan informasi.
 Membuat website mudah dicari.

Berdasarkan kelebihan di atas, kita mengetahui bahwa PHP telah mendukung sistem database dalam pengolahan informasinya, seperti Oracle, MySQL, Sybase, PostgreSQL, dsb. Sedangkan kerangka kerja (framework) PHP yang sering digunakan antara lain CakePHP, CodeIgniter, Prado, Symfony, Zend Framework, Yii, PHPDevShell, Akelos, QPHP, dan ZooP. Pada dasarnya PHP mendukung delapan tipe data, yaitu boolean, integer, float/double, string, array, object, resource, dan null.

2.7.7 My Sql
Menurut (Sheldon dan Moes: 1)MySql adalah server database relasional (Relational Database Management System) yang menawarkan fitur yang sama ditemukan dalam bersaing produk SQL lainnya, dengan kata lain MySql mempersiapkan filtur-filtur yang hampir mirip dengan database management system lainnya sesuai dengan standar SQL. Mysql merupakan open source yang memberikan license-license gratis kepada para pengguna sehingga database management system ini menjadi sangat populer.
Salah satu kelebihan dari DBMS(Database Management System) Mysql adalah Fleksibilitas. Sistem opersai apapun yang digunakan komputer dapat dijalankan oleh My Sql ke local hostnya, user dapat mengoptiomalkan binari yang sudah tersedia untuk 14 platform.Selanjutnya, mysql membuat source code yang tersedia untuk didownload jika binari tidak tersedia dalam platform Anda, atau jika user ingin melakukan kompilasi sendiri. Berbagai macam API (Application Programming Interface) juga tersedia untuk berbagai bahasa pemrograman yang sangat populer, termasuk, C, C + +, Java, Perl, PHP, Ruby dan Tel.
2.7.8 XAMPP
XAMPP adalah perangkat lunak gratis server apache yang didalamnya terdapat database server MySql. XAMPP ini menjembatani antara pemrograman PHP dengan database MySql. XAMPP mendukung instalasi pada sistem opersai Windows dan Linux.

Gambar 2.1 Tampilan Control Panel XAMPP (Irawan, Yudie: 2011)

BAB3
PEMBAHASAN

3.1 Company Overview Accenture
Accenture membantu perusahaan dalam mengakses bagaimana cara memaksimalkan performa dan pekerjaan mereka untuk mencapat visi perusahaan tersebut. Accenture mengembangkan dan mengimplementasikan teknologi untuk meningkatkan produktifitas dan efisiensi klien – dan dapat bekerja sesuai dengan bisnis mereka. Accenture membuat klien menjadi bisnis performa tinggi.
Hal yang membuat Accenture berbeda pada pangsa pasar antara lain :
• Menjaga hubungan klien pada level C-suite dengan berbagai perusahaan global lainnya
• Pendalaman dan luas secara global di lebih dari 40 industri dan ratusan penawaran kunci bisnis dan isu teknologi
• Provider servis teknologi independen terbesar di dunia, dengan catatan bukti yang kompleks, proyek end-to-end
• Jaringan pengiriman global yang membantu klien dengan solusi kualitas tinggi, biaya rendah dan hasil yang lebih cepat
• Yang terbaik dalam industri, berspesialisasi pada industri tertentu dan / atau kemampuan teknologi
• Inovasi, kolaborasi dan teaming
Strategi “bisnis performa tinggi” milik Accenture adalah untuk menggunakan keahliannya dalam konsultasi, teknologi serta outsourcing untuk membantu klien dalam mencapai performa pada level tertinggi sehingga mereka dapat membuat nilai dan fungsi tinggi untuk pelanggan serta stakeholdernya. Accenture menggunakan pengetahuan industri dan proses bisnis, penawaran servis keahlian dan pandangan, dan pemahamannya, untuk mengembangkan teknologi dan bisnis baru untuk membuat dan mengimplementasikan solusi untuk klien Accenture.
Accenture menyediakan klien dengan servis bisnis end – to –end, yang berbasis pada industri, yang menghubungkan kemampuan konsultasi manajemen Accenture, teknologi dan kemampuan outsourcing proses bisnis.
Accenture memiliki hubungan ekstensif dengan perusahaan ternama di dunia dan pemerintahan serta bekerja dengan organisasi di berbagai ukuran – termasuk 91 dari Fortune Global 100 dan lebih dari ¾ dari Fortune Global 500. Komitmen untuk kepuasan klien memperkuat dan memperluas hubungan Accenture. Sebagai contoh, 99 dari 100 klien Accenture pada tahun 2013, berbasis pada keuntungan, telah menjadi klien selama sekurang – kurangnya 5 tahun, dan 91 klien sudah menjadi klien selama 10 tahun.
Accenture memiliki cara unik untuk melakukan hal – Cara Accenture. Merupakan bagaimana Accenture melakukan invoasi, kolaborasi, dan operasi serta mengirimkan nilai – untuk klien, shareholders, serta komunitas bisnis di seluruh dunia. Cara Accenture dibawa setiap hari, dalam apapun yang Accenture lakukan, melalui semangat unik, energi, dan cara yang dimilikinya.
3.2 Sejarah Accenture
Inovasi terus – menerus dan transformasi cepat telah menjadi tema selama seluruh sejarah Accenture, dimana kembali pada tahun 1950an dengan instalasi sistem komputer pertama untuk penggunaan periklanan pada Amerika di fasilitas General Electric’s Appliance Park.
Accenture membangun reputasinya sebagai konsultan teknologi dan integrator sistem. Pada tahun 1980an, Accenture mulai menawarkan berbagai solusi integrasi bisnis untuk klien – solusi yang menghubungkan teknologi perusahaan, proses, dan orang sesuai dengan strateginya.
Sepanjang sejarahnya, Accenture telah mengembangkan penawaran dan fokus pada mengembangkan tren manajemen dan teknologi untuk memberi keuntungan kepada klien. Perusahaan mengembangkan integrasi sistem dan integrasi bisnis, yang didukung oleh pengembangan perencanaan sumber daya perusahaan, CRM dan servis elektronik, serta sudah menetapkan dirinya sendiri sebagai pemimpin pangsa pasar sekarang.
Accenture sekarang adalah konsultan manajemen global, penyedia servis teknologi, dan perusahaan outcourcing, dengan lebih dari 281.000 karyawan melayani klien di lebih dari 120 negara. Menggabungkan pengalaman, kapabilitas komprehensif di seluruh industri dan fungsi bisnis, serta penelitian ekstensif pada perusahaan paling sukses di dunia. Accenture berkolaborasi dengan klien untuk membantu merka dalam menjadi bisnis performa tinggi. Accenture mendapat keuntungan sekitar US$ 28.6 milliar pada 31 Agustus 2013.
3.3 Nilai Inti Accenture
1. Stewardship
Memenuhi tugas untuk membentuk perusahaan yang lebih baik, lebih kuat, serta lebih bertahan lama untuk generasi kedepannya, menjaga nama Accenture, mewujudkan komitmen kepada stakeholder, mengembangkan karyawan dan membantu mengembangkan komunitas dan lingkungan global.
2. Best People
Mengundang, mengembangkan dan menjaga bakat terbaik untuk bisnis, menantang karyawan setiap saat, mendemostrasi kemampuat ‘can-do’ dan membangun lingkungan yang mendukung.
3. Client Value Creation
Membuat klien menjadi bisnis performa tinggi dan membantu membangun hubungan jangka panjang dengan menjadi resposif dan relevan serta memberi hasil yang memuaskan.
4. One Global Network
Mengangkat kekuatan pandangan global, hubungan, serta kolaborasi dan pembelajaran untuk membawa servis yang bagus kepada klien dimanapun mereka melakukan bisnis
5. Respect for the Individual
Menjunjung tinggi perbedaan dan kontribusi unik, membuka lingkungan yang inklusif dan menanggap tiap individu dengan sikap yang mencerminkan nilai Accenture.
6. Integrity
Pantang menyerah dan tetap jujur serta menginsiprasi dengan mengatakan sesuai keinginan Accenture, sesuai tingkah laku dengan kata – kata dan mengambil tanggung jawab atas perbuatan perusahaan.

3.4 Lingkungan Kerja Accenture
Accenture adalah perusahaan global yang bekerja pada lingkungan bisnis dan budaya yang beraneka macam untuk mendukung inovasi, memperluas wawasan, dan menjangkau produk hingga ke berbagai negara di dunia. Oleh karena itu, Accenture membuka peluang kerja bagi seluruh calon pekerja berkompeten di seluruh dunia melalui website resmi pencarian jenjang karirnya, www.careers.accenture.com. Penawaran kesempatan kerja dimulai dari fresh graduate, karir profesional, hingga karir konsultan.
Accenture senantiasa mengembangkan teknologi dan tools terkini untuk mendukung kolaborasi kerja yang baik antar para staff, termasuk untuk memenuhi kebutuhan pribadi para staff dalam menyelesaikan tugas perushaan. Lingkungan kerja yang dibangun dalam perusahaan Accenture menekankan pada poin-poin berikut ini:
• Berorientasi pada aktivitas berkelompok (team).
• Membangun hubungan yang baik, saling bertukar pengetahuan, dan akulturasi budaya.
• Menerima saran dan masukan dari para pekerja perihal harapan akan lingkungan kerja dan kebutuhan tertentu.
• Mengembangkan teknologi untuk mendukung model kerja jaringan selular dan jaringan terdistrubusi.
• Meningkatkan kolaborasi dan komunikasi jarak jauh antar seluruh cabang Accenture di dunia.

Sebagai seorang professional di Accenture, lingkungan kerja akan selalu bervariasi sesuai dengan industry dan jasa yang ditawarkan ke klien. Oleh karena itu, staff bisa saja bekerja langsung di perusahaan klien, bekerja di kantor lokal Accenture, ataupun bisa bekerja di rumah melalui teknologi teleconference.

Kantor lokal Accenture dibuat dengan mengusung tema “Netwotk Café”, dimana di dalamnya tidak hanya terdapat fasilitas kantor tetapi terdapat tempat untuk bersosialisasi dengan santai, sehingga antara staff dan para pemimpin bisa membangun jaringan kerja yang lebih erat dan menyenangkan.

Kantor Accenture ini juga dikembangkan berdasarakan “Eco Efficiency” dan sudah dianugerahkan sertifikasi ISO untuk kategori Environtmental Managemnet, dimana selain desain perusahaan yang ekologis, Accenture juga turut andil dalam mengurangi kadar karbon dioksida melalui evaluasi supplier terhadap tanggung jawab lingkungan dan mengurangi trip pegawai dengan teknologi teleconference.
3.5 Jenjang Karir Accenture
Accenture menawarkan enam jenis jenjang karir utama, yaitu karir digital, karir strategi, karir teknologi, karir outsourcing proses bisnis, karir consulting dan karir spesialisasi industri.
Profesional digital ditujukan untuk membantu klien untuk melancarkan kekuatan bisnis melalui digital dan menciptakan sumber daya baru yang bernilai serta dapat merubah bisnis menjadi lebih berkembang dan menguntungkan. Para professional ini akan menggabungkan kemampuan digital, aset, dan perangkat lunak agar bisnis menjadi terintegrasi secara global. Para professional ini pada dasarnya memiliki tiga peran, yakni:
• Strategis digital untuk menerapkan teknologi digital pada bisnis model, produk, atau kombinasi dengan sistem lainnya.
• Market expert yang memanfaatkan teknologi digital untuk memungkinkan adanya interaksi digital dengan pelanggan atau untuk digitalisasi sistem penjualan dan distribusinya.
• Konsultan digital perusahaan untuk meningkatkan produktivitas proses bisnis melalui teknologi digital dalam menghasilkan model operating baru dan kemampuan analitik serta kolaborasi.

Profesional strategi dihadirkan untuk mewujudkan visi perusahaan menjadi suatu tindakan nyata. Profesional strategis ini membantu para klien dalam menghadapi berbgai isu terkini, seperti inovasi dan perkembangan, konvergensi perusahaan, perluasan geografis, dan manajemen untuk keberlanjutan perusahaan. Tugas para professional ini antara lain:
• Mendefinisikan kasus untuk perubahan.
• Mendefinisikan strategi terkait bisnis, teknologi, dan fungsinya.
• Mengembangkan model kerja untuk seluruh organisasi maupun untuk area fungsional tertentu.
• Memastikan realisasi berupa hasil yang nyata dari teknologi dan memungkinkan inisiatif perubahan berjalan dengan baik.

Accenture adalah salah satu perusahaan penyedia solusi teknologi terbesar di dunia dengan para professional yang akan membantu dalam pengembangan strategi IT secara lebih optimal dan mengelola keamanan infrastruktur, aplikasi dan sistem. Para professional teknologi yang memiliki kemampuan dalam:
• Mendesain dan mengembangkan solusi teknologi yang inovatif dan berkinerja tinggi.
• Membangun, menginstal, dan mengelola perangkat lunak dalam berbagi industri dengan menggunakan aplikasi ternama, seperti SAP, Siebel, PeopleSoft, dan Oracle maupun aplikasi custom sesuai permintaan pelanggan.
• Terlibat dalam berbagai macam projek teknologi global.
• Bekerja pada lebih dari 3200 project cloud di 44 negara, termasuk berpartispasi dalam memberikan hasil pada 52 perushaan yang masuk dalam Forune 100.

Profesional outsourcing proses bisnis akan menyediakan keahlian dalam mengelola dan menganalisis proses transaksi data dan aktivitas sistem lainnya yang diinginkan klien, contohnya human resource, financial,dsb. Profesional ini akan melakukan kerjasama jangka panjang dengan klien lokal maupun global agar para klien bisa memperoleh nilai tambah dalam bisnisnya, seperti meningkatknya kualitas sumber daya manusia, meningkatknya loyalitas pelanggan, dan dapat meraih pasar dengan cepat.

Profesional consulting akan memberikan jasa konsultasi manajemen kepada klien dengan menyarankan strategi, pendekatan inovatif, serta menyediakan jasa spesialis fungsi tertentu. Sedangkan Industry specialist adalah professional yang memahami dan berpengalaman dalam suatu bidang industri tertentu, seperti penerbangan, agribisnis, otomotif, perbankan, kesehatan, dan sebagainya. Spesialis ini bertugas memberikan ide pengembangan bisnis klien dari berbagai sudut pandang bisnis, seperti sumber daya manusia, teknologi, ataupun skill yang dibutuhkan.

3.6 Program dan Tunjangan Karyawan Accenture

Perusahaan global selalu mengutamakan kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan para karyawannya. Oleh karena itu Accenture bekerja sama dengan beberapa pihak untuk memberikan beberapa layanan kepada para karyawan. Beberapa tunjangan yang diberikan Accenture antara lain tunjangan pengobatan, tunjangan perawatan gigi, asuransi jiwa, tunjangan cacat, tunjangan kecelakaan dan kematian, dan tunjangan legal.

Accenture juga memberikan dispensasi atau cuti kerja berkisar 14-27 hari dalam setahun, cuti kelahiran selama 6-8 minggu, dan cuti untuk urusan keluarga atau kegiatan mendesak lainnya tanpa ada pemotongan gaji atau fasilitas tunjangan.

Selain itu Accenture juga memberikan program yang menarik bagi para karyawannya seperti diskon biaya parkir dan transportasi umum, diskon di tempat-tempat belanja, diskon gym dan fitness, program 10,000 langkah per hari, jasa konsultasi psikologi dan kesehatan.

3.7 Tahap Perekrutan Karyawan Accenture
Accenture melakukan proses perekrutan secara berkala dan proses penyeleksian yang ketat untuk memperoleh para karyawan yang kompeten dan sesuai dengan bisnis yang dijalankan Accenture. Tahapan proses rekrutmen karyawan baru Accenture antara lain:

1. Tahap awal
Calon pekerja melakukan review terhadap website www.careers.accenture.com. Untuk mencari lowongan pekerjaan dan melakukan lamaran kerja bisa dilakukan secara online dengan membuat id terlebih dahulu pada website. Klik Search and Apply, lalu pilih jenis pekerjaan yang diinginkan, klik tab job descriptions dan qualifications untuk melihat syarat untuk mendaftar pekerjaan tersebut, dan pada akhirnya klik apply online untuk mendaftar.

Gambar 3.1 Halaman untuk Melamar Pekerjaan Secara Online di Accenture

2. Seleksi awal
Tim rekrutmen Accenture akan mereview lamaran kerja yang masuk dan memilih para kandidat yang akan masuk ke wawancara tahap satu. Seleksi ini didasarkan pada latar belakang pendidikan, aktivitas ekstrakulikuler, pengalaman kerja ataupun pengalaman dalam bisnis tertentu.

3. Wawancara Tahap Satu
Dilakukan secara face to face ataupun melalui telepon atau teleconference. Wawancara ini ditujukan agar Accenture bisa memahami kualifikasi dan ketertarikan pelamar kerja terhadap pekerjaan serta mengevaluasi beberapa potensial yang sesuai dengan harapan Accenture. Wawancara ini dilakukan berbeda-beda sesuai dengan bidang pekerjaan yang diinginkan.
4. Wawancara Tahap Dua
Dilakukan juga secara face to face ataupun melalui telepon atau teleconference. Wawancara tahap dua ini lebih spesifik yaitu terkait kasus bisnis atau terkait situasi bisnis
5. Wawancara Tahap Akhir
Dilakukan secara face to face di kantor Accenture. Wawancara ini akan dilakukan oleh para eksekutif , analis, dan konsultan dari kantor lokal.
6. Penawaran
Kandidat terpilih akan dijelaskan mengenai pekerjaan secara mendetail, gaji bulanan serta tunjangan dan beberapa panduan lainnya.
7. Kontrak Kerja
Kandidat terpilih yang menyetujui semua penawaran kerja dari Accenture akan melakukan tanda tangan kontrak dan siap bekerja di Accenture.

BAB 4
PENUTUP

1.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian diperoleh kesimpulan :
• Bahwa perusahaan Accenture memiliki tata cara perekrutan yang cukup panjang dan rumit mengingat mereka secara ketat berusaha agar sumber daya yang terpilih adalah memang yang terbaik
• Perusahaan Accenture memiliki 6 nilai yang diusung dalam perusahaan dan dalam menjalankan bisnisnya semua SDM lebih berorientasi kepada team.
• Berbagai strategi dilakukan untuk menunjang proses bisnisnya, salah satunya adalah dengan penggunaan teknologi.

1.2 Saran
• Perusahaan Accenture harus tetap melakukan perubahan-perubahan secara positif bagi sumber daya manusianya maupun di lingkungan dimana ia berada serta selalu memperbarui teknologi yang mereka gunakan demi tetap menjaga atau bahkan meningkatkan kualitas perusahaaan sehingga nantinya perusahaan ini akan tetap terus bertumbuh.

DAFTAR PUSTAKA

Accenture. (2014). Retrieved 03 22, 2014, from Accenture’s Career: http://careers.accenture.com/

Brooks, David.R.(2007).An Introduction to HTML and Java Script for Scientists and Engineers.London:Springer.
Cess, F. (2013, October). Hambatan dalam bisnis internasional. Retrieved 2014, from tugasakhiramik Web site: http://tugasakhiramik.blogspot.com
Codes of conduct of multinational companies and international trade union action: Thoughts on the contribution of state law. (2003). Relations Industrielles, 58(3), 392-394. Retrieved from http://search.proquest.com/docview/224285986?accountid=31532

Irawan, Yudie. (2011). Perancangan Sistem Informasi Perpustakaan Berbasis Web Application. Semarang: Universitas Diponegoro

“Internet Definition,” [online]. Available:
elinks.ecc.edu/library/STAFFINF/glossary.html. [Accessed April 10, 2008].

Kelly, Kevin, The Internet Unleashed, 2nded. Sams Publishing.Indianapolis, 1995.
Multinational Corporation. (2014). Retrieved March 22, 2014, from investopedia Web site: http://www.investopedia.com
Soni, S. (2012). What are the Advantages and Disadvantages of Multinational Corporations? . Retrieved 2014, from preservearticles Web site: http://www.preservearticles.com
Sheldon, Robert, Geoff Moes.(2005).Beginning MySQL.United States of America:Wiley Publishing.Inc.

LAMPIRAN
RIWAYAT HIDUP
Nama : Arni Virani
Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 26 Juli 1993
Alamat : Interkota blok A5 no. 11, Cengkareng, Jakarta Barat
No. Telepon : 08197670261
Email : ni.arnie@live.com
Jenis Kelamin : Wanita
Riwayat Pendidikan :
2011-sekarang Sistem Informasi
School of Information System, BINUS University
2008-2011 SMA Tarsisius 1
2005-2008 SMP Vianney
1999-2005 SD Vianney
1996-1999 TK Damai

Pengalaman Kerja :
2011 Sales Promotion Antivirus, Softlenses, MasterCard.
2012 PIC Mid-Year Gathering Novartis
2013 Volunteer untuk SUA Jakarta


RIWAYAT HIDUP
Nama : David Santoso
Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 13 Juni 1993
Alamat : Jl. Taman Meruya Ilir Blok I2 No.24, Jakarta Barat 11620
No. Telepon : 08988246820
Email : Santosodavid93@gmail.com
Jenis Kelamin : Laki – laki
Riwayat Pendidikan :
2011-sekarang Sistem Informasi
Peminatan : ERP
School of Information System, BINUS University
2008-2011 SMA SMA Pelita 2
2005-2008 SMP SMA Pelita 2
1999-2005 SD SMA Pelita 2
1996-1999 TK SMA Pelita 2

Pengalaman Kerja :
2011 – Sales Promotion PT. Unilever Indonesia
– Credit Card Sales Marketting of PT.UOB Buana Indonesia
2012 Liaison Officer of Asean English Olympic by BNEC


RIWAYAT HIDUP
Nama : Hendy Salim
Tempat, Tanggal Lahir : Bandar Lampung, 4 maret 1992
Alamat : Jl. Haji taisir no 5, Jakarta Barat
No. Telepon : 087899844883
Email : hendisalim21@yahoo.com
Jenis Kelamin : Laki – laki
Riwayat Pendidikan :
2011-sekarang Sistem Informasi
Peminatan : ERP
School of Information System, BINUS University
2008-2011 SMA Immanuel Bandar Lampung
2005-2008 SMP Immanuel Bandar Lampung
1999-2005 SD Immanuel Bandar Lampung
1996-1999 TK Immanuel Bandar Lampung

Pengalaman Kerja : –

RIWAYAT HIDUP
Nama : Rendy Rinaldo
Tempat, TanggalLahir : Tanjungpinang, 12 Juni 1993
Alamat : Gg. Keluarga No. 39 B, Kemanggisan, Jakarta Barat 11480
No. Telepon : 083873373828
Email : rendyrinaldo77@gmail.com
JenisKelamin : Laki – laki
RiwayatPendidikan :
2011-sekarang Sistem Informasi
Peminatan : ERP
School of Information System, BINUS University
2008-2011 SMAN 1 Tanjungpinang
2005-2008 SMPN 1 Tanjungpinang
1999-2005 SD Katolik
1996-1999 TK Djuwita

PengalamanKerja :
2013 Translator / Interpreter untuk Tech In Asia
2013 Volunteer untuk Startup Asia Jakarta
2012 – 2013 Tutor untuk kelas TOEFL dan PSP (Public Speaking and Performance)
2012 & 2013 Panitia di Binus Online Job Expo 2012 dan 2013

RIWAYAT HIDUP
Nama : Jennifer Pauling
Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 11 November 1993
Alamat : Jl. 21 No.12 B RT01 RW08 Teluk Gong, Jakarta Utara 14450
No. Telepon : 083893953885
Email : jenniferpauling11@gmail.com
Jenis Kelamin : Perempuan
Riwayat Pendidikan :
2011-sekarang Sistem Informasi
Peminatan : ERP
School of Information System, BINUS University
2008-2011 SMA Negeri 1 Tanjungpinang
2005-2008 SMP Negeri 5 Tanjungpinang
1999-2005 SD Swasta Katolik Tanajungpinang
1996-1999 TK Djuwita Tanjungpinang

Pengalaman Kerja :
2011-now – Math, Physics, and Chemistry Teacher at Proverbs Course
2012-now – Duta Binusian as Mentor in BINUS Student Learning Community (BSLC)
– English TOEFL Intermediate One Tutor in Bina Nusantara English Club (BNEC)

RIWAYAT HIDUP
Nama : Toni Sugino
Tempat, Tanggal Lahir : Pontianak, 20 Juni 1993
Alamat : Jl. Batusari Raya No.80, Palmerah, Jakarta Barat
No. Telepon : 089602466815
Email : toni_sho@ymail.com
Jenis Kelamin : Laki – laki
Riwayat Pendidikan :
2011-sekarang Sistem Informasi
Peminatan : ERP
School of Information System, BINUS University
2008-2011 SMA Gembala Baik
2005-2008 SMP Gembala Baik
1999-2005 SD Gembala Baik
1996-1999 TK Gembala Baik

Pengalaman Kerja :
2013 Translator / Interpreter for Tech In Asia
2013 Liaison Officer / Volunteer for Startup Asia Jakarta

Posted in Topik Topik Lanjutan SI | Comments Off on Opportunity to have Global Careers with Multinational Company

Evaluasi E-Library di Perpustakaan Harvard

Universitas Bina Nusantara

______________________________________________________________________

Jurusan Sistem Informasi
School of Information Systems
Tugas Paper
M0214 – Topik-Topik Lanjutan Sistem Informasi
Semester Genap tahun 2013/2014
Halaman Abstrak
Evaluasi E-Library di Perpustakaan Harvard

Kelas / Kelompok: 06PKM / 05

Anggota Kelompok:
Arni Virani : 1501155411
Toni Sugino : 1501169865
Hendy Salim : 1501178522
Rendy Rinaldo : 1501188473
Jennifer Pauling : 1501189053
David Santoso : 1501194015

ABSTRAK
E-Library merupakan penggunaan teknologi informasi oleh badan pendidikan untuk menjalankan kegiatan pembelajaran. E-Library diterapkan di Indonesia untuk menunjang kinerja dalam sebuah perpustakaan, dan dalam menjalankan E-Library memiliki sebuah kendala dalam pengembangannya agar dapat membuat E-Library lebih efisien dan efektif untuk kalangan pelajar. Cangkupan E-Library sendiri bukan hanya untuk kepentingan instansi pelajar namun juga merupakan kebutuhan masyarakat yang ingin mendapatkan informasi yang dibutuhkan masyarakat luas. E-Library Harvard sendiri di harapkan dapat meningkatkan efisiensi, kenyamanan, seerta aksesibilitas yang lebih baik untuk pelayanan publik .Oleh karena itu sebuah evaluasi E-Library di butuhkan agar dapat menilai perkembangan yang terjadi dalam pelaksanaan E-Library di perpustakaan Harvard.

Kata kunci: E-Library (E-Lib), Evaluasi E-Library.


BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) mengubah kehidupan manusia, terutama mengubah hubungan karakteristik antar hubungan manusia, bisnis, dan mengubah hubungan antara pendidikan dan pengetahuan. Kebutuhan informasi yang cepat membuat perpustakaan harus mengikuti perkembangan teknologi informasi untuk memberikan pelayanan yang terbaik untuk masyarakat, pelajar, partner universitas, dan entity pendidikan lain yang mana bertransformasi menjadi E – Library, dapat diartikan sebagai perubahan yang dilakukan dalam hal pelayanan yang menggunakan teknologi informasi pada instansi pendidikan.
E – Library didefinisikan sebagai penerapan IT pada perpustakaan yang bertujuan untuk membuat proses kerja dalam perpustakaan menjadi lebih sederhana, lebih akurat, responsive dan membentuk sistem perpustakaan yang transparan. Dengan
E – GLibrary memungkinkan masyarakat luas dapat mengakses semua informasi perpustakaan dan layanan pinjam meminjam melalui sebuah website yang di kelola oleh bagian perpustakaan.
Keuntungan operasional dan implementasi E – Library bagi Harvard dan perusahaan sektor public seperti pengurangan penggunaan kertas, menyediakan layanan yang tersedia untuk pelanggan, mengurangi waktu respond dan mengurangi kesalahan dalam pelayanan E – Library untuk masyarakat. Penerapan E – Library di perpustakaan Harvard sendiri memiliki hambatan atau kendala sehingga membuat E – Library di perpustakaan Harvard dapat mengalami kegagalan dalam implementasinya. Hal ini dapat merugikan perpustakaan sendiri dan pelajar karena selain mengeluarkan biaya yang besar dan waktu yang cukup lama namun belum dapat memberikan pelayanan dalam E-Library secara maksimal.
Faktor – faktor yang mempengaruhi kegagalan dalam implementasi E – Library perlu di ketahui agar ditemukan solusi untuk membuat semua proses perpustakaan menjadi terkomputerisasi. Oleh karena itu sebuah evaluasi dalam penerapan
E-Library sangat di perlukan untuk mengetahui masalah dan solusi itu sendiri agar dapat membuat E-Library yang ada di harvard dapat melayani pelajar luas secara efektif dan efisien.

1.2 Ruang Lingkup
Berikut adalah batasan cakupan dari karya tulis ini, antara lain:

1. Pembahasan menjelaskan tentang pelaksanaan dan implementasi E – Library di perpustakaan Harvard
2. Penjelasan mengenai manfaat, hambatan, tingkatan dan strategi dalam implementasi E –Library.
3. Pemfokusan tentang evaluasi tentang implementasi E-Library di perpustakaan Harvard.

1.3 Tujuan dan Manfaat
Tujuan dasar yang ingin dicapai dalam penyusunan karya tulis ini adalah:

1. Memahami pentingnya E – Library di perpustakaan Harvard.
2. Mengevaluasi manfaat, hambatan, tingkatan dan strategi dalam implementasi
E –Library di perpustakaan Harvard.

Sedangkan beberapa manfaat yang diperoleh sebagai hasil evaluasi dalam karya tulis ini, antara lain:

1. Dapat mengetahui hambatan serta solusi dari permasalahan penerapan
E – Library di perpustakaan Harvard.
2. Dapat mengetahui pengimplementasian E-Library yang ada di perpustakaan Harvard.

1.4 Metodologi Penulisan
Dalam penulisan karya tulis ini dipergunakan berbagai informasi pendukung berdasarkan metode studi kepustakaan yang diperoleh melalui berbagai sumber, seperti buku penunjang mengenai E-Library, jurnal-jurnal online yang mengupas topik tentang pemanfaatn E-Library di perpustakaan Harvard, skripsi, dan beberapa website yang menyediakan informasi mengenai pemanfaatan E-Library. Berdasarkan informasi dari berbagai sumber iniakan dibuat seebuah pembahasan tentang evaluasi penerapan
E-Library di perpustakaan Harvard dan kemudian akan dibuat kesimpulan dan saran untuk pengembangan selanjutnya.

1.5 Sistematika Penulisan
Karya tulis ilmiah ini terdiri atas beberapa bab pembahasan, yaitu :

• BAB 1 : PENDAHULUAN
Pada bab ini akan dijelas mengenai pemahaman awal tentang E- Library secara umum dan secara khusus mengenai penerapannya di perpustakaan, yang terdiri atas latar belakang, ruang lingkup, tujuan dan manfaat penulisan, serta metodologi penulisan laporan.

• BAB 2 : LANDASAN TEORI
Pada bab ini berisikan teori-teori umum hingga teori khusus yang dijadikan sebagai dasar pengetahuan untuk memahami pengertian, strategi, tingkatan, tantangan dan manfaat E – Library.

• BAB 3 : PEMBAHASAN
Pada bab ini akan dijelaskan pembahasan inti tentang evaluasi pelaksanaan dan implementasi E – Library yang ada di perpustakaan Harvard.

• BAB 4 : PENUTUP
Bab ini akan memaparkan kesimpulan dari keselurhan pembahasan mengenai evaluasi E-Library di perpustakaan Harvard, serta memaparkan beberapa saran untuk solusi atas permasalahan mengenai penerapan E-Library di perpustkaan Harvard.

BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1 Pemahaman tentang Perpustakaan Digital (E-Library)
Perpustakaan adalah sarana yang mutlak harus dimiliki oleh sekolah, universitas, maupun institusi pendidikan lainnya. Perpustakaan biasanya berisikan berbagai macam jenis buku, dari buku pengetahuan hingga buku fiksi. Dan semakin berkembang pesatnya pengetahuan, perpustakaan kini juga dilengkapi dengan jurnal, karya ilmiah, hingga tesis perguruan tinggi sebagai sumber referensi yang bisa membantu dalam penyelesaian studi atau untuk penelitian selanjutnya.
Sebelum membahas mengenai perpustakaan digital, pada dasarnya perpustakaan memiliki beberapa fungsi sebagai berikut (Murjopranoto dalam Sumarji:1988).
1. Untuk mempertinggi kebudayaan.
2. Untuk menambah pengetahuan.
3. Untuk dokumentasi.
4. Untuk penerangan (misalnya peraturan pemerintah, perundang-undangan).
5. Untuk memungkinkan research (penelitian) bahan-bahan yang berguna, misalnya laporan, statistik, peta, dan sebagainya.
6. Untuk rekreasi (hiburan), dengan menyediakan buku-buku cerita.
7. Untuk memberi inspirasi.
Menyadari fungsi-fungsi fundamental perpustakaan, maka banyak pemikiran para ahli untuk membuat perpustakaan menjadi sarana yang lebih efektif, efisien, dan lebih mudah diakses oleh siapapun, kapanpun, dan dimanapun. Dengan diperkuat dengan perkembangam Information and Communication Technology (ICT), maka perpustakaan bisa ditampilkan lebih menarik dan ditambahkan fitur-fitur teknologi yang lebih bisa membantu pencarian buku oleh pengunjung. Apalagi kini jaringan internet sudah bisa diakses oleh hampir seluruh bagian masyarakat, sehingga perpustakaan sendiri bisa dijadikan website edukasi, yang dapat diakses melalui berbagai alat elektronik seperti computer, laptop, tablet, dan mobile phone.
Perpustakaan digital adalah sekumpulan dokumen yang dikelola dalam bentuk eletronik dan bisa diakses melalui fitur pencarian dan browsing. Jenis perpustakaan tertentu memungkinkan pengguna untuk mengakses majalah, artikel, buku, karya tulis, gambar, suara, file, dan video. (Buchanan, George, dkk: 2008). Berdasarkan definisi di atas, dapat dipahami bahwa perpustakaan digital harus dibangun berbasiskan arsitektur teknologi dengan melibatkan pihak internal (staf perpustakaan, manager IT,dsb.) dan pihak eksternal (mahasiswa, dosen, mayarakat umum, dsb.).
Untuk lebih jelasnya, terdapat beberapa faktor penunjang dikembangnya perpustakaan digital pada masa kini (Griffin, 1999), yaitu:
• Telah tersedianya teknologi komputansi dan komunikasi yang memungkinkan dilakukannya penciptaan, pengumpulan, dan manipulasi informasi.
• Infrastruktur jaringan internasional untuk mendukung sambungan dan kemampuan pengoperasian bagi pengguna.
• Informasi online mulai berkembang.
• Adanya kerangka akses internet secara umum.
Faktor penunjang di atas membuka peluang yang besar untuk membangun sebuah perpustakaan digital yang memiliki fitur lebih dibandingakn perpustakaan tradisional, seperti dapat mengubah data menjadi file elektronik, memiliki antarmuka sistem dengan menu-menu yang mudah dipakai (user-friendly), menampilkan koleksi berdasarkan kategori untuk mempermudah pencarian, dan lebih baik lagi tersedianya fitur online help agar dapat memberi panduan secara lebih interaktif.
Perpustakaan digital ini harus dapat mengubah paradigma pepustakaan tradisional yang terkesan membosankan serta memakan waktu lama untuk memproses pencarian informasi, peminjaman, dan pengembalian buku. Willey Online Library memaparkan beberapa keunggulan dari perpustakaan digital dari berbagai aspek antara lain.
Tabel 2.1 Keuntungan penggunaan Perpustakaan Digital
Fitur Keuntungan
Desain, struktur, dan navigasi
Navigasi yang cepat antar halaman Menyediakan daftar isi atau menu yang bisa diklik untuk berpindah sepanjang halaman HTML.
Desain baru pada halaman depan Tersedia informasi tambahan mengenai berita dan event terkini, ataupun tampilan konten yang sering dikunjungi.
Akses informasi
Abstrak dan ringkasan konten Tersedianya abstrak dan ringkasan pada jurnal, buku, dan referensi lainnya yang bermanfaat.
Opsi konten Menampilkan opsi-opsi konten yang sejenis dengan pencarian yang sedang dilakukan.
Pencarian konten
Pencarian full text Pencarian lengkap berdasarkan kata kunci pada seluruh konten yang tersedia di basis data.
Pencarian advanced Pencarian mendalam berdasarkan informasi penting dalam konten, seperti nama pengarang, judul buku, tahun terbit, dsb
Fitur pada konten
Konten dalam bentuk PDF atau HTML Konten HTML menyediakan link langsung dan navigasi langsung ke referensi, sedangakan PDF bisa didownload dan diprint untuk referensi
Melihat histori penerbitan beserta pengarangnya Setiap konten mendeskripsikan dengan jelas penerbitan edisi per edisinya serta informasi lengkap mengenai pengarang.
Fitur personalisasi
Mendaftar akun profil sebagai anggota. Memberikan sebuah ID akses untuk mengubah profil pribadi, histori akses konten dan notifikasi bila ada informasi terbaru tentang konten.
Menyimpan konten. Memberikan akses untuk menyimpan atau menandai konten yang diinginkan agar dapat diakses berulang-ulang.
(Sumber: labout.wiley.com)
2.2 Kerangka Kerja Perpustakaan Digital
Perpustakaan digital dikembangkan dengan beberapa infrastruktur teknologi, dimulai dari arsitekturnya, persiapan perangkat lunak dan perangkat keras, hingga para personil yang terlibat dalam penggunaan perpustakaan digital, seperti pengguna, desainer sistem, admin, dan developer sistem. Semua komponen teknologi harus saling terhubung dan terintegrasi sedangkan semua personil harus berkomunikasi secara efektif dan bisa memahami perannya masing-masing sesuai dengan alur aktivitas yang ada.
Menurut (Candela, Leornardo, dkk: 2007), terdapat tiga kerangka kerja dalam membangun sebuah perpustakaan digital, yaitu:
1. Digital Library (DL)
 Organisasi virtual yang secara komprehensif mengumpulkan, mengelola, dan melindungi konten digital, serta menawarkan beberapa fungsionalitas untuk pengguna berdasarkan kualitas yang bisa diukur dan kebijakan yang ditetapkan.
2. Digital Library System (DLS)
 Perangkat lunak sistem yang didasarkan pada arsitektur yang dirancang dan menyediakan fungsi fungsi yang dibutuhkan pada DL. Para pengguna akan berinteraksi dengan DL melalui DLS yang sesuai kebutuhan pengguna.
3. Digital Library Management System (DLMS)
 Perangkat lunak yang akan menyediakan infrastruktur yang sesuai untuk membuat DLS yang sesuai dengan fungsi yang ingin diberikan ke user dan untuk mengintegrasikan perangkat lunak tambahan yang lebih terspesialisasi untuk fingsi khusus. Terdapat tiga jenis DLMS, yaitu Extensible DLS, DLS Warehouse, dan DLS Generator.

Gambar 2.1 Three-Tier Framework Digital Library (Candela, Leornado, dkk.: 2007)
2.3 Isu-Isu Terkait Pengembangan Digital Library
Isu adalah hal-hal penting yang perlu diperhatikan demi suksesnya pengembangan sistem perpustakaan digital dari tahap awal perencanaan hingga implementasinya. Ada beberapa isu penting terkait dalam hali ini, yaitu (Suspsiloani: 2006):
1. Para pengelola sistem perpustakaan harus mengerti dan memahami esensi hadirnya perpustakaan digita, yaitu agar koleksi perpustakaan mudah diakses dengan jangkakuan yang lebih luas.
2. Isu legal, dimana para pengelola sistem perustakaan harus memahami masalah legal terkait konten yang dimasukkan ke dalam sistem.
3. Koleksi digital rentan terhadap kehilangan data dan inkompabilitas.
4. Isu teknologi, teknologi yang digunakan harus senantiasa dikelola dan diupdate agar tetap bisa mendukung funsi perpustakaan digital.
5. Isu manajemen konten digital, semakin banyak konten maka akan timbul masalah dalam pemeliharaan koleksi dan klasifikasinya. Hali in dapat diatasi dengan membuat standar prosedur untuk pengelolaan konte.

2.4 Teknologi Pendukung Digital Library
Beberapa teknologi yang sering dimanfaatkan untuk membangun digital library antara lain: PHP, MySql, dan XAMPP.
2.4.1 Hypertext Preprocessor (PHP)
Menurut(Brooks:1-2) PHP adalah bahasa server-side yang dokumennya terletak pada server lokal bukan didownload pada komputer klien lokal, sehingga mampu mengakses file dari server lokal dan mengolah informasi dari sebuah dokumen HTML. Oleh karena itu, PHP merupakan bahasa scripting yang terpasang pada HTML yang mampu memberikan beberapa keuntungan pada website (Powers : 1) yaitu :
 Memberikan umpan balik secara langsung dari website ke mailbox.
 Mengupload file melalui web page.
 Menampilkan gambar dengan pixel yang besar.
 Membaca dan menulis file.
 Menampilkan dan mengupdate informasi secara dinamis.
 Menggunakan database untuk menampilkan dan menyimpan informasi.
 Membuat website mudah dicari.

Berdasarkan kelebihan di atas, kita mengetahui bahwa PHP telah mendukung sistem database dalam pengolahan informasinya, seperti Oracle, MySQL, Sybase, PostgreSQL, dsb. Sedangkan kerangka kerja (framework) PHP yang sering digunakan antara lain CakePHP, CodeIgniter, Prado, Symfony, Zend Framework, Yii, PHPDevShell, Akelos, QPHP, dan ZooP. Pada dasarnya PHP mendukung delapan tipe data, yaitu boolean, integer, float/double, string, array, object, resource, dan null.

2.4.2 My Sql
Menurut (Sheldon dan Moes: 1) MySql adalah server database relasional (Relational Database Management System) yang menawarkan fitur yang sama ditemukan dalam bersaing produk SQL lainnya, dengan kata lain MySql mempersiapkan filtur-filtur yang hampir mirip dengan database management system lainnya sesuai dengan standar SQL. Mysql merupakan open source yang memberikan license-license gratis kepada para pengguna sehingga database management system ini menjadi sangat populer.
Salah satu kelebihan dari DBMS(Database Management System) Mysql adalah Fleksibilitas. Sistem opersai apapun yang digunakan komputer dapat dijalankan oleh My Sql ke local hostnya, user dapat mengoptiomalkan binari yang sudah tersedia untuk 14 platform. Selanjutnya, mysql membuat source code yang tersedia untuk didownload jika binari tidak tersedia dalam platform Anda, atau jika user ingin melakukan kompilasi sendiri. Berbagai macam API (Application Programming Interface) juga tersedia untuk berbagai bahasa pemrograman yang sangat populer, termasuk, C, C + +, Java, Perl, PHP, Ruby dan Tel.
2.4.3 XAMPP
XAMPP adalah perangkat lunak gratis server apache yang didalamnya terdapat database server MySql. XAMPP ini menjembatani antara pemrograman PHP dengan database MySql. XAMPP mendukung instalasi pada sistem opersai Windows dan Linux.

Gambar 2.2 Tampilan Control Panel XAMPP (Irawan, Yudie: 2011)

BAB 3
PEMBAHASAN

3.1. Pelaksanaan E-Library/Perpustakaan Digital pada Universitas
Menurut Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007, perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka. Perpustakaan adalah suatu unit kerja yang menyelenggarakan pengumpulan, penyimpanan, dan pemeliharaan berbagai jenis bahan pustaka, dikelola secara sistematis untuk digunakan sebagai informasi bagi pemakai perpustakaan.
Perkembangan teknologi yang begitu pesat tidak hanya memberi dampak kepada dunia perangkat elektronik saja namun juga merambah ke dunia perpustakaan sehingga dikenal istilah perpustakaan digital atau e-library yang merupakan sebuah perpustakaan yang memberikan proses layanan dan mengelola data-datanya menggunakan teknologi yang ada. Secara garis besar, perpustakaan digital menandakan bahwa umumnya koleksi yang dimiliki berupa data digital dan disertai dengan teknlogi atau fitur-fitur tertentu yang akan memudahkan pengunjung perpustakaan untuk mencari data-data yang ia butuhkan.

Sejauh ini, perpustakaan digital telah berkembang dengan pesat, hamper setiap perpustakaan daerah maupun perpustakaan yang dimiliki oleh institusi tertentu seperti universitas telah menerapkan konsep e-library. Salah satu contoh yang baik mengenai penerapan sistem e-library adalah Universitas Harvard.

Perpustakaan Universitas Harvard adalah sebuah sistem yang menghubungkan setidaknya 90 perpustakaan yang menyediakan akses komprehensif ke layanan Perpustakaan Harvard lintas batas fakultas individual dan disiplin ilmu, dikenal sebagai salah satu perpustakaan terbesar yang pernah ada, sekelas dengan Perpustakaan Kongres, British Library, New York Public Library, dan Bibliothèque Nationale de France. Penyimpanan tradisional Universitas yang setidaknya memiliki lebih dari 15 juta volume ini memiliki akar sejarah di tahun 1638, ketika John Harvard mewarisi sekitar 400 buku. The Harry Elkins Widener Library merupakan sistem inti perpustakaan. Widener adalah yang terbesar dari 10 perpustakaan utama yang menyusun jaringan Harvard College Library (HCL) dan melayani Faculty of Arts and Sciences maupun komunitas kesarjanaan yang lebih luas.

3.1.1 Konsep Sistem E-Library di Universitas Harvard
Perpustakaan Harvard tersebar di setiap fakultas dan disiplin ilmu, selain juga pusat-pusat riset mereka. Setiap perpustakaan ini memiliki situs tersendiri yang bisa diakses online dan terintegrasi ke dalam situs utama mereka. Situs perpustakaan ini lengkap dan komprehensif dengan layanan elektronik yang mencakup materi yang diperlukan, akses mudah mendapatkan materi, hingga semua fasilitas dan kegiatan yang dilakukan oleh perpustakaan. Melalui kesatuan jaringan online, perpustakaan memiliki link langsung ke setiap fakultas dan tempat riset.
The College Library Harvard ( HCL ) sebenarnya adalah sebuah sistem perpustakaan yang mendukung kegiatan pengajaran dan penelitian dari Fakultas Seni dan Ilmu Pengetahuan , Universitas , dan komunitas ilmiah yang lebih besar. Pustakawan di seluruh perpustakaan HCL menawarkan berbagai layanan kepada pengguna: bantuan di meja referensi , konsultasi perorangan dengan janji dan berbagai hal lainnya. Di Harvard, para pustakawan menulis panduan penelitian pada hampir setiap subjek yang ditawarkan di kampus dan meng-upload panduan tersebut ke website yang telah disediakan (www.hcl.harvard.edu) .

Sistem perpustakaan yang dibangun Harvard merupakan sebuah ‘pintu’ bagi para anggota Universitas Harvard mulai karyawan, mahasiswa, dosen, dll dalam mengakses segala informasi-informasi yang ada di perpustakaan tersebut dengan menggunakan username (Harvard Univeristy ID) dan password yang telah diberikan oleh pihak universitas.

Portal lib.harvard.edu menyediakan akses ke sumber daya elektronik dan jurnal yang telah dilisensi oleh perpustakaan Harvard, serta link ke semua katalog perpustakaan Harvard. Selain itu melalui portal ini para anggota dapat mengakses panduan penelitian disusun oleh perpustakaan di kampus dan mencari informasi praktis pada masing-masing 70 lebih perpustakaan yang membentuk sistem Harvard.

Namun, sebagian besar perpustakaan tersebut juga telah mengembangkan website mereka sendiri, yang penuh dengan dan informasi yang berisikan informasi-informasi terkait di bidang mereka masing-masing. Sebagai contoh jika ada mahasiswa yang ingin mengakses informasi mengenai hokum, maka mahasiswa tersebut dapat menggunakan portal Harvard Law School Library, www.law.harvard.edu/library.

Ada sebuah fitur di portal perpustakaan Harvard yang dikenal dengan E –Research. E –Research adalah layanan perpustakaan online yang menyediakan akses bagi pengguna portal tersebut untuk menggunakan atau mencari lebih dari 8.000 sumber daya elektronik, 49.200 jurnal, dan 300.000 e – buku. E -Research juga memungkinkan pengguna untuk menyimpan dan mengelola hasil pencarian mereka .

Dengan E – Research, pengguna dapat
• Mencari dan mengakses database artikel dan indeks, ensiklopedi, koleksi e -book dan e-journal, dan sumber daya elektronik lainnya
• Mencari artikel dengan topik yang diinginkan dan sistem akan mencari segala data atau informasi yang terkait dengan kata kunci yang telah dimasukkan
• Mencari dan mengakses jurnal elektronik individu dengan memasukkan judul, subjek, atau ISSN
• Menambahkan sumber elektronik yang diinginkan ke dalam list pribadi
• Menyimpan daftar e-jurnal favorit untuk referensi yang cepat (My E – Jurnal )
• Melihat penelusuran sebelumnya
• Menyimpan kutipan (citation)
• Mengklik tombol “Click on @Harvard” untuk menunjukkan tempat buku yang dicari di rak-rak yang ada ataupun di website.
Dalam proses pelayanannya, Harvard juga memberikan fitur –fitur atau teknologi yang lain bagi penggunanya dalam memudahkan pencarian data atau buku yang diinginkan, antara lain:
1. The Hollis
Diluncurkan pada akhir Agustus, Hollis adalah sebuah portal yang komprehensif dan kuat dalam antarmuka web yang menyajikan informasi yang terorganisir dari sumber-sumber yang ada untuk dapat diakses anggota Harvard. HOLLIS menyediakan akses ke catalog-katalog yang ada dan lebih dari 1.500 sumber daya elektronik. Hollis juga menyediakan akses ke informasi tentang perpustakaan Harvard, yang memungkinkan pengguna untuk memperluas pencarian ke halaman web perpustakaan pribadi.

2. OASIS
Sebuah web yang membantu dalam perncarian arsip-arsip dan naskah-naskah yang diarsip di repositori dari seluruh Universitas. OASIS saat ini berisi 305 alat bantu menemukan disumbangkan oleh perpustakaan Harvard, museum, dan departemen akademik. Kurator dan Arsiparis dapat berkontribusi OASIS dengan menggunakan perangkat lunak off-the-shelf (umumnya WordPerfect SGML Edition) untuk mengkonversi media cetak ke dalam bentuk digital.

3. VIA
Sebuah sistem yang berisikan catalog-katalog yang menggambarkan foto-foto, sidik jari, gambar, lukisan, dan sumber daya visual lainnya dipegang oleh perpustakaan, arsip, dan museum Harvard. VIA berisikan lebih dari 98.000 catatan katalogisasi dan 19.094 thumbnail.

4. Repository Services (DRS)
DRS menyediakan penyimpanan yang aman dan berjangka panjang untuk semua kategori materi digital. Selain penyimpanan, DRS menyediakan jasa manajemen seperti pengarsipan dan pelaporan pada penggunaan, dan melayani fungsi pengiriman dengan berinteraksi dengan katalog dan aplikasi pengiriman lainnya.

5. Name Resolution Service (NRS)
Nama Resolusi Service (NRS) adalah layanan Perpustakaan Harvard untuk membuat, memelihara, dan menyelesaikan pengidentifikasi persisten. Dikenal juga dengan URN, pengidentifikasi persisten adalah nama lokasi-independen untuk sumber daya jaringan yang dapat diakses. Resolusi nama adalah proses konversi pengidentifikasi pengenal ke ke URL sumber daya. Jika sumber daya bergerak atau mengalami perubahan metode akses, pemetaan URL akan diperbarui, tetapi pengindentifikasi persisten tetap tidak berubah dan valid. Pengidentifikasi Persistent memberikan keyakinan bagi kurator dan peneliti bahwa setiap URL yang ada akan selalu bekerja.

6. Access Management Service (AMS)
AMS mengkoordinasikan beberapa langkah yang diperlukan untuk keamanan jaringan sumber: otentikasi pengguna, profil pengguna, dan akses protokol khusus untuk kategori sumber daya. Keamanan dikembangkan oleh Harvard akan tersedia untuk digunakan oleh semua sistem perpustakaan Universitas dan dirancang untuk meminimalkan kebutuhan untuk otentikasi pengguna berulang. AMS pertama kali digunakan dengan peluncuran portal Hollis untuk mengontrol akses ke sumber daya.

7. Interlibrary Loan (ILL)
Fasilitas dimana materi yang ada di Harvard bisa dipinjam dari perpustakaan atau institusi lain dengan dikenakan biaya tersendiri, maupun Open Collection, dimana koleksi perpustakaan bisa diakses secara digital untuk para pelajar dan guru dari berbagai belahan dunia.

8. Dan berbagai fitur canggih lainnya yang terdapat pada gambar 1.1

Gambar 1.1 Teknologi canggih di perpustakaan Harvard
3.1.2 Teknologi Penyimpanan dan Pemeliharaan Informasi
Perpustakaan Harvard memiliki apa yang disebut sebagai Harvard Depository Mission, yaitu sebuah penyimpanan berkontrol suhu dan fasilitas pencarian informasi yang didisain terutama untuk pemeliharaan jangka panjang bagi buku dan materi kertas lainnya. Depositori ini dimiliki dan dioperasikan oleh Universitas, dibawah pengarahan dari administrasi Perpustakaan Harvard. Depositori bertanggung jawab terhadap penyimpanan dan pemeliharaan koleksi perpustakaan, arsip dan administrasi kampus. Dengan kontrol teknologi tingkat tinggi, perlindungan lingkungan, dan keamanan khusus, Depositori memiliki komitmen untuk menjaga kualitas koleksi penyimpanan dengan ongkos efektif.
Sistem informasi dikelola profesional oleh Office of System Information (OIS) yang juga memiliki situs sendiri. OIS adalah sarana layanan dan sistem informasi yang mendukung kerja Perpustakaan Harvard, dan berkomitmen untuk mengembangkan, mengimplementasikan dan meningkatkan sistem inovatif dan stabil yang mendukung misi akademik dan riset Harvard dengan menyediakan akses yang terintegrasi dan koheren untuk riset dan sumber materi.
Selain itu Universitas Harvard juga menggunakan sebagian dananya untuk menjalankan beberapa program dalam memperbanyak dan memelihara koleksi digital yang dimiliki, antara lain dengan cara:
1. The Library Digital Initiative (LDI)
LDI didirikan pada tahun 1998 adalah sebuah sistem yang yang memungkinkan perpustakaan Harvard untuk mempertahankan dan mengembangkan koleksi dan jasa di era digital. Melalui kegiatan ini, perpustakaan Harvard telah mengembangkan sebuah cara atau kebijakan untuk mengumpulkan materi-materi dari sumber daya digital di Harvard mirip dengan infrastruktur perpustakaan tradisional dalam mengumpulkan sumber-sumber penelitian dalam format lain. “Infrastruktur” didefinisikan secara luas untuk mencakup tidak hanya sisi istem, tetapi juga mencakup para stafh ahli dan layanan fasilitas. Ada 2 hal yang ditekankan dalam pengembangan infrastuktur ini:

• Bagi perpustakaan, infrastruktur yang dikembangkan diharapkan dapat mengurangi kompleksitas yang melekat saat ini dalam rangka untuk tetap menambah koleksi digital yang ada
• Bagi pengguna perpustakaan, diharapkan infrastruktur tersebut dapat mengorganisir “koleksi” digital yang dimiliki universitas dan dapat diakses seperti layaknya perpustakaan tradisional.

2. LDI Internal Challenge Grant Program
Melalui LDI, Harvard University mendanai proyek ini untuk untuk mengajak seluruh staff agar bermitra dengan berbagai unit perpustakaan dalam meningkatkan koleksi digital yang ada. Tujuan dari proyek ini berkisar dari mater-materi yang ada ke dalam bentuk digital.

3. SFX
SFX adalah sebuah teknologi yang memungkinkan abgi institusi untuk mengitegrasikan berbagai sumber daya elektronik yang ada. Harvard adalah salah satu dari sejumlah perpustakaan dan pusat-pusat penelitian yang menguji penggunaan SFX untuk memungkinkan menghubungkan antara berbagai jenis sumber daya elektronik.Perangkat lunak server SFX dikembangkan oleh para peneliti di University of Ghent (Belgia), dan sejak itu telah diakuisisi oleh Ex Libris, pengembang aplikasi untuk perpustakaan dan pusat-pusat informasi.

4. LOCKSS
Adalah perangkat lunak open source yang dikembangkan di Library of Stanford University yang memungkinkan perpustakaan untuk menjaga website jurnal yang dipilih dengan mengumpulkan backup data secara teratur dari website jurnal yang terdaftar untuk konten yang baru diterbitkan dan mengarsipkannya. Tiap arsip divalidasi secara terus menerus terhadap library caches yang lain, dan jika konten ditemukan dalam keadaan rusak atau hilang, caches atau jurnal yang lain digunakan untuk menyimpan ulang.. Sistem ini juga bertujuan untuk memastikan bahwa sumber daya digital yang dilindungi dari replikasi.

5. Advisory Services
Salah satu komponen kunci dari The Library Digital Initiative (LDI) adalah Advisory Services yang menyediakan keahlian dan bantuan teknis ke perpustakaan, arsip, museum, dan proyek-proyek penelitian yang terlibat dalam mengumpulkan atau menciptakan sumber daya digital di seluruh Universitas. Hal ini meliputi dengan adanya training dalam mengenalkan standar-standar dana aturan-aturan yang berlaku dalam dunia sumber daya elektronik beserta teknologi yang digunakan.

Menurut Ongowarsito (2008). Pada umumnya, perpustakaan digital akan melakukan beberapa hal berikut ini dalam menawarkan jasanya, antara lain:
• Pengelolaan Dokumen Elektronik
Pengelolaan dokumen elektronik memerlukan teknik khusus yang memiliki perbedaan dengan pengelolaan dokumen tercetak. Proses pengelolaan dokumen elektronik melewati beberapa tahapan yang dapat dirangkumkan dalam proses digitalisasi, penyimpanan, dan pengaksesan/temu kembali dokumen. Pengelolaan dokumen elektronik yang baik dan terstruktur adalah bekal penting dalam pembangunan sistem perpustakaan digital (digital library).

• Proses Digitalisasi Dokumen
Proses perubahan dari dokumen tercetak (printed document) menjadi dokumen elektronik sering disebut dengan proses digitalisasi dokumen. Dokumen mentah (jurnal, prosiding, buku, majalah, dan sebagainya) diproses dengan sebuah alat (scanner) untuk menghasilkan doumen elektronik. Proses digitalisasi dokumen itu tentu tidak diperlukan lagi apabila dokumen elektronik sudah menjadi standar dalam proses dokumentasi sebuah organisasi.

• Proses Penyimpanan
Pada tahap ini dilakukan proses penyimpanan dan termasuk di dalamnya adalah pemasukan data (data entry), editing, pembuatan indeks, dan klasifikasi berdasarkan subjek dari dokumen. Klasifikasi dapat menggunakan UDC (Universal Decimal Classification) atau DDC (Dewey Decimal Classfication) yang banyak digunakan di perpustakaan di Indonesia. Ada dua pendekatan dalam proses penyimpanan, yaitu pendekatan basis file (file base approach) dan pendekatan basis data (database approach). Masing-masing pendekatan memiliki kelebihan dan kelemahan (Tabel 1) dan dapat memilih pendekatan mana yang akan digunakan berdasarkan kebutuhan.

• Proses Pengaksesan dan Pencarian Kembali Dokumen
Inti dari proses adalah bagaimana dapat melakukan pencarian kembali terhadap dokumen yang telah disimpan. Metode pengaksesan dan pencarian kembali dokumen akan mengikuti pendekatan proses penyimpanan yang dipilih. Pendekatan database membuat proses ini lebih fleksibel dan efektif dilakukan, terutama untuk penyimpanan data sekala besar. Disisi lain, kelemahannya adalah relatif lebih rumit sistem dan proses yang harus dilakukan
3.2 Penjelasan dan Tampilan cara pemakaian e-library di Harvard
Penerapan e-library di Harvard membantu dalam peminjaman buku di perpustakaan, pencarian katalog / material yang ada di perpustakaan, pemesanan buku yang ingin di pinjam, membantu dan peminjaman buku di perpustakaan. Berikut ini merupakan beberapa cara pemakain e-library yang diterapkan di Harvard :
a) Cara mengakses material yang ada di kampus
Dengan menggunakan ID dan PIN Harvard. Dengan PIN Harvard yang diberikan dapat mengakses semua sumber daya perpustakaan yang ada.

Gambar 3.2.1 Tampilan login perpustakaan harvard

b) Cara mencari buku / materi yang dibutuhkan
Buka halaman home pada website library Harvard, lalu ketiklah bahan yang ingin dicari pada kotak search yang disediakan.

Gambar 3.2.2 Tampilan kotak pencarian di Harvard library

c) Cara menyarankan buku yang di butuhkan
Jika di perpustakaan Harvard tidak disediakan buku yang hendak dicari, maka perpustakaan Harvard menyediakan layanan untuk menyarankan perpustakaan Harvard untuk menyediakan materi yang dibutuhkan dengan mengisi form untuk menyarankan materi.

Gambar 3.2.3 Gambar Form permintaan buku

d) Cara meminjam buku / materi yang dibutuhkan
Untuk meminjam buku dari perpustakaan Harvard harus memiliki ID perpustakaan Harvard, datang ke staf yang menjaga perpustakaan dengan memberikan buku dan ID anda untuk meminjam buku yang diinginkan.

e) Cara meminta salinan elektronik dari artike / bab dari perpustakaan Harvard
Dapat menempatkan scan dan memberikan permintaan melalui catatan HOLLIS / HOLLIS Classic dan menerima file pdf dari bahan melalui email.

f) Cara mendownload e-book
Harvard menyediakan beberapa e-book yang dapat di download. E-book dapat di cari di kotak search yang disediakan di :
https://archive.org/details/harvardbotanylibraries.
Setelah menemukan buku yang dicari, maka akan ada tampilan preview e-book lalu klik link PDF (untuk melihat e-book dalam bentuk pdf), lalu akan muncul preview pdf dan klik icon download.

Gambar 3.2.4 Gambar contoh hasi pencarian e-book

Gambar 3.2.5 Gambar hasil pencarian e-book

Gambar 3.2.6 Gambar preview e-book

Gambar 3.2.7 Gambar preview e-book dalam bentuk .pdf

Gambar 3.2.8 Gambar tampilan download e-book

3.3 Evaluasi efektivitas e-library pada Universitas Harvard
Harvard University memiliki sistem perpustakaan besar dan luar biasa terdesentralisasi . Teknologi informasi dan sistem informasi bersama telah digunakan semakin dalam dua dekade terakhir untuk membawa koherensi untuk layanan perpustakaan dengan tetap menjaga independensi dari Universitas seratus atau lebih perpustakaan . Dua tahun lalu sebuah gugus tugas dari dosen , pustakawan , dan dekan administrasi mengusulkan agar pengelolaan dana Universitas proyek untuk :
• Koleksi digital Harvard tumbuh koheren dan mudah digunakan , melalui pengembangan kerangka dan infrastruktur umum , melalui komunikasi dan koordinasi , dan melalui penggunaan insentif untuk bekerja kolaboratif ;
• menghindari duplikasi boros pengembangan sistem perpustakaan digital di banyak departemen independen dari Universitas ;
• membantu kurator membangun koleksi penelitian digital melalui pendidikan , saran ahli , penyediaan layanan inti, dan pengembangan infrastruktur teknis , dan
• mengintegrasikan koleksi digital baru dengan koleksi tradisional Harvard kuat .
Sebagai tanggapan , pemerintah memberikan $ 12 juta untuk Perpustakaan Universitas untuk proyek 5 tahun ( disebut Digital Library Initiative atau LDI ) untuk membangun generasi pertama infrastruktur perpustakaan digital Harvard.
Fokus LDI berbeda dengan banyak proyek perpustakaan digital dalam beberapa cara :
• Produksi, bukan penelitian
LDI bukanlah sebuah proyek penelitian , tetapi lebih dimaksudkan untuk mengembangkan lingkungan produksi yang solid yang akan digunakan untuk mendukung hari -hari kerja pustakawan dan peneliti

• Lahir digital
Sementara dalam banyak kasus konversi digital bahan retrospektif sudah dalam koleksi Universitas dapat meningkatkan aksesibilitas dan menambah fungsionalitas dan nilai sumber daya yang ada ilmiah , itu yang strategis jauh lebih penting bahwa perpustakaan mulai berurusan dengan banjir meningkatnya bahan dibuat dan disampaikan semata-mata dalam format digital .

• Bukan hanya perpustakaan
Revolusi digital mengaburkan tepi antara modus komunikasi ilmiah dan antara unit dari universitas yang mengumpulkan dan menyediakan akses ke sumber daya ilmiah . Ketika semua jenis bahan penelitian hanya koleksi bit , perbedaan yang penting di dunia fisik hilang . Keahlian dan fasilitas perpustakaan digital adalah sebagai relevan dengan ulama , museum , dan koleksi sistematika , karena mereka adalah untuk perpustakaan tradisional .
Education and Expertise
Pada satu tingkat perpustakaan digital mirip dengan perpustakaan fisik : melibatkan masalah yang sama seleksi , deskripsi dan akses intelektual , perumahan , melindungi , dan melestarikan koleksi , dan memberikan bantuan pengguna . Namun, objek digital sangat berbeda dari benda-benda fisik dalam bagaimana kebutuhan ini terpenuhi . Satu set berbeda pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan , dan karena lingkungan ini sangat baru , ini belum tersedia secara luas . Bagian penting dari LDI telah membangun tim dengan pemahaman dan keahlian dalam berbagai bidang yang relevan dengan sumber digital :
• Metadata (administrative, technical, and intellectual)
• Digital formats
• Reformatting technology and workflows
• Licensing
• Intellectual property rights
• Preservation of digital objects
• Interface and access issues
Keahlian ini tersedia untuk fakultas dan staf di universitas dalam bentuk konsultasi , bantuan proyek , presentasi publik , dan penerbitan pedoman dan rekomendasi praktik terbaik . Menyediakan jenis konsultasi dan pendidikan merupakan tugas utama bagi beberapa anggota staf LDI , dan bukan hanya sebuah usaha sampingan yang akan dihadiri sebagai waktu memungkinkan

Technical Infrastructure
Masalah nyata perpustakaan digital tidak teknis , melainkan intelektual dan organisasi , sebenarnya ada banyak infrastruktur teknis baru yang akan diperlukan bagi lembaga untuk mendukung koleksi digital skala besar . Banyak perpustakaan digital awal dibangun sebagai proyek penelitian yang dikandung dari atas ke bawah , dan dirakit sebagai seperangkat potongan . Perpustakaan digital dunia nyata yang penelitian universitas akan membutuhkan tidak akan seperti itu sama sekali . Mereka akan terdiri dari koleksi besar dan berantakan sistem , beberapa di antaranya akan internal lembaga , namun banyak yang akan didistribusikan di internet dan dikontrol oleh sejumlah besar pemain independen . Seiring waktu tugas membangun infrastruktur perpustakaan digital lembaga akan lebih salah satu integrasi sistem daripada membangun sistem . Hari ini, Namun , karena banyak potongan-potongan dari infrastruktur yang dibutuhkan tidak tersedia di pasar atau tersedia hanya sebagai alat dan bukan sebagai solusi dikemas , pekerjaan teknis yang signifikan diperlukan untuk membangun lingkungan kerja .
Access Infrastructure
• Katalog . Salah satu aspek yang lebih mencolok dari proyek LDI sampai saat ini adalah proliferasi katalog menyediakan akses ke koleksi . Seperti semua lembaga penelitian , Harvard telah lama menyediakan akses ke OPAC lokal ( bernama HOLLIS ) dan kebanyakan di luar Abstracting dan pengindeksan database dan katalog . Namun, di samping itu, empat katalog lain Harvard baik telah dilaksanakan atau sedang dalam pembangunan sebagai bagian dari LDI :
• OASIS , mengandung bantu temuan arsip dikodekan ( EADS )
• VIA , menyediakan akses ke bahan-bahan visual yang relevan dengan humaniora dan ilmu social
• BIL , menggambarkan gambar biomedis
• Geodesi , menggambarkan koleksi Harvard sumber daya geospasial .
Selain itu, dua katalog lain sedang dikembangkan di tempat lain di Universitas yang akan memberikan akses ke sumber daya digital : katalog dataset ilmu sosial yang diberikan oleh Harvard MIT Data Center , dan katalog spesimen botani yang dikembangkan oleh Universitas herbarium yang akan menyediakan akses ke beberapa materi dari proyek LDI .
Multi- Access Catalog .
Ada banyak alasan ini terpisah katalog develop1 . Katalog terpisah sering memberikan pelayanan yang lebih baik kepada pengguna , seperti katalog kecil lebih mudah digunakan daripada yang besar , dan segregasi topikal atau format dapat menyederhanakan menemukan bahan-bahan untuk pengguna yang tahu persis apa yang dia butuhkan . Namun, sejumlah besar katalog dan bantu temuan jelas juga bisa membingungkan dan sulit untuk digunakan . Dalam rangka untuk mengurangi meningkatnya kompleksitas lingkungan katalog kami , sebuah proyek yang akan datang akan menyelidiki berbagai ” dukungan multi – katalog” alat . Di antara pendekatan untuk diperiksa adalah didistribusikan pencarian front-end ( untuk menyediakan pencarian paralel beberapa katalog dengan satu perintah ) , sebuah ” supercatalog ” dengan data yang diambil dari beberapa katalog yang ada (mungkin berdasarkan metadata panen sepanjang garis Terbuka Archives Initiative ) , dan fasilitas untuk membantu menavigasi antara katalog.

CollectionWebsites.
Banyak proyek perpustakaan digital melibatkan pembangunan situs web individu untuk memberikan gambaran dan navigasi koleksi tertentu . Situs-situs tersebut umumnya telah kerajinan tangan oleh kurator individu , memunculkan pertanyaan yang jelas tentang perawatan jangka panjang ( kurator pergi, perubahan teknologi menunjukkan pendekatan baru ) . The LDI akan bereksperimen dengan pendekatan yang berbeda : menggunakan dokumen XML dikodekan dan gaya XSL sheet untuk secara otomatis menghasilkan situs koleksi . Harapannya adalah bahwa dengan membuat situs sebagai objek data , pemeliharaan jangka panjang dapat ditangani sebagai tugas pemrograman terpusat bukan sebagai serangkaian panjang tugas pemeliharaan desentralisasi individu.
Suatu persyaratan kunci dari banyak situs web koleksi adalah kemampuan untuk mencari dokumen teks tidak terstruktur ( seperti ” kotor ” text OCR – diciptakan untuk menyediakan akses ke gambar halaman ) . Sebuah fasilitas pencarian teks sederhana yang mendukung pencarian kata , operasi Boolean , dan mirip fungsi umum diharapkan akan tersedia untuk dimasukkan ke dalam situs web koleksi saat yang tepat .

Portal . Sebagai sumber daya perpustakaan elektronik tumbuh dalam jumlah dan kompleksitas , ada kebutuhan untuk sarana yang lebih baik mengatur dan menjelaskan apa yang tersedia . Sebuah sistem portal ditingkatkan , memberikan pandangan yang lebih terorganisir dan koheren sumber daya telah dikembangkan untuk membantu pengguna perpustakaan dalam menjelajahi lingkungan kaya tapi secara dramatis lebih membingungkan sistem elektronik dan jasa
BAB 4
PENUTUP

1.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian diperoleh kesimpulan :
• Pemanfaatan teknologi sangat membantu dalam pengimplementasian
E-Library di perpustakaan Harvard.
• Penerapan E-Library di perpustakaan Harvard belum mencapai hasil yang maksimal dalam pengimplementasiannya
• Penerapan E-Library di perpustakaan Harvard terus berkembang.
• Pengaruh akan budaya, politik, resistensi, regulasi, administratif dan prasarana teknologi menjadi faktor terus berkembangnya E-Library.

1.2 Saran
• Terkait dengan penelitian tentang kendala pelaksanaan E-Library di perpustakaan Harvard, perkembangan E-Library di perpustakaan Harvard dapat di adakan secara efektif dan efisien jika ada dukungan antara segala pihak mulai dari pelajar dan masyarakat.
• Penerapan E-Library perpustakaan Harvard dapat berjalan dengan lebih baik dengan adanya update dan perhatian dari pihak yang bersangkutan dan pelajar yang memanfaatkan sistem tersebut

DAFTAR PUSTAKA

Affiat, Rizki Amelia. 2006. Perpustakaan Harvard Sebagai Contoh Kemajuan Universitas Berbasis Riset dan Bertaraf Internasional : Sebuah Refleksi bagi UI.
Brooks, David.R.(2007).An Introduction to HTML and Java Script for Scientists and Engineers.London:Springer.
Buchanan, George, et al. (2008). Digital Libraries: Universal dan Ubiquitos Access to Information. Germany: Springer-Verlag Berlin Heidenberg.
Candela, Leonardo, et al. (2007). Setting The Foundations of Digital Library, “The DELOS Manifesto”. Volume 13 .
Februariyanti, Henry. Eri Zuliarso. (2012). Rancang Bangun Sistem Perpustakaan untuk Jurnal Elektronik. Jurnal Teknologi Informasi Dinamik , 124-132.
Irawan, Yudie. (2011). Perancangan Sistem Informasi Perpustakaan Berbasis Web Application. Semarang: Universitas Diponegoro.
Library, W. O. (2014). Feautures and Benefit. Retrieved 03 16, 2014, from olaboutwiley.com: http://olabout.wiley.com/WileyCDA/Section/id-406561.html
Ongowarsito, Hengkie. 2008. Teknologi Informasi Untuk Perpustakaan : Digital Library Sebagai Solusi Keterbatasan Informasi.Volume 11, Nomor 1.
Sheldon, Robert, Geoff Moes.(2005).Beginning MySQL.United States of America:Wiley Publishing.Inc.
Sumarji, P.(1998).Perpustakaan Organisasi dan Tata Kerjanya. Yogyakarta.
Supsiloani. (2006). Perpustakaan Didital sebagai Wujud Penerapan Teknologi Informasi di Perguruan Tinggi. Jurnal Studi Perpustakaan dan informasi , 32-36.

LAMPIRAN
RIWAYAT HIDUP
Nama : Arni Virani
Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 26 Juli 1993
Alamat : Interkota blok A5 no. 11, Cengkareng, Jakarta Barat
No. Telepon : 08197670261
Email : ni.arnie@live.com
Jenis Kelamin : Wanita
Riwayat Pendidikan :
2011-sekarang Sistem Informasi
School of Information System, BINUS University
2008-2011 SMA Tarsisius 1
2005-2008 SMP Vianney
1999-2005 SD Vianney
1996-1999 TK Damai

Pengalaman Kerja :
2011 Sales Promotion Antivirus, Softlenses, MasterCard.
2012 PIC Mid-Year Gathering Novartis
2013 Volunteer untuk SUA Jakarta


RIWAYAT HIDUP
Nama : David Santoso
Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 13 Juni 1993
Alamat : Jl. Taman Meruya Ilir Blok I2 No.24, Jakarta Barat 11620
No. Telepon : 08988246820
Email : Santosodavid93@gmail.com
Jenis Kelamin : Laki – laki
Riwayat Pendidikan :
2011-sekarang Sistem Informasi
Peminatan : ERP
School of Information System, BINUS University
2008-2011 SMA SMA Pelita 2
2005-2008 SMP SMA Pelita 2
1999-2005 SD SMA Pelita 2
1996-1999 TK SMA Pelita 2

Pengalaman Kerja :
2011 – Sales Promotion PT. Unilever Indonesia
– Credit Card Sales Marketting of PT.UOB Buana Indonesia
2012 Liaison Officer of Asean English Olympic by BNEC


RIWAYAT HIDUP
Nama : Hendy Salim
Tempat, Tanggal Lahir : Bandar Lampung, 4 maret 1992
Alamat : Jl. Haji taisir no 5, Jakarta Barat
No. Telepon : 087899844883
Email : hendisalim21@yahoo.com
Jenis Kelamin : Laki – laki
Riwayat Pendidikan :
2011-sekarang Sistem Informasi
Peminatan : ERP
School of Information System, BINUS University
2008-2011 SMA Immanuel Bandar Lampung
2005-2008 SMP Immanuel Bandar Lampung
1999-2005 SD Immanuel Bandar Lampung
1996-1999 TK Immanuel Bandar Lampung

Pengalaman Kerja : –

RIWAYAT HIDUP
Nama : Rendy Rinaldo
Tempat, TanggalLahir : Tanjungpinang, 12 Juni 1993
Alamat : Gg. Keluarga No. 39 B, Kemanggisan, Jakarta Barat 11480
No. Telepon : 083873373828
Email : rendyrinaldo77@gmail.com
JenisKelamin : Laki – laki
RiwayatPendidikan :
2011-sekarang Sistem Informasi
Peminatan : ERP
School of Information System, BINUS University
2008-2011 SMAN 1 Tanjungpinang
2005-2008 SMPN 1 Tanjungpinang
1999-2005 SD Katolik
1996-1999 TK Djuwita

PengalamanKerja :
2013 Translator / Interpreter untuk Tech In Asia
2013 Volunteer untuk Startup Asia Jakarta
2012 – 2013 Tutor untuk kelas TOEFL dan PSP (Public Speaking and Performance)
2012 & 2013 Panitia di Binus Online Job Expo 2012 dan 2013

RIWAYAT HIDUP
Nama : Jennifer Pauling
Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 11 November 1993
Alamat : Jl. 21 No.12 B RT01 RW08 Teluk Gong, Jakarta Utara 14450
No. Telepon : 083893953885
Email : jenniferpauling11@gmail.com
Jenis Kelamin : Perempuan
Riwayat Pendidikan :
2011-sekarang Sistem Informasi
Peminatan : ERP
School of Information System, BINUS University
2008-2011 SMA Negeri 1 Tanjungpinang
2005-2008 SMP Negeri 5 Tanjungpinang
1999-2005 SD Swasta Katolik Tanajungpinang
1996-1999 TK Djuwita Tanjungpinang

Pengalaman Kerja :
2011-now – Math, Physics, and Chemistry Teacher at Proverbs Course
2012-now – Duta Binusian as Mentor in BINUS Student Learning Community (BSLC)
– English TOEFL Intermediate One Tutor in Bina Nusantara English Club (BNEC)

RIWAYAT HIDUP
Nama : Toni Sugino
Tempat, Tanggal Lahir : Pontianak, 20 Juni 1993
Alamat : Jl. Batusari Raya No.80, Palmerah, Jakarta Barat
No. Telepon : 089602466815
Email : toni_sho@ymail.com
Jenis Kelamin : Laki – laki
Riwayat Pendidikan :
2011-sekarang Sistem Informasi
Peminatan : ERP
School of Information System, BINUS University
2008-2011 SMA Gembala Baik
2005-2008 SMP Gembala Baik
1999-2005 SD Gembala Baik
1996-1999 TK Gembala Baik

Pengalaman Kerja :
2013 Translator / Interpreter for Tech In Asia
2013 Liaison Officer / Volunteer for Startup Asia Jakarta

Posted in Topik Topik Lanjutan SI | Comments Off on Evaluasi E-Library di Perpustakaan Harvard

Evaluasi Terhadap Pelaksanaan E-government di Indonesia

Universitas Bina Nusantara

______________________________________________________________________

Jurusan Sistem Informasi
School of Information Systems
Tugas Paper
M0214 – Topik-Topik Lanjutan Sistem Informasi
Semester Genap tahun 2013/2014
Halaman Abstrak
Evaluasi Terhadap Pelaksanaan E-government di Indonesia

Kelas / Kelompok: 06PKM / 05

Anggota Kelompok:
Arni Virani : 1501155411
Toni Sugino : 1501169865
Hendy Salim : 1501178522
Rendy Rinaldo : 1501188473
Jennifer Pauling : 1501189053
David Santoso : 1501194015

ABSTRAK
E-Government merupakan penggunaan teknologi informasi oleh badan pemerintahan untuk menjalankan kegiatan pemerintahan. E-Government diterapkan di Indonesia untuk menunjang kinerja dalam sebuah pemerintahan, dan dalam menjalankan E-Government memiliki sebuah kendala dalam pengembangannya agar dapat membuat E-government lebih efisien dan efektif untuk kalangan pemerintahan. Cangkupan E-Government sendiri bukan hanya untuk kepentingan instansi pemerintahan namun juga merupakan kebutuhan masyarakat yang ingin mendapatkan informasi yang dibutuhkan masyarakat luas. E-Government di Indonesia sendiri di harapkan dapat meningkatkan efisiensi, kenyamanan, seerta aksesibilitas yang lebih baik untuk pelayanan publik .Oleh karena itu sebuah evaluasi E-government di butuhkan agar dapat menilai perkembangan yang terjadi dalam pelaksanaan E-Government di Indonesia.

Kata kunci: E-Government (E-Gov), Evaluasi E-Government.


BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) mengubah kehidupan manusia, terutama mengubah hubungan karakteristik antar hubungan manusia, bisnis, dan mengubah hubungan Antara pemerintah dan masyarakat. Kebutuhan informasi yang cepat membuat pemerintah harus mengikuti perkembangan teknologi informasi untuk memberikan pelayanan yang terbaik untuk masyarakat, internal pemerintahan, partner pemerintah, dan entity pemerintahan yang mana bertransformasi menjadi E – Government, dapat diartikan sebagai perubahan yang dilakukan dalam hal pelayanan yang menggunakan teknologi informasi pada instansi pemerintahan.
E – Government didefinisikan sebagai penerapan IT pada pemerintahan yang bertujuan untuk membuat proses kerja dalam pemerintahan menjadi lebih sederhana, lebih akurat, responsive dan membentuk pemerintahan yang transparan. Dengan
E – Government memungkinkan masyarakat luas dapat mengakses semua informasi pemerintah dan layanan melalui sebuah website yang di kelola oleh bagian pemerintahan.
Keuntungan operasional dan implementasi E – Government bagi pemerintahan dan perusahaan sektor public seperti pengurangan penggunaan kertas, menyediakan layanan yang tersedia untuk pelanggan, mengurangi waktu respond dan mengurangi kesalahan dalam pelayanan E – Government untuk masyarakat. Penerapan E – Government di Indonesia sendiri memiliki hambatan atau kendala sehingga membuat E – Government di Indonesia dapat mengalami kegagalan dalam implementasinya. Hal ini dapat merugikan pemerintah sendiri dan masyarakat karena selain mengeluarkan biaya yang besar dan waktu yang cukup lama namun belum dapat memberikan pelayanan dalam E-Government secara maksimal.
Faktor – faktor yang mempengaruhi kegagalan dalam implementasi E – Government perlu di ketahui agar ditemukan solusi untuk membuat semua proses pemerintahan menjadi terkomputerisasi. Oleh karena itu sebuah evaluasi dalam penerapan
E-Government sangat di perlukan untuk mengetahui masalah dan solusi itu sendiri agar dapat membuat E-Government yang ada di Indonesia dapat melayani masyarakat luas secara efektif dan efisien.


1.2 Ruang Lingkup
Berikut adalah batasan cakupan dari karya tulis ini, antara lain:

1. Pembahasan menjelaskan tentang pelaksanaan dan implementasi E – Government di Indonesia
2. Penjelasan mengenai manfaat, hambatan, tingkatan dan strategi dalam implementasi E –Government.
3. Pemfokusan tentang evaluasi tentang implementasi E-Government di Indonesia.

1.3 Tujuan dan Manfaat
Tujuan dasar yang ingin dicapai dalam penyusunan karya tulis ini adalah:

1. Memahami pentingnya E – Government di Indonesia.
2. Mengevaluasi manfaat, hambatan, tingkatan dan strategi dalam implementasi
E –Government di Indonesia.

Sedangkan beberapa manfaat yang diperoleh sebagai hasil evaluasi dalam karya tulis ini, antara lain:

1. Dapat mengetahui hambatan serta solusi dari permasalahan penerapan
E – Government di Indonesia.
2. Dapat mengetahui pengimplementasian E-Government yang ada di Indonesia.

1.4 Metodologi Penulisan
Dalam penulisan karya tulis ini dipergunakan berbagai informasi pendukung berdasarkan metode studi kepustakaan yang diperoleh melalui berbagai sumber, seperti buku penunjang mengenai E-Government, jurnal-jurnal online yang mengupas topik tentang pemanfaatn E-Government di Indonesia, skripsi, dan beberapa website yang menyediakan informasi mengenai pemanfaatan E-Government. Berdasarkan informasi dari berbagai sumber iniakan dibuat seebuah pembahasan tentang evaluasi penerapan
E-Government di Indonesia dan kemudian akan dibuat kesimpulan dan saran untuk pengembangan selanjutnya.

1.5 Sistematika Penulisan
Karya tulis ilmiah ini terdiri atas beberapa bab pembahasan, yaitu :

• BAB 1 : PENDAHULUAN
Pada bab ini akan dijelas mengenai pemahaman awal tentang E- Government secara umum dan secara khusus mengenai penerapannya di pemerintahan, yang terdiri atas latar belakang, ruang lingkup, tujuan dan manfaat penulisan, serta metodologi penulisan laporan.

• BAB 2 : LANDASAN TEORI
Pada bab ini berisikan teori-teori umum hingga teori khusus yang dijadikan sebagai dasar pengetahuan untuk memahami pengertian, strategi, tingkatan, tantangan dan manfaat E – Government.

• BAB 3 : PEMBAHASAN
Pada bab ini akan dijelaskan pembahasan inti tentang evaluasi pelaksanaan dan implementasi E – Government yang ada di Indonesia.

• BAB 4 : PENUTUP
Bab ini akan memaparkan kesimpulan dari keselurhan pembahasan mengenai evaluasi E-Government di Indonesia, serta memaparkan beberapa saran untuk solusi atas permasalahan mengenai penerapan E-Government di Indonesia.


BAB 2
LANDASAN TEORI

2.1 Teori Umum
2.1.1 Definisi E- Government
The World Bank Group (2006), e- Government sebagai penggunaan teknologi informasi oleh badan-badan pemerintahan, seperti: Wide Area Networks, Internet, dan Mobile Computing. Dijelaskan pula Legislative Analyst’s Office (2006), bahwa e-Government merupakan proses trasaksi bisnis antara masyarakat dan pemerintah melalui penggunaan sistem yang terotomatisasi dan jaringan internet, biasanya disebut World Wide Web. Pemerintah federal Amerika Serikat (dalam Legislative Analyst Office. 2001) mendefinisikan e-Government secara ringkas, padat dan jelas, e- Government mengacu kepada penyampaian informasi dan pelayanan online pemerintahan melalui internet atau media digital lainnya.

E-Government adalah istilah yang menurut beberapa kalangan, didefinisikan secara beragam. Secara umum e-Gov dapat di definisikan: penggunaan teknologi informasi oleh pemerintah untuk memberikan informasi dan pelayanan bagi warganya, urusan bisnis, serta hal-hal lain yang berkenaan dengan pemerintahan. E-Government tidak saja dianggap sebagai pemerintahan online yang berbasis Internet (internet based government). Namun, terdapat juga teknologi pemerintahan electronic non-Internet yang dapat digunakan dalam hal ini.

2.1.2 Strategi Pengembangan e-Government

Menurut Medina(2012) dalam pencapaian tujuan e-Government perlu dilaksanakan melalui enam strategi yang saling terkait, yaitu :
1. Mengembangkan sistem pelyanan yang andal dan terpercaya, serta terjangkau oleh masyarakat luas.
2. Menata sistem manajemen dan proses kerja pemerintah dan pemerintah daerah otonom secara holistik.
3. Memanfaatkan teknologi informasi secara optimal.
4. Meningkatkan peran serta dunia usaha dan mengembangkan industry telekomunikasi dan teknologi informasi.
5. Megnembangkan kapasistas SDM baik pada pemerintah maupun pemerintah daerah otonom, disertai dengan meningkatkan e-literacy masyarakat.
6. Melaksanakan pengembangan secara sistematik melaui tahapan-tahapan yang realistis dan terukur.

2.1.3 Tingkatan dalam Pengembangan e-Government

Berdasarkan sifat transaksi informasi dan pelayanan publik yang disediakan oleh pemerintah melalui jaringan informasi, pengembangan e-Government dapat dilaksanakan melalui 4 (empat) tingkatan sebagai berikut (Inpres No. 3/2003):
Tingkat 1 – Persiapan yang meliputi :
1. Pembuatan situs informasi disetiap lembaga.
2. Penyiapan SDM.
3. Penyiapan sarana akses yang mudah misalnya menyediakan sarana Multipurpose Community Center, Warnet, SME-Center, dl.
4. Sosialisasi situs informasi baik untuk internal maupun untuk public.
Tingkat 2 – Pematangan yang meliputi :
1. Pembuatan situs informasi publik interaktif.
2. Pembuatan antar muka keterhubungan dengan lembaga lain.
Tingkat 3 – Pemantapan yang meliputi :
1. Pembuatan situs transaksi pelayanan public.
2. Pembuatan interoperabilitas aplikasi maupun data dengan lembaga lain.
Tingkat 4 – Pemanfaatan yang meliputi :
1. Pembuatan aplikasi untuk pelayanan yang bersifat G2G, G2B dan G2C yang terintegrasi.
2. Situs pemerintah pusat dan daerah harus secara bertahap ditingkatkan menuju ke tingkat – 4.
Terkait dengan strategi tahapan pengembangan yang dilaksanakan inpres, pengembangan e-Government dapat dilaksanakan melalui empat tingkatan budaya sebagai berikut (Sri Handayaningsih. 2007).
1. Tahap Inisiasi
2. Tahap Interaksi
3. Tahap Trasaksi
4. Tahap Pelayanan

Pada tahapan pengembangan mengambil kunci serta mengkombinasikan dengan unsur-unsur e-Government yang bersifat internal, amaka dirumuskan tahapan- tahapan transformasi menuju e-Government yang terdiri dari empat tahap berikut: Inisiasi, Interaksi, Transaksi, Transformasi.

Tahap pertama, tahap inisiasi memiliki kata kunci “Edukasi Digital” dengan melakukan hal-hal dilakukan:
1. Mensosialisasikan pemanfaatan computer dan jaringan komputer secara luas dikalangan aparatur pemerintahan.
2. Keberadaan Jaringan Komputer Lokal.
3. Pemanfaatan-pemanfaatan secara sederhana berupa layanan komunikasi e mail, dan pemakaian arsip digital secara bersama (file sharing).
4. Diperkenalkan akses ke Internet dengan fasilitas yang minimal, misalnya dengan mekanisme dial-up.
5. Keberadaan akses Internet ini juga dapat dimanfaatkan untuk mulai menyelnggarakan situs web institusi secara sederhana sebagai bentuk awal pelayanan kepada masyarakat. Informasi yang disajikan didalam stus lebih cenderung bersifat statis, atau belum memiliki mekanisme pemutakhiran yang rutin.

Tahap kedua, tahap interaksi dengan kata kunci “informasi Digital” hal-hal yang dilakukan:
1. Mempertegas budaya dokumentasi digital dalam institusi.
2. Mekanisme file-sharing
3. Konsep komunikasi dengan e-mail diperluas penggunaanya untuk memulai bentuk-bentuk penyelenggaraan komunikasi dan koordinasi yang mengakomodasi proses kerja perkantoran secara elektronik.

Budaya informasi digital akan mengkondisikan aparatur untuk:
1. Melakukan pertukaran informasi yang efektif serta interoperabilitas yang lebih baik antar lembaga pemerintah
2. Menyediakan sumber informasi yang berkualitas dan otentik.
3. Mendukung prinsip-prinsip administrasi, proteksi ataupun transparansi informasi.
4. Melaksanakan ekstrasi, dan perangkuman informasi lintas lembaga pemerintah.
5. Pembangunan infrastruktur komunikasi digital yang menghubungkan antar lembaga untuk memulai pentahapan komunikasi dan informasi yang bersifat lintas lembaga pemerintah.
6. Website/Portal, sudah bersifat dinamis dengan proses pemutakhiran informasi secara berkala.

Tahap ketiga, tahap Transaksi yang memiliki kata kunci “Transaksi Digital” melanjutkan hal-hal yang dilakukan:
1. Dokumen dan komunikasi digital telah diakui secara formal dalam instansi pemerintah.
2. Dukungan jaminan keamanan dan keaslian data serta penghasil data(security dan authority).
3. Data yang bersifat terstruktur, atau data yang memiliki atribut-atribut khusus (numerik, tabular dan spasial). Bentuk data seperti inilah yang akan berperan besar dalam fungsi kepengelolaan pemerintah, sebagai bahan pengendalian dan penentuan rencana arahan. Keberadaan data/informasi tersebut pada awalnya bersifat parsial dan tersebar di beberapa instansi.
4. Terciptanya mekanisme untuk melakukan akses data yang bersifat lintas instansi yang didukung oleh keberadaan sistem informasi infrastruktur komunikasi digital dengan kapasitas yang memadai.

Tahap keempat, tahap transformasi ini berfokus secara eksplisit pada aspek front-office pelayanan dengan mengambil tema tahapan Pelayanan Digital. Budaya organisasi pada tahap ini terlihat pada:

1. Pemerintah telah mantap, dan didukung oleh keberadaan faktor-faktor penunjang seperti fasilitas SITEL, staff pelaksana SITEL dan aturan/kebijakan tentang penyelenggaraan SITEL.
2. Penataan aspek-aspek pelayanan kepada masyarakat yang dapat dilakukan secara elektronik.
3. Terciptanya mekanisme pelayanan yang sifatnya terkoordinasi antar instansi yang berwenang. Kondisi ideal yang dapat dicapai adalah layanan satu pintu yang membuat pemrosesan layanan di belakangnya bersifat transparan bagi masyarakat yang dilayaninya.

2.1.4 Tantangan dalam Implementasi E-Government
Menurut Sosiawan(2011) ada beberapa faktor yang menghambat berkembangnya E-Government dalam pemerintahan Indonesia, antara lain:
1. Belum adanya standarisasi yang jelas tentang implementasi e-government dan sosialisasi tentang bagaimana penyelenggaraan situs pemerintah daerah yang riil dan ideal. Artinya walapun undang-undang, peraturan pemerintah dan petunjuk pedoman sudah ada namun masing-masing pemda masih menerjemahkannya secara sendiri-sendiri karena persoalan petunjuk teknis dan operasionalnya yang tidak jelas dan “ngambang’.
2. Belum tersedianya sumber daya manusia ( SDM) yang memadai atau minim dari segi skill dan manajerial dalam pengelolaan situs pemda sehinga masih banyak pemkab dan pemkot yang ragu menerapkan e-gov.
3. Penetrasi pasar hardware dan provider layanan jasa teknologi komunikasi dan informasi belum merata hingga daerah-daerah, sehingga bukan hanya masalah dalam suprastrukturnya saja tetapi dalam infrastrukturnya juga masih kurang memadai. Masalah tersebut juga diperparah dengan masih mahalnya sarana dan prasarana teknologi ICT.
4. Masih belum meratanya Literacy masyarakat berkaitan dengan pemanfaatan e-gov karena mayoritas penduduk berada pada garis golongan menengah ke bawah.

Sedangkan menurut Kurniawan (2011) beberapa hambatan yang dialami dalam implementasi E-Government dapat dinilai dari beberapa aspek. Adapun aspek-aspek tersebut didapatkan dari hasil pengamatan Kementrian Komunikasi yang menyimpulkan bahwa mayoritas situs pemerintah Pusat dan pemerintah Daerah masih terkendala dalam aspek-aspek berikut ini:
1. E-Leadership: prioritas dan inisiatif negara di dalam mengantisipasi dan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi;
2. Infrastruktur Jaringan Informasi: kondisi infrastruktur telekomunikasi serta akses, kualitas, lingkup, dan biaya jasa akses;
3. Pengelolaan Informasi: kualitas dan keamanan pengelolaan informasi;
4. Lingkungan Bisnis: kondisi pasar, sistem perdagangan, dan regulasi yang membentuk konteks perkembangan bisnis teknologi informasi;
5. Masyarakat dan Sumber Daya Manusia: difusi teknologi informasi didalam kegiatan masyarakat baik perorangan maupun organisasi, serta sejauh mana teknologi informasi disosialisasikan kepada masyarakat melalui proses pendidikan

Di dalam lain sisi, Kurniawan juga menyimpulkan bahwa terdapat sejumlah kelemahan pembentukan e-government di Indonesia, antara lain:
1. Pelayanan yang diberikan situs pemerintah belum ditunjang oleh sistem manajeman dan proses kerja yang efektif karena kesiapan peraturan, prosedur dan keterbatasan SDM sangat membatasi penetrasi komputerisasi ke dalam sistem pemerintah;
2. Belum mapannya strategi serta tidak memadainya anggaran yang dialokasikan untuk pengembangan e-government;
3. Inisiatif merupakan upaya instansi secara sendiri-sendiri; dengan demikian sejumlah faktor seperti standardisasi, keamanan informasi,otentikasi, dan berbagai aplikasi dasar yang memungkinkan interoperabilitas antar situs secara andal, aman, dan terpercaya kurang mendapatkan perhatian
4. Kesenjangan kemampuan masyarakat untuk mengakses jaringan internet.

2.1.5 Manfaat E-Government
Dua negara besar terdepan dalam mengimplementasikan konsep e-Government, yaitu Amerika dan Inggris melalui Al Gore dan Tony Blair (dalam indrajit. 2004), secara terperinci menggambarkan manfaat yang diperoleh dengan diterapkannya konsep e-Government bagi suatu negara adalah:
o Memperbaiki kualitas pelayanan pemerintah kepada para stakeholder- nya (masyarakat, kalangan bisnis dan industri) terutama dalam hal kinerja efektifitas dan efisiensi diberbagai bidang kehidupan bernegara
o Meningkatkan transparansi kontrol dan akuntabilitas penyelenggaraan pemerintahan dalam rangka penerapan konsep Good Corporate Governance
o Mengurangi secara signifikan total biaya administrasi, relasi dan interaksi yang dikeluarkan pemerintah maupun stakeholder-nya untuk keperluan aktifitas sehari-hari
o Memberikan peluang bagi pemerintah untuk mendapatkan sumber- sumber pendapatan baru melalui interaksinya dengan pihak-pihak yang berkepentingan
o Menciptakan suatu lingkungan masyarakat baru yang dapat secara tepat dan cepat menjawab berbagai permasalahan yang dihadapi sejalan dengan berbagai perubahan global dan trend yang ada
o Memberdayakan masyarakat dan pihak-pihak lain sebagai mitra pemerintah dalam proses pengambilan berbagai kebijakan publik secara merata dan demokratis.

Bab III
PEMBAHASAN

3.1. Dasar Pelaksanaan E-Government di Indonesia
Mengutip dari penjelasan teori mengenai e-government, keuntungan yang paling diharapkan dari e-government adalah peningkatan efisiensi, kenyamanan, serta aksesibilitas yang lebih baik dari pelayanan publik (Ref: Wikipedia)
Indonesia pada saat ini berada dalam proses transisi dari sistem pemerintahan yang fundamental menuju pada sistem pemerintahan yang demokratis transparan. Proses transisi ini memberikan peluang bagi penataan ulang berbagai sistem kehidupan berbangsa dan bernegara dimana pemerintahan dapat kembali menempatkan kepentingan rakyat pada posisi sentral. Perubahan yang terjadi juga harus diikuti dengan kelancaran komunikasi dengan lembaga pemerintahan dan mendorong partisipasi masyarakat luas agar tidak muncul ketidakpastian dan kesalah pahaman akan perubahan yang terjadi. Pemerintah harus terbuka terhadarp aspirasi masyarakat dan mampu menanggapi semua aspirasi secara cepat dan efektif.
Tindakan yang indonesia lakukan pun tidak akan lepas dari pengamatan masyarakat internasional, disinilah pemerintah harus memberikan informasi yang komprehensif kepada masyarakat luas agar tidak menempatkan indonesia pada posisi yang salah. Perubahan yang dijalani ini mendorong bangsa menuju era masyarakat informasi.
Kemajuan teknologi terjadi dengan sangat pesat dan memiliki potensi yang memudahkan proses pengolahan data dalam skala yang kompleks dan besar. Hal ini tentu mendorong indonesia, terutama ibukota Jakarta untuk turut serta menyesuaikan diri dengan teknologi yang ada. Kemajuan teknologi memungkinkan sistem pemerintahan yang transparan dan mendorong bangsa menuju masyarakat informasi.
Melalui pengembangan e-government yang sedang berlangsung, bangsa diharapkan akan mampu mengoptimalkan pemanfaatan teknologi informasi yang mencakup beberapa aktivitas yang berkaitan:
1. Pengolahan data, informasi, sistem manajemen dan sistemasi proses kerja
2. Pelayanan publik yang dapat diakses secara mudah dan murah oleh masyarakat luas
3. Sistem pemerintahan yang transparan untuk menghindari tindakan atau kejadian yang tidak terduga

3.2 Implementasi E- Government di Indonesia

Di Indonesia, e-government diperkenalkan melalui Instruksi Presiden nomor 6 tahun 2001 tentang Telematika, yang menyatakan bahwa pemerintah Indonesia telah menggunakan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) untuk mendukung good governance.

Di Indonesia, e-government diperlukan untuk :
1. Transformasi pemerintahan menuju tata kelola yang demokratis
2. Mendukung kesetimbangan antara pemerintah pusat dan daerah
3. Fasilitasi komunikasi antara pemerintah pusat dan daerah
4. Transformasi menuju era Masyarakat Informasi.

Menurut Nugroho (2007), Tahapan perkembangan implementasi e-government di Indonesia dibagi menjadi empat :
1. Web Presence, yaitu memunculkan website daerah di internet. Dalam tahap ini, informasi dasar yang dibutuhkan masyarakat ditampilkan dalam website pemerintah.
2. Interaction,ele yaitu web daerah yang menyediakan fasilitas interaksi antara masyarakat dan Pemerintah Daerah. Dalam tahap ini, informasi yang ditampilkan lebih bervariasi, seperti fasilitas download dan komunikasi E-mail dalam website pemerintah.
3. Transaction, yaitu web daerah yang selain memiliki fasilitas interaksi juga dilengkapi dengan fasilitas transaksi pelayanan publik dari pemerintah.
4. Transformation, yaitu dalam hal ini pelayanan pemerintah meningkat secara terintegrasi.
Dasar hukum E-Government di Indonesia ditingkat nasional adalah Intruksi Presiden (Inpres) No.3 Tahun 2003 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional PengembanganE-government. Poin penting Inpres tersebut yaitu menginstruksikan kepada:
(1) Menteri;
(2) Kepala LembagaPemerintah Non Departemen;
(3) PimpinanKesekretariatan Lembaga Tertinggi dan Tinggi Negara;
(4) Panglima Tentara Nasional Indonesia;
(5) Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia;
(6) Jaksa Agung Republik Indonesia;
(7) Gubernur; dan
(8) Bupati/Walikota

Untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan sesuai tugas, fungsi dan kewenangan masing masing guna terlaksananya pengembangan e-government secara nasional dengan berpedoman pada Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan e-government. Dan Inpres tersebut antara lain berisikan panduan yang sudah disosialisasikan, seperti :
1. Panduan pembangunan infrastruktur portal pemerintah
2. Panduan manajemen sistem dokumen elektronik
3. Panduan penyusunan rencana induk pengembangan lembaga
4. Panduan penyelenggaraan situs web pemerintah daerah
5. Panduan tentang pendidikan dan pelatihan SDM

Namun faktanya pelaksanaan e-Government di Indonesia sebagian besar barulah pada tahap publikasi situs oleh pemerintah atau baru pada tahap pemberian informasi.
Kemajuan teknologi informasi memberikan manfaat yang besar bagi kesejahteraan masyarakat. Terutama pada era globalisasi sekarang ini, kemajuan teknologi diperlukan dan dimanfaatkan dalam segala bidang. Salah satunya adalah pelayanan pemerintah kepada publik. Kemajuan teknologi komunikasi dan informasi yang pesat serta potensi pemanfaatannya secara luas, membuka peluang bagi pengaksesan, pengelolaan dan pendayagunaan informasi dalam volume yang besar secara cepat dan akurat. Selain itu pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi dalam proses pemerintahan akan meningkatkan efisiensi, efektifitas, transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan pemerintahan, yang sering disebut dengan e-government (electronic government) atau sering disingkat dengan e-gov. Dengan adanya e-government, pelayanan bisa lebih cepat dan praktis, mengingat jumlah penduduk Indonesia yang makin bertambah tiap tahunnya. Namun pada kenyataannya e-gov sering tidak dapat berjalan dengan lancar, baik di pemerintahan pusat maupun di beberapa pemerintahan daerah. E-gov sering diidentikan dengan suatu proyek sehingga bagi beberapa kepala daerah (pemerintah daerah) berasumsi bahwa untuk mengimplementasikan e-gov pasti membutuhkan biaya yang besar dan belum tentu dapat bertahan lama karena ada beberapa daerah yang sudah mengimplementasikan e-gov dengan sistem proyek, setelah proyek tersebut selesai, e-gov pun selesai (tidak berfungsi lagi). Dalam mengimplementaiskan e-gov, ada beberapa kendala yang harus dihadapi. Antara lain:

1. Belum ada komitmen dari kalangan elite politik, dalam hal ini yaitu kepala daerah (pemerintah daerah) untuk melaksanakan e-gov dalam memberikan pelayanan prima kepada masyarakat. Jadi, meskipun sudah tersedia dana dan aparat yang kompeten dalam bidang teknologi informasi, e-gov tidak akan terlaksana.

2. Faktor Sumber Daya Manusia
Karena e-gov pada awalnya dilaksanakan dengan sistem proyek dan tidak adanya transformasi pengetahuan kepada aparat yang berwenang (bertugas sebagai operator yang mengupdate data), maka setelah proyek tersebut selesai, aparat tersebut kurang mampu untuk mengoperasikan programnya sehingga data yang tersedia tidak update lagi. Kemudian karena kurangnya kesadaran dari beberapa aparat di dinas-dinas setempat, maka aparat yang bertugas sebagai operator yang mengupdate data harus turun sendiri ke lapangan untuk mencari data yang diperlukan.

Namun ada salah satu kabupaten di Indonesia yang berhasil mengimplementasikan e-gov di daerahnya. Terbukti kabupaten tersebut mendapatkan penghargaan “Best of The Best” E-Government Award 2009 versi Warta Ekonomi, yaitu Kabupaten Jembrana (Provinsi Bali), keunggulan Jembrana adalah penerapan kartu J-Card (Jembrana Card). Setiap warga jembrana yang memiliki J-Card dapat datang ke rumah sakit dan menunjukkan kartunya. Kartu akan ditempelkan ke mesin pembaca (card reader). Untuk otorisasi, si pasien cukup menempelkan tangannya. Di layar komputer akan terpampang riwayat medis si pasien dan pengobatan yang pernah diterimanya. Setelah diobati, si pasien boleh pulang dan cukup mengucapkan terima kasih.

Jembrana Card (J-Card) juga ternyata berfungsi ganda. Selain kartu berobat, kartu ini juga sekaligus menjadi KTP dan ATM. Dengan penggunaan J-Card sebagai KTP, pemerintah daerah bisa mengetahi jumlah, penyebaran dan tingkat ekonomi penduduknya. Menurut data, sudah 60% dari 263.000 warga Jembrana yang memiliki kartu J-Card. Manfaat penting lain implementasi J-Card adalah untuk pelaksanaan e-voting atau pemilu dengan sitem elektronik. Dalam pelaksanaan pemilihan kepala desa dengan sistem e-voting, rata-rata waktu yang dibutuhkan pemilih untuk memberikan suaranya hanya 25.83 detik. Tingkat keakuratan data hasil pemilihan bisa dipastikan akan lebih tinggi karena bebas dari kesalahan perhitungan manual dan kemungkinan manipulasi data seperti yang sering kita dengar pada pemilu tingkat nasional.

Prestasi kabupaten Jembrana dalam mengimplementasikan teknologi informasi untuk meningkatkan pelayanan bagi masyarakat sepatutnya menjadi contoh bagi kabupaten lain di Indonesia. Pemerintah pusat atau provinsi bisa menginstruksikan ke seluruh jajaran pemerintah daerah di bawahnya untuk mencontoh dan menyempurnakan program J-Card yang sudah berjalan di kabupaten Jembrana. Dengan demikian diharapkan seluruh kabupaten/kota di Indonesia akan mampu memberikan pelayanan publik yang memuaskan bagi warganya.

Untuk mengatasi beberapa kendala dalam mengimplementasikan e-gov, maka perlu adanya komitmen, baik dari kepala daerah maupun segenap jajarannya untuk mengimplementasikan e-gov, karena pada dasarnya dengan penerapan teknologi informasi dibidang pemerintahan akan membantu pemerintah dalam memberikan pelayanan prima kepada masyarakat. Kemudian, untuk melaksanakan e-gov sebaiknya tidak menggunakan sistem proyek tetapi cukup dengan menggunakan satu atau beberapa tenaga ahli yang kompeten dibidang teknologi informasi, sehingga update data selalu dapat dilakukan, biaya yang dikeluarkan pun lebih kecil. Selain itu, pemerintah pusat juga perlu memberikan penghargaan kepada kabupaten/kota yang terbukti berprestasi dalam mengimplementsikan iptek untuk peningkatan kesejahteraan warganya, sehingga nantinya dapat memicu daerah tersebut dan juga daerah lain untuk menerapkan iptek dalam bidang pelayanan kepada masyarakat.

Penggunaan E-Government di Indonesia
E-Gov di Indonesia mulai dilirik sejak tahun 2001 yaitu sejak munculnya Instruksi Presiden No. 6 Tahun 2001 tgl. 24 April 2001 tentang Telematika (Telekomunikasi, Media dan Informatika) yang menyatakan bahwa aparat pemerintah harus menggunakan teknologi telematika untuk mendukung good governance dan mempercepat proses demokrasi. Namun dalam perjalanannya inisiatif pemerintah pusat ini tidak mendapat dukungan serta respon dari segenap pemangku kepentingan pemerintah yaitu ditandai dengan pemanfaatan teknologi informasi yang belum maksimal.
Berdasarkan data yang ada, pelaksanaan E-Government di Indonesia sebagian besar barulah pada tahap publikasi situs oleh pemerintah atau baru pada tahap pemberian informasi, dalam tahapan Layne & Lee baru masuk dalam Cataloguing. Data Maret 2002 menunjukkan 369 kantor pemerintahan telah membuka situs mereka. Akan tetapi 24% dari situs tersebut gagal untuk mempertahankan kelangsungan waktu operasi karena anggaran yang terbatas. Saat ini hanya 85 situs yang beroperasi dengan pilihan yang lengkap. (Jakarta Post, 15 Januari 2003). Indikator lainnya adalah penestrasi internet baru mencapai 1,9 juta penduduk atau 7,6 persen dari total populasi Indonesia pada tahun 2001. Pada tahun 2002 dengan 667.000 jumlah pelanggan internet dan 4.500.000 pengguna komputer dan telepon, persentasi penggunaan internet di Indonesia sangatlah rendah. (Sumber: Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia/APJII).
Pada tahun 2003, di era Presiden Megawati Soekarno Putri, Pemerintah mengeluarkan suatu kebijakan yang lebih fokus terhadap pelaksanaan E-Gov, melalui Instruksi Presiden yaitu Inpres Nomor 3 tahun 2003. Inpres ini berisi tentang Strategi Pengembangan E-gov yang juga sudah dilengkapi dengan berbagai Panduan tentang e-gov seperti: Panduan Pembangunan Infrastruktur Portal Pemerintah; Panduan Manajemen Sistem Dokumen Elektronik Pemerintah; Pedoman tentang Penyelenggaraan Situs Web Pemda; dan lain-lain. Demikian pula berbagai panduan telah dihasilkan oleh Depkominfo pada tahun 2004 yang pada dasarnya telah menjadi acuan bagi penyelenggaraan e-gov di pusat dan daerah. Dalam Inpres ini, Presiden dengan tegas memerintahkan kepada seluruh Menteri, Gubernur, Walikota dan Bupati untuk membangun E-government dengan berkoordinasi dengan Menteri Komunikasi & Informasi.
Di lihat dari pelaksanaan aplikasi e-gov setelah keluarnya Inpres ini maka dapat dikatakan bahwa perkembangan pelaksanaan implementasi E-Gov masih jauh dari harapan. Data dari Depkominfo (2005) menunjukkan bahwa hingga akhir tahun 2005 lalu Indonesia baru memiliki:

(a) 564 domain go.id;
(b) 295 website pemerintah pusat dan pemda;
(c) 226 website telah mulai memberikan layanan publik melalui website;
(d) 198 website pemda masih dikelola secara aktif.

Beberapa pemerintah daerah memperlihatkan kemajuan cukup berarti. Bahkan Pemkot Surabaya sudah mulai memanfaatkan e-gov untuk proses pengadaan barang dan jasa (e-procurement). Beberapa pemda lain juga berprestasi baik dalam pelaksanaan e-gov seperti: Pemprov DKI Jakarta, Pemprov DI Yogyakarta, Pemprov Jawa Timur, Pemprov Sulawesi Utara, Pemkot Yogyakarta, Pemkot Bogor, Pemkot Tarakan, Pemkab Kebumen, Pemkab. Kutai Timur, Pemkab. Kutai Kartanegara, Pemkab Bantul, Pemkab Malang.
Sementara itu dari sisi infrastruktur, layanan telepon tetap masih di bawah 8 juta satuan sambungan dan jumlah warung telekomunikasi (Wartel) dan warung Internet (Warnet) yang terus menurun karena tidak sehatnya persaingan bisnis. Telepon seluler menurut data Depkominfo tersebut telah mencapai 24 juta ss. Meski kepadatan telepon tetap di beberapa kota besar bisa mencapai 11%-25%, kepadatan telepon di beberapa wilayah yang relatif tertinggal baru mencapai 0,2%. Jangkauan pelayanan telekomunikasi dalam bentuk akses telepon baru mencapai 65% desa dari total sekitar 67.800 desa yang ada di seluruh tanah air. Jumlah telepon umum yang tersedia hingga saat ini masih jauh dari target 3% dari total sambungan seperti ditargetkan dalam penyusunan Program Pembangunan Jangka Panjang II dahulu.
Sementara itu jumlah pelanggan dan pengguna Internet masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan total penduduk Indonesia. Hingga akhir 2004 berbagai data yang dikompilasi Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) memberikan jumlah pelanggan Internet masih pada kisaran 1,9 juta, sementara pengguna baru berjumlah 9 juta orang. Rendahnya penetrasi Internet ini jelas bukan suatu kondisi yang baik untuk mengurangi lebarnya kesenjangan digital (digital divide) yang telah disepakati pemerintah Indonesia dalam berbagai pertemuan Internasional untuk dikurangi.

Kelembagaan, Regulasi dan Kebijakan
Perkembangan dan pembangunan telematika memasuki babak baru pada awal tahun 2005 dengan digabungkannya Ditjen Postel yang dahulu berada di bawah Departemen Perhubungan kedalam Depkominfo. Satriya (2005) melihat penggabungan tersebut seyogyanya bisa mempercepat gerak pelaksanaan aplikasi egov di seluruh tanah air dan dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk penyediaan infrastruktur telematika yang sekaligus disinkronkan dengan berbagai aplikasi prioritas.
Begitu pula dari sisi regulasi, sudah ada Instruksi Presiden (Inpres) No. 3 Tahun 2003 tentang Strategi Pengembangan Egov yang juga sudah dilengkapi dengan berbagai Panduan tentang egov seperti: Panduan Pembangunan Infrastruktur Portal Pemerintah; Panduan Manajemen Sistem Dokumen Elektronik Pemerintah; Pedoman tentang Penyelenggaraan Situs Web Pemda; dan lain-lain. Demikian pula berbagai panduan telah dihasilkan oleh Depkominfo pada tahun 2004 yang pada dasarnya telah menjadi acuan bagi penyelenggaraan egov di pusat dan daerah.
Sayangnya beberapa peraturan payung yang diharapkan bisa segera selesai masih belum terwujud, seperti RUU tentang Informasi, dan Transaksi Elektronik yang masih belum dibahas di DPR.
Dalam bidang kebijakan, kelihatannya pemerintah belum berhasil menyusun suatu langkah konkrit yang dapat menggerakkan berbagai komponen pemerintah (lintas sektor) untuk saling bekerja sama membangun dan menjalankan aplikasi yang memang harus disinergikan. Hingga sekarang pemanfaatan telematika untuk Kartu Tanda Penduduk, Perpajakan, Imigrasi, dan Kepegawaian yang sangat dibutuhkan dalam reformasi pemerintahan masih belum terlaksana. Masih mahalnya tarif Internet, termasuk Broadband, rupanya telah mulai menarik perhatian Menteri Kominfo seperti diungkapkan beberapa waktu lalu dalam ajang Indo Wireless 2006 (Detik, 14/3/06). Kombinasi pemanfaatan kapasitas telepon tetap eksisting dan berbagai teknologi nirkabel lainnya sudah seharusnya bisa didukung oleh sistem tarif yang sudah memanfaatkan kompetisi dalam sektor telematika ini. Begitu pula alternatif penyediaan infrastruktur telematika di daerah terpencil, perbatasan, dan tertinggal masih belum bisa memaksimalkan pemanfaatan dana Universal Service Obligation (USO) yang telah dikutip dari operator.
Contoh penerapan E-Government di Indonesia
1. Kabupaten Sragen mengembangkan “One Stop Service (OSS)”
OSS Center adalah sebuah institusi yang memberikan dukungan pengembangan satuan kerja layanan perijinan terpadu atau lebih dikenal dengan istilah One Stop Services disingkat OSS (lihat About OSS). OSS Center mendukung terwujudnya inovasi layanan perijinan terpadu d idaerah yang pada kenyataannya masih memiliki keterbatasan untuk dari tingginya kompetisi bisnis di tingkat lokal dan nasional, keberadaan OSS Center akan memiliki korelasi positif terhadap perbaikan pelayanan publik pemerintah terhadap investor (baik PMA maupun PMDN) dan pebisnis lokal. Dengan terbentuknya OSS Center di tingkat nasional dan regional (propinsi), diharapkan akan memiliki andil dalam perbaikan iklim investasi dan kualitas pelayanan perijinan di Indonesia. OSS Center akan memberikan pendampingan pada OSS bagi daerah-daerah yang membutuhkan melalui penguatan sistem dan informasi, menganalisa kebutuhan dan melakukan asistensi di tiap level kebijakan pemerintah, mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan dari satuan kerja pelayanan perijinan usaha dan investasi, serta bentuk-bentuk asistensi lainnya. Selain itu, dengan keberadaan OSS Center ini diharapkan akan membentuk jaringan data dan informasi yang luas antar stakeholder dalam ranah investasi nasional dan lokal.
Terbentuknya OSS Center ini ternyata sejalan dengan Instruksi Presiden Nomor 3 tahun 2006 tentang Paket Kebijakan Investasi dimana dalamkebijakan tersebut dituangkan berbagai hal yang harus diatur kembali agar iklim investasi di Indonesia dapat tumbuh dan bersaing di skala internasional. Dengan dukungan dukungan luas dari jaringan Forum Daerah (Forda UKM), lembaga-lembaga yang concern pada pengembangan usaha dan investasi baik pemerintah maupun non pemerintah, sektor swasta serta keterlibatan media cetak dan elektronik, OSS Center diharapkan mampu menjadi motivator terciptanya perbaikan kualitas layanan perijinan usaha dan investasi di Indonesia. Sedangkan manfaat nyata dari OSS ini adalah: OSS diharapkan mampu melayani seluruh perijinan yang dibutuhkan oleh investor dan dunia usaha di daerah masing-masing, mulai dari ijin mendirikan bangunan (IMB), ijin gangguan (HO), ijin usaha (SIUP, TDP, TDI, IUT, IUI, TDG, dll) atau ijin per sektor seperti ijin usaha restora, ijin pendirian salon dan OSS Center akan memberikan berbagai informasi dan pelatihan tentang sistem, metode, dan cara untuk mengembangkan layanan perijinan dan investasi di Indonesia yang dapat diakses secara langsung di kantor OSS Center atau melalui telepon, email, dan website (www.oss-center.net). OSS Center juga akan menghubungkan pemerintah kota/kabupaten dan OSS di seluruh Indonesia dengan lembaga pendamping atau lembaga-lembaga lain yang dapat memberikan bantuan teknis untuk pengembangan OSS.
2. Pemerintah Surabaya menerapkan e-procurement
Dengan adanya e-procurement yang dikembangkan pemerintah Surabaya http://www.surabaya-eproc.or.id maka masyarakat Surabaya bisa lebih mudah untuk mengetahui projek yang sedang ada dan mereka bisa lebih mudah untuk mengetahui projek yang sedang ada dan mereka bisa lebih mudah untuk ikut didalam lelang tender projek tersebut.

3. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)
BPPT termasuk salah satu bagian pemerintahan yang telah mengembangkan sebuah sistem TEWS yang sering disebut dengan Tsunami Early Warning System. Sistem ini digunakan sebagai pemberi sinyal ke pusat yang menandakan kemungkinan ada tsunami. Dan jika sistem dipusat menerima sinyal dari satelit bahwa disuatu tempat akan terjadi tsunami, maka sistem control room akan menentukan sirene mana yang akan dibunyikan, dan akan mengirim sms secara langsung kepada orang-orang yang berwewenang didaerah dimana kemungkinan tsunami itu akan terjadi, supaya bisa diinformasikan kemasyarakat. Sistem TEWS ini, menggunakan sistem jaringan yang sangat kompleks, dan setiap peralatan yang digunakan telah menggunakan Internet Protocol (IP) yang spesifik. Misalnya, Sirene, Sensor dan beberapa tools lainnya. Selain contoh-contoh yang diatas, masih banyak daerah-daerah atau departemen atau lembaga pemerintahan yang lain yang telah mengembangkan e-government misalnya dibagian e-learning, e-registration, samsat dan lain sebagainya.

3.3 Kendala Pelaksanaan E-Government di Indonesia
Berdasarkan beberapa dasar hukum perundangan Indonesia yang telah disebutkan di atas, kita mengetahui bahwa E-Government sendiri adalah bagian dari sistem manajemen dan pelayanan publik yang sudah dianggarkan oleh dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pemerintah Indonesia juga telah membuat kerangka arsitektur dari E-Government untuk menjangkau berbagai bidang untuk infrastruktur pemerintahan dan publik.

Gambar 3.1 KerangkaArsitektur E-Government di Indonesi (Sumber: Kementrian Komunikasi dan Informatika)
Empat kerangka arsitektur E-government di Indonesia dapat terlihat dari gambar di atas, antara lain:
1. Akses: sarana yang memungkinkan seluruh warga Indonesia untuk dapat mengakses sistem informasi e-government yang telah ada, baik melalui berbagai jaringan komunikasi dan internet.
2. Portal Pelayanan Publik: menyediakan informasi dan dokumentasi elektronik mengenai instansi public di berbagai bidang.
3. Organisasi Pengelolaan dan Pengolahan Informasi: organisasi back-office yang akan berperan dalam mengelola dan informasi dan dokumen elektronik yang akan disebarkan ke publik.
4. Infrastruktur dan Aplikasi Dasar: sarana dan prasarana dalam mendukung berjalannya sistem e-government, baik perangkat lunak, perangkat keras, kebijakan, prosedur, jaringan, data, dsb.
Sebelum menganalisis lebih lanjut mengenai kendala dalam pelaksanaan e-government di Indonesia, terlebih dahulu perlu dipahami bahwa pengembangan arsitektur dari e-government pada dasarnya akan mencakup beberapa interaksi penting, yaitu Government to Customers (G2C), Government to Government (G2G), dan Customer to Customer (C2C), dan Business to Business (B2B). Interaksi ini menandakan bahwa dengan hadirnya e-government maka akan menjembatani komunikasi antara seluruh instansi pemerintahan sehingga memungkinakan adanya integrasi data. Sedangkan untuk e-government yang bertujuan dalamm penyediaan pelayanan publik diharapkan dalam sistem informasi tersebut pemerintah dan warga serta antar warga dapat saling bertukar informasi, ide, saran serta kritik secara efektif dan efisien. Dan pada akhirnya dengan adanya komunikasi yang jelas antara warga dan pemerintah makan akan membuka peluang untuk interaksi berbagai bisnis dalam menyokong perekonomian negara.

Gambar 3.2 Interaksi dalam E-Government

Menyadari negara Indonesia masih tergolong negara berkembang, maka pada implemetasi nyata pelaksanaan e-government masih mengalami berbagai macam kendala. Mengingat implementasi e-government memerlukan berbagai macam persiapan seperti biaya yang besar, sumber daya manusia berkualitas, program kerja yang jelas, waktu implementasi yang cukup lama serta beresiko terhadap kegagalan, dan yang peling penting adalah soalilasi yang efektif untuk menagajak keterlibatan masyarakat dalam mendukung opersional program kerja pemerintah.

Berdasarkan pemahaman persiapan dan kendala yang dihadapi oleh negara berkembang, maka sebelum melakukan transisi ke e-government menurut (Hassan, dkk; 2010) perlu dilakukan analisis pada pelaksanaan operasional pada saat ini (as-is) untuk mencari permasalahan yang terjadi, penyebabnya, dan area apa yang bisa dikembangkan menjadi projek e-government. Melalui analisis as-is maka akan dibuat perencanaan perubahan pada masa mendatang (to-be) untuk memberikan nilai tambah dan mengatasi permasalahan yang ada saat ini.
Sedangkan dalam proses transformasi dari kendaan saat ini menuju keadaan mendatang, maka terdapat beberapa faktor penghambat yaitu:
1. Resistensi: beberapa warga maupun pihak pemerinatahan Indonesia belum tentu nyaman dan bener-benar memahami mengenai pemanfaatan e-government.
2. Budaya: Indonesia merupakan negara kepulauan dengan beribu adat dan buadaya yang berbeda antara satu dengan yang lainnya, oleh karena itu untuk penyatuan aktivitas yang bisa diterima oleh seluruh rakyat harus dilakuakan diskusi dalam sebuah rapat pertemuan.
3. Politik: Indonesia adalah negara politik, dimana implementasi e-government ini hendaknya tidak berlandaskan kepentingan dari pihak politik tertentu, melainkan untuk kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Indonesia.
4. Regulasi: Indonesia adalah negara hukum, yang artinya pengembangan implemetasi e-government tidak boleh melanggar aturan perundang-undangan yang berlaku, dalam hal ini tanggung jawab pengembangan e-government diberikan pada Kementrian Komunikasi dan Informatika dan sudah diatur dalam perundang-undangan yang telah disebutkan di atas.
5. Teknologi: teknologi adalah dasar untuk tercapainya e-government yang sukses, oleh karena itu pemerintah Indonesia wajib menyediakan saran dan prasaran yang memadai dan sesuai untuk mencapai tujuan impelementasi e-government.
6. Administratif: dari segala aktivitas opersional di instansi seluruh pemerintahan Indonesia berbagai bidang harus dapat dianalisis kebutuhannya secara menyeluruh agar dapat membangun sistem e-government yang bisa bermanfaat dan memberi nilai tambah dalam administrative instansi tersebut.

Selain penghambat juga perlu diperhatikan faktor pendorong demi suksesnya implementasi e-government pada masa mendatang, antara lain dengan penetapan visi dan strategi yang jelas serta sesuai dengan kebutuhan, memilih sumber daya manusia handal untuk memimpin serta mengontrol dari implementasi e-government sampai pelaksanaan nyatanya di lapangan, membuat rencana pendanaan yang faktual yang mencakup jangka panjang, serta senantiasa memperhatikan masukan, saran, dan kritik dari warga.

Gambar 3.3 Kerangka Kerja Pengembangan E-Government (Hassan, dkk, page 510)

Berikut tampilan beberapa website yang sudah dikembangkan sebagai projek kerja E-Government di Indonesia:

Gambar3.4 Tampilan Website Indonesia.go.id

Gambar3.5 Tampilan Website http://www.kepriprov.go.id/web/

Dari kedua website e-government di atas yang dikembangkan oleh pemerintahan Indonesia terlihat bahwa diperlukannya sebuah model perancangan website yang seragam serta dapat dipakai untuk semua implementasi website di Indonesia. Dari gambar di atas terlihat bahwa ada perbedaan struktur website, dimana pada indonesia.gov.id tidak terdapat halaman interaksi dengan warga, sedangkan pada website kepriprov.go.id tidak menyediakan informasi lengkap mengenai kabupaten/ kota madya yang tercakup di dalam provinsi.
Sekilas dari penilaian di atas menunjukkan bahwa kurangnya integrasi antara seluruh website yang saling terkait serta keterlibatan masyarakat dalam pengembangan sistem e-government juga masih sangat minim, hanya beberapa masyarakat saja yang sudah mengetahui website yang telah dikembangkan pemerintah. Oleh karena itu, pemerintah hendaknya melakuakan revisi terhadap kebijakan e-government serta melakukan sosialisasi kepada masyarakat.

BAB 4
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian diperoleh kesimpulan :
• Pemanfaatan teknologi sangat membantu dalam pengimplementasian
E-Government di Indonesia.
• Penerapan E-Government di Indonesia belum mencapai hasil yang maksimal dalam pengimplementasiannya
• Penerapan E-Government di Indonesia terus berkembang walaupun tergolong lambat.
• Pengaruh akan budaya, politik, resistensi, regulasi, administratif dan kurangnya prasarana teknologi menjadi penghambat lambatnya perkembangan E-Government.

4.2 Saran
• Terkait dengan penelitian tentang kendala pelaksanaan E-Government di Indonesia, perkembangan E-Government di Indonesia dapat di adakan secara efektif dan efisien jika ada dukungan Antara segala pihak mulai dari pemerintah dan masyarakat.
• Penerapan E-Government Indonesia dapat berjalan dengan baik jika tada jangka waktu dan dana yang jelas akan pengembangannya.

DAFTAR PUSTAKA

Depkominfo, Peluang Indonesia Untuk Bangkit Melalui Implementasi E-Government, Laguboti, Toba, 2005
Djunaedi, Achmad, Pemanfaatan TI di Lingkungan Pemerintahan Daerah: Strategi yang Sesuai untuk Realita yang Dihadapi, Desember 2006
Djunaedi, Achmad. Beberapa Pemikiran Penerapan E-Government di Indonesia. Retrieved March 8, 2013, from www.mpkd.ugm.ac.id: http://mpkd.ugm.ac.id/weblama/homepageadj/support/publikasi/ti-egov/egovtpemdaindo.pdf.
Hassan, H.S, E.Shehab, J.Peppard. (2010). Toward Full Public E-Service Envirionment in Developing Countries. World Academy of Science, Engineering, and Technology , 508-512.
Kabani, Asif, Critical E-Government Succes Factors for Developing Countries, Prosiding Konferensi Nasional Teknologi Informasi dan Komunikasi Untuk Indonesia 3-4 Mei 2006, dalam Technology and Management Magazine, Singapore, Maret-April 2006
Kurniawan Teguh. 2011. “Hambatan dan Tantangan dalam Mewujudkan Good Governance melalui Penerapan E-Government di Indonesia”. http://teguh-kurniawan.web.ugm.ac.id/publikasi/PaperKNSI06TK_TK.pdf
Medina,Desmi Avicena. 2011.“Pengaruh Budaya Organisasi Terhadap Keberhasilan
Nugraha, Krisna, Achieving IT Business Alignment, bahan Seminar Kepemimpinan dalam Penyelarasan Teknologi Informasi dalam Manajemen dan Birokrasi Pemerintah Daerah, 2006
Nugroho, Santoso, Political Environment dalam Implementasi Electronic Government, 2007
Pengembangan E-Government”. http://library.binus.ac.id/Collections/ethesis_detail/TSA-2011-0046
Rahardjo, Budi, Membangun E-Government, PPAU Mikroelektronika ITB, 2001
Satriya, Eddy, Pentingnya Revitalisasi E-Government Di Indonesia, 2006
Sosiawan, Edwi Arief. 2012. “Tantangan dan Hambatan dalam Implementasi E-Government di Indonesia”. http://edwi.upnyk.ac.id/Tantangan%20egov.pdf

LAMPIRAN
RIWAYAT HIDUP
Nama : Arni Virani
Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 26 Juli 1993
Alamat : Interkota blok A5 no. 11, Cengkareng, Jakarta Barat
No. Telepon : 08197670261
Email : ni.arnie@live.com
Jenis Kelamin : Wanita
Riwayat Pendidikan :
2011-sekarang Sistem Informasi
School of Information System, BINUS University
2008-2011 SMA Tarsisius 1
2005-2008 SMP Vianney
1999-2005 SD Vianney
1996-1999 TK Damai

Pengalaman Kerja :
2011 Sales Promotion Antivirus, Softlenses, MasterCard.
2012 PIC Mid-Year Gathering Novartis
2013 Volunteer untuk SUA Jakarta


RIWAYAT HIDUP
Nama : David Santoso
Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 13 Juni 1993
Alamat : Jl. Taman Meruya Ilir Blok I2 No.24, Jakarta Barat 11620
No. Telepon : 08988246820
Email : Santosodavid93@gmail.com
Jenis Kelamin : Laki – laki
Riwayat Pendidikan :
2011-sekarang Sistem Informasi
Peminatan : ERP
School of Information System, BINUS University
2008-2011 SMA SMA Pelita 2
2005-2008 SMP SMA Pelita 2
1999-2005 SD SMA Pelita 2
1996-1999 TK SMA Pelita 2

Pengalaman Kerja :
2011 – Sales Promotion PT. Unilever Indonesia
– Credit Card Sales Marketting of PT.UOB Buana Indonesia
2012 Liaison Officer of Asean English Olympic by BNEC


RIWAYAT HIDUP
Nama : Hendy Salim
Tempat, Tanggal Lahir : Bandar Lampung, 4 maret 1992
Alamat : Jl. Haji taisir no 5, Jakarta Barat
No. Telepon : 087899844883
Email : hendisalim21@yahoo.com
Jenis Kelamin : Laki – laki
Riwayat Pendidikan :
2011-sekarang Sistem Informasi
Peminatan : ERP
School of Information System, BINUS University
2008-2011 SMA Immanuel Bandar Lampung
2005-2008 SMP Immanuel Bandar Lampung
1999-2005 SD Immanuel Bandar Lampung
1996-1999 TK Immanuel Bandar Lampung

Pengalaman Kerja : –

RIWAYAT HIDUP
Nama : Rendy Rinaldo
Tempat, TanggalLahir : Tanjungpinang, 12 Juni 1993
Alamat : Gg. Keluarga No. 39 B, Kemanggisan, Jakarta Barat 11480
No. Telepon : 083873373828
Email : rendyrinaldo77@gmail.com
JenisKelamin : Laki – laki
RiwayatPendidikan :
2011-sekarang Sistem Informasi
Peminatan : ERP
School of Information System, BINUS University
2008-2011 SMAN 1 Tanjungpinang
2005-2008 SMPN 1 Tanjungpinang
1999-2005 SD Katolik
1996-1999 TK Djuwita

PengalamanKerja :
2013 Translator / Interpreter untuk Tech In Asia
2013 Volunteer untuk Startup Asia Jakarta
2012 – 2013 Tutor untuk kelas TOEFL dan PSP (Public Speaking and Performance)
2012 & 2013 Panitia di Binus Online Job Expo 2012 dan 2013

RIWAYAT HIDUP
Nama : Jennifer Pauling
Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 11 November 1993
Alamat : Jl. 21 No.12 B RT01 RW08 Teluk Gong, Jakarta Utara 14450
No. Telepon : 083893953885
Email : jenniferpauling11@gmail.com
Jenis Kelamin : Perempuan
Riwayat Pendidikan :
2011-sekarang Sistem Informasi
Peminatan : ERP
School of Information System, BINUS University
2008-2011 SMA Negeri 1 Tanjungpinang
2005-2008 SMP Negeri 5 Tanjungpinang
1999-2005 SD Swasta Katolik Tanajungpinang
1996-1999 TK Djuwita Tanjungpinang

Pengalaman Kerja :
2011-now – Math, Physics, and Chemistry Teacher at Proverbs Course
2012-now – Duta Binusian as Mentor in BINUS Student Learning Community (BSLC)
– English TOEFL Intermediate One Tutor in Bina Nusantara English Club (BNEC)

RIWAYAT HIDUP
Nama : Toni Sugino
Tempat, Tanggal Lahir : Pontianak, 20 Juni 1993
Alamat : Jl. Batusari Raya No.80, Palmerah, Jakarta Barat
No. Telepon : 089602466815
Email : toni_sho@ymail.com
Jenis Kelamin : Laki – laki
Riwayat Pendidikan :
2011-sekarang Sistem Informasi
Peminatan : ERP
School of Information System, BINUS University
2008-2011 SMA Gembala Baik
2005-2008 SMP Gembala Baik
1999-2005 SD Gembala Baik
1996-1999 TK Gembala Baik

Pengalaman Kerja :
2013 Translator / Interpreter for Tech In Asia
2013 Liaison Officer / Volunteer for Startup Asia Jakarta

Posted in Topik Topik Lanjutan SI | Comments Off on Evaluasi Terhadap Pelaksanaan E-government di Indonesia